
Beberapa hari kemudian, Laras sudah mulai sehat. Tak ada yang bisa dilakukannya selain meneruskan episode novel online-nya.
Kegiatan yang beberapa hari ini dia tinggalkan. Bukan karena tak ada waktu, tapi otak Laras yang lagi tidak konek.
Terlalu banyak masalah, membuatnya kehilangan mood menulis.
"Ngapain kamu?" tanya Rasyid.
"Nerusin bikin novel," jawab Laras.
"Kerjaan enggak ada hasilnya, ngapain kamu terus-terusin!" ucap Rasyid.
"Kan Ayah yang nyuruh Laras nulis," sahut Laras.
"Cckk!" Rasyid berdecak kesal.
Laras sekarang semakin berani menjawab omongannya.
"Kamu kerja ada deh!" ucap Rasyid.
"Kerja apaan?" tanya Laras heran. Dari dulu Rasyid selalu berusaha melarang Laras mencari pekerjaan.
"Dino lagi butuh orang buat di rumahnya," jawab Rasyid.
"Jadi pembantu?" tanya Laras.
"Kamu jadi asisten rumah tangga," jawab Rasyid.
"Itu sama aja dengan pembantu, Yah!" sahut Laras.
"Beda dong! Kalau pembantu itu kamu ngepel, bersih-bersih rumah. Kamu di sana cuma menjaga rumahnya aja. Ngawasin pembantu di rumahnya. Katanya pembantunya baru lagi. Belum bisa dipercaya!" kilah Rasyid.
Laras mendengus dengan kesal. Mau jagain rumah, mau ngawasin, tetep aja namanya pembantu.
"Nanti Ayah hubungi Dino. Siapa tau mulai besok kamu udah bisa kerja." Rasyid berlalu dari depan kamar Laras.
Laras semakin kesal. Dia lemparkan ponselnya ke atas tempat tidur.
Laras berjalan ke ruang tamu.
"Terus Laras mesti tinggal di sana?" tanya Laras.
"Ya enggaklah. Malam Ayah jemput kamu!" sahut Laras.
"Laras enggak mau!" tolak Laras.
"Terus kamu mau ngapain? Ayah enggak punya uang lagi buat kasih makan kamu!" sahut Rasyid.
"Yah, Laras enggak minta makan lagi dari Ayah juga bisa. Tomi sanggup kasih makan Laras!" ucap Laras.
"Ah, Tomi lagi, Tomi lagi! Mana janjinya yang mau nikahin kamu?" tanya Rasyid.
"Nikah itu butuh biaya, Yah. Kemarin Tomi udah abis banyak buat bayar biaya rumah sakit!" jawab Laras.
"Itu kan tanggung jawabnya Tomi!" sahut Rasyid.
"Tanggung jawab akibat ulah si Niken?" Mata Laras menatap Niken yang sedang duduk tak jauh darinya.
Niken cuma bisa diam. Dia kembali merasa bersalah. Matanya juga menatap Laras.
"Apa lu! Dasar pembunuh!" Laras langsung kembali ke kamarnya.
__ADS_1
Rasyid hanya bisa menghela nafasnya.
Niken terperanjat mendengar kata-kata Laras.
Aku pembunuh?
Membunuh apa?
Bukankah itu cuma segumpal darah?
Niken berdiri dan menghampiri Rasyid.
"Yah, emangnya darah yang kemarin dikeluarin kak Laras, udah ada nyawanya?" tanya Niken.
"Belum!" jawab Rasyid.
"Kalau belum, berarti aku bukan pembunuh dong?" tanya Niken.
Laras yang mendengar pembicaraan mereka, keluar.
"Oh, jadi kamu mau cari pembelaan?" tanya Laras.
Niken menatap wajah Laras dengan tajam. Laras pun membalasnya tak kalah tajam.
"Gue bukan pembunuh!" ucap Niken dengan geram.
"Terus apa kalau bukan pembunuh, hah?" Laras pun tak kalah geram.
"Yang elu keluarin tuh cuma darah! Bukan bayi yang ada nyawanya!" jawab Niken.
"Ya! Cuma darah! Tapi darah itu yang bakal berkembang jadi anak! Lu pikir, elu langsung ujug-ujug jadi anak segede ini? Dasar tolol!" maki Laras.
"Elu tuh, yang tolol. Udah tau belum nikah, malah hamil duluan!" balas Niken.
"Heh! Udah diam semua! Berantem mulu! Bubar!" teriak Rasyid.
Laras kembali mendengus. Lalu masuk kembali ke kamarnya.
Duer!
Laras membanting pintu kamarnya dengan keras.
Rasyid mengacak rambutnya. Lalu beranjak dari sofa bututnya dan menyaut kunci motor.
"Ayah mau kemana?" tanya Niken.
"Pusing Ayah di rumah. Mau cari angin!" sahut Rasyid.
