
Baru saja wajah mereka saling menempel, suara motor Rasyid terdengar.
Tomi langsung menjauhkan wajahnya. Lalu berdiri sambil membawa keluar pakaian Laras.
"Hhh....!" Niken mendengus kesal.
Kenapa ayah mesti datang sih? Mengganggu aja! Gumam Niken.
Tomi menoleh, lalu tersenyum meledek ke arah Niken.
Niken mencebikan bibirnya.
"Kamu masih kecil, Niken. Enggak baik ciuman sama orang dewasa," ucap Tomi, lalu berjalan keluar.
"Siang, Om," sapa Tomi.
"Hey, Tom. Apa itu?" tanya Rasyid.
"Ini, Om. Bajunya Laras. Buat ganti di rumah sakit," jawab Tomi.
"Lho, kenapa enggak dimasukin ke tas?" tanya Rasyid. Tomi membawa baju-baju Laras begitu saja.
"Oh, iya. Lupa. Ada tas atau plastik, Om?" tanya Tomi.
"Sebentar aku carikan." Rasyid masuk ke dalam rumah.
"Niken! Carikan plastik buat Tomi. Kamu enggak punya inisiatif amat sih?" bentak Rasyid.
Tomi menghela nafasnya. Benar kata Niken, kalau Rasyid terlalu keras padanya. Tapi kenapa kalau sama Laras dia selalu bersikap lembut, ya? Tanya Tomi dalam hati.
"Iya, Yah. Niken carikan." Niken langsung turun dari tempat tidurnya.
Niken mendapatkan sebuah plastik kresek bekas.
"Adanya ini, Yah." Niken memperlihatkan sebuah plastik kresek bekas beli mie instant.
"Bodoh sekali sih, kamu! Masa buat tempat baju, pakainya plastik bekas!" Rasyid malah memaki Niken.
"Enggak ada, Yah," jawab Niken.
"Ya kamu minta kek, ke warungnya Yanti. Punya inisiatif dong!" Rasyid masih saja membentak-bentak Niken.
"Ya masa minta sih, Yah? Niken kan malu?" Niken pun terus saja menjawab omongan Rasyid, membuat Rasyid makin kesal.
"Apa Ayah yang mesti memintanya?"
"Udah, Om. Begini aja enggak apa-apa. Bisa kok bawanya. Nanti di jalan, saya beli peper bag." Tomi berusaha menengahi pertikaian anak dan ayah itu.
"Maaf ya, Tomi. Niken memang terlalu bodoh. Nyariin tas aja enggak bisa," ucap Rasyid.
__ADS_1
"Iya, Om. Santai aja," sahut Tomi. Lalu dia langsung melajukan motornya.
Tomi malah jadi ilfeel pada calon mertuanya ini. Benar apa kata Niken tadi. Rasyid terlalu keras pada Niken. Masa anak sendiri dimaki-maki di depan orang. Dikatai bodoh juga.
Hhm. Pasti setelah ini Niken dimarahi lagi. Atau bahkan dipukul lagi?
Ah, masa bodo lah. Pusing aku kalau harus memikirkan mereka juga.
Masih banyak yang harus Tomi pikirkan. Termasuk soal biaya rumah sakit yang pastinya tak sedikit. Juga soal tempat tinggal untuk Laras sepulang dari rumah sakit.
Tomi mencari warung untuk membeli kantong plastik juga rokok untuknya dan Cyntia nanti.
Cyntia sangat menyukai perhatian-perhatian kecil, meski tak seberapa harganya.
Tomi menuju rumah Cyntia. Untuk saat ini, hanya Cyntia lah yang selalu meolongnya.
Kebetulan sekali Cyntia ada di rumah. Tomi melihat mobil Cyntia di halaman depan.
"Hallo, Madam," sapa Tomi. Lalu seperti biasanya, mencium pipi Cyntia dengan lembut.
"Hallo, Tom. Dari mana? Eh, bawa apa kamu?" Cyntia memperhatikan kantong plastik hitam yang dibawa Tomi.
"Bajunya Laras. Nanti mau aku antarkan ke rumah sakit," jawab Tomi.
"Ooh." Cyntia hanya menyahut dengan singkat.
"Madam. Boleh aku tau ada masalah apa antara kalian?" tanya Tomi perlahan. Dia takut Cyntia tersinggung.
"Apa sih yang enggak siap untukmu, Madam?" Tomi mengeluarkan dua bungkus rokok dari kantong plastik tadi. Satu untuknya dan satu lagi untuk Cyntia.
"Makasih, Tom. Tau aja kalau rokokku habis. Baru aja aku mau WA warung depan, minta dianterin rokok."
