
Malam itu, Tomi menginap di rumah Laras. Rasyid terpaksa mengijinkan. Karena tak mungkin menyuruh Tomi pulang tengah malam.
Lagi pula dia berharap Tomi mau membantunya menghancurkan Tanto. Rasyid sangat dendam dengan Tanto. Rasanya, apa yang dilakukannya tadi masih kurang.
Seandainya Niken tidak berteriak memintanya berhenti, mungkin Tanto sudah mati di tangannya.
Tadi Rasyid sudah benar-benar gelap mata. Emosinya sudah mencapai ubun-ubun.
Terlebih usaha sebelumnya meminjam uang pada temannya, gagal. Belum lagi usahanya mendekati Ratih terjegal lagi oleh laki-laki bernama Ricko.
Padahal tadi Ratih sudah hampir luluh oleh permintaan maafnya. Akting Rasyid benar-benar memukau dan membuat Ratih hampir menyerahkan diri.
Flash back on.
Usai dari rumah temannya untuk mencari pinjaman dan gagal karena dijegal istri temannya itu, Rasyid meluncur ke rumah Ratih.
Sebelumnya Rasyid memang sudah merencanakan akan meminta maaf pada Ratih. Dan sebagai wujud permintaan maafnya, Rasyid berfikir akan mengajak Ratih makan di luar.
Tapi ternyata uang yang akan dipinjamnya tak sampai ke kantongnya.
Rasyid tak patah semangat. Dia tetap menyambangi Ratih meski tanpa uang sepeserpun.
"Hallo, Cantik," sapa Rasyid. Dia selalu memuji wanita setinggi langit agar mudah luluh.
"Ah, Mas Rasyid, bisa aja," sahut Ratih dengan wajah merona.
"Kamu makin cantik kalau malu-malu begitu, Sayang," ucap Rasyid. Lalu dia meraih tangan Ratih dan mengecupnya dengan lembut.
Ratih pun makin merona. Dia merasa sangat tersanjung dengan pujian Rasyid.
"Masuk, Mas," ajak Ratih tanpa curiga sedikitpun.
Dengan penuh percaya diri, Rasyid masuk dan duduk di sofa panjang. Sengaja dia memilih sofa yang panjang, agar Ratih duduk juga di sebelahnya.
"Mau aku buatkan kopi?"
Jelas saja Rasyid tak menolak. Karena itu adalah minuman favoritnya.
"Gulanya sedikit saja, Sayang. Kalau kamu yang membuatkan, pasti akan tambah manis. Aku takut diabetes." Rasyid terus saja menggombal.
Ratih tersenyum dan melangkah ke dapur dengan riang. Tak ada lagi ketakutan pada Rasyid. Bahkan rasa kesalnya pada Rasyid menguap begitu saja.
Ratih keluar lagi dengan secangkir kopi dan satu toples makanan kering buatannya sendiri.
"Diminum, Mas." Ratih meletakan cangkir kopi di depan Rasyid.
__ADS_1
"Duduk sini dong. Temani aku meminumnya. Karena kopinya akan sangat nikmat kalau diminum bersama kamu."
Dengan sedikit malu, Ratih duduk di sebelah Rasyid.
Rasyid langsung meraih tangan Ratih dan menggenggamnya erat.
"Kamu benar-benar sudah enggak marah lagi padaku, kan?" tanya Rasyid.
Ratih menggeleng sambil tersenyum.
"Haduh, jangan senyum terus dong. Aku jadi enggak tahan," ucap Rasyid lalu mencium lagi tangan Ratih.
Cup.
"Ah....Tangan kamu saja wangi begini. Pasti yang lainnya jauh lebih wangi," ucap Rasyid.
"Bisa saja kamu, Mas." Ratih membiarkan saja Rasyid *******-***** tangannya.
"Tanganmu juga sangat lembut, Sayang." Rasyid kembali mencium tangan Ratih.
Ratih hanya pasrah karena jiwanya sudah melayang oleh gombalan Rasyid.
Rasyid tak menyia-nyiakan kesempatan itu. Dia kembali mencium tangan Ratih dan mulai menyusurinya. Hingga sampai ke telinga Ratih.
Bulu kuduk Ratih langsung meremang. Dia menggeliatkan lehernya karena Rasyid tak juga beralih dari telinganya. Bahkan Rasyid menggigit-gigit kecil telinga Ratih.
"Iih, geli Mas," ucap Ratih. Suaranya sudah mulai parau.
Yes! Rasyid bersorak penuh kemenangan. Dia merasa malam ini Ratih akan menjadi miliknya.
