KARMA : Sang Pemburu Wanita Di MEDSOS

KARMA : Sang Pemburu Wanita Di MEDSOS
Bab 132 KEGUGURAN


__ADS_3

Sementara Beni menunggu taksi online yang dipesannya di depan, Yanti mendekati Laras dan Rasyid.


"Laras....hamil?" tanya Yanti perlahan.


Rasyid terkesiap. Meskipun Rasyid sudah mengiranya. Tapi Rasyid berharap perkiraannya salah.


Niken pun terkejut mendengarnya. Kak Laras hamil? Dia kan belum menikah? Batin Niken yang tak paham soal kehamilan.


"Jangan asal bicara kamu!" sahut Rasyid dengan ketus.


Dia tak mau anaknya dikatain hamil, sementara belum menikah.


"Maaf." Yanti menyingkap baju yang dipakai Laras. Baju bagian bawah dan ****** ***** Laras basah oleh darah.


Rasyid menelan ludahnya. Yanti pun terus terdiam. Tak sanggup dia mengatakannya lagi.


Rasyid sangat terluka dan kecewa. Kenapa semua mesti terjadi pada Laras?


Rasyid menundukan kepalanya. Matanya mulai berembun.


"Om! Taksinya udah datang!" seru Beni. Lalu masuk dan membantu Rasyid mengangkat tubuh Laras.


Yanti mengikutinya dari belakang.


"Om, masuk duluan. Saya tahan badan Laras," ucap Beni.


Rasyid menurut. Dia perlahan masuk ke mobil sambil mengangkat tubuh Laras bagian atas.


Lalu Beni ikut masuk.


"Kalian duluan. Nanti aku nyusul. Aku ganti baju dan mengunci rumahku," ucap Yanti.


Taksi online melaju membawa mereka ke rumah sakit terdekat, sesuai orderan Beni.


"Agak cepat ya, Pak," ucap Beni pada sopir taksi online. Beni khawatir Laras tak bisa tertolong.


"Iya, Mas. Semoga jalanannya lancar," sahut sang sopir.


"Kenapa Laras bisa jatuh, Om?" tanya Beni perlahan.


"Ribut sama Niken. Niken mendorongnya," jawab Rasyid. Dia sangat kesal pada Niken yang sering bersikap kasar.


"Niken?"


Rasyid mengangguk.


Jahat sekali dia. Mendorong kakaknya sampai pingsan. Dan darah ini....


Beni mengangkat tangannya yang dari tadi menahan bokong Laras. Tangan Beni basah oleh darah Laras.


Apa benar Laras hamil? Oleh Tomi? Lalu ini kenapa?


Beni yang kurang paham, tak mau menerka-nerka.


Tak lama, mereka tiba di rumah sakit.


"Pak, bisa minta tolong carikan bantuan ke dalam?" pinta Beni pada sang sopir dengan sopan.


"Baik, Mas."


Sang sopir segera turun dan berlari ke arah IGD. Dan tak lama, beberapa perawat datang membawa brankar.


Dengan sigap mereka menurunkan Laras dari mobil. Dan segera melarikan brankar masuk ke ruang IGD.

__ADS_1


Rasyid ikut berlari. Beni membayar dulu tagihan taksi online-nya sebelum ikut berlari.


"Maaf, Pak. Tunggu di luar ya? Biar kami tangani dulu," ucap seorang perawat.


"Tapi saya ayahnya, Suster," sahut Rasyid.


"Bapak tunggu di luar saja. Percayakan pada kami." Lalu perawat itu menutup pintu.


Rasyid terpaksa menurut, meski hatinya tak rela Laras sendirian di dalam.


"Tunggu di sana saja, Om. Dokter pasti menangani Laras dengan baik," ajak Beni.


Rasyid kembali menurut. Dia berjalan mengikuti Beni ke bangku panjang.


Rasyid terdiam. Pikirannya berkecamuk. Kalau benar Laras hamil, berarti tak ada alasan lagi bagi Tomi untuk mengulur-ulur waktu.


Tapi bagaimana kalau Laras keguguran? Ah, tidak! Laras tidak boleh kehilangan janinnya. Dia pasti akan sangat terpukul. Batin Rasyid.


"Ben, kamu punya nomor telpon Tomi?" tanya Rasyid.


Beni menggeleng. Malas sekali menyimpan nomor telpon Tomi, batin Beni.


"Kalau begitu, telpon ibu kamu. Tolong segera ke sini dan bawakan hapeku sama hapenya Laras di rumah."


"Baik, Om." Lalu Beni menelpon Yanti.


Beruntung Yanti belum berangkat. Dia juga baru mau menelpon Beni. Mau menanyakan kunci motor Beni.


"Kunci motor kebawa Beni, Bu. Ini di kantong celana," jawab Beni.


"Suruh ibumu pakai motorku saja," ucap Rasyid.


"Iya, Om."


"Sekalian baju ganti buat Laras, ya?" tanya Yanti.


