
Keesokan harinya, Beni mengajak Laras ketemuan di luar. Dan Beni mengatakan pada Laras, supaya jangan ada yang tahu kalau mereka ketemuan lagi.
Laras menyetujuinya. Tapi tak bisa siang ini, karena Tomi janji mau mengajak Laras beli baju baru di mall. Meskipun Laras beralasan lain pada Beni.
Beni percaya saja. Toh, dia tak begitu mempermasalahkan Laras lagi.
Beni mulai sadar kalau hubungannya dengan Laras tak bisa dilanjutkan. Apalagi ke jenjang yang lebih serius.
Laras telah memilih lelaki lain. Dan Beni harus bisa berbesar hati menerimanya. Meskipun tak mudah bagi Beni.
Pertemuannya kali ini, benar-benar hanya membahas tentang hubungan kedua orang tua mereka. Yang dicurigai Laras ada yang tak beres.
Di rumahnya, Laras sudah berdandan rapi.
"Mau kemana kamu, Ras?" tanya Rasyid.
"Tomi mau ngajak jalan-jalan ke mall, Yah," jawab Laras.
"Tomi menjemputmu?" tanya Rasyid lagi.
Laras hanya mengangguk. Dia sedang membereskan isi tasnya. Tas selempang yang dikasih temannya Rasyid beberapa waktu yang lalu.
"Tanyakan pada Tomi, kapan mau membawa orang tuanya ke sini," ucap Rasyid.
Laras menghela nafasnya.
"Kenapa selalu itu yang Ayah tanyakan?"
"Ras. Hubungan kamu sama Tomi sudah terlalu jauh. Ayah tak mau kalau sampai Tomi mengingkarinya," jawab Rasyid.
Rasyid merasa gagal menjaga kesucian putrinya ini. Dan sekarang dia tak mau Laras dikecewakan dan dicampakan begitu saja oleh Tomi. Seperti dia mencampakan wanita-wanita yang pernah ditidurinya.
Laras menatap Rasyid sekilas. Rupanya ayah sudah tau apa yang telah aku lakukan dengan Tomi. Atau ayah hanya mengira-ngira saja?
"Iya, Yah." Laras mengangguk. Tak mau Rasyid membahasnya lagi.
Rasyid berjalan ke ruang tamu. Seperti biasanya, dia mau membuka medsosnya. Mencari pengganti Yanti yang telah memblokirnya.
Tak lama, Tomi datang. Kali ini dia bawa mobil. Tomi meminjam mobil Cyntia. Karena pagi tadi saat dia mengunjungi Cyntia, motornya ngadat.
Tomi masuk lewat pintu samping rumah Laras.
"Udah siap kamu, Ras?" tanya Tomi.
"Udah. Kan tadi kamu bilang, aku siap-siap dulu," jawab Laras.
Laras begitu menurut apapun yang dikatakan Tomi. Itu yang membuat Tomi sangat menyayangi Laras.
Selain penurut, Laras juga tak pernah banyak menuntut. Asalkan Tomi bisa memberikan alasan yang tepat saat tak bisa memenuhi keinginan Laras.
__ADS_1
"Ya udah, ayo. Sore nanti aku ada janji sama orang," ajak Tomi.
Sebenarnya bukan janji ketemu atau soal pekerjaan, tapi Tomi harus mengembalikan mobil Cyntia. Karena nanti sore Cyntia mau ke luar kota dengan mobilnya.
"Pamit ayah dulu."
Laras dan Tomi menghampiri Rasyid yang lagi asik berselancar di dunia maya.
"Yah, kita pergi dulu," pamit Laras.
"Kita pamit dulu, Om."
Tomi dan Laras mencium tangan Rasyid dengan takzim.
"Iya, hati-hati. Kamu enggak bawa motor, Tom?" tanya Rasyid yang tak mendengar suara motor Tomi.
"Saya bawa mobil, Om," jawab Tomi tanpa menjelaskan itu mobil siapa. Sebab Rasyid pun tak menanyakannya.
"Oh, ya udah. Hati-hati," ucap Rasyid dengan senang. Senang karena merasa anaknya mendapatkan laki-laki yang tepat. Mapan dan baik hati.
Tomi menggandeng tangan Laras menuju mobilnya yang diparkir di pinggir jalan.
Lalu Tomi membukakan pintu mobil untuk Laras. Membuat Laras serasa seperti tuan putri.
"Makasih, Tom," ucap Laras. Lalu masuk ke dalam mobil.
Paling juga mobil pinjaman. Mana ada orang kere macam dia dapat lelaki kaya? Gerutu Yanti.
