KARMA : Sang Pemburu Wanita Di MEDSOS

KARMA : Sang Pemburu Wanita Di MEDSOS
Bab 103 TOMI BERDUKA


__ADS_3

Voni tertawa mendengar jawaban Tomi. Bukan salahnya juga. Siapa suruh enggak minta bayaran. Dan siapa suruh juga enggak bilang kalau dia lelaki bayaran. Batin Voni.


Tomi menatap wajah cantik Voni. Juga dua gundukan yang berdiri menantang dibalik blouse putih tipis.


"Maaf, Tom. Aku enggak tau kalau kamu...."


Belum sempat Voni bicara, Cyntia sudah keluar dari kamar mandi dan berjalan mendekati mereka.


"Hay, Von. Rupanya kamu yang datang. Kok enggak telpon aja?" tanya Cyntia.


Voni adalah salah satu pelanggan setianya. Dan kemarin sore, Voni sudah order pada Cyntia.


Tapi karena ada masalah dengan Tanto, terpaksa orderan Voni dipending dulu. Dan Cyntia sudah berjanji akan mencarikan penggantinya.


"Tadi aku lewat sini. Jadi mampir aja sekalian. Siapa tau kamu punya barang bagus," jawab Voni.


"Memangnya selama ini barang dariku kurang bagus?" tanya Cyntia.


"Sempurna, Cin. Tapi mana yang katamu perfect itu? Mau dong buat ganti yang kamu pending semalam," sahut Voni.


"Nanti aku kirim. Dijamin perfect deh. Kalau enggak suka, bisa dituker. Hahaha." Cyntia tertawa.


Tomi merinding mendengarnya. Ini wanita-wanita gila. Ngomongin lelaki kayak ngomong sandal jepit aja. Suka dipakai, enggak suka ya ganti yang baru.


"Madam, aku ke kamar dulu. Capek. Von, aku masuk dulu," pamit Tomi.


"Oke, Tom," jawab Cyntia.


Lalu Tomi pergi ke kamar Cyntia, meninggalkan dua wanita hyper itu.


Voni menatap punggung Tomi yang kemarin sudah membuainya dan membuat Voni ketagihan.


"Dia anak buahmu?" tanya Voni.


"Iya. Kalian sudah kenal?"


Voni mengangguk. Lalu menceritakan pertemuannya dengan Tomi kemarin di toko sepatu.


"Oh, jadi kamu yang bayarin sepatu buat adiknya Tomi?" tanya Cyntia.


Voni mengangguk dengan enteng. Bagi Voni, janda kaya raya, kalau sekedar sepatu, tak masalah. Bahkan pabriknya pun mampu dia beli.


"Boleh aku pakai, Cin?" tanya Voni. Meskipun dia punya nomor Tomi, tapi sebagai pelanggan Cyntia, dia tak mau melangkahi.


"Boleh aja, kalau kamu mau," jawab Cyntia sambil menyalakan rokoknya.


"Maulah. Dia sangat perfecto." Voni pun tertawa.

__ADS_1


Memang kelihaian Tomi tak perlu diragukan lagi. Meskipun dia pemain baru.


"Oke. Asal kamu berani bayar mahal. Enggak barter pakai sepatu lagi."


Dan mereka berdua tertawa.


Cyntia masuk ke dalam dan mengambil sebotol minuman keras dari dalam kulkas. Untuk menjamu tamunya yang juga hoby minum.


"Kamu masih punya stock aja, Cin?" Voni menerima sloki yang sudah diisi oleh Cyntia.


"Pasti dong. Khusus untuk menjamu tamu spesialku."


Lalu mereka minum bersama hingga hampir setengah botol.


"Cukup, Cin. Aku mau ke rumah temanku. Nyupir sendiri, takut oleng," tolak Voni saat Cyntia menuangkannya lagi.


"Tumben. Biasanya kamu pakai taksi online?" tanya Cyntia.


Meskipun orang kaya dan koleksi mobil mewahnya banyak, Voni lebih suka menggunakan jasa taksi online.


Katanya biar enggak usah ribet parkirnya.


"Iya, tadi aku mampir-mampir. Ribet juga kalau bolak balik pesan. Nanti kalau aku udah senggang, aku kabari lagi, Cin. Aku mau dia," ucap Voni sambil menunjuk ke kamar Cyntia dengan dagunya.


"Siap. Calling aja. Aku pasti siapkan untuk kamu," sahut Cyntia.


Cyntia mengunci pintu gerbangnya dan masuk ke kamar, menyusul Tomi yang sudah tertidur pulas.


Dunia hitam yang digeluti Cyntia, mampu membuat kenyamanan dalam hidupnya. Juga hidup semua anak buahnya.


Cyntia tak pernah memakan sendiri hasilnya. Baginya fifty-fifty dari pembagian hasil kerja mereka, sudah lebih dari cukup.


Cyntia memeluk tubuh Tomi yang membelakanginya. Dan mereka pun tidur sampai menjelang sore.


Tomi terbangun saat mendengar hapenya berdering. Ada panggilan masuk dari ibunya sendiri.


"Iya, Bu. Ada apa?" tanya Tomi dengan suara parau.


"Adikmu, Sinta masuk rumah sakit, Tom. Kamu bisa ke sini kan? Kalau bisa, Ibu carikan uang buat biayanya. Pihak rumah sakit enggak mau menangani kalau belum kasih deposit," sahut Lastri, ibunya Tomi, dengan panik.


"Kenapa bisa masuk rumah sakit, Bu? Bukannya kemarin, Sinta baik-baik aja?" tanya Tomi.


Kemarin saat mengantarkan sepatunya Ryan, Tomi sempat melihat adik perempuan satu-satunya itu masih sehat.


"Iya. Semalam drop lagi. Dan tadi siang kondisinya makin menurun. Jadi kita bawa ke sini," jawab Lastri hampir menangis.


"Ya udah, Bu. Tomi segera ke sana. Ibu tenang aja dulu."

__ADS_1


Tomi menutup telponnya dan segera berdiri.


"Ada apa, Tom?" tanya Cyntia yang ikut mendengar meski tak terlalu jelas.


"Adikku masuk rumah sakit. Kondisinya drop. Aku tinggal dulu, ya?"


Tomi ke kamar mandi. Membasuh mukanya yang kucel. Cyntia pun ikut bangun.


"Tom. Kalau butuh bantuan biaya, kabari aku. Nanti aku bantu," ucap Cyntia.


"Siap, Madam." Tomi mencium pipi Cyntia sekilas. Lalu keluar dari kamar diikuti Cyntia.


"Ati-ati di jalan, Tomi. Jangan panik," ucap Cyntia sambil membukakan pintu gerbangnya.


Tomi menstater motor butut bapaknya. Tapi berkali-kali distater, tak juga hidup.


"Pakai mobilku dulu saja, Tomi. Ambil kuncinya di atas tivi," ucap Cyntia.


Cyntia sudah sangat percaya pada Tomi. Meski kelakuannya boleh dibilang bejad, tapi Tomi memiliki hati yang sangat baik.


Tidak culas ataupun serakah seperti beberapa anak buah Cyntia yang lain. Dan Cyntia masih bisa mengendalikan Tomi.


Tomi pun mengangguk, lalu berlari ke dalam. Mengambil kunci mobil Cyntia. Dia sangat mengkhawatirkan kondisi adiknya.


Tomi melajukan mobil Cyntia menuju rumah sakit. Sampai di ruangan yang dikasih tahu ibunya, Tomi melihat bapak dan ibunya sedang menangis berpelukan.


"Ibu. Bapak. Ada apa ini?" tanya Tomi.


Hardi melepaskan pelukannya. Lalu menatap wajah anak sulungnya yang sekarang jarang sekali pulang ke rumah.


"Sinta....tak bisa tertolong lagi, Tom," jawab Lastri sambil terus menangis.


Tomi memeluk ibunya yang masih menangis. Tomi pun merasa sangat kehilangan.


"Terlambat menangani. Kami tak ada uang untuk membayar depositnya," ucap Hardi dengan suara sumbang.


Hardi merasa gagal sebagai seorang bapak. Tak mampu memberikan pengobatan yang layak untuk anaknya yang berkebutuhan khusus.


Hampir dua puluh tahun, mereka hidup bersama. Mengasuh dan merawat Sinta yang mempunyai kekurangan dengan penuh kasih sayang.


Dan sekarang, hanya karena masalah uang deposit, mereka harus kehilangan Sinta untuk selama-lamanya.


Tomi hanya bisa terdiam setelah melepaskan pelukannya. Mestinya kedua orang tuanya mengabari dari awal. Tomi pasti akan mencarikan biayanya.


Tapi Tomi tak bisa menyalahkan kedua orang tuanya. Mereka pasti tak yakin kalau Tomi bisa memberikan uang deposit, yang pastinya tidak sedikit.


"Maafkan Tomi, Pak. Tomi tak bisa banyak membantu." Tomi menundukan wajahnya.

__ADS_1


Dia menyimpan kesedihannya yang sangat mendalam. Kehilangan salah satu adik yang sangat disayangi untuk selama-lamanya.


__ADS_2