
"Ayah kamu belum ke sini?" tanya Alya.
"Belum, Ma. Sejak semalam, ayah pergi katanya mau ngobatin Ayu ke IGD. Tapi enggak kembali ke sini," jawab Laras.
Alya kembali menghela nafasnya.
Jelas saja tak kembali. Rasyid babak belur dihajar oleh Bowo. Kemungkinan besar, Rasyid tak siap ketemu Laras.
Belum lagi soal tagihan pengobatan Ayu, semalam. Juga pastinya dia akan tak enak pada Tomi, karena membebankan semua biaya perawatan Laras padanya.
"Mungkin ayahmu lupa. Semalam kelihatannya dia langsung pulang sama Ayu."
"Oh iya, Ras. Mau kan kamu sementara tinggal dulu di rumah Mama? Nanti Mama kenalkan sama...suami barunya Mama. Juga Aldo. Adik kamu," ucap Alya perlahan.
"Adik Laras? Mama sudah punya anak lagi?" tanya Laras.
Alya mengangguk sambil tersenyum.
"Kalau kamu tak mau tinggal di sana, minimal main ke rumah Mama. Biar kenal sama mereka. Niken kemarin juga menginap di rumah Mama," ucap Alya.
"Niken menginap di rumah Mama?" tanya Laras.
Tomi yang sudah selesai mengurus biaya administrasinya Laras, tak jadi masuk ke kamar. Dia merasa tak enak mengganggu pembicaraan mereka.
Tomi duduk di dekat pintu, menunggu mereka selesai bicara.
"Iya. Kelihatannya dia habis dihajar ayahmu. Mukanya bonyok. Pelipisnya diperban," jawab Alya.
"Pelipisnya?" tanya Laras lagi. Setahunya, Rasyid memang memukul Niken. Tapi tidak di pelipis.
"Iya. Di sini." Alya menunjuk pelipisnya sendiri.
"Bukannya di bibir, Ma?" tanya Laras tak percaya.
Alya menggeleng.
"Enggak. Masa Mama salah liat sih?" jawab Alya.
Tomi mendengarnya dari luar. Dia semakin merasa tak enak pada mamanya Laras.
Bagaimana kalau dia sampai tahu, kalau luka di pelipis Niken, karena hantamannya.
Bahkan Laras pun belum tahu, karena Laras masih tak sadarkan diri waktu itu.
Tapi Tomi punya alasan sendiri kalau menghadapi pertanyaan Laras. Tapi bagaimana dengan mamanya?
Ah! Tomi menyesali kekasarannya pada Niken. Saat itu, Tomi memang sangat emosi.
"Mama bawa apaan itu?" tanya Laras.
"Ini, makanan. Mama beli banyak. Mama pikir, Niken dan Ayu juga ada di sini." Alya mengambil tentengan yang tadi dijatuhkannya di lantai.
Lalu Alya meletakannya di atas ranjang Laras.
"Tomi kok lama banget, ya?" Laras melihat ke arah pintu.
__ADS_1
"Udah biarin. Nanti juga kembali, kalau sudah selesai," sahut Alya. Dia merasa kurang suka pada Tomi.
Tak lama, Tomi masuk. Dia pura-pura tak mendengar apapun.
"Udah beres semua, Ras. Termasuk tagihan pengobatan Ayu semalam. Kata seorang perawat, om Rasyid langsung kabur setelah mengobati Ayu. Padahal mestinya menyelesaikan dulu di kasir," ucap Tomi.
Hhmm. Rasyid ternyata juga tak pernah berubah. Selalu saja mencari gratisan. Kalau perlu dengan cara kabur. Batin Alya.
Dia tak kaget dengan omongan Tomi. Memang begitu sifat Rasyid. Bikin malu orang. Tapi dianya tak tahu malu.
"Oh iya, Tom. Maafkan ayah. Mungkin dia lupa bawa uang," sahut Laras membela Rasyid.
Laras sebenarnya malu dengan sikap Rasyid yang main kabur saja. Padahal Laras sudah bilang kalau tagihannya dijadikan satu dengan tagihannya saja.
Kalau Rasyid menuruti kata Laras, kan tak akan ada kata kabur, yang hanya bikin malu.
"Iya, enggak apa-apa. Kita pulang sekarang?" tanya Tomi.
"Laras biar pulang ke rumahku dulu aja. Sampai nanti benar-benar sembuh. Laras harus banyak istirahat dan minum obat. Kalau di rumah ayahnya, bakal enggak kerawat!" ucap Alya dengan ketus.