"Sekalian baju ganti buat Laras, Om?" tanya Beni pada Rasyid.


Rasyid memgangguk. Dia sampai tak kepikiran soal itu.


Yanti pun menurut. Dia berjalan ke rumah Rasyid setelah mengunci pintu rumahnya.


"Mau kemana, Mba Yanti?" tanya Yuni yang melihat Yanti sudah rapi.


"Laras pingsan. Sekarang di rumah sakit. Aku mau ambilkan baju ganti untuknya," jawab Yanti.


Dalam hatinya berharap, jangan sampai hal ini jadi bahan gosip emak-emak. Kasihan Larasnya. Dan Yanti sendiri juga tak mau digosipkan punya hubungan dengan Rasyid.


Yanti benar-benar ingin menolong mereka. Tak ada niatan lain. Karena rasa suka di hati Yanti untuk Rasyid sudah hilang.


Yanti terus berjalan tanpa menghiraukan Yuni yang masih ingin bertanya lagi.


Sampai di rumah Rasyid, Niken sedang duduk termenung. Dia merasa sangat bersalah.


"Ken, tolong ambilkan hape ayahmu sama Laras. Sama siapkan pakaian ganti untuk Laras. Kalau bisa dua stel," ucap Yanti pada Niken.


"Iya, Bu. Bu Yanti mau ke rumah sakit?" tanya Niken.


"Iya. Aku mau pakai motor ayahmu. Ambilkan kuncinya sekalian," jawab Yanti.


"Boleh aku ikut?" pinta Niken.


"Hhmm. Ya udah, cepetan," sahut Yanti.

__ADS_1


"Ayu ikut....!" seru Ayu dari dalam kamarnya. Dia tak mau ditinggal sendirian. Dia juga mau melihat keadaan kakaknya.


"Ya udah, cepetan ganti baju!" Yanti kasihan juga dengan anak-anak Rasyid yang biasanya sangat dibencinya.


Ayu dan Niken segera ganti baju. Niken menyiapkan pakaian Laras dan memasukannya ke dalam tas kresek.


"Ini, Bu." Niken memberikan tas kresek itu pada Yanti.


"Apaan ini?" tanya Yanti tanpa melihat isinya.


"Baju ganti buat kak Laras," jawab Niken.


"Memangnya enggak ada tas beneran? Malu-maluin aja kamu!" Yanti masuk ke kamar Laras. Mencari tas yang bisa dipakainya untuk membawa pakaian Laras.


"Ini apa!" Yanti melihat tas yang baru dibelikan oleh Tomi. Tas yang cukup besar. Muat kalau hanya untuk dua stel baju.


Yanti juga memasukan tas kreseknya untuk tempat baju Laras yang kotor.


"Ayo cepetan! Hapenya jangan lupa!"


Niken dan Ayu mengangguk, lalu mengikuti Yanti ke luar.


"Mana kunci motornya?" pinta Yanti.


Meski Yanti tahu kalau Niken bisa membawa motor, tapi dia tak mau beresiko jatuh kalau Niken sembrono membawanya.


Niken dan Ayu naik ke boncengan. Mereka pun pergi ke rumah sakit, diiringi tatapan mata kepo dari Yuni.


Yanti dan Niken juga Ayu, sampai di rumah sakit. Mereka sampai di depan ruang IGD.


Rasyid dan Beni masih menunggu di bangku panjang.


"Bagaimana keadaan Laras?" tanya Yanti.


"Belum tau, Bu. Dokter yang menangani belum keluar," jawab Beni.


Rasyid belum bisa berkata apa-apa. Pikirannya sangat kacau.


"Sepertinya ada yang enggak beres," gumam Yanti. Karena ini sudah hampir satu jam sejak Laras dibawa ke rumah sakit.


Beni memberi tanda pada Yanti untuk tak berkomentar buruk. Yanti mengangguk mengerti.


Pintu IGD di buka.


Rasyid, Beni dan Yanti berlari mendekat. Niken dan Ayu masih diam mematung.


"Dengan keluarga pasien?" tanya dokter yang menangani Laras.


"Iya, Dok. Saya ayahnya. Bagaimana kondisi anak saya?" tanya Rasyid.


Dokter itu menatap Rasyid. Lalu menatap Beni.


"Anda suaminya?" tanya dokter.


"Bukan, Dok. Kami tetangganya," jawab Yanti. Dia tak mau kalau Beni kebawa-bawa.


"Baik. Saya mau memberitahukan kalau anak bapak mengalami pendarahan hebat. Dan mengakibatkan janin yang dikandungnya tak bisa diselamatkan," ucap dokter itu.


"Janin?" tanya Rasyid dengan panik.


"Iya. Anak bapak hamil. Usia kandungannya sekitar empat minggu. Usia yang rawan. Dan maaf, kami sudah berusaha melakukan yang terbaik. Tapi janinnya tak bisa diselamatkan."


Rasyid terpaku di tempatnya berdiri. Laras hamil. Dan kini keguguran.

__ADS_1


__ADS_2