KARMA : Sang Pemburu Wanita Di MEDSOS

KARMA : Sang Pemburu Wanita Di MEDSOS
Bab 183 LARAS DICURIGAI


__ADS_3

Tomi meminjam mobil Cyntia untuk menjemput Laras di rumah Dino.


Di jalan, Tomi menelpon Laras agar keluar dari rumah Dino. Dia menunggunya agak jauhan.


Tentu saja karena Tomi tak mau ketemu dengan Tasya. Apalagi Dino. Bisa kebongkar rahasianya selama ini disembunyikan di belakang Laras.


"Mau kemana, Ras?" tanya Yati.


Laras sudah rapi kembali, setelah tadi rebahan sebentar sambil menunggu Tomi.


"Mm...Aku mau ambil pakaianku dulu di rumah," jawab Laras berbohong.


"Kenapa tidak menyuruh keluargamu aja mengantarkannya? Sebentar lagi pak Dino pulang lho. Nanti dia nyariin kamu," tanya Yati.


"Ayahku enggak bisa nganterin. Dia kalau sore jemput adik-adikku sekolah," jawab Laras.


"Kan bisa malamnya. Kamu enggak buru-buru harus ganti baju, kan?" tanya Yati.


Aduh, gimana ini? Laras malah jadi bingung dan khawatir Yati akan menahannya lebih lama.


"Aku...udah enggak betah. Dalamanku udah kotor," jawab Laras asal.


"Memangnya kamu abis ngapain, sampai ********** kotor?" tanya Yati menyelidik.


"Ya enggak ngapa-ngapain. Cuma aku paling enggak betah kalau terlalu lama enggak ganti," jawab Laras.


"Halah, Ras. Tinggal dibalik aja, kok ribet banget. Nanti kalau ayah kamu udah nganterin pakaian gantimu, baru kamu ganti **********. Atau mau aku ambilkan dalaman punya bu Tasya?" Yati tetap berusaha menahan Laras.


Sebab dia tak mau disalahkan kalau Dino pulang dan menanyakan Laras.


"Nanti ketahuan, Bik," sahut Laras.


"Enggak bakalan ketahuan lah. Kan makenya di dalam. Masa iya, bu Tasya mau menggeledahmu sampai ke dalam-dalam. Lagian dalaman bu Tasya banyak banget. Dia enggak akan kehilangan kalau cuma kehilangan satu," sahut Yati.


"Mm. Aku...enggak biasa pakai dalaman orang lain," ucap Laras.


Yati jadi semakin curiga pada Laras. Sepertinya ada yang enggak beres.


Apa dia mengambil sesuatu di rumah ini? Sampai ngotot pingin pergi sekarang.


Masa iya cuma soal dalaman aja, sampai ngotot begini. Aneh aja.


Aku harus bisa mencegahnya. Entar kalau ada apa-apa, aku bisa kena tuduh.


Tapi gimana lagi caranya? Dia tetap enggak mau dikasih solusi tentang dalaman.


"Adik kamu ada berapa?" tanya Yati.


"Ada dua, Bik. Udah ya, aku udah ditunggu di luar sana," ucap Laras.


Ah, benar. Dia pasti udah mengambil sesuatu. Dan dia sudah ditunggu komplotannya.


Apa aku geledah aja tasnya? Tapi entar dia marah, lagi. Ah, terus gimana ini?

__ADS_1


Yati memutar otak untuk bisa menahan Laras.


"Eh, Ras. Mumpung kamu mau pulang, kamu bawa aja makanan buat adik-adik kamu. Tuh, di dapur banyak makanan." Yati menunjuk ke arah dapur.


Memang benar di dapur banyak makanan sisa. Karena Yati hampir setiap waktu makan, selalu memasak. Kecuali kalau Tasya bilang mereka tidak makan di rumah karena ada acara makan di luar.


Yati juga dilarang menyajikan makanan sisa sebelumnya. Tasya mengijinkan makanan itu dihabiskan oleh Yati juga Sulis.


Makanya Yati yang baru beberapa minggu kerja di rumah mereka, berat badannya langsung naik.


Beda dengan kerja di rumah majikannya sebelum ini. Makannya dijatah. Itu pun bukan makanan yang dimakan majikannya.


"Enggak usah, Bik. Biar nanti aku belikan makanan aja di jalan," sahut Laras. Matanya sudah berkali-kali melihat ke arah luar.


Telpon Laras berbunyi. Tomi yang sudah terlalu lama menunggu, menelponnya.


Waduh, dia bakalan pergi sekarang. Gimana nih?


Yati langsung menarik tangan Laras.


