
Rasyid muncul di belakang ibu-ibu yang lagi mengghibahinya.
"Mau beli apa?" tanya Yanti dengan ketus.
"Biasa aja suaranya dong, Cantik...!" ucap Rasyid dengan gaya gombalnya.
"Cie...yang dirayu langsung merona, tuh...!" ledek Yuni, lalu ngakak. Temannya Yuni ikutan ngakak.
Yanti mendelik ke arah mereka berdua.
"Enggak mau diganggu, ya? Ya udah, kita pulang deh. Yuk ah, jangan gangguin orang pacaran!" ajak Yuni pada temannya.
Dan mereka pun langsung kabur.
"Eh....mau pada kemana, kalian?" tanya Yanti.
Yanti merasa tak nyaman kalau menghadapi Rasyid seorang diri. Karena ujung-ujungnya Rasyid bakalan ngutang.
"Pulang! Kasihan yang mau ngapel! Hahaha!" Mereka berdua ngacir sambil ngakak.
Yanti mendengus dengan kesal. Pasti sebentar lagi bakalan beredar gosip yang semakin digosok makin sip.
"Mau beli apa kamu?" Yanti mengulang lagi pertanyaannya tadi.
Rasyid mengeluarkan uang limapuluh ribuan.
"Rokok ama kopi!" ucap Rasyid.
Yanti segera mengambil uang Rasyid. Sebelum Rasyid mengambilnya lagi.
"Berapa?" tanya Yanti masih dengan nada ketus.
"Ya itu dapat berapa?" Rasyid balik bertanya.
Tanpa bertanya lagi, otak Yanti berpikir sendiri. Lalu dia mengambilkan rokok dan kopi sesuai uang yang diberikan Rasyid.
Yanti bukan type pedagang curang yang suka membohongi pembelinya. Dia akan memberikan sesuai dengan uang pembelinya.
Satu rupiah kembaliannya pun, akan Yanti berikan.
Beda dengan Rasyid yang biasanya berujung kurang uang dan ngutang.
"Nih! Udah semua. Pas!" ucap Yanti sambil memberikan belanjaan Rasyid.
Rasyid melihat ke dalam kantong plastik yang diberikan Yanti.
"Kok enggak ada gulanya?" tanya Rasyid.
Hhh! Mulai deh. Batin Yanti dengan geram.
Tapi Yanti tak kehabisan akal. Dia tidak mau kalau diakalin Rasyid.
Yanti mengambil lagi kantong plastik yang dibawa Rasyid.
"Sini!"
__ADS_1
Rasyid yang tak menyangka Yanti akan mengambilnya, terpaksa melepaskan kantong plastik yang dipegangnya.
Yanti mengambil beberapa sachet kopi dan menukarnya dengan gula pasir.
"Lho, kok kopinya dikurangi?" tanya Rasyid.
"Memangnya kamu mau nambahin uangnya?" Yanti balik bertanya.
Dan tanpa diduga oleh Yanti, Rasyid yang lagi banyak uang, merogoh lagi kantong celananya.
"Nih!" Rasyid menjatuhkan uang sepuluh ribuan ke atas etalase.
Yanti meliriknya dengan dingin. Lalu meletakan kembali kopi yang diambilnya.
Setelah mengambil uang Rasyid, Yanti mengambilkan sebungkus gula pasir.
"Laras tadi pulang terus pergi lagi. Diantar siapa?" tanya Yanti sambil menyerahkan bungkusan gula.
"Laras sekarang kerja. Di tempat kawanku yang pengusaha," jawab Rasyid.
"Ooh. Kerja di rumahnya?" tebak Yanti.
"Dia jadi asisten pribadinya. Sekretaris," sahut Rasyid. Dia tak mau mengaku. Karena pasti Yanti akan mengecap Laras kerja jadi pembantu. Walaupun kenyataannya begitu.
"Memangnya Laras dulu sekolahnya jurusan sekretaris? Bukannya cuma SMA biasa?" tanya Yanti.
Rasyid berpikir sejenak. Benar juga omongan Yanti. Coba dulu dia memasukan Laras ke SMK jurusan sekretaris atau apalah, pasti impiannya bakal terwujud. Anak-anaknya bisa jadi seorang sekretaris atau minimal kerja kantoran.
"SMA juga bisa. Yang penting dia menguasai komputer dan akuntansi," jawab Rasyid.
"Iyalah. Namanya juga sekretaris. Ngikutin kemana aja bosnya pergi. Enak kan, bisa bepergian gratis." Rasyid mulai narsis.
Rasyid memang terkenal sombong dan tak mau direndahkan.
"Kalau nginep-nginep begitu di hotel, masa iya bosnya nyewain kamar sendiri buat Laras? Sewa kamar hotel kan mahal?" Yanti mulai menyelidik.
Yanti masih berpikiran negatif pada seorang sekretaris yang selalu dibawa kesana kemari oleh bos.
Dipikiran Yanti, pasti sekretaris gampang dipakai oleh bosnya. Apalagi kalau keluar kota, pasti disuruh nemenin tidur.
"Ya iyalah, Yanti...! Kalau namanya bos itu pasti uangnya banyak. Emangnya kamu yang cuma pedagang warung kecil begini! Udah ah, pusing ngomong sama kamu. Enggak nyambung!" Rasyid memasukan gula ke dalam kantong plastik yang akan dibawanya.
"Ish! Kata siapa enggak nyambung? Kamu itu yang enggak nyambung. Ditanyain apa, jawabnya apa!" sahut Yanti dengan kesal.
"Aku kan udah jawab semua pertanyaan kamu, Yanti. Kurang gimana lagi? Memang itu kenyataannya, kan?" Rasyid tak mau dianggap tak nyambung.
"Iya deh. Makasih jawabannya!" sahut Yanti dengan ketus.
"Wah, disini anginnya sepoi-sepoi, ya," ucap Rasyid.
Maklum saja, Rasyid tak pernah di luar rumah sekedar menghirup udara segar. Kerjaannya ngerem mulu di dalam rumah.
"Iyalah. Makanya warungku kan laris!" jawab Yanti seenaknya. Dia masih bete tadi dikatai Rasyid cuma penjual warung kecil.
Beni pulang dari kerja. Motornya masuk ke halaman rumah.
__ADS_1
Rasyid langsung saja pergi tanpa pamit lagi.
"Kok baru pulang, Ben?" tanya Yanti.
"Iya, Bu. Tadi ada meeting sebentar," jawab Beni sambil mencium tangan Yanti.
Biasanya jam lima sore, Beni sudah sampai ke rumah. Beni tak begitu suka nongkrong seperti teman-teman kerjanya yang lain.
Beni masuk ke dalam rumah. Yanti mengekorinya. Seperti biasanya, Yanti akan membuatkan teh hangat untuk anak satu-satunya ini.
"Mau ngapain om Rasyid tadi, Bu?" tanya Beni.
Beni duduk di kursi ruang tamu, sambil melepaskan sepatunya.
"Biasalah. Beli rokok ama kopi," jawab Yanti. Lalu masuk ke dapur.
Beni membuka ponselnya. Sebenarnya dia berharap ada pesan chat dari Laras. Atau minimal ada status whatsapp Laras yang bisa dikomentarinya.
Tapi ternyata, tak ada sama sekali jejak Laras. Kalau dia memulai percakapan dulu, Beni merasa enggan. Enggak enak kalau ternyata Laras sedang bersama Tomi.
"Laras katanya sekarang udah kerja, Ben," ucap Yanti setelah selesai membuatkan teh.
"Oh ya? Kerja dimana, Bu?" tanya Beni.
"Enggak tau. Tadi Rasyid bilang kerja jadi sekretaris pribadi seorang pengusaha."
Uhuk!
Uhuk!
Beni yang baru mau minum, jadi tersedak.
"Ati-ati, Beni!" Yanti segera mengambilkan tissue.
"Makasih, Bu," ucap Beni, lalu mengelap mulutnya yang basah.
"Kamu pasti enggak percaya, kan? Sama. Ibu juga enggak percaya omongan Rasyid," ucap Yanti.
"Laras kan cuma lulusan SMA, Bu. Tak punya keahlian sebagai sekretaris. Laras juga enggak pernah kerja sebelumnya," sahut Beni.
"Ibu juga tadi bilang begitu. Tapi dasarnya Rasyid sombong, jawabnya ya ngawur gitu!" ucap Yanti.
"Ya udah. Enggak usah dipikirin, Bu." Beni kembali menyeruput tehnya.
"Tadi tuh Ibu sama ibu-ibu disini lihat si Laras pulang, dianter mobil sama laki-laki. Kayaknya sih bukan si Tomi. Terus Laras pergi lagi bawa tas besar," ucap Yanti.
"Mau kemana dia?" tanya Beni.
"Itu yang tadi Ibu tanyain ke Rasyid. Malah jawabnya kayak gitu," jawab Yanti.
"Kayak gitu gimana, Bu?" tanya Beni lagi.
"Tadi yang Ibu bilang. Katanya Laras jadi sekretaris pribadi. Mau diajak keluar kota ama bosnya, kata Rasyid," jawab Yanti.
"Apa? Baru mulai bekerja terus dibawa keluar kota sama bosnya?" Beni membelelakan matanya.
__ADS_1
"Udah, enggak usah dipikirin!" balas Yanti. Lalu pergi kembali ke warungnya.