"Terus kami makan apa, Yah?" tanya Niken. Dia dan Ayu juga Laras, dari pagi belum makan.
"Makan angin!" sahut Rasyid tak peduli. Lalu pergi begitu saja dengan motornya.
Niken cuma bisa menatap kesal ke arah Rasyid yang mulai jauh.
Jadi orang tua kayak gitu. Seenaknya aja pergi. Enggak mikir apa, anak-anaknya kelaparan? Batin Niken.
Niken tak tahu kalau Rasyid sedang pusing setengah mati, karena tak punya uang sepeserpun untuk makan mereka.
Dia sudah berusaha. Mulai dari merayu teman-teman wanitanya di medsos supaya mau kasihan padanya. Tapi rupanya rayuan Rasyid kurang maut.
Tak ada satu orang pun yang merasa trenyuh dan dengan suka rela memberikan uang pada Rasyid.
__ADS_1
Teman-teman lelakinya juga tak ada yang mau memberikan uang, meski Rasyid berkilah hutang.
Karena mereka tahu kalau Rasyid tak akan mungkin bisa membayarnya.
Mereka sudah tahu kalau Rasyid seorang pengangguran. Jelas saja mereka menolak.
Rasyid juga sudah berusaha memeras Bowo lewat Cyntia. Tapi kelihatannya zonk juga. Karena Cyntia bukannya menyampaikan pada Bowo seperti skenarionya, dia malah ingin mempertemukannya langsung dengan Bowo.
Tentu saja Rasyid memilih kabur. Daripada dia bakal bonyok lagi dihajar Bowo.
Ratihpun berkali-kali dihubungi Rasyid tak mau mengangkat telponnya. Dikirimi pesan juga tak dibaca.
Kelihatannya Ratih sudah mulai asik dengan Ricko. Lelaki kaya yang bagai langit dan bumi dengan Rasyid.
Rasyid hanya berputar-putar saja mengelilingi jalanan kota. Sambil matanya terus menatap ke jalan. Dia berharap ada uang segepok tergeletak di jalan.
Sayangnya bukan uang segepok yang ditemui Rasyid. Tapi hanya uang coin lima ratusan, kadang seribuan yang ditemukan Rasyid.
Tak jarang juga hanya uang coin seratus perak. Mungkin itu uang milik orang yang menggelinding dari kantong celana atau tas.
Dengan terpaksa Rasyid memungutinya. Dia berharap bisa mendapatkan banyak. Lumayanlah bisa buat beli empat bungkus nasi. Meski dengan lauk sedapatnya.
Ciiit...!
Suara rem yang ditekan mendadak dari motor seorang ibu setengah tua. Dia kaget karena tiba-tiba Rasyid menghentikan motornya. Lalu menunduk memungut sebuah uang coin.
"Aduh, Pak. Jangan berhenti mendadak, dong!" seru si ibu. Hampir saja dia jatuh dari motornya.
"Oh maaf, Bu. Saya lagi ngambil uang yang jatuh," sahut Rasyid.
Si ibu itu melihat ke tangan Rasyid yang baru saja memungut uang coin.
Cuma uang coin aja, diambil lagi. Bikin orang mau celaka. Batin si ibu.
"Itu uangnya, Bapak?" tanya si ibu.
"Bukan, Bu. Uang orang. Sayang kebuang-buang. Kalau dikumpulin kan bisa banyak. Bisa buat beli makan anak-anak saya!" jawab Rasyid. Dia mulai dengan aksi memelasnya.
Tak bisa memelas di medsos, di dunia nyata juga tak masalah. Yang penting anak-anaknya tak mati kelaparan.
"Ya ampun, Pak. Memangnya Bapak enggak kerja?" tanya si ibu. Dia sudah mulai masuk ke perangkap Rasyid.
"Saya dipecat dari tempat kerjaan, Bu. Nyari kerja lagi belum dapet!" jawab Rasyid berbohong.
"Ooh, ya ampun. Terus nganggur dong?" tanya si ibu dengan mimik cemas.
"Ya beginilah, Bu. Saya punguti uang dijalanan. Daripada minta-minta sama orang!" jawab Rasyid.
Si ibu menghela nafasnya. Lalu mengambil dompetnya dalam tas.
"Ini cukup buat makan anak-anak Bapak?" Si ibu memberikan selembar lima puluh ribuan pada Rasyid.
"Wah, jangan repot-repot, Bu." Rasyid pura-pura menolak.
"Enggak repot, ambil aja!" sahut si ibu.
"Beneran ini?" tanya Rasyid.
Si ibu mengangguk.
"Terima kasih banyak, Ibu yang cantik. Baik hati dan tidak sombong. Semoga hidup Ibu berkah, rejekinya lancar, dimudahkan segala urusannya....!"
__ADS_1
Belum sempat Rasyid meneruskan kalimatnya, si ibu itu sudah ngeloyor pergi.