Dia akan menikmati semua milik Ratih tanpa halangan lagi. Apalagi rumah Ratih tak ada siapapun. Seperti biasanya, anak Ratih menginap di rumah budenya.
Rasyid tersenyum. Lalu bibir tebalnya beralih ke leher jenjang Ratih.
"Jangan begini, Mas...." Ratih semakin menggelinjang. Rasyid pun semakin lupa diri.
Ditatapnya wajah ayu Ratih penuh cinta. Bukan, tapi penuh nafsu birahi.
Ratih yang juga sangat merindukan belaian, tak menolak saat Rasyid mulai mendekatkan wajahnya dan ******* bibir tipis Ratih dengan lembut.
Awalnya hanya ******* ringan. Tapi lama-lama jadi menuntut. Rasyid terus menyesap dan mencari kenikmatan melalui rongga mulut Ratih.
Ratih yang tadinya hanya diam, mulai membalas cumbuan Rasyid. Dan perang lidahpun tak terelakan. Mereka saling menyesap, saling membelit. Hingga terdengar suara krecek-krecek.
Tangan Rasyid tak tinggal diam. Mulai lah tangan Rasyid berkelana. Hingga menggapai puncak gunung Ratih dan memainkannya dengan lembut.
__ADS_1
Ratih semakin menggelinjang. Rasyid semakin liar. Dia singkap baju kaos Ratih juga penutup dua gunung itu. Dan terpampanglah pemandangan yang sangat menakjubkan.
Maklumlah, selama ini Rasyid kebagian main dengan wanita estewe. Yang gunungnya sudah mulai runtuh.
Saat Rasyid hendak menerkamnya, tiba-tiba ponsel Ratih berdering. Dan Ratih yang tadi sempat kehilangan kesadaran, langsung beringsut menjauh dari Rasyid.
Dia mengambil ponselnya dan melihat siapa yang menelponnya.
Sebuah panggilan dari Ricko. Ratih tak mungkin mengabaikannya. Karena malam ini, Ricko berjanji akan membelikan sepatu baru buat Ratih dan anaknya.
Rasyid sempat membaca nama pemanggilnya. Bebeb Ricko. Rasyid melengos kesal. Kenapa nama itu lagi yang menghancurkan acaranya.
Ratih langsung merapikan bajunya, seakan takut Ricko melihatnya. Padahal Ricko hanya menelponnya.
Ratih semakin menjauh saat mengangkat telpon dari Ricko. Bahkan Ratih beranjak berdiri.
Rasyid berdecak sebal. Senjatanya yang tadi sempat berdiri, tiba-tiba menjadi loyo dan mengkerut lagi.
"Mas, maaf. Aku ada janji dengan mas Ricko. Dia udah nunggu aku di toko sepatu. Mas Rasyid pulang ya," usir Ratih dengan halus. Tapi sangat menyakitkan hati Rasyid yang tadi sudah on fire.
"Apa enggak bisa ditunda dulu?" tanya Rasyid mencoba bernegosiasi.
"Besok Sinta sangat membutuhkan sepatunya, Mas. Kebetulan sepatu olah raganya Sinta udah jebol. Aku juga pingin sepatu baru yang lagi ngetrend," jawab Ratih.
Ah, andai saja aku punya uang....aku pasti yang akan membelikannya. Rasyid mulai merutuki dirinya yang kere.
Ratih menatap Rasyid tak lagi dengan penuh nafsu. Tapi lebih meminta pengertian Rasyid untuk segera pulang dari rumahnya.
"Baik. Kalau itu mau kamu. Aku pulang!" ucap Rasyid pura-pura tersinggung. Dengan harapan Ratih berubah pikiran dan menahannya pergi.
Tapi sayangnya, harapannya sirna. Saat seorang lelaki muda mengetuk pintu rumah Ratih yang terbuka.
Dia mengaku sebagai supir taksi online yang dipesan atas nama Ricko untuk menjemput Ratih.
"Iya, Pak. Saya yang bernama Ratih. Tunggu sebentar, ya." Ratih langsung masuk ke kamar mengambil tasnya. Sekalian juga ganti kaos yang lebih ketat. Hingga semakin menampakan siluet gunung kembarnya yang tinggi menjulang.
"Ayo, Pak," ajak Ratih.
Rasyid yang sudah terlanjur kesal, sudah berada di atas motor bututnya. Dia menatap kepergian Ratih dengan hati kesal.
Sekali lagi Ricko telah menjegalnya. Kali ini Rasyid kalah modal. Dan pulang kembali ke rumahnya dengan membawa kekesalan.
Dia berjanji, suatu saat akan membalas Ricko dengan lebih menyakitkan.
Flash back off.
__ADS_1