KARMA : Sang Pemburu Wanita Di MEDSOS

KARMA : Sang Pemburu Wanita Di MEDSOS
Bab 67 PELAN PELAN SAJA


__ADS_3

Setelah membayar belanjaan Laras, Beni mengajaknya makan di food court.


Karena merasa telah berhutang budi, Laras tak bisa menolak. Apalagi pastinya yang membayar Beni.


"Kamu mau makan apa, Ras?" tanya Beni sambil mengajak Laras berkeliling melihat aneka menu yang ditampilkan di masing-masing outlet.


"Kamu mau bayarin aku?" Laras memastikan dulu.


Beni mengangguk sambil tersenyum. Dia sangat bahagia bisa mengajak Laras makan, meski dia harus merogoh koceknya lagi.


"Aku mau makan empek-empek aja. Kayaknya enak banget," jawab Laras.


"Oke. Aku juga sama deh." Lalu Beni memesan dua porsi empek-empek.


"Minumnya?" tanya Beni lagi. Biar sekalian bayarnya, pikir Beni.


"Orange juice aja." Meski dibayari, Laras yang sedang menjaga bentuk badannya, tak mau aji mumpung. Nanti yang ada badannya melar lagi.


"Kita duduk di sana, yuk. Enak, enggak terlalu ramai." Beni menunjuk sebuah meja yang agak mojok, setelah membayar semua pesanannya.


Laras menurut saja. Baginya tak penting mau duduk di manapun. Toh, tak ada yang mengenalinya.


"Kenapa Tomi enggak mengantarmu?" tanya Beni.


"Dia lagi sibuk. Tadi cuma mampir sebentar ke rumah," jawab Laras. Dia sengaja tak mengatakan kalau Tomi memberinya uang untuk membeli bedak.


Lumayan kalau uangnya bisa utuh. Bisa buat keperluan lainnya, pikir Laras.


"Oh. Kerja di mana dia sekarang?" tanya Beni lagi. Karena setahunya Tomi sudah dipecat dari tempatnya bekerja.


"Ben, tolong jangan bahas soal Tomi lagi. Atau aku pulang saja," ancam Laras. Lalu dia berdiri dan siap meninggalkan Beni.


Dia kesal kalau Beni bakal menjelek-jelekan Tomi. Atau bahkan membuat berita yang menurut Laras enggak bener.


"Oke...Oke. Maafkan aku." Beni menarik tangan Laras agar kembali duduk.


"Oke. Kita ngobrol yang lainnya saja." Beni mengalah. Dia tahu kalau Laras sedang dikibulin Tomi soal pekerjaannya.


Laras mendengus kesal. Lalu tiba-tiba mata Laras menangkap wajah yang tak asing.


Seorang lelaki muda hampir seumuran dengannya. Laras mencoba mengingat-ingat di mana dia pernah ketemu dengannya.


"Lihatin siapa?" tanya Beni. Matanya mengikuti arah pandang Laras.


"Itu, cowok yang jalan sama nenek-nenek. Kayaknya aku pernah lihat," jawab Laras. Matanya tak lepas dari wajah lelaki yang sedang digandeng oleh wanita setengah baya.


Beni pun ikut menatapnya.

__ADS_1


"Tanto?" Beni terkejut melihat temannya jalan bersama wanita setengah baya. Setahunya Tanto ngekos dan keluarganya tinggal jauh di kampung.


"Kamu mengenalnya?" tanya Laras.


"Iya, dia adik kelasku dulu. Oh, iya. Aku ingat, semalam dia dari rumahmu, kan?"


"Iya semalam dia ke rumah," sahut Laras.


Beni mengangguk.


"Dia nganter Niken pulang. Katanya mereka habis makan di luar," jawab Laras.


Beni mengangguk lagi.Makanan yang mereka pesan pun datang.


"Ayo dimakan dulu, Ras. Aku nanti masih harus kembali ke kantor. Aku enggak mau dipecat juga seperti....Eh, maaf." Beni tak melanjutkan omongannya. Dia hampir kelepasan ngomong. Laras bisa ngambek lagi kalau dia membahas tentang Tomi.


Laras hanya berdehem. Dia menebak lanjutan omongan Beni. Pasti akan membicarakan tentang Tomi.


"Enak?" tanya Beni mengalihkan pembicaraan.


Laras mengangguk pelan. Dan terus menikmati makanannya. Sesekali matanya menatap ke arah Tanto yang sedang digandeng mesra oleh wanita setengah baya.


