KARMA : Sang Pemburu Wanita Di MEDSOS

KARMA : Sang Pemburu Wanita Di MEDSOS
Bab 190 MENGAJAK JALAN


__ADS_3

Dino mengajak Laras ke sebuah restauran mewah.


"Kok kesini, Om?" tanya Laras.


"Kita makan malam dulu. Kamu laper, kan?"


Laras mengangguk. Lalu mengikuti langkah Dino masuk ke dalam.


Dino menggandeng tangan Laras. Sebenarnya Laras risi, tapi enggak enak juga kalau menolak.


Seorang waitress menghampiri mereka.


"Sudah reservasi, Pak?" tanya waitress itu.


"Belum. Bisa carikan kami meja kosong?" tanya Dino.


Restauran itu terlihat cukup penuh. Kelihatannya mereka banyak yang sedang menikmati makan malam bersama keluarganya. Maklum saja, malam weekend.


"Bisa, Pak. Mari." Waitress cantik itu berjalan mendahului mereka. Sambil berjalan, dia menoleh ke kanan dan ke kiri.


Lalu matanya menangkap sebuah meja kosong. Dan diapun menuju ke sana.


Dino menggandeng Laras mengikuti waitress itu.


"Silakan, Pak. Sebentar, saya ambilkan buku menunya dulu," ucap si waitress lalu pergi meninggalkan Dino dan Laras.


"Duduk, Ras. Kamu suka tempatnya?" tanya Dino pelan dan lembut.


Laras menebarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Termasuk pada para pengunjung lain.


"Suka, Om. Bagus banget tempatnya," jawab Laras.


Laras masih saja menebar pandangannya. Laras yang tak pernah datang ke restauran semewah itu, terus saja mengaguminya.


"Makanan di sini juga enak-enak. Kamu pasti cocok dengan rasanya."


Baru saja Dino selesai bicara, waitress tadi sudah datang dengan buku menu di tangannya.


"Silakan, Pak. Bu. Ini menu di tempat kami." Dia meletakan dua buku menu di atas meja.


"Saya tinggal dulu sebentar ya, Pak." Tanpa menunggu persetujuan Dino, waitress itu pergi untuk melayani pengunjung lainnya.


Dino mengambilnya satu. Laras pun ikut mengambilnya juga.


Dino membolak-balikan halaman buku itu. Laras pun mengikuti.


"Kamu mau pesen makan apa, Ras?" tanya Dino.


Laras masih terkesima dengan tampilan gambar di buku menu itu. Gambar-gambar yang terlihat sangat menggugah selera.


"Ras...!" Dino menyentuh tangan Laras dengan lembut.


"Eh iya, Om." Laras segera tersadar dari cuci matanya melihat gambar-gambar itu.


"Kamu mau makan apa?" tanya Dino.

__ADS_1


Laras bingung mesti milih yang mana. Semuanya terlihat sangat enak.


Dan Laras juga merasa tak enak hati, karena hampir semuanya berharga mahal.


Rasanya kalau dikasih mentahannya saja, Laras bakalan mencari warteg atau warung makan padang yang murah meriah.


Pasti akan sangat cukup untuk membelikan makan buat keluarganya. Bahkan masih sisa banyak uangnya.


"Pilih aja, mana yang kamu pingin. Tapi harus dimakan, ya," ucap Dino.


"Kalau enggak dimakan, nanti kamu yang aku makan," lanjut Dino menggoda Laras.


Laras terkesiap. Saking terkejutnya, Laras sampai menjatuhkan buku menu ke atas meja.


Dino malah terkekeh. Merasa lucu dengan sikap Laras yang menurutnya kayak anak kecil.


"Oh. Maaf, Om." Laras segera mengambil buku menunya lagi.


Dino melambaikan tangannya memanggil seorang waiter yang melintas.


Lalu Dino menyebutkan menu pilihannya, setelah waiter itu datang.


"Kamu apa, Ras?" tanya Dino pada Laras.


Laras pun menyebutkan menu yang paling menggodanya. Entah rasanya enak atau tidak, tapi di mata Laras gambarnya sangat menggiurkan.


"Udah, itu aja?" tanya Dino.


Laras mengangguk. Dari gambarnya, sepertinya makanan itu dalam porsi besar.


Laras pun segera menyebutkan minuman yang standar saja. Takutnya dia enggak doyan.


Kalau makanan Laras masih bisa memaksakan makan, tapi kalau minuman, agak susah tenggorokannya beradaptasi.


"Ras. Malam ini istriku pulang malam. Kamu nemenin aku dulu ya. Habis ini kita jalan lagi. Kamu mau kemana?" tanya Dino.


