
Setelah Tomi memijat bahunya, Sylfie mengajak Tomi ke sebuah pusat perbelanjaan. Niatnya hanya mau belanja kebutuhan rumah di supermarket. Tapi begitu melihat promo di sebuah butik langgananya, Sylfie berbelok.
"Ke sini dulu, Tom. Lagi ada promo."
Tomi menuruti. Dia mengikuti Sylfie masuk ke butik itu. Ada banyak pakaian khusus wanita dan pernak perniknya yang dipamerkan.
Dengan patuh, Tomi mengikuti Sylfie yang melihat barang-barang yang sedang promo.
"Tante sering ke sini?" tanya Tomi saat dia mulai bosan karena Sylfie masih saja melihat-lihat.
"Iya, Tom. Aku kalau belanja pakaian di sini," jawab Sylfie.
"Selamat sore Sylfie. Ada yang bisa saya bantu?" sapa seorang wanita seumuran Sylfie juga.
Tomi terbelalak saat melihat siapa wanita itu. Maya. Ya, dia pemilik butik mewah ini.
"Tomi!" seru Maya. Dia juga terkejut melihat Tomi jalan bareng dengan pelanggannya.
"Hey, May. Kalian kenal?" tanya Sylfie.
Tomi hanya diam saja. Dia bingung menjawabnya.
"Oh, kebetulan iya. Kalian?" tanya Maya.
"Kami berteman. Kalian kenal di mana?" tanya Sylfie lagi.
"Mm. Hanya kenal di dumay saja. Iya kan, Tom?" tanya Maya pada Tomi.
"I...Iya," sahut Tomi gelagapan. Tapi dia beruntung karena Maya menjawab seperti itu.
Meski sekarang profesi Tomi sebagai pemuas wanita, tapi dia malu juga kalau Maya mengatakan yang sebenarnya.
Maya juga malu pada pelanggan yang sudah dikenalnya dengan baik ini. Malu kalau ketahuan dia pernah memakai Tomi.
Selama ini Maya selalu menjaga image-nya di depan pelanggan, kalau dia wanita baik-baik dan bersuami.
"Oh. Santai aja," sahut Sylfie. Dia yang sudah terbiasa dengan dunia seperti itu, malah merasa geli dengan jawaban Maya. Apalagi tingkah Maya yang jadi kikuk.
Ngaku juga enggak apa-apa. Siapa yang mau peduli? Batin Sylfie.
Lalu Sylfie kembali melihat pakaian yang sedang dipajang.
"Ini bagus enggak, Tom?" tanya Sylfie.
Maya sudah menjauh, digantikan dengan seorang wanita muda, karyawannya. Sylfie yang selalu bersikap cuek dengan sekitarnya, hanya mengedikan bahu.
__ADS_1
"Bagus, Tante." Tomi hanya melihat sekilas. Matanya tertuju pada sosok karyawan Maya yang mirip Laras.
"Bisa dicoba dulu, Tante," ucap karyawan Maya.
"Ok." Sylfie berjalan menuju fitting room. Sylfie melewati Maya yang dari tadi memperhatikannya.
Sylfie tersenyum mengejek. Lalu masuk ke fitting room.
"Hay, siapa nama kamu?" tanya Tomi pada wanita berwajah cantik. Mirip Laras, tapi yang ini lebih terawat. Jelas saja, dia bekerja di butik. Tak mungkin berpenampilan seadanya seperti Laras.
"Dina," jawabnya singkat.
"Aku Tomi." Tomi mengulurkan tangannya. Dan disambut Dina dengan hangat.
Mata Dina pun tak lepas dari wajah Tomi yang cukup menawan. Meski tak terlalu ganteng. Maklumlah, Tomi orang jalanan yang tak mengenal skin-care.
"Dina! Tolong bungkuskan pakaian ini!" seru Maya. Dia sedang menerima transaksi dari Sylfie.
Dina bergegas menghampiri. Lalu merapikan pakaian yang telah dibayar oleh Sylfie.
"Sudah berapa kali pakai, May?" tanya Sylfie setelah membayar belanjaannya.
Wajah Maya langsung memerah. Bagaimana mungkin Sylfie menanyakan itu di depan karyawan-karyawannya.
Sylfie yang sengaja ingin menggoda Maya, tertawa tergelak. Lalu pergi membawa paper bag-nya.
Tomi pun tak kalah groginya. Bagaimana kalau Dina mendengar? Tadi dia baru saja berkenalan.