Yanti masih saja tak suka pada Laras. Apalagi setelah tahu kalau Beni sering mengajak Laras keluar.
Katanya udah mau menikah, tapi masih saja ngajak-ngajak Beni pergi. Dasar perempuan gatal! Kayak ayahnya saja. Tak bisa lihat yang bening-bening! Yanti masih saja menggerutui Laras.
Yanti selalu berpikir kalau Laras yang suka menggoda dan mengajak Beni keluar.
Sementara mobil yang dibawa Beni, melewatinya dengan santai. Yanti menatapnya dengan pandangan melecehkan.
"Mobil pinjaman aja, sombong!" gumam Yanti.
"Siapa yang sombong, Mbak Yanti?" tanya tetangga Yanti yang mau belanja di warungnya.
"Itu, anaknya Rasyid! Baru juga naik mobil pinjaman, sombongnya minta ampun. Gayanya udah kaya majikan. Padahal kere!" jawab Yanti berapi-api.
"Eh, enggak boleh begitu, Mbak. Siapa tau memang dapat lelaki kaya," sahut Yuni, tetangga Yanti itu.
"Kaya dari mana? Dia itu dulu kerja sekantor sama Beni. Bawahannya Beni. Terus dipecat karena sering bolos. Cuma tukang tagih!"
Padahal Beni juga sama-sama kerja sebagai dept collector alias tukang tagih.
"Nasib orang kan bisa aja berubah, Mbak. Mungkin habis dapat warisan atau lotre, kali. Hahaha." Yuni malah tertawa. Menertawakan omongannya sendiri.
__ADS_1
"Hhh! Mana ada dapat warisan! Orang tuanya aja enggak punya rumah. Sama kaya si Rasyid. Kontraktor! Hahaha." Yanti pun ikut tertawa. Menertawakan nasib orang yang menurut Yanti udah kere tapi sombong.
"Ada gula pasir, Mbak?" tanya Yuni. Dia tak mau terlalu banyak omong lagi. Toh, dia tak pernah berurusan dengan keluarga Rasyid.
Yuni hanya tahu kalau Rasyid seorang single parent dengan tiga anak gadis. Tinggal di rumah kontrakan. Karena kebetulan, rumah yang dikontrak Rasyid itu milik Yani, kakaknya.
"Banyak. Mau berapa kilo?" Yanti jadi ikut-ikutan sombong.
"Yaelah, Mbak...seperempat aja. Banyak-banyak juga mau buat apa. Kebanyakan gula bikin diabet," jawab Yuni.
"Oke siap. Tapi kalau kurang gula bikin lemes, lho," sahut Yanti.
"Apanya yang lemes? Suamiku makin strong aja, karena dia enggak punya diabet. Hahaha." Yuni tertawa lagi. Dia terlalu jauh mikirnya.
"Jangan ngomongin suami, ah. Suka baper akunya," sahut Yanti.
"Baper apa galau?" ledek Yuni.
"Dua-duanya sih. Hahaha." Yanti tertawa lagi.
"Itu pak Rasyid jomblo." Yuni menunjuk ke rumah Rasyid.
"Idih, males banget sama dia. Emang enggak ada lelaki lain?" sahut Yanti. Padahal dia sudah pernah menikmati kedahsyatan Rasyid.
"Banyak kalau lelaki, mah. Tapi yang bentuknya lucu kayak gitu kan jarang-jarang, Mbak. Ups." Yuni membekap mulutnya sendiri yang suka kebablasan kalau ngomong. Maklum, emak-emak tukang ghibah.
"Lucu tapi enggak imut!" sahut Yanti. Dia masih saja kesal pada Rasyid.
"Lumayan, Mbak. Bisa buat ganjel pintu. Udah, ah. Ini berapa?" Yuni tak bisa lagi mengerem omongannya kalau berlama-lama di warung Yanti.
"Empat ribu."
Yuni memberikan uang pas. Karena dia sebenarnya sudah hafal harganya.
"Nih, uangnya. Ambil aja kembaliannya!"
Yanti melongo. Apanya yang mau diambil? Uangnya aja pas.
Yuni segera berlalu sambil tertawa ngakak. Berhasil dia membuat Yanti bingung.
"Hhm... Dasar pelit! Uangnya pas, suruh ambil kembaliannya." Yanti menepuk dahinya.
Lalu kembali sibuk dengan dagangannya.
"Hallo, Cantik. Ada rokok?"
Yanti menoleh dan matanya melotot sampai hampir lepas. Baru saja dighibahin, malah nongol.
Untung acara ghibahnya udah selesai.
__ADS_1