
Tomi menatapnya terus tanpa berkedip. Dia membuka kedua kaki Laras agar dia bisa melihat penghuni lembah Laras.
Ada sebuah bukit kecil yang seperti menantang Tomi untuk menyentuhnya. Laras sudah benar-benar pasrah.
Bahkan Laras malah semakin melebarkan kakinya. Seperti di gambar atau video yang pernah ditontonnya saat Niken dan Rasyid sudah tidur. Hingga Tomi bisa melihat dengan jelas kedalamannya.
Pernah suatu kali Tomi meminta Laras memfoto miliknya itu, sebagai sarana fantasi Tomi. Dan sekarang Tomi menatapnya langsung.
Tomi menyentuh bukit kecil itu. Laras terjengit. Tomi merasakan bukit itu basah. Seperti bukit beneran tersiram air hujan. Licin.
Lalu karena penasaran dengan isi di dalamnya, Tomi menyingkap bibir lembah dengan jarinya.
Waow! Ternyata ada perpaduan warna pink dan coklat muda yang begitu serasi.
Tomi sering sekali menonton video dewasa. Dia sangat hafal bagaimana cara memperlakukan lembah itu agar si pemilik semakin membukakan aksesnya.
Tomi mendekatkan kepalanya, dan menjulurkan lidahnya. Laras bagai tersengat aliran listrik. Dia menggeliatkan tubuhnya kesana kemari, bak penari ular.
Tomi malah semakin keranjingan. Dia menyesap dan memainkan lidahnya di sana.
Laras menjerit dan meracau tak jelas. Bahkan sampai Laras duduk saking tidak tahannya.
Tomi yang juga sudah tak bisa menahan diri lagi, menghentikan aksinya dan langsung melucuti pakaiannya sendiri.
Laras terbelalak melihat belalai Tomi yang sudah menjulang tinggi. Bahkan Laras sampai terpekik. Dan menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya.
"Ini milikku, Sayang. Dan akan menjadi milik kamu." Tomi meraih satu tangan Laras dan membiarkan menyentuhnya.
Tangan Laras bergetar hebat. Keringat dingin mengucur deras dari tubuhnya.
"Remas, Ras." Tomi terus menahan tangan Laras. Meski ragu-ragu, Laras menurut juga.
Laras ingat adegan itu di beberapa video yang pernah ditontonnya. Dia pun mempraktekannya.
Kini gantian Tomi yang merem melek. Dan meracau.
Tomi meraih kepala Laras, dan mendekatkan pada belalainya. Laras paham apa yang diinginkan Tomi. Karena pernah suatu waktu Laras melihat milik Tomi saat video call, dia menjilati jempolnya sendiri.
Kini benda itu sudah dia kulum, dan Laras memainkannya dengan ilmu yang didapat dari internet.
Mereka bermain-main sampai puas. Sampai tak bisa lagi saling menahan. Dan Laras melupakan ketakutannya.
__ADS_1
Dia pasrah saat belalai Tomi mulai memasuki lembahnya yang masih sempit. Dengan susah payah, akhirnya Tomi berhasil juga membobol gawang Laras.
Laras sempat memekik karena merasakan perih. Tapi hanya beberapa saat. Karena saat berikutnya, Laras menikmati permainan Tomi.
Bahkan Laras mampu juga mengimbangi permainan Tomi. Mereka berdua benar-benar mengaplikasikan apa yang pernah ditonton.
Gairah muda mereka, tempat dan suasana yang sangat mendukung, membuat mereka tak lelah melakukannya.
Laras tak lagi memikirkan pesan Rasyid yang memintanya tidak pulang kemalaman. Dia tak mau ambil pusing, meski saat pulang nanti Rasyid akan mengamuk.
Bahkan bisa jadi akan menghajarnya habis-habisan. Yang Laras pikirkan hanya bagaimana menghentikan gairahnya yang seakan tak bisa turun. Naik dan terus naik.
Semalaman hingga pagi menjelang, tak lelah mereka melakukannya. Dengan berbagai gaya yang pernah mereka lihat. Dan di beberapa tempat di vila itu.
Di ruang tamu, di ruang tengah, di dapur, di kamar mandi. Bahkan mungkin seandainya bisa di atas genteng, mereka akan melakukannya di sana.
Hingga saat pagi menjelang, mereka terkapar kelelahan.
