KARMA : Sang Pemburu Wanita Di MEDSOS

KARMA : Sang Pemburu Wanita Di MEDSOS
Bab 110 SELALU GAGAL


__ADS_3

Jam dua siang, Rasyid pergi menjemput Ayu. Pikirannya masih kalut. Memikirkan kelakuan Laras tadi. Dia sangat khawatir kalau sampai Laras hamil diluar nikah.


Sampai di depan sekolah Ayu, Rasyid duduk di atas motornya. Matanya melihat ke dalam area sekolahan.


Ayu sedang berjalan bersama Sinta, anaknya Ratih. Mereka asik becanda sambil berjalan keluar.


Rasyid menoleh ke sekeliling, mencari sosok Ratih. Tapi tak dilihatnya.


"Ayah...!" seru Ayu. Lalu mendekati Rasyid.


Sinta diam di tempatnya. Matanya berkeliling mencari mamanya.


"Sinta belum dijemput?" tanya Rasyid.


Sinta menggeleng.


"Ayo, Om anter pulang," ajak Rasyid.


Sinta kembali menggeleng. Dia selalu ingat pesan mamanya, jangan pulang sama orang lain selain dia atau omnya, Surya.


"Sebentar, Om telponin mama kamu, ya?"


Sinta mengangguk senang. Ayu kembali mendekati Sinta.


"Hallo, Ratih. Kamu kok belum jemput Sinta? Mau aku antar Sinta pulang?" ucap Rasyid ditelepon.


"Boleh, Mas. Kalau enggak ngerepotin. Motorku bannya kempes. Aku masih di rumah," jawab Ratih.


"Oke." Rasyid menutup telponnya.


Di depan Ayu dan Sinta, Rasyid tak berani berkata mesra pada Ratih seperti biasanya.


"Sinta. Ayo Om antar. Ban motor mama kamu kempes," ajak Rasyid.


Sinta pun tersenyum senang dan ikut membonceng di belakang Ayu.


Dengan perasaan yang juga sangat senang, Rasyid mengantarkan Sinta pulang.


Paling tidak, hari ini ada alasan untuk ketemu Ratih. Dan tak ada alasan Ratih menolaknya karena dia telah berjasa mengantar Sinta.


Di tengah jalan, Rasyid yang punya uang dari Dino tadi, mampir ke sebuah toko kue.


"Ayo pilih kue yang kalian suka. Om yang bayar," ucap Rasyid dengan bangga.


Ayu langsung memilih kue dengan semangat. Kapan lagi bisa jajan kue enak.


Sementara Sinta masih diam. Ratih juga selalu mengajarkan pada Sinta, jangan merepotkan orang lain apalagi minta. Meskipun Sinta tak meminta.


"Sinta, ayo pilih kuenya. Om yang bayar," ucap Rasyid lagi.


Sinta menggeleng.


Rasyid tersenyum. Dia senang karena Sinta bukan anak yang gampang menerima kebaikan orang lain.


Rasyid mengambil nampan dan memilih beberapa kue untuk Sinta dan Ratih nanti.


Setelah selesai, Rasyid kembali melajukan motornya ke rumah Ratih. Dalam hati dia merasa bangga bisa membelikan banyak kue untuk Ratih, pujaan hatinya.


Sampai di rumah Ratih, Rasyid memarkirkan motor di halaman. Dan berjalan ke teras dengan gagah.

__ADS_1


Ratih sudah menunggu mereka. Senyumnya mengembang melihat anak semata wayangnya sudah pulang.


Sinta langsung berlari memeluk Ratih.


"Owh, anak mama udah pulang. Bilang makasih dong sama Om Rasyid," ucap Ratih sambil membalas pelukan Sinta.


"Terima kasih, Om Rasyid," ucap Sinta setelah melepaskan pelukannya.


"Terima kasih ya, Mas. Udah nganterin Sinta pulang," ucap Ratih juga.


"Iya, sama-sama. Ini ada kue buat kalian. Tadi kita beli di jalan." Rasyid menyerahkan plastik kresek berisi aneka kue pilihannya.


"Wah, kok malah repot-repot sih, Mas," sahut Ratih. Tapi dia terima juga.


"Enggak repot. Kan sekalian pulang," ucap Rasyid.


"Mas Rasyid mau langsung pulang, apa mampir dulu?"


"Boleh nih, mampir dulu?" tanya Rasyid. Padahal memang itu yang diharapkannya.


"Boleh lah, Mas. Nanti aku buatkan es sirup." Ratih mendahului masuk ke ruang tamu.


Rasyid dan Ayu mengikuti. Lalu mereka duduk di kursi tamu.


"Sebentar, ya." Ratih masuk ke dapur. Sinta pun masuk ke kamarnya untuk berganti pakaian.


"Ma, boleh enggak kalau Ayu, Sinta ajak main di kamar?" tanya Sinta. Dia keluar lagi dari kamarnya.


"Boleh, Sayang. Ajak aja," jawab Ratih.


Sinta menatap Rasyid. Meminta persetujuan.