Cyntia meraihnya lalu menyalakannya.
Dengan sabar Tomi menunggu Cyntia cerita.
"Aku dan Rasyid teman satu sekolahan di SMA dulu." Cyntia memulai ceritanya.
Tomi menyimaknya dengan fokus.
Cyntia menceritakannya dengan detail. Karena dia juga lagi senggang.
"Jadi kalian pernah sangat dekat?" tanya Tomi.
"Iya. Tapi demi apapun, aku tak tahu kalau ternyata si Rasyid sialan itu masih punya istri. Kalau aku tau, tak mungkin aku melanjutkan hubungan kami. Kamu tau aku kan, Tom?"
Tomi mengangguk.
"Kamu tau kenapa aku sangat membenci anak-anaknya juga?" tanya Cyntia.
__ADS_1
Tomi menggeleng.
"Karena mereka mau saja disuruh berbohong oleh Rasyid. Sebenarnya bukan salah mereka sih. Rasyid nya aja yang gila!"
Tomi menghela nafasnya. Dia tak menyangka begitu bejadnya kelakuan Rasyid.
"Yang aku herankan, dimana otak anak-anak itu, yang mau berbohong kalau mamanya sudah pisah sama Rasyid. Tega banget kan?" Cyntia terlihat mulai emosi.
"Iya. Kok bisa ya, anak mau berbohong begitu? Tega banget sama mamanya," komentar Tomi.
"Nah itulah yang aku enggak habis pikir. Terutama yang bernama Niken itu. Aku sangat membencinya!" ucap Cyntia.
"Kenapa?" Tomi sangat kepo. Karena dia heran, semua orang tak suka dengannya. Tomi ingin tahu bagaimana kelakuan Niken pada Cyntia.
"Awalnya dia yang selalu berbohong padaku. Eh, giliran hubungan kami diketahui mamanya, malah dia menyalahkan aku. Dia bilang aku ini wanita murahan lah. Pelacur lah." Cyntia menghela nafasnya. Dadanya mulai bergemuruh.
"Saat itu juga, aku gampar dia di depan kedua orang tuanya. Anak kecil tapi mulutnya kurang ajar banget. Padahal semua kebutuhan kelauarga mereka, aku yang membiayai. Sampai urusan sekolah pun aku yang bayar!"
Cyntia makin emosi.
Tomi mendekati Cyntia. Lalu menepuk-nepuk tangannya. Berusaha memberi rasa nyaman pada Cyntia.
"Kalau Laras bagaimana?" tanya Tomi. Tomi berharap Laras tak separah Niken.
Dan ternyata benar. Anak yang dimanfaatkan Rasyid hanya Niken. Laras sepertinya menolak keinginan Rasyid untuk berbohong. Meskipun Laras juga menikmati hasil kebohongan Rasyid dan Niken.
"Ya udah, Madam. Kalau memang kamu mau mengikhlaskan, itu lebih baik. Biar hatimu lebih tenang," sahut Tomi.
"Ini bukan soal ikhlas apa enggak ikhlas, Tom. Tapi sakit hati rasanya dibohongin satu keluarga. Mereka yang terlalu pintar, atau aku yang terlalu bodoh?"
Cyntia telah banyak mengeluarkan uang untuk kehidupan Rasyid dan keluarganya. Pantas saja Cyntia sangat marah saat tahu kalau selama itu dia hanya dibohongi.
"Untung waktu itu, kamu dan Om Bowo belum sempat mengaku jadi orang tuaku." Tomi terkekeh sendiri.
"Iya. Pasti ceritanya akan lebih rumit. Dan bisa dipastikan, kamu bakal kehilangan Laras," sahut Cyntia.
"Iya. Karena mereka jadi tau, kalau aku berbohong," ucap Tomi.
"Hh! Itu namanya karma buat pembohong!"
"Karma?" tanya Tomi.
Selama ini Tomi menganggap kata itu seperti keramat.
"Iya. Pembohong ya dapatnya pembohong juga," jawab Cyntia dengan santainya.
"Tapi aku benar-benar mencintai Laras. Dan itu enggak bohong!" Tomi tak mau dikatakan dia hanya berbohong saja mengatakan cinta pada Laras.
"Tapi akhirnya kamu harus banyak berbohong kan, Tom? Kamu enggak menyadari itu?" tanya Cyntia.
__ADS_1
Tomi menghela nafasnya. Bahkan bukan cuma Laras yang dibohonginya. Kedua orang tuanya pun pada akhirnya dibohongi oleh Tomi.
Tomi meraup wajahnya dengan kasar.