Laras gelagapan. Pasalnya dia tidak mengira dengan ajakan Dino.


Apa maksud dan tujuan Dino memintanya menemani? Menemani yang seperti apa? Laras berusaha menebak-nebak sendiri.


"Aku enggak tau, Om. Lagi pula ini kan udah malam," jawab Laras tak enak hati.


"Kan kamu perginya sama aku. Jadi enggak perlu takut pulang malam. Aman," ucap Dino berusaha meyakinkan Laras.


Sebenarnya bukan soal aman atau tidak aman dari orang luar. Justru yang Laras khawatirkan Dino sendiri.


Tomi sudah menceritakan tentang kelakuan Dino, yang membuat Laras khawatir.


Dan setelah selesai makan, Dino membawa Laras muter-muter kota.


Sebenarnya Laras suka sekali. Apalagi dia ada di dalam mobil, tak kena angin malam. Dan bisa leluasa melihat pemandangan kota dengan lampu yang gemerlap.


Tapi entah kenapa, perasaannya kurang nyaman. Laras juga khawatir kalau Tomi sampai melihatnya. Sedangkan Tomi sendiri sudah mengingatkan, bahkan melarang Laras bekerja di rumah Dino.


Belum lagi kalau sampai ketahuan Tasya. Mau alasan apa kalau sampai ketahuan?

__ADS_1


"Kenapa Ras? Kamu udah ngantuk?" tanya Dino.


"Eng....Enggak, Om." Laras berusaha tersenyum.


"Masih mau jalan-jalan, kan? Atau kita berhenti di cafe?" tanya Dino.


"Kalau kita pulang aja, gimana Om?" tanya Laras.


"Lho, kok pulang? Baru juga jam berapa." Dino menolaknya. Dan Dino melajukan mobilnya semakin jauh dari arah rumahnya.


Laras hanya menghela nafasnya.


"Ini mau ke mana, Om?" tanya Laras.


"Jalan aja. Bosan aku di kota terus. Sekali-kali menikmati suasana pedesaan," jawab Dino.


"Malam-malam begini?" tanya Laras.


"Iya. Kenapa? Takut? Kan ada aku, Ras."


Dino melajukan mobilnya semakin jauh. Laras hanya bisa pasrah. Mau ngeyel juga percuma.


Dalam hati, Laras menyesal. Kenapa tadi tidak menjawab berhenti di cafe saja. Pastinya tak akan jalan sejauh ini.


Ternyata Dino membawa Laras ke sebuah cafe. Cafe yang terletak jauh ke arah luar kota.


Cafe dengan tampilan tradisional tapi terkesan modern. Sepintas seperti sebuah bangunan tua. Tapi begitu kita memasukinya, interiornya sangat mewah.


"Kamu udah pernah ke sini?" tanya Dino.


Jelas saja Laras menggeleng. Siapa juga yang mengajaknya sampai di cafe seperti itu.


Laras ke mall saja, setelah pacaran dengan Tomi. Dulu pernah dia ke mall bareng temen-temen sekolahnya. Tapi hanya sekedar jalan saja.


Itu pun cuma sekali. Karena setelahnya, Rasyid melarang. Entah apa alasannya, pokoknya Laras tak boleh main ke mall lagi.


Laras pun cuma bisa menurut. Karena Rasyid bakalan marah, kalau ditentang. Bahkan bisa mempermalukan Laras di depan teman-temannya.


"Di sini tempatnya enak. Tak terlalu rame. Kalaupun banyak pengunjung, di sini punya banyak tempat di luaran sana. Juga di ruangan-ruangan yang bisa dipakai juga," ucap Dino.


"Gimana, kamu mau jalan-jalan mencari saung yang kosong? Atau kita cari ruangan di sini aja?" tanya Dino.


Hah...! Ruangan? Tertutup dong?


Hih! Enggak ah! Ngeri!


"Kita ke saung aja yuk, Om," jawab Laras.


"Oke." Seperti tadi, Dino menggandeng tangan Laras.


Mereka berdua berjalan menyusuri jalanan setapak di antara saung-saung di kanan kirinya.


Hingga mata Dino menangkap sosok Tasya di sebuah saung. Dino hanya meliriknya sekilas. Tasya sedang berciuman dengan Tomi.


Demi menjaga harga diri rumah tangganya di depan Laras, Dino memalingkan wajah Laras ke tempat lain.

__ADS_1


Dalam hati, Dino ingin memberi pelajaran sekali lagi pada Tomi. Tapi karena ada Laras, Dino menahannya.


__ADS_2