KARMA : Sang Pemburu Wanita Di MEDSOS

KARMA : Sang Pemburu Wanita Di MEDSOS
Bab 115 BELUM BISA MELAKUKANNYA


__ADS_3

Sementara Laras dan Beni masih tertahan di cafe karena hujan tak henti-hentinya. Bahkan semakin deras. Geledek berkali-kali terdengar menyambar.


Mereka yang awalnya memilih tempat di teras samping cafe, sudah pindah tempat duduk.


Beni memilih sofa di sudut cafe. Sebenarnya tak jauh dari tempat duduk Yanti dan Rasyid tadi. Tapi karena mereka sudah duluan pulang, jadi Beni dan Laras tak melihatnya.


"Ben...dingin," ucap Laras. Lalu dia duduk lebih merapat.


Beni memeluk lengan Laras. Beberapa pasangan yang masih bertahan di cafe itu juga melakukan hal yang sama.


Bahkan ada yang malah saling bercumbu. Mereka tak mempedulikan lingkungan sekitarnya. Mungkin karena cuaca dingin yang mendukung.


Beni menelan ludahnya. Dalam hati ada juga keinginan untuk mencumbui Laras.


Beni mencari kesempatan. Sampai tiba-tiba, lampu padam karena kilat yang menyambar terdengar begitu kencang.


Spontan terdengar suara riuh para pengunjung. Dan beberapa orang langsung menyalakan senter di ponselnya.


Terlihat beberapa karyawan menyalakan lilin dan meletakannya di meja-meja.


"Memangnya enggak ada genset?" tanya Beni pada salah satu karyawan yang sedang menaruh lilin di mejanya.


"Ada, Mas. Cuma lupa kami cek. Ternyata kehabisan bahan bakar," jawabnya, dan segera berlalu pergi.


Sepertinya dia tak mau lagi mendengarkan komplain dari pelanggan. Dia kan hanya karyawan. Malas kalau menanggapi komplain-komplain.


"Ya udah, enggak apa-apa. Malah romantis kan, Ben," ucap Laras sambil menyandarkan kepalanya di bahu Beni.


"Iya. Apalagi duduknya sama kamu, Ras," sahut Beni sambil mengecup ujung kepala Laras.


Mestinya sama Niken. Aku pastikan akan lebih romantis. Batin Beni yang masih mengharapkan gadis bau kencur itu.


Tangan Beni yang mendekap lengan Laras, beralih ke bawah ketiak Laras. Dan perlahan menelusup masuk ke lengan blouse Laras yang longgar.


Dan....Hap!


Beni berhasil menemukan yang dicarinya. Sebuah gundukan dengan ujung kecil.


Laras tak menolak atau menghindar. Dia malah memejamkan matanya menikmati tangan Beni yang mulai meremasnya.


Beni memilin-milin ujungnya. Sampai Laras mendesah.


"Aakkhh....!" desah Laras perlahan. Meski suara hujan masih terdengar sangat kencang, Laras tetap khawatir suaranya terdengar orang.


"Enak, Ras?" tanya Beni.


"He em," jawab Laras pelan.


Bsni terus saja memainkan benda itu. Laras semakin merekatkan pelukannya. Dan menempelkan bagian satunya ke dada kiri Beni.

__ADS_1


"Ras, mau enggak kalau aku ajak kamu ke hotel?" tanya Beni dengan nekat.


"Kapan?" Laras yang sudah merasakan basah di area intinya malah menantang.


"Kapan-kapan, ya?"


Laras mengangguk. Dia berharap saat itu Tomi keluar kota lagi. Dia ingin sekali-kali merasakan permainan Beni. Mumpung Tomi belum melamarnya.


Karena menurut Laras, orang yang sudah menikah, tak boleh lagi berbuat mesum dengan orang lain. Kecuali dia sudah berpisah, seperti ayahnya.


Ya, Laras beberapa kali memergoki Rasyid berbuat mesum dengan wanita berbeda. Dan Laras memakluminya karena Rasyid sudah tak memiliki pasangan.


Dan yang terakhir, Ayu cerita kalau Rasyid berada di dalam kamar Ratih. Tanpa harus dijelaskan, Laras tahu apa yang telah dilakukan Rasyid dengan wanita itu.


"Ras...aku udah enggak tahan, nih," bisik Beni yang masih saja mencengkeram gunung Laras.


"Aku juga, Ben," sahut Laras.


"Terus gimana, dong?" tanya Beni.


Laras berfikir sejenak. Dia yang sudah berpengalaman meski hanya bersama Tomi, mendapatkan ide gila.


"Gimana kalau di kamar mandi?" bisik Laras.


"Ngaco kamu. Mana bisa?"


Beni yang senjatanya sudah menggeliat, berfikir keras. Sejauh ini, senjatanya belum pernah main kemana-mana. Masa iya permainan pertama hanya di dalam kamar mandi?


Beni maunya saat permainan pertamanya, di sebuah tempat yang romantis. Dengan suasana yang romantis juga.


Tapi sekarang, senjatanya semakin menggeliat. Dan Beni merasa tak bisa melawannya lagi.


"Kamu bisa?" tanya Beni.


"Bisa, Ben. Kita main sambil berdiri. Nanti aku ajari." jawab Laras dengan bangga.


Ooh, jadi Laras sudah sering melakukannya? Pantesan enggak nolak kalau aku ajak bercumbu. Dan sudah lihay. Rupanya dia sudah berpengalaman. Batin Beni.


Tapi tidak apalah. Toh, dia sebentar lagi Laras juga akan menikah dengan Tomi.


Beni membayangkan posisi mereka nantinya. Hhmm. Beni sudah punya gambaran.


Lalu segera berdiri dan menarik tangan Laras. Laras mengikuti langkah diam-diam Beni ke kamar mandi.


Beruntung ada kamar mandi yang letaknya terpisah agak jauh. Meski harus sedikit basah-basahan. Tapi bakal aman tanpa gangguan atau didengar orang.


Beni dan Laras masuk ke kamar mandi yang sangat gelap dan sepi.


"Gelap, Ben," ucap Laras ketakutan.

__ADS_1


Beni menyalakan senter ponselnya setelah mengunci pintu kamar mandi.


"Udah. Kelihatan, kan?" tanya Beni. Laras mengangguk.


Laras berdiri di depan Beni dengan posisi menantang. Beni menatap Laras dalam-dalam. Dan entah mengapa, hasrat Beni yang tadi sudah di ubun-ubun, tiba-tiba hilang.


Senjatanya pun perlahan melemah. Beni menghela nafasnya. Lalu mengecup kening Laras.


"Ras. Kayaknya aku enggak bisa," ucap Beni.


"Kenapa?" tanya Laras kecewa.


Beni menggeleng. Tak bisa mengungkapkan alasannya. Bibirnya seakan terkunci untuk mengatakannya.


Beni meraih ponselnya yang diletakan diatas closet. Lalu membuka pintu kamar mandi.


Beni keluar duluan. Laras masih terpaku di tempatnya sambil memandang Beni di keremangan.


"Ayo. Kamu mau di situ terus?" ajak Beni.


Dengan lunglai, Laras keluar dan mengikuti langkah Beni kembali masuk ke dalam cafe.


Dan saat mereka sampai, lampu sudah kembali menyala. Beberapa pasangan yang sedang bercumbu, langsung merapikan diri.


Beni menatap mereka satu persatu sambil tersenyum dingin. Dasar manusia-manusia mesum. Batin Beni.


Seiring dengan lampu yang menyala, hujan mulai berhenti. Beni pun mengajak Laras pulang.


Laras mengangguk lemah. Karena hasratnya tak bisa disalurkan. Lalu mengikuti langkah Beni keluar cafe.


"Ras, maafin aku, ya? Aku tak bisa melakukannya di kamar mandi. Kapan-kapan kita booking kamar hotel aja," ucap Beni sambil menggenggam tangan Laras di perjalanan. Beni bermaksud menghibur hati Laras.


Beni paham, Laras pasti kecewa karena gagal melakukannya.


Beni masih bisa mengontrol diri. Meskipun ingin, tapi menurutnya sangat tidak etis melakukannya di kamar mandi cafe.


Beni tak mau mengingkari hati nuraninya. Dia tak mau hanya diperbudak oleh nafsu sesaatnya.


"Iya, Ben. Enggak apa-apa," jawab Laras pelan. Dia memeluk Beni dari belakang.


Bahkan Laras malah malu sendiri, karena dia tadi begitu bersemangat. Dan malah terkesan seperti wanita murahan. Mau main dengan siapapun. Padahal selama ini hanya Tomi yang menidurinya.


"Kamu enggak marah kan, Ras?" tanya Beni memastikan.


Laras diam saja, hingga mereka sampai di rumah.


Rasyid belum kembali dari rumah temannya. Niken dan Ayu sudah tidur. Mungkin karena hujan, jadi mereka memilih tidur.


"Aku pulang dulu ya, Ras," pamit Beni. Laras mengangguk dan masuk ke kamarnya setelah Beni pergi.

__ADS_1


__ADS_2