Ayu pun langsung berdiri dan ikut masuk ke kamar Sinta. Meski mereka sudah berteman lama di sekolah, tapi Ayu baru sekali ini main ke rumah Sinta.


Tak lama, Ratih keluar dengan tiga gelas es sirup dan piring berisi kue yang dibeli Rasyid tadi.


"Silakan, Mas. Diminum. Anak-anak biar mainan dulu," ucap Ratih. Dia duduk di kursi yang agak jauh dari Rasyid.


"Duduknya disini dong. Masa jauh-jauhan. Kayak orang musuhan. Hahaha," ucap Rasyid.


Ratih pun berpindah ke kursi yang lebih dekat. Meski tidak bersebelahan dengan Rasyid.


"Sini, Sayang," ucap Rasyid pelan sambil menepuk kursi di sebelahnya.


"Di sini aja, Mas. Enggak enak, ada anak-anak," tolak Ratih.


"Anak-anak kan di kamar. Enggak akan lihat." Rasyid menarik tangan Ratih.


"Jangan, Mas. Nanti ketahuan mereka. Enggak enak, kan?" tolak Ratih sambil menepis tangan Rasyid.


"Kalau begitu, kita ke tempat yang enak aja," ucap Rasyid sambil memainkan matanya dengan nakal.


"Maksudnya?" tanya Ratih tak mengerti.


"Gimana kalau ke kamar kamu sebentar?" ajak Rasyid.


"Enggak, ah. Nanti ketahuan Sinta." Ratih tetap menolak.


"Sebentar aja. Kita kunci pintunya." Rasyid berdiri dan menarik tangan Ratih.

__ADS_1


Ratih seperti terhipnotis. Dia menurut saja.


Lalu mereka pun masuk ke kamar Ratih. Dengan sigap, Rasyid mengunci pintunya.


Ratih terdiam di tempatnya berdiri. Sampai kemudian Rasyid menyambar bibirnya dengan rakus.


Rasyid ******* bibir Ratih dengan kasar. Hingga membuat Ratih gelagapan.


Tangan Rasyid pun langsung meremas dada Ratih. Ratih berusaha menahannya. Tapi tangan Rasyid terlalu kuat meremasnya.


Rasyid melepaskan ciumannya. Lalu dengan brutal menciumi leher Ratih yang jenjang.


"Mas....jangan begini," ucap Ratih sambil menggelinjang kegelian.


"Enak kan, Sayang...." Rasyid terus saja mencumbui Ratih.


Lalu tangannya menyingkap kaos Ratih hingga terpampanglah dua bongkah gunung kembar yang tinggi menjulang.


Dengan rakus, Rasyid menyambar dengan mulutnya satu persatu.


"Aakkhh....Mas...." Ratih melenguh. Meski terasa sedikit sakit, tapi Ratih merasa enak juga karena sesapan Rasyid.


Rasyid membimbing Ratih ke atas tempat tidur. Lalu menindihnya.


"Jangan, Mas...!" Ratih berusaha menjauhkan tubuh Rasyid.


Rasyid yang sudah sangat menginginkan Ratih, bergeming.


"Sebentar saja, Sayang. Aku sangat mencintai kamu." Rasyid kembali ******* bibir Ratih dan tangannya mulai meraba.


Mulai dari dada, perut hingga menelusup ke dalam celana chinos yang dikenakan Ratih.


Tangan Rasyid menemukan sebuah gua yang ternyata sudah basah. Rasyid meremasnya perlahan sebelum memasukan salah satu jarinya.


"Aakkhh....Mas....!" pekik Ratih perlahan.


Rasyid tak mempedulikannya. Jarinya mulai menari dan membuat Ratih semakin menggelinjang.


"Mas...." Ratih menekan kepala Rasyid yang berada di atas salah satu gunung kembarnya.


Setelah puas memainkan jarinya, dan Ratih pun sudah tak tahan lagi, Rasyid beranjak dan membuka retsleting celananya. Senjata Rasyid sudah berdiri tegak.


Mata Ratih terbelalak melihat senjata yang jauh lebih besar dari milik Ricko, kekasih simpanannya.


Rasyid tersenyum bangga. Dia tahu kalau Ratih mengagumi miliknya.


Rasyid langsung menurunkan celana Ratih. Dan siap meluncurkan senjatanya untuk menembus gua basah itu.


Tapi saat baru saja menempel, pintu kamar digedor oleh Sinta.


"Ma...Mama...!" teriak Sinta sambil terus menggedor pintu.


"Sinta, Mas." Ratih segera menyingkirkan tubuh Rasyid dari atas tubuhnya.


Karena tak siap, Rasyid jatuh ke sebelah Ratih. Ratih langsung berdiri dan membetulkan celananya.


"Betulkan celanamu, Mas," ucap Ratih.


Dengan berdecak kesal, Rasyid pun berdiri dan membetulkan celananya. Dia kembali gagal mereguk nikmat cinta dari Ratih.

__ADS_1


__ADS_2