Laras menatap Tomi dengan perasaan tidak enak. Dari tadi, mamanya seperti tidak wellcome pada Tomi.
"Gimana Ras?" tanya Tomi pada Laras.
Dia pun tak mau memaksa Laras. Karena semua yang dikatakan Alya, benar.
Laras mengangguk.
"Kalau begitu, kamu ke rumah ayahnya Laras. Bawakan ini buat Ayu dan Niken. Bilang ke ayahnya Laras, sementara Laras pulang ke rumah mamanya!"ucap Alya masih tak bersahabat.
"Iya, Tante," sahut Tomi menurut.
"Tante naik apa tadi kesininya?" tanya Tomi.
"Motor!"
Tomi hanya menghela nafasnya. Dan terus mengikuti mereka ke tempat parkiran motor.
"Ayo, Ras. Pelan-pelan aja naiknya," ucap Alya.
"Tomi, aku duluan, ya," pamit Laras.
Alya tak membuka suaranya sama sekali. Entah mengapa Alya merasa tak suka dengan Tomi.
Bagi Alya, selain kesal karena Tomi membuat anak gadisnya hamil, Alya juga merasa ada yang enggak beres dengan Tomi.
"Dia kerja dimana?" tanya Alya di jalan.
Alya mengendarai motornya perlahan. Karena takut Laras perutnya sakit lagi kena goncangan.
"Di perusahaan online, Ma," jawab Laras. Seperti yang selalu dikatakan Tomi padanya.
"Perusahaan online? Perusahaan apa?" Menurut Alya, usaha online itu rata-rata hanya usaha sampingan seperti dirinya. Bukan sebuah perusahaan.
Laras hanya diam saja.
__ADS_1
"Kamu enggak nanya nama perusahaannya? Kalau memang benar, pasti ada di google," tanya Alya.
"Enggak, Ma," jawab Laras.
Selama ini Laras tak pernah berpikir sejauh itu. Baginya cukup kalau Tomi punya penghasilan.
"Kamu ini gimana sih? Harusnya kamu nanya dong. Biar jelas pekerjaannya. Dia kan mau jadi suami kamu," ucap Alya.
Laras hanya diam saja. Dia tak tahu kenapa mamanya kelihatan tak suka pada Tomi. Padahal mereka baru saja ketemu.
Tapi Laras enggan menanyakannya. Laras tak mau merusak suasana pertemuan pertamanya dengan Alya, setelah lama tak ketemu.
Akhirnya, sampailah mereka di rumah Alya.
"Ini rumah Mama, Ras," ucap Alya, begitu sampai di halaman rumahnya.
Laras mengangguk. Dia memang sudah tahu alamat rumah mamanya ini, meski belum pernah mendatanginya.
"Ayo masuk," ajak Alya.
Di ruang tamu, ada Bowo yang sedang mengajak main Aldo.
"Pa...!" panggil Alya pada Bowo.
Bowo menoleh dan sangat terkejut melihat wajah Laras yang sangat mirip dengan Alya.
"Ma...siapa itu?" tanya Bowo. Sebab Alya tak bilang kalau dia mau mengajak Laras pulang.
"Ini Laras, Pa," jawab Alya.
"Ras, kenalkan, ini Om Bowo. Suami Mama," ucap Alya pada Laras.
Laras mengangguk dengan sopan. Dia ingin menyalami tangan Bowo, tapi sepertinya Bowo tak menyukainya.
"Pa, sementara Laras biar di sini dulu. Biar benar-benar sembuh. Kasihan kalau di rumah ayahnya. Tak ada yang merawat. Boleh, kan?" tanya Alya.
Bowo hanya mengangguk. Menolakpun sepertinya tak mungkin. Apalagi Laras sudah sampai di rumahnya.
"Mama...!" Aldo yang baru menyadari kedatangan Alya, langsung berlari mendekati Alya dan memeluknya.
Alya meraih tubuh Aldo dan menggendongnya.
"Ras. Ini Aldo. Anak Mama. Ayo salim sama kak Laras," ucap Alya.
Alya mengangkat tangan Aldo, biar menyalami Laras.
Laras pun menyambutnya sambil tersenyum.
Sejenak Laras menatap wajah Aldo yang lucu dan menggemaskan.
Laras jadi berpikir, seandainya saja dia tak keguguran, pasti dia akan memiliki anak seperti Aldo.
"Kenapa, Ras? Kok melamun?" tanya Alya.
"Enggak apa-apa, Ma," jawab Laras.
__ADS_1
Bowo beranjak dari duduknya dan meraih kunci mobil.
"Aku keluar dulu!"