Sementara Rasyid menunggu di rumah dengan perasaan cemas. Kemana Tomi membawa Laras. Nomor Laras tak bisa di hubungi.
Laras membiarkan hapenya mati. Dia tak mempedulikannya lagi. Laras hanya ingin menikmati malam ini dengan Tomi.
Dan seperti biasa, Rasyid memanfaatkan ruang tamunya.
Tiba-tiba Lili menelponnya menjelang dini hari. Di saat hasrat Rasyid sedang bergelora, akibat adegan panas yang di tontonnya.
Sebenarnya Rasyid sudah sangat kesal pada Lili. Tapi karena dia butuh pelepasan, maka diterimanya telpon dari Lili.
Bahkan Rasyid mengganti mode telponnya ke video call. Dan Lili yang juga sudah sangat merindukan Rasyid, tak menolak. Apalagi malam ini majikannya sedang pergi keluar kota.
Lili pun sudah mengenakan kimono milik Maya yang akan dicucinya besok pagi. Bahkan bra dan CD milik Maya pun dikenakan oleh Lili. Kalau kedua barang ini Lili ambil dari keranjang baju yang sudah di cucinya.
Rasyid juga sudah siap dengan head set yang akan meredam suara Lili nanti agar tak terdengar anak-anaknya.
"Hallo cantik," sapa Rasyid. Dia melihat Lili tampil beda.
Sebuah kimono mewah dari bahan satin yang mengkilap membalut tubuhnya. Rasyid jadi yakin kalau Lili memang orang kaya.
Meski Rasyid kecewa karena informasi yang didapat dari satpam di rumah Lili, dia sudah menikah.
Tapi Rasyid tak peduli. Karena dia juga tak berniat menikahi Lili. Dia hanya ingin mengeruk harta Lili yang dianggapnya kaya raya.
__ADS_1
Lili tersipu malu mendengar panggilan Rasyid untuknya. Dia merasa tersanjung dan melambung.
"Kamu lagi apa, Mas?" tanya Lili.
"Lagi membayangkan kamu, Sayang," jawab Rasyid.
"Membayangkan aku?" tanya Lili dengan suara manja.
"Iya. Buka dikit dong kimono kamu," pinta Rasyid.
Lili pun menurut. Dia tarik sedikit kimononya di bagian bahu. Dan munculah renda bra-nya yang terlihat sangat berkelas.
Wouw! Mata Rasyid terbelalak. Dia pernah iseng browsing dalaman wanita di sebuah toko online, dan Rasyid ingat berapa harga dalaman semewah itu.
Bisa untuk membeli berlusin-lusin dalaman yang dipakai anak-anaknya.
"Boleh aku melihat semuanya? Bra kamu cantik sekali, Sayang. Aku jadi makin bergairah."
Lili sudah memperlihatkan seluruh bra-nya. Rasyid sampai menelan ludahnya.
Aku tak salah menerima telponmu, Li. Batin Rasyid. Selera berpakaianmu luar biasa.
Tidak puas dengan melihat bra Lili, Rasyid ingin melihat ****** ***** yang dipakai Lili.
Lili pun dengan semangat melepaskan kimononya. Dan terpampanglah sebuah ****** ***** dengan warna senada.
Benar-benar wanita berkelas. Tidak murahan seperti yang dikenakan Wulan. Wanita yang telah mengecewakan Rasyid.
Rasyid jadi malu sendiri, saat mengingat dalaman yang dipakainya telah bolong di beberapa bagiannya. Bahkan kolornya pun sudah melar.
Ah, biar saja. Yang penting isinya masih perkasa. Batin Rasyid penuh percaya diri.
Rasyid terus saja merayu Lili, hingga Lili rela polos dan melakukan sendiri dengan jemarinya.
Rasyid pun lebih bergairah. Dia melakukannya sendiri hingga Lili melihat dengan jelas senjata Rasyid mengeluarkan cairan putih kental.
Mereka sama-sama merasakan kepuasan. Bahkan Lili terkapar sendirian di atas tempat tidurnya, tanpa mematikan hapenya.
Rasyid mematikan duluan hapenya sebelum akhirnya dia tertidur pulas. Lega. Itu yang dirasakan Rasyid. Meski melakukannya sendiri dengan pasangan daringnya.
Rasyid tak lagi memikirkan Laras yang belum juga pulang. Laras yang sama-sama terkapar kelelahan bersama Tomi.
__ADS_1