KARMA : Sang Pemburu Wanita Di MEDSOS

KARMA : Sang Pemburu Wanita Di MEDSOS
Bab 137 KLOP


__ADS_3

"Kok bisa? Bukankah obat penenang yang diberikan kemarin sudah sesuai dosisnya?" tanya dokter muda itu.


"Iya, Dok. Tapi sepertinya perawat yang berjaga semalam menambahkan dosisnya," jawab perawat itu.


"Siapa perawat yang semalam berjaga?" tanya dokter lagi.


"Nanti saya lihat jadwal piketnya, Dok."


"Oke. Kalau sudah, bawa ke ruangan saya. Ini enggak bener!" sahut dokter itu.


Tomi hanya diam menyimak pembicaraan mereka. Dan setelah dokter selesai memeriksa Laras, baru Tomi berani bertanya.


"Apa yang terjadi dengan istri saya, Dok?"


"Nanti akan kami selidiki, Pak. Saya permisi dulu," dokter dan dua orang perawat pembantunya, keluar dari kamar Laras.


Laras over dosis. Pantas saja enggak bangun-bangun. Kalau benar begitu, berarti pelakunya adalah perawat yang semalam.


Dia menyuntikan sesuatu di selang infus Laras, dua kali. Yang pertama sebelum jam sembilan. Dan yang kedua setelah tengah malam.


Gila! Ini harus aku usut. Aku enggak mau terjadi sesuatu pada Laras.


Aku enggak mau kehilangan Laras. Aku enggak mau Laras seperti Sinta yang terlambat ditangani dan akhirnya pergi untuk selama-lamanya.


Tomi mengambil ponselnya. Dia menelpon Cyntia.


"Hallo, Madam. Maaf, sepertinya aku tidak bisa ke rumahmu hari ini," ucap Tomi.


"Kenapa, Tom?" tanya Cyntia. Dia sangat mengharapkan kedatangan Tomi ke rumahnya. Ada banyak hal yang ingin dia ceritakan tentang Rasyid dan anak-anaknya.


"Ada masalah dengan Laras di sini," jawab Tomi.


"Masalah apa?" tanya Cyntia.


"Nanti saja kalau kita ketemu, aku ceritakan."


Tomi segera menutup telponnya karena Rasyid datang. Tomi mencurigai ada yang tidak beres dengan hubungan Raayid dan Cyntia.


"Ada masalah apa dengan Laras, Tom?" tanya Rasyid.


"Mmm...Laras belum siuman juga, Om," jawab Tomi.


"Lho kok bisa? Bukankah mestinya tadi malam, Laras sudah siuman?" tanya Rasyid khawatir.


"Itulah masalahnya, Om. Tadi dokter sudah memeriksa Laras. Dan katanya mau diselidiki dulu penyebabnya," jawab Tomi. Tomi pun tak kalah khawatirnya.


"Ya udah. Kita tunggu hasil penyelidikan dokter." Rasyid keluar dari kamar Laras.

__ADS_1


Tomi yang sudah merasa jenuh di kamar terus pun, ikut keluar. Tomi juga merasa lapar. Karena dari kemarin belum sempat makan.


"Om. Saya keluar dulu cari makan. Om sudah makan?" tanya Tomi.


"Belum. Kamu tau sendiri kan, kalau enggak ada Laras, tak ada yang masak," jawab Rasyid.


Padahal bisa saja Rasyid beli. Tapi karena uangnya sudah habis untuk memberi uang saku kedua anaknya, terpaksa Rasyid menahan lapar.


"Ya udah. Nanti sekalian saya belikan," ucap Tomi. Lalu pergi keluar area rumah sakit. Karena dia juga butuh merokok.


Rasyid masuk ke kamar Laras. Dia menatap wajah Laras yang pucat.


Rasyid membelainya penuh rasa sayang. Rasyid sangat menyayangi Laras. Karena diantara ketiga anaknya, Laras yang paling baik sifatnya.


Dan wajah Laras mengingatkannya pada Alya, mantan istrinya. Ibu dari anak-anaknya yang kini entah berada dimana.


Alya terpaksa pergi meninggalkan Rasyid dan ketiga anaknya, karena tak tahan dengan kelakuan Rasyid.


Rasyid pernah ketahuan berselingkuh. Bahkan Rasyid pernah terang-terangan membawa selingkuhannya ke rumah.


Rasyid masih ingat saat terakhir kali Alya menangis karena melihat dengan mata kepala sendiri, Rasyid meniduri wanita lain di kamar rumah kontrakan mereka.


Setelah kejadian itu Alya pergi dan tak pernah kembali. Status pernikahannya pun menggantung. Sampai akhirnya Alya mengurus sendiri perceraian mereka.