"Aduh, Bik. Lepasin dong. Aku mau pergi sebentar. Ini temanku udah nungguin di depan." Laras menyebutkan kata teman, karena merasa tak enak kalau bilang pacar.


"Nanti dulu. Sayang ini makanannya. Enggak ada yang makan nanti."


Yati terus saja menarik tangan Laras ke dapur.


"Iya. Iya. Aku terima telpon dulu," ucap Laras.


Akhirnya Laras menurut, daripada tangannya sakit ditarik Yati.


"Udah, duduk di sini. Dan bilang sama teman kamu, kalau aku mau siapin makanan buat adik-adik kamu." Yati mendudukan Laras di kursi.


Laras pun menurut sambil matanya menatap Yati dengan kesal.


"Hallo, Tom. Iya sebentar lagi aku keluar. Ini bik Yati mau nyiapin makanan buat adik-adikku dulu katanya," ucap Laras dengan suara pelan.


Tom? Berarti temannya laki-laki, dong. Yati menguping pembicaraan Laras.


"Udah, enggak apa-apa. Kamu tunggu aja di mobil. Nanti kalau aku udah keluar, kita bisa langsung cabut," ucap Laras masih dengan suara pelan.


Tunggu di mobil? Berarti benar dugaanku. Dia punya komplotan.


Gila! Komplotannya naik mobil. Bukan komplotan ecek-ecek ini. Aku harus bisa menahannya.


"Udah, Tomi," ucap Laras.


Oh, jadi namanya Tomi. Oke. Aku akan ingat-ingat.


"Iya. Beres. Udah aku masukin di tas semuanya," ucap Laras.


Mata Yati langsung terbelalak.


Tuh, kan. Benar dugaanku. Dia mengambil sesuatu di rumah ini.

__ADS_1


Jangan-jangan dia tadi masuk ke kamarnya bu Tasya. Lalu dia curi perhiasan dan dimasukin ke tas kecilnya.


Iya. Pasti perhiasan bu Tasya. Karena tasnya kecil. Enggak bakal muat kalau ambil yang lain-lainnya.


Tapi darimana dia tahu tempat nyimpen perhiasannya bu Tasya, ya? Aku aja yang sering membersihkan kamarnya, enggak pernah tahu.


Ah, tapi kalau pencuri itu pasti lebih cerdik. Kayak di film-film barat. Bahkan brankas aja mereka bisa membuka tanpa ketahuan pemiliknya.


Otak Yati sudah dipengaruhi film-film action yang sering ditontonnya.


Meski cuma seorang pembantu, tapi Yati bukan penggemar sinetron yang cuma menjual air mata.


"Ya udah. Tunggu di situ. Aku segera keluar, kalau udah selesai." Lalu Laras menutup telponnya.


"Udah, Bik?" tanya Laras.


"Belum. Sebentar lagi," jawab Yati.


"Kamu tunggu dulu di sini sebentar, Ras. Aku ke kamar dulu," ucap Yati.


Dia berniat mencari Sulis dulu di halaman belakang, untuk membantunya menahan Laras. Lalu dia akan menelpon Tasya.


Yati benar-benar nanti disalahkan kalau ada barang milik Tasya yang hilang.


Yati buru-buru ke halaman belakang. Dia menghampiri Sulis yang lagi menyapu halaman.


"Lis. Sini!" panggil Yati.


"Ada apa, Bik?" tanya Sulis sambil terus menyapu.


"Sini!" Yati melambaikan tangannya.


"Ah, ini anak kelamaan!" Yati langsung menghampiri Sulis.


"Eh, berhenti dulu nyapunya. Dengerin omonganku baik-baik," ucap Yati.


Sulis menurut. Dia pun berhenti menyapu, lalu memasang kupingnya baik-baik.


Yati mulai membisiki Sulis tentang kecurigaannya pada Laras. Padahal Sulis sendiri belum ketemu Laras. Dia baru tahu kalau ada pegawai baru bernama Laras, dari Yati tadi. Saat Laras bilang mau istirahat di kamar.


"Hah...! Yang bener, Bik?" tanya Sulis terkejut.


Yati mengangguk.


"Iya. Makanya kamu berenti dulu nyapunya. Bantu aku mencegahnya pergi. Aku mau telpon bu Tasya," ucap Yati.


"Ayo buruan!" Yati menarik tangan Sulis.


Sulis pun menurut. Dia mengikuti Yati masuk ke dalam dan meninggalkan sapunya begitu aja.


Yati dan Sulis berhenti di dapur.


"Laras....!"

__ADS_1


__ADS_2