"Kita makan dulu ya, Tom. Belanjanya nanti aja," ajak Sylfie. Dia menggandeng tangan Tomi tanpa risi dan membawanya ke sebuah restauran.
"Kamu mau makan apa?" Sylfie yang sudah duduk membuka-buka buku menu.
"Apa saja, Tante. Aku kan belum pernah ke sini. Enggak tau mana menu yang enak," jawab Tomi.
Lidahnya yang masih konvensional, tidak mudah menerima makanan asing. Tomi juga bukan type orang yang suka asal makan. Mungkin karena dia terbiasa makan masakan ibunya di rumah.
"Mau nasi apa pasta?" tanya Sylfie lagi.
Aduh, aku enggak biasa makan pasta. Kalau pilih nasi, Sylfie malu enggak ya? Tanya Tomi dalam hati.
Dia melihat ke sekitar dulu. Melihat ke meja mereka. Ada tidak yang memilih menu nasi.
Tomi malah fokus melihat seorang pemuda seumurannya sedang makan dengan seorang wanita yang kelihatannya lebih tua dari Sylfie.
Tangan pemuda itu *******-***** tangan wanitanya dengan lembut. Dan si wanita setengah baya itu tersenyum penuh arti.
__ADS_1
Tomi merasa kenal dengan wajah pemuda itu. Tapi dimana, Tomi tak ingat.
Apa dia juga sepertiku? Seorang lelaki bayaran yang menemani kliennya.
"Hey! Kok malah lihat ke sana?" Sylfie menyentuh tangan Tomi.
"Eh, iya. Nasi saja, Tante," jawab Tomi.
"Nah, gitu dong. Kasihan kan Mbaknya nunggu lama," sahut Sylfie.
Mata Tomi menatap pelayan yang berdiri tak jauh darinya. Busyet, cantik banget. Batin Tomi.
Seperti saat melihat Dina tadi, Tomi kembali mengagumi kecantikan pelayan itu. Dalam hati ingin sekali berkenalan. Tapi jelas tak mungkin. Dia tak enak dengan Sylfie. Dia kan sedang dibooking.
Sylfie menyebutkan menu yang dipesannya. Lalu pelayan cantik itu berlalu setelah mencatatnya.
Mata pelayan tadi juga sempat bertemu dengan mata Tomi. Dan dia sudah memberikan senyuman termanisnya.
Tomi melirik lagi ke meja sebelah. Pemuda yang bersama dengan wanita setengah baya tadi sedang mengelap makanan yang menempel di bibir wanitanya.
Hufh! Mesra sekali. Apa aku juga harus bersikap mesra pada Sylfie? Biar Sylfie tak bisa lari darinya dan berganti-ganti lelaki.
Dan yang bikin Tomi kesal pada Sylfie, dia sering membandingkannya dengan Adam. Meski Adam sahabatnya, tapi dia tak suka kalau dibanding-bandingkan dengannya.
"Tante," ucap Tomi. Dia meraih tangan Sylfie. Dia akan mulai bersikap mesra pada Sylfie. Tak mau kalah dengan pasangan beda usia yang duduk tak jauh darinya.
"Kenapa, Tom?" Sylfie bersikap biasa saja. Tak memandangnya dengan mesra seperti wanita setengah baya itu.
"Setelah belanja nanti, kita ke apartemen lagi, kan?" tanya Tomi. Malam ini dia ingin memuaskan Sylfie.
"Iya. Kenapa? Kamu udah kepingin?" tanya Sylfie tanpa malu-malu.
Padahal pelayan cantik tadi sudah datang kembali dengan minuman pesanan mereka.
Tomi sedikit salah tingkah. Lalu melepaskan tangan Sylfie.
"Silakan. Makanannya sebentar lagi, ya," ucapnya dengan ramah.
Sylfie meraih gelasnya dan memberikan gelas satunya pada Tomi.
Mestinya aku yang melakukannya, bukan Sylfie yang melayaniku. Bodoh sekali sih aku ini, gerutu Tomi dalam hati.
"Kamu boleh menginap malam ini di apartemenku, Tom. Tapi bayarannya biasa ya, tak ada tip." Sylfie mengatakannya cukup keras. Sampai pemuda itu melirik ke arah Tomi.
Tomi sedikit malu. Tapi bersikap masa bodo. Toh, dia juga sama seperti dirinya. Hanya lelaki bayaran.
__ADS_1
Masih mending Tomi, Sylfie wanita yang sangat cantik dan sempurna. Tidak terlihat tua seperti yang bersama pemuda itu.