
"Siapa, Ma?" tanya Bowo. Matanya mengikuti pandangan Alya.
"Tomi...!" ucap Bowo.
Alya pun mengangguk. Dia sangat kecewa pada Tomi.
Alya hendak melangkah mendekati Tomi, tapi tangannya langsung ditarik Bowo.
"Udah! Jangan ikut campur urusan orang!" ucap Bowo pelan tapi tegas.
"Ini bukan urusan orang, Pa. Ini masalah Laras. Anakku!" sahut Alya.
Alya menepis tangan Bowo. Lalu dengan geram dia mendatangi Tomi.
Plak!
Alya menampar pipi Tomi.
Tomi langsung memegangi pipinya dan spontan menatap wajah Alya.
"Tante...!" Tomi kaget bukan kepalang.
Alya balas menatap Tomi dengan geram. Lalu beralih menatap Tasya.
"Jadi ini yang kamu lakukan di belakang Laras, hah?" tanya Alya dengan ketus.
Tomi hanya tersenyum kecil, lalu matanya menatap Bowo yang berdiri agak jauh darinya.
Mata Tomi seakan ingin meminta perlindungan, sekaligus mengancam Bowo.
Bowo menghela nafasnya. Bagaimana pun dia tak mau kelakuannya di belakang Alya bakal dibongkar Tomi.
Bowo bergegas mendekati Alya.
"Udah, Ma. Ayo kita pulang!" Bowo menarik tangan Alya dengan keras, lalu membawanya pergi dari situ.
Satu tangannya yang lain, masih menggendong Aldo.
Alya menurut, meski hatinya masih sangat geram. Tapi Alya sadar kalau mereka masih berada di tempat umum.
"Kita cari toko lain," ucap Bowo. Mereka masih terus berjalan menjauh. Tangan Bowo pun masih mencengkeram tangan Alya.
"Udah, Pa. Ini sakit!" Alya berusaha melepaskan tangannya.
"Oh, maaf. Ma." Bowo pun melepaskan tangan Alya.
"Kita cari tempat makan dulu, yuk. Mungkin Mama butuh minum," ajak Bowo.
Alya mengangguk. Tenggorokannya memang terasa kering. Mungkin dengan minum segelas jus, bisa membuatnya lebih segar. Bukan cuma tenggorokan Alya, tapi juga otaknya.
Alya memesan dua gelas jus, hanya itu. Alya lagi tak nafsu makan. Meski perutnya minta diisi lagi.
"Menjijikan banget itu si Tomi!" ucap Alya ketus.
Bowo yang sudah tahu profesi Tomi, hanya bisa diam.
"Nanti biar aku bilang ke Laras. Lelaki macam begitu mana mungkin jadi suami anakku!" Alya masih saja emosi.
__ADS_1
"Jangan gitu, Ma. Bisa jadi mereka cuma berteman," ucap Bowo.
"Berteman kok pakai peluk-peluk segala. Berteman macam apaan?" Alya masih berapi-api.
"Ma, namanya juga anak muda." Bowo masih saja membela Tomi.
Meski dalam hatinya gregetan melihat Tomi yang tak bisa bermain cantik. Malah pamer kemesraan di depan umum.
"Anak muda kok bertemannya sama istri orang!" sahut Alya.
"Memangnya Mama kenal wanita itu?" tanya Bowo.
"Kenal sih enggak. Cuma tau aja. Dia itu istrinya Dino. Teman ayahnya Laras," jawab Alya.
Alya tak kenal Tasya secara pribadi. Dia tau namanya sewaktu diajak main oleh Rasyid ke rumah Dino.
Bowo memgernyitkan dahinya.
"Dino yang pengusaha furniture?" Rupanya Bowo juga mengenal sosok Doni.
"Iya. Yang orangnya ganteng. Tapi sama gatelnya dengan istrinya itu," sahut Alya.
"Kok Mama bisa bilang Dino itu gatel?" Setahu Bowo, Dino hanya main dengan wanita-wanita kelas atas.
"Dulu, dia pernah coba-coba menggodaku. Padahal jelas-jelas dia tahu, kalau aku waktu itu istri temannya. Kan gila!"
Alya ingat kembali bagaimana Dino mencoba menggodanya. Dan yang lebih mengesalkan lagi, Rasyid seperti memberi peluang pada Dino.
Dan selanjutnya, Dino sering mengirimi mereka uang juga makanan.
Dino tahu kalau Rasyid dan keluarganya butuh makan. Dengan begitu, harapannya dia bisa mengambil hati Alya.
"Kurang ajar banget si Dino!" Bowo jadi ikut geram, setelah tahu kalau Alya juga pernah digoda Dino.
"Mama sekarang pernah ketemu sama Dino lagi?" tanya Bowo. Dia khawatir Dino akan menggoda Alya lagi.
Apalagi sekarang Alya semakin cantik untuk wanita seusainya.
"Halah. Boro-boro, Pa. Papa kan tau, Mama jarang keluar rumah. Mama sibuk ngurus Aldo, ya Sayang?" Alya memberikan biscuit yang dibawanya pada Aldo.
Alya kemana-mana selalu membawakan makanan buat Aldo. Agar anaknya ini tak sembarangan makan.
"Ya udah. Jangan dekat-dekat lagi dengan mereka. Dan juga, jangan bikin masalah dengan mereka. Mereka orang-orang nekat!" ucap Bowo.
"Nekat gimana, Pa?" tanya Alya tak paham.
Bowo menghela nafasnya.
Jangan sampai Dino tahu kalau Alya sekarang adalah istrinya. Sebab Dino kenal dengan Cyntia. Dan Dino tahu tentang hubungan Bowo dengan Cyntia.
Hhh! Dunia begitu sempitnya. Batin Bowo.
"Udahlah, Ma. Jangan ngomongin orang. Pusing Papa. Mama mau makan enggak?" tanya Bowo mengalihkan pembicaraan.
"Enggak lah. Mama lagi enggak nafsu makan! Apa Papa mau makan?" tanya Alya.
"Boleh deh. Papa laper lagi," jawab Bowo. Dia sengaja ingin Alya kembali sibuk mengurusnya juga Aldo. Dan melupakan Tomi juga Dino.
__ADS_1
Sementara Tomi masih kesal pada Alya. Meskipun Alya adalah calon ibu mertuanya.
"Kamu kenal dia, Tom?" tanya Tasya.
"Kenal. Tapi udahlah. Lupain aja. Enggak penting!" jawab Tomi.
Dia tak mau mengatakan pada Tasya tentang siapa sebenarnya Alya.
"Itu tadi Bowo, kan? Yang dekat dengan Cyntia?" tanya Tasya.
Dia pernah ketemu Bowo di sebuah acara suaminya. Hanya ketemu sebentar. Tapi wajah Bowo masih terekam di ingatan Tasya.
"Iya," jawab Tomi. Dia terus mendampingi Tasya memilih tas.
"Aku pernah ketemu sama Bowo. Tapi sama Cyntia. Lalu wanita itu siapa? Istri simpanannya?" tanya Tasya lagi.
"Iya, kali. Aku tak begitu paham," jawab Tomi.
"Katanya kamu kenal dia? Gimana sih?" Tasya makin bingung.
"Tante...! Aku kenal dia. Namanya Alya. Tapi hubungannya apa dengan om Bowo, aku tak tahu. Dan kalau tadi dia menamparku, itu karena dia mencoba mendekatkan anak gadisnya denganku. Tapi akunya belum mau. Udah jelas?" sahut Tomi panjang lebar.
Meskipun Tomi banyak bohongnya.
"Kenapa enggak mau? Kan lumayan dapat anak gadis," tanya Tasya.
"Iya kalau masih gadis beneran? Kalau enggak?" tanya Tomi.
"Ya cobain aja dulu. Anggap aja icip-icip anak gadis orang. Hahaha." Tasya tergelak sendiri.
"Enggak ah," sahut Tomi sok jual mahal.
"Kenapa?" tanya Tasya penasaran.
"Entar ujung-ujungnya disuruh menikahi," jawab Tomi.
Tasya tertawa mendengar jawaban Tomi. Lalu dia kembali asik memilih tas.
"Enakan juga sama yang udah pengalaman. Jadi makin banyak pengalaman," bisik Tomi ditelinga Tasya.
Tasya menggeliatkan lehernya.
"Geli Tom," ucap Tasya.
Dan tanpa merasa malu juga risi, Tomi terus saja memeluk Tasya dari belakang.
Aroma Tasya yang wangi, membuat Tomi tak bisa menahan lagi hasratnya.
Rupanya Bowo yang kesal dengan Dino, diam-diam menghubunginya. Bowo mengatakan kalau Tasya sedang jalan dengan brondong.
Dino yang saat itu ada di sekitar area mal, langsung mencari keberadaan istrinya.
Sebenarnya Dino tak pernah mempedulikan kelakuan Tasya di belakangnya. Dia sudah tahu semuanya.
Tapi karena dia dapat laporan dari Bowo, teman bisnisnya, Dino merasa malu dan emosi.
Saat itu juga, Dino mencari Tasya di toko tas yang diberitahukan oleh Bowo.
__ADS_1
Plak!
Sekali lagi Tomi mendapatkan tamparan di pipinya.