KARMA : Sang Pemburu Wanita Di MEDSOS

KARMA : Sang Pemburu Wanita Di MEDSOS
Bab 45 TIPU TIPU TOMI


__ADS_3

Tomi terus memijat kaki Sylfie dengan lembut. Otaknya sudah traveling kemana-mana. Tapi dia tak bisa melakukan lebih, karena Sylfie terlihat sangat meniķmati pijatannya.


Bahkan akhirnya Sylfie tertidur dengan kaki di atas pangkuan Tomi.


Melihat itu, Tomi perlahan-lahan mengangkat kaki Sylfie dan meletakannya di atas sofa. Tomi sendiri berdiri. Sylfie masih terlelap.


Tomi berjalan ke arah dapur. Dia ingin membuat kopi sambil menunggu Sylfie bangun.


Di dapur, Tomi menemukan satu toples makanan kecil. Dia bawa sekalian ke sofa depan.


Dan di atas meja pun Tomi melihat bungkus rokok lengkap dengan korek dan asbaknya. Itu berarti Sylfie merokok, pikir Tomi. Dan tanpa ragu, Tomi menyalakan sebatang.


Saat sedang asik menghembuskan asap rokok, hape Tomi berdering. Telpon dari managernya.


Dia menanyakan kenapa Tomi tidak masuk kerja hari ini. Tomi beralasan kalau hari ini dia sedang kurang enak badan.


Sang manager terlihat tidak percaya, karena sudah beberapa kali Tomi absen sementara masih dalam masa training.


"Kalau begitu, besok pagi kamu tidak usah masuk lagi aja. Kami masih bisa cari karyawan lain." Lalu telpon dimatikan.


Tomi hanya bisa menelan ludahnya. Dia sadar kalau semua akibat kesalahannya. Dan Tomi sendiri sudah memprediksi bakal kejadian dia diberhentikan.


Aku harus cari kerja di mana lagi? Sedangkan Laras sudah mengharapkan dia segera melamarnya.


Tomi menatap Sylfie yang masih terlelap. Kelihatannya aku harus memanfaatkan Sylfie dulu. Paling tidak, uang dari Sylfie bisa untuk menutup kebutuhannya.


Tomi mematikan rokoknya dan menyeruput kopinya sedikit. Lalu berjalan mendekati Sylfie.


Dia akan segera melakukan tugasnya memuaskan Sylfie. Biar hari ini dia dapat transferan lagi. Dia berharap Sylfie memberikan uang lebih banyak lagi. Atau minimal sama seperti kemarin.


Tomi mencium bibir Sylfie yang sedikit terbuka. Lalu **********. Sylfie membuka matanya. Lalu menjauhkan bibirnya.


"Jangan ganggu aku dulu, Tomi. Aku ngantuk sekali," ucap Sylfie. Lalu dia membalikan tubuhnya membelakangi Tomi.


Tomi bangkit dengan kecewa. Harapannya, pagi ini dia bisa menservis Sylfie.


Tomi berjalan kembali ke sofa dan menyalakan lagi rokok yang tadi dimatikannya.


Dia akan sabar menunggu hingga Sylfie bangun dan memintanya memuaskannya.


Tapi hingga satu jam berlalu, Sylfie belum juga bangun. Tomi makin gelisah. Dan akhirnya, tanpa sadar Tomi pun ikut tertidur.


Jam dua belas siang, Sylfie terbangun. Dia sangat terkejut saat melihat jam di dinding.

__ADS_1


"Aduh! Aku kesiangan!" Sylfie segera bangun dan berlari ke kamar mandi. Dia tak menyadari ada Tomi yang tertidur di sofa sebelahnya.


Sampai selesai mandi dan berpakaian rapi pun, Sylfie belum ingat kalau di apartemennya ada makhluk yang bernama Tomi.


Saat keluar dari kamar, barulah Sylfie melihat Tomi yang masih meringkuk di sofa.


"Astaga, Tomi!" pekik Sylfie.


Tomi terkejut dan langsung bangun.


"Tante! Maaf aku ketiduran. Tante mau kemana?" tanya Tomi.


"Iya, enggak apa-apa. Maaf, Tom. Aku mau pergi ke luar kota dulu. Ada urusan yang harus aku selesaikan," sahut Sylfie.


Tomi tak bisa berbuat apa-apa selain hanya pasrah saja. Mestinya pagi ini dia melaksanakan tugasnya dan mendapatkan uang lagi.


"Tom. Sementara aku ke luar kota, kamu boleh kok tinggal di sini dulu. Mungkin besok sore aku baru pulang," ucap Sylfie sambil memakai sepatunya.


Tomi diam tak menjawab.


"Gimana? Aku harus pergi sekarang. Keburu ketinggalan pesawat," tanya Sylfie.


"Iya, Tante. Aku akan menuruti semua kemauan, Tante," sahut Tomi menurut.


Pikirnya, daripada dia pulang ke rumahnya, kedua orang tuanya pasti akan banyak bertanya ini itu.


"Ya sudah. Aku pergi dulu, Tom." Sylfie mengecup bibir Tomi sekilas.


"Kalau kamu mau memasak, di kulkas banyak bahan makanan. Pakai saja." Lalu Sylfie keluar dari apartemennya.


Tomi kembali duduk. Lalu menyalakan televisi. Hmm, anggap saja lagi jadi orang kaya walau cuma sebentar.


Besok sore pasti Sylfie pulang akan meminta servise terbaiknya.


Tiba-tiba, Tomi ingat dengan Laras. Bagaimana kalau Laras aku ajak ke sini ya? Kami bisa bercinta di sini sampai nanti malam. Bahkan sampai besok siang. Tomi bergumam sendiri.


Tapi aku harus menyingkirkan dulu barang-barang Sylfie. Biar Laras percaya kalau apartemen ini milikku.


Tomi segera bangkit dan membereskan ruangan apartemen. Dia benar-benar menyingkirkan barang-barang Sylfie.


Semua dia masukan ke lemari dan menguncinya. Hingga ruangan apartemen benar-benar menyakinkan kalau itu miliknya pribadi.


"Hallo, Ras. Kamu lagi di mana?" tanya Tomi di telepon.

__ADS_1


"Di rumah, Tom. Meetingmu udah selesai?"


"Udah. Kamu aku jemput, ya? Aku ingin memperlihatkan padamu sesuatu." Tomi ingin memberikan kejutan pada Laras.


"Apa itu, Tom?" tanya Laras penasaran.


"Pokoknya surprise lah. Kamu sekarang siap-siap. Aku akan menjemputmu." Lalu Tomi mematikan telponnya.


Tomi memesan taksi online untuk menjemput Laras. Dia tak mau tetlihat kere kalau menjemput menggunakan motor butut bapaknya.


Dan kebetulan sekali, mobil yang menerima orderan Tomi, sama persis dengan mobil Yoga yang sering dipakainya.


Tomi tinggal kongkalikong saja dengan sopirnya. Urusan bayaran, Tomi enggak terlalu memikirkannya. Uangnya masih lebih dari cukup kalau hanya untuk membayar ongkos taksi online dua kali lipat.


Sampai di rumah Laras, dia sudah rapi meski dengan pakaian seadanya. Tomi berfikir, kapan-kapan kalau dia sudah dapat uang lagi, akan membelikan baju baru buat Laras.


"Mau kemana?" tanya Rasyid.


"Saya mau memperlihatkan apartemen baru, Om," jawab Tomi.


Laras membelalakan matanya. Dia tak menyangka Tomi membeli apartemen. Dia mengira suatu saat nanti bakal hidup di apartemen seperti orang-orang high class.


Rasyid pun tak kalah terkejutnya. Dia bangga anaknya bisa mendapatkan lelaki yang mapan seperti Tomi.


Tanpa keberatan, Rasyid memberikan ijin pada mereka.


Tomi pun tak bisa berlama-lama karena sopir taksi online-nya tak bisa menunggu lama meski sudah dibayar dua kali lipat.


"Kamu tidak menyetir sendiri?" tanya Rasyid pada Tomi sebelum mereka pergi.


"Tidak, Om. Tadi sekalian mengantarkan bos ke bandara. Dia akan keluar kota." Tomi mengcopy paste omongan Sylfie.


Rasyid semakin bangga dengan Tomi. Dia pasti karyawan yang sangat dipercaya oleh bosnya.


Tomi dan Laras pun segera naik ke taksi online yang sudah menunggu.


"Jalan, Pak," ucap Tomi. Dia sudah menyuruh si sopir untuk tidak banyak bertanya.


Dengan patuh, si sopir melajukan mobilnya menuju apartemen dimana dia menjemput Tomi tadi.


"Kamu sudah makan, Ras?" tanya Tomi.


Laras menggeleng. Dari pagi perutnya belum kemasukan apapun. Martabak yang dibelikan Tomi semalam, dihabiskan Rasid saat Laras sudah tidur.b

__ADS_1


"Ya sudah. Nanti kita makan di depan apartemen. Di sana ada warung makan yang lumayan enak." Padahal Tomi belum pernah makan di sana.


Laras mengangguk dengan senang. Dia bangga dengan Tomi yang penuh perhatian.


__ADS_2