"Ngapain sih lihatin dia terus?" Beni merasa kurang suka dengan yang dilakukan Laras.


"Enggak apa-apa. Cuma heran aja, kok dia mesra banget sama wanita tua itu," jawab Laras.


"Mungkin neneknya. Atau ibunya. Atau juga....pacarnya? Hahaha." Beni tertawa sendiri.


Bagi Beni sangat lucu kalau Tanto mempunyai pacar wanita yang jauh lebih tua, yang lebih mirip sebagai ibunya atau bahkan neneknya.


"Ngaco aja, kamu. Masa iya pacarnya?" sahut Laras. Karena Laras juga memiliki pemikiran yang sama dengan Beni.


"Lihat saja, tuh. Tangan wanita itu, mengelus-elus tangan Tanto. Kayak gini...." Beni mempraktekannya ke tangan Laras.


Laras segera menepisnya.


"Eh, maaf. Enggak sengaja." Beni pun menarik kembali tangannya.


Laras kembali mendengus. Enggak sengaja tapi wajahnya sumringah, batin Laras.


Laras kembali menatap ke arah Tanto. Dan pandangan mereka bertemu. Tanto pun masih ingat dengan wajah Laras.


Itu kan Laras, kakaknya Niken. Dia kok bersama Beni? Apa mereka pacaran? Batin Tanto. Dia langsung menjauhkan tangannya. Dan tersenyum ke arah Beni dan Laras, meski sebenarnya malu.


Bukan cuma malu, tapi khawatir juga kalau sampai Beni dan Laras mengetahui tentang wanita yang sedang bersamanya.


"Bun, kita cari tempat lain aja, yuk. Di sini kurang nyaman," ajak Tanto pada Imelda.

__ADS_1


"Katanya kamu pingin makan empek-empek. Di sini empek-empeknya paling enak," sahut Imelda.


"Kita cari makanan lain aja, deh. Aku merasa kurang nyaman di sini." Tanto segera berdiri.


"Ya sudah. Kita cari tempat lain." Imelda pun ikut berdiri. Lalu tangannya malah merangkul lengan Tanto dengan mesra.


"Busyet, mesra amat. Enggak mungkin kan kalau sama ibunya?" tanya Beni.


"Iya juga, sih. Dan kelihatannya, wanita itu orang kaya. Apa Tanto anak orang kaya?"


"Enggak tahu juga. Karena setahuku, dia ngekos dan kerja di counter hape. Kalau dia anak orang kaya, mestinya kuliah, bukan kerja," jawab Beni.


Laras manggut-manggut. Semoga saja Tanto tidak sedang mendekati Niken. Harapnya dalam hati.


"Tapi menurutmu, mungkin enggak kalau mereka punya hubungan khusus?" tanya Laras.


Bsni hanya mengangkat bahunya. Dia tak mau berspekulasi. Karena jatuhnya berghibah.


Laras menatap wajah Beni sekilas.


"Biarin saja lah. Toh, enggak ada hubungannya sama kamu, kan?" ucap Beni.


"Ya enggak, sih." Laras melanjutkan makannya.


"Mau nambah?" tanya Beni.


Laras menggeleng. Meski dalam hatinya ingin sekali membungkuskan buat ayahnya. Tapi ada rasa gengsi.


"Ya udah. Kita pulang yuk," ajak Beni.


"Aku antar kamu pulang dulu, baru nanti aku balik lagi ke kantor," lanjutnya.


Laras tak menolak lagi. Lumayan lah, tak perlu keluar ongkos angkot. Laras tersenyum sendiri.


Ada enaknya juga ramah pada Beni. Tapi sayangnya, Laras sudah terlanjur cinta pada Tomi. Bahkan Tomi telah mengambil segalanya dari Laras dan berjanji akan segera menikahinya.


"Makasih ya, Ben," ucap Laras setelah mereka sampai di sebelah rumah.


Beni sengaja mengambil jalan muter, biar enggak ketahuan ibunya. Bisa diceramahi panjang lebar kalau tau dia jalan sama Laras.


"Iya, Ras. Santai aja. Oh, iya. Boleh minta nomor hapemu?" Beni tak mau menyia-nyiakan kesempatan.


Tanpa bisa menolak, Laras memberikan nomor hapenya pada Beni.


"Makasih ya, Ras. Aku jalan dulu," ucap Beni. Dia tersenyum manis pada Laras.


Laras hanya membalas dengan anggukan dan wajah datar saja.

__ADS_1


Dia tak mau memasang wajah jutek lagi pada Beni. