
Bowo mendatangi rumah Cyntia. Kondisinya setengah teler. Pakaiannya pun terlihat berantakan.
"Darimana kamu, Mas?" tanya Cyntia.
"Dari cafe. Cari angin," jawab Bowo.
"Cari angin kok bau alkohol. Kamu minum lagi?" tanya Cyntia.
"Cuma dikit. Buat ngilangin pusing aja," jawab Bowo.
"Pusing kenapa lagi? Alya memarahimu?" tanya Cyntia lagi.
"Aku enggak ke rumah Alya. Kemarin kan aku udah nginap di sana dua malam. Mestinya malam ini jatah kamu," jawab Bowo.
"Mulai sekarang, jatahku kasih aja ke Alya. Kasihan anak kamu, kalau jarang-jarang ketemu. Entar enggak kenal ama bapaknya," sahut Cyntia.
"Kamu benar-benar ikhlas memutuskan hubungan kita?" tanya Bowo. Dia merasa kasihan juga setelah. mendengar kisah hidup Cyntia yang menyedihkan.
"Demi anak kamu, Mas. Aku enggak mau ada anak lagi yang menderita karena aku," jawab Cyntia.
Tapi untuk anak-anak Rasyid, sedikitpun Cyntia tak merasa bersalah. Mereka jadi anak-anak yang jahat, nakal atau apapun, itu karena kelakuan dan cara didik Rasyid yang salah.
Kasihan orang sebaik Alya yang akhirnya harus jadi korbannya. Meskipun pada akhirnya Cyntia jadi membenci Alya, akibat kata-kata Alya yang menyakitkan.
"Terima kasih, Cyn. Kamu juga enggak boleh menderita. Aku akan melindungimu sebisaku," ucap Bowo dengan tulus.
Bowo sejak awal sangat menyayangi Cyntia. Meskipun pekerjaan Cyntia tidak halal, tapi Cyntia selalu baik pada orang lain.
Dia suka mendermakan uangnya untuk kebaikan. Membantu siapapun yang membutuhkan. Bowo sangat paham itu.
"Tenang aja, Mas. Aku enggak bakal menderita, kok. Kamu jangan khawatirkan aku," sahut Cyntia.
Cyntia bukan type orang yang suka dikasihani. Tapi dia selalu merasa kasihan pada orang lain. Itu yang dulu dimanfaatkan oleh Rasyid.
Hampir semua sifat baik Cyntia dijadikan lahan uang bagi Rasyid. Saat itu, Cyntia bak ATM berjalan. Yang bisa dengan mudahnya mentransfer uang untuk Rasyid.
Bahkan kartu ATM yang digunakan Rasyidpun, milik Cyntia. Rasyid cuma menggeseknya saja saat dia menginginkan sesuatu.
Tapi setelah Cyntia merasa dibohongi, Cyntia bak malaikat pencabut nyawa.
Dia ambil semua fasilitas yang diberikannya pada Rasyid dan anak-anaknya.
"Iya. Aku tau. Kamu wanita yang sangat mandiri. Dan juga....menggairahkan," ucap Bowo.
Bowo yang sudah dipengaruhi minuman keras, tak lagi ingat pada keinginannya untuk menyudahi hubungan.
Diraihnya tangan Cyntia, dan Bowo mulai menciuminya. Dia telusuri tangan halus Cyntia dengan ciuman.
"Mas, jangan begini. Nanti kamu enggak bisa menahan diri lagi," ucap Cyntia.
Cyntia berusaha menjauhkan kepala Bowo dari tangannya. Karena kepala Bowo semakin mendekati dada Cyntia yang masih terlihat penuh dan kenyal.
Salah satu aset Cyntia yang paling digemari Bowo. Dan Bowo bisa betah berlama-lama di sana.
"Apa aku masih boleh?" tanya Bowo.
__ADS_1
"Boleh apa?" tanya Cyntia.
"Berlindung di sini, sampai aku tidur." Bowo menunjuk dua aset kembar Cyntia.
Bowo punya kebiasaan aneh. Saat berduaan dengan Cyntia, dia tidak bisa tidur kalau belum menyusupkan wajahnya di sana.
"Jangan, Mas. Nanti kebablasan. Kamu kan punya Alya. Dia lebih muda dari aku. Pasti miliknya lebih kenyal dari milikku," sahut Cyntia.
"Tapi aku menyukai milikmu, Cyntia...!" Bowo nekat nyusruk ke dalamnya.
"Mas...jangan...!" Cyntia tetap berusaha menjauhkan kepala Bowo.
"Sekali ini aja, Cyntia. Aku membutuhkannya. Aku membutuhkanmu." Bowo tak mau juga menjauhkan kepalanya.
Cyntia terus saja mengelak, tapi Bowo terus menyerangnya. Hingga pertahanan diri Cyntia runtuh.
Dia pun pasrah dalam kungkungan Bowo.
Mereka lupa kalau masih berada di ruang tamu.
Mereka juga lupa kalau pintu rumah Cyntia masih terbuka. Mereka terus melakukannya. Meski tanpa melepas pakaian masing-masing.
Cyntia yang juga sudah tak bisa lagi menahan diri, hanya perlu menyingkap daster pendeknya saja.
Sebuah permainan yang mengasyikan. Seperti anak abege yang sedang mencuri-curi kesempatan.
Sampai akhirnya, sebuah suara yang lantang menghentikan kegiatan mereka.
"Pa...! Hentikan!"
"Ma...!" ucap Bowo sambil menarik ke atas retsletingnya.
"Tega kamu, Pa!" teriak Alya sambil menggendong Aldo yang sudah tertidur.
Alya mendatangi rumah Cyntia dengan ojek online. Dan juga sambil menggendong Aldo. Hingga Aldo tertidur terkena hembusan angin yang cukup kencang. Meski driver membawa motornya perlahan.
"Dan kamu...!" Alya menuding ke arah Cyntia yang sudah merapikan lagi pakaiannya.
Bowo beranjak berdiri. Lalu mendekati Alya.
"Jangan mendekat!" teriak Alya.
"Ma...!" ucap Bowo.
"Aku bilang jangan mendekat. Aku tak mau tubuh kotormu mengenaiku juga Aldo!" sahut Alya.
"Ya ampun, Ma. Aku suami kamu," ucap Bowo.
"Suami? Suami yang bercinta dengan pelacur?" Perkataan Alya kembali menggoreskan luka di hati Cyntia.
Meski Cyntia seorang pelacur, atau tepatnya induk dari pelacur, dia sangat sakit hati dikatai seperti itu.
Apalagi Cyntia mengatainya sambil menunjuk ke arahnya.
Tapi Cyntia tak bisa membalas. Karena kenyataannya dia sedang berpacu di atas tubuh Bowo.
__ADS_1
"Ma...!" ucap Bowo.
"Menjijikan sekali kamu, Pa!" ucap Alya. Alya mencium bau alkohol yang menyengat dari mulut Bowo.
Lalu Alya segera berbalik badan dan setengah berlari membawa Aldo dalam gendongannya, meninggalkan rumah Cyntia.
"Kejar dia!" ucap Cyntia.
Bowo pun menurut, lalu berlari mengejar Alya.
Jauh di luar sana, Rasyid tersenyum puas. Dia berhasil membuat Bowo kelabakan.
"Mama! Tunggu, Ma!" teriak Bowo.
Alya tak mempedulikannya. Dia terus saja berlari. Hingga akhirnya dia menabrak sebuah pohon besar dan terjatuh bersama Aldo.
"Astaghfirullah!" Alya membuka matanya. Dia terjatuh dari sofa dengan Aldo ada di gendongannya.
Ternyata Alya bermimpi buruk.
Tadi Aldo panas badannya dan rewel. Dia tak mau ditidurkan. Maunya digendong terus.
Terpaksa Alya menggendongnya, dengan gendongan bayi yang masih disimpan rapi di lemari Aldo.
Dan karena Alya juga mengantuk, membuatnya ikut tertidur.
Kenapa aku bermimpi soal Cyntia itu ya? Dan mas Bowo? Kenapa melakukannya dengan Cyntia.
Apa mereka ada hubungan?
Sementara di luar sana, Bowo juga tertidur di sebuah cafe. Bowo mabuk berat. Sehingga janjinya mau mendatangi rumah Cyntia, terlupakan.
Cyntia sendiri tak mempedulikan, karena Rasyid sudah pergi. Dan kemungkinan tak akan kembali lagi.
Cyntia mengunci pintu rumahnya, karena Tomi juga sudah pulang. Katanya dia mau pulang ke rumah orang tuanya.
Menjelang tengah malam, Bowo dibangunkan oleh pelayan cafe.
"Pak. Bangun. Kami akan segera tutup," ucap pelayan cafe sambil mengguncang lengan Bowo.
Bowo membuka matanya. Dengan kepala masih berdenyut, Bowo beranjak berdiri.
"Bapak bisa pulang sendiri?" tanya pelayan cafe. Dia merasa kasihan pada Bowo.
"Bisa. Aku....Howek...!" Bowo muntah di lantai cafe.
Aduh...! Nambah pekerjaan lagi. Batin pelayan cafe.
Jatah semestinya dia pulang, harus mundur lagi karena harus membersihkan lantai yang kotor.
Padahal di rumah, anaknya sedang sakit panas. Dari tadi istrinya sudah memintanya ijin dulu.
Setelah puas muntah, Bowo mengambil dompetnya. Dia berikan beberapa lembar uang seratus ribuan pada pelayan cafe.
"Ini. Terima kasih udah membersihkan bekas muntahanku!"
__ADS_1
Dengan langkah masih terhuyung, Bowo berjalan menuju mobilnya.