Rasyid hanya bisa menyesal setelah menerima surat pemberitahuan dari pengadilan agama, untuk mengambil akta cerainya.


Tapi sayangnya, sepeninggal Alya, Rasyid bukannya bertobat. Rasyid semakin merasa bebas.


Rasyid yang tak punya pekerjaan memanfaatkan kebaikan wanita, dengan menjual cerita menyedihkan tentang kehidupannya sebagai single parent.


Tak terasa air mata Rasyid menetes. Dia terpukul dengan kejadian ini. Dan parahnya, semua kejadian menyedihkan selalu disebabkan oleh Niken.


"Dasar anak sialan! Anak haram!" gumam Rasyid pelan.


Setelah selesai makan dan merokok, Tomi kembali masuk ke rumah sakit. Tak lupa dia membawakan Rasyid makanan juga kopi.


"Om. Ini makanannya." Tomi menyerahkan bungkusan makanan kepada Rasyid.


Rasyid buru-buru menghapus air matanya.


"Iya, Tom. Terima kasih."


Tomi hanya menghela nafasnya, melihat calon bapak mertuanya menangis. Tomi pun keluar lagi dan duduk di bangku panjang depan kamar Laras.


Rasyid ikut keluar. Makanannya dia letakan di atas nakas. Rasyid kehilangan nafsu makannya.


Hatinya sangat sakit melihat kondisi Laras. Rasyid berpikir, betapa kesakitannya Laras sampai tak mau membuka matanya.

__ADS_1


"Kamu sudah makan, Tom?" tanya Rasyid.


"Udah, Om. Om kenapa enggak makan?"


"Nanti aja. Belum laper," jawab Rasyid. Rasa laparnya tiba-tiba hilang.


"Tom. Boleh aku tanya sesuatu?" tanya Rasyid.


"Tanya apa, Om?"


"Ada hubungan apa kamu dengan Cyntia?" tanya Rasyid.


"Om mengenalnya?"


Rasyid mengangguk. Bukan cuma mengenal, Tomi. Batin Rasyid.


"Kenal dimana, Om?" tanya Tomi. Tomi berpikir, tak mungkin kalau Rasyid adalah pelanggan Cyntia. Karena pelanggan Cyntia rata-rata lelaki berkantong tebal. Seperti Bowo.


"Ceritanya panjang, Tom," jawab Rasyid.


"Cerita saja, Om. Kita kan punya banyak waktu di sini," pinta Tomi.


Saat ini Tomi sedang ingin fokus pada kesembuhan Laras. Jadi untuk sementara, Tomi off dulu dari pekerjaannya.


"Kami kenal di....medsos. Seperti kamu dan Laras. Kami dekat dan menjalin hubungan." Rasyid menghela nafasnya. Dia akan menyaring ceritanya. Karena tak mungkin semua diceritakan pada Cyntia.


"Hampir satu tahun lamanya. Dia juga sangat dekat dengan anak-anak. Terutama Laras." Rasyid kembali menghela nafasnya.


"Kapan itu, Om?" tanya Tomi.


"Sekitar lima tahun yang lalu. Waktu itu Laras baru saja masuk SMA. Tapi semua harus berakhir. Cyntia pergi dan memilih lelaki lain yang lebih mapan," jawab Rasyid.


Rasyid mengarang cerita. Biar di mata Tomi, dia laki-laki yang baik.


"Kamu belum.jawab pertanyaanku, Tom?" Rasyid mengingatkan Tomi.


"Saya anak buah pak Bowo, Om. Dan bu Cyntia cukup dekat dengan saya. Dia juga sering kasih pekerjaan ke saya. Ya, bisa dibilang bu Cyntia juga bos saya," jawab Tomi yang juga mengarang.


Dia tak mau Rasyid mengetahui pekerjaannya sekarang. Dan dia juga harus membuat cerita yang baik-baik tentang Cyntia, agar tak mencurigakan.


"Sudah lama kamu kerja pada Cyntia?" tanya Rasyid lagi.


"Sudah hampir dua tahun." Tomi berbohong lagi. Padahal baru beberapa bulan saja.


"Boleh tahu di mana Cyntia tinggal sekarang?" tanya Rasyid.


Waduh. Aku belum bicarakan ini dengan Cyntia. Jangan sampai aku terlalu terbuka soal Cyntia. Bisa terbongkar semuanya. Batin Tomi.

__ADS_1


"Mm....Cyntia tinggal di apartemen bersama om Bowo. Tepatnya di mana, saya kurang paham, Om," jawab Tomi berbohong lagi.


Mereka jadi klop. Sama-sama tukang kibul. Dan cerita mereka tentang Cyntia tidak ada yang benar.


__ADS_2