KARMA : Sang Pemburu Wanita Di MEDSOS

KARMA : Sang Pemburu Wanita Di MEDSOS
Bab 107 KOSTUM PERANG


__ADS_3

Semalaman Laras mencoba menghubungi Tomi, tapi hape Tomi tidak aktif. Entah apa yang sedang terjadi dengan Tomi, tak ada penjelasan sama sekali untuk Laras.


Ya, karena Tomi sibuk dengan kematian adiknya. Dan Tomi tak berniat mengatakannya pada Laras. Dia tak mau kalau Laras dan keluarganya datang ke rumah kontrakan orang tuanya. Bisa terbongkar semua kebohongannya. Tomi belum siap dengan itu.


Dan tiga hari berikutnya, Tomi tak pergi kemana-mana. Dia benar-benar sangat berduka.


Tomi hanya mengatakan pada Laras, kalau dia ada pekerjaan mendadak di luar kota.


Cyntia pun memaklumi ketidakhadiran Tomi. Meskipun dia sangat merindukan permainan Tomi.


Begitu juga Voni yang sudah booking Tomi sejak kemarin, terpaksa menunggu sampai Tomi kembali bekerja.


"Kamu enggak kerja, Tom?" tanya Lastri melihat anaknya ini seharian hanya berdiam diri di kamar.


"Cuti dulu, Bu. Lusa baru Tomi berangkat lagi," jawab Tomi.


"Enggak apa-apa sama bos kamu?" tanya Lastri lagi dengan khawatir.


Lastri khawatir Tomi dipecat gara-gara membolos. Meskipun Lastri tak paham pekerjaan anaknya sekarang ini.


"Enggak, Bu. Kan bu Cyntia sudah tahu kalau Tomi lagi berduka."


Lastri mengangguk sedih. Dia tahu kalau Tomi sangat menyayangi adik-adiknya. Terutama Sinta yang berkebutuhan khusus.


Lastri keluar dari kamar Tomi. Dia mencari suaminya.


"Pak. Antar Ibu ke pasar, ya. Ibu mau belanja buat tahlilan nanti malam," pinta Lastri pada Hardi.


"Iya, Bu. Minta kunci motornya pada Tomi," sahut Hardi. Lalu dia siap-siap.


Hari ini dan beberapa hari ke depan, Hardi menutup dulu bengkel kecilnya. Dia pun tak kalah berdukanya dari Tomi.


Meskipun anaknya banyak, tapi kehilangan satu, cukup membuatnya terguncang. Apalagi disebabkan karena keadaan ekonomi.


Hardi jadi merasa sangat bersalah. Hardi merasa gagal jadi orang tua yang baik.


"Ini kunci motornya, Pak. Ayo, keburu sore," ajak Lastri.


Pagi tadi di rumah mereka masih banyak pelayat yang datang. Jadi Lastri menunda dulu rencana belanjanya.


Hardi pun memboncengkan Lastri ke pasar. Sudah lama sekali suami istri ini tak pergi berduaan. Biasanya Lastri pergi ke pasar sendirian, naik angkot.


Dan Hardi pun tak pernah mengajak Lastri saat belanja sparepart untuk stock di bengkelnya.

__ADS_1


Di tengah jalan, Laras yang sedang membonceng Rasyid ke rumah temannya, melihat motor yang biasa dipakai Tomi itu.


Laras berusaha mengingat-ingat plat motor Tomi. Seingat Laras nomornya sama. Tapi kenapa dipakai oleh orang lain?


Apa jangan-jangan mereka itu orang tuanya Tomi? Tapi bukankah kata Tomi, kedua orang tuanya pengusaha?


Dan tampang kedua orang itu tak menampakan kalau mereka orang kaya. Penampilan mereka sangat sederhana.


"Lihatin siapa, Ras?" tanya Rasyid. Lewat spion, Rasyid melihat Laras sedang melihat ke arah depannya dengan serius.


"Enggak, Yah." Laras tak mau mengakuinya. Dia khawatir Rasyid menanyakan langsung pada orangnya. Karena Laras paham sifat Rasyid yang harus selalu tahu jawaban dari sebuah pertanyaan.


Rasyid mengangguk. Dia percaya saja pada omongan Laras. Karena Rasyid tak memperhatikan motor yang berada di depannya.


Lagi pula di jalanan banyak motor serupa. Dan Rasyid tak pernah menghafal plat nomor motor yang sering dipakai Tomi.


Motor yang diperhatikan Laras masuk ke area pasar tradisional. Sementara Laras dan Rasyid masih terus berjalan.


Rumah teman Rasyid masih jauh lagi. Rasyid sengaja membawa serta Laras, biar temannya iba dan memberikan pinjaman padanya. Syukur-syukur memberinya cuma-cuma.


Dia akan memanfaatkan Laras untuk meyakinkan cerita pada temannya ini. Tugas Laras hanya mengiyakan cerita Rasyid.


Laras sebenarnya muak dengan cara Rasyid ini. Yang selalu memanfaatkan anak-anaknya untuk mencari uang.


Willy pemilik counter teman Rasyid, malah pergi ke luar kota dan menutup counternya selama seminggu.


"Yah, kenapa Ayah enggak kerja aja?" tanya Laras di perjalanan.


Laras bosan melihat Rasyid sehari-hari hanya tiduran sambil main hape saja. Bisanya cuma perintah tanpa mau membantu pekerjaan di rumah.


Laras bukannya tak tahu kebiasaan Rasyid merayu wanita-wanita yang dikenal lewat medsos, untuk dimintai uang. Tapi sekali lagi, Laras tak berdaya.


Dan yang membuat Laras miris, Rasyid sudah seperti gigolo. Yang menjual diri demi bisa mendapatkan uang dan kepuasan.


Pantas saja dulu mamanya memilih pergi. Mana ada istri yang mau dikasih makan dari uang hasil menjual diri.


Memikirkan itu, Laras jadi merinding. Selama ini dia dan kedua adiknya juga makan dari uang yang tidak halal.


"Kamu pikir gampang cari kerja?" sahut Rasyid.


"Teman Ayah kan banyak. Masa enggak ada yang mau menolong mencarikan pekerjaan?"


Laras tak pernah tahu kalau teman-teman Rasyid sudah muak dengan sifat pemalas Rasyid. Maunya kerja dan dapat gaji, tapi tidak mau diperintah.

__ADS_1


Kalaupun mau, mengerjakannya bisa lebih lama dari yang lainnya.


Rasyid juga suka membolos seenaknya. Sudah seperti usaha punya nenek moyangnya saja.


"Ayah enggak mau kerja ikut teman. Malu!" jawab Rasyid.


Laras ternganga mendengarnya. Kerja malu, tapi cari pinjaman enggak malu. Bahkan meminta pun Rasyid tak malu.


Dan salah satu jurus ampuhnya dengan menjual cerita menyedihkan tentang anak-anaknya.


Anak-anaknya disuruh berakting sedih dan berpakaian lusuh. Seperti yang Laras pakai saat ini.


Sebenarnya Laras sudah menolaknya. Dia yang sudah dewasa malu kalau memakai pakaian lusuh dan sobek di beberapa bagiannya.


Dan Rasyid malah marah mendengar penolakan Laras.


"Cuma sebentar! Nanti juga sampai rumah ganti yang baru. Mereka pasti akan memberikan pakaian buat kamu. Juga uang untuk kita makan!"


"Tapi Laras sudah besar, Yah. Kan malu pakai baju lusuh." Laras terus berusaha menolak.


"Nunggu Ayu atau Niken pulang aja ya, Yah?"


"Terus, kamu mau melihat mereka kelaparan saat pulang nanti? Tega kamu, Ras!"


Dan akhirnya Laras pun mengalah. Dia menuruti kemauan gila Rasyid.


Sepanjang jalan, Laras memakai masker. Dia tak mau dilihat orang yang mengenalnya.


Apalagi kalau dilihat Tomi ataupun Beni. Mau ditaruh dimana mukanya? Meskipun tadi Yanti memperhatikan saat Laras dan Rasyid melintas di depan warungnya.


Untung saja Yanti tak menghentikannya dan bertanya.


Rasyid tak mengijinkan anak-anak membuang baju-baju lusuhnya. Kata Rasyid itu kostum perang.


Tapi menurut Laras, itu adalah kostum pengemis. Karena memang dipakai untuk meminta belas kasihan orang lain.


Apa bedanya dengan pengemis yang berdiri di lampu merah? Sama-sama mengharapakan belas kasihan orang lain.


Makanya Laras sangat berharap Tomi segera membawanya pergi. Biar dia tak lagi dijadikan wayang oleh Rasyid.


Meskipun Laras kasihan juga pada Niken dan Ayu. Pasti mereka yang akan didandani oleh Rasyid.


Laras menelan ludahnya yang terasa kering. Tak terasa bulir bening menetes membasahi maskernya.

__ADS_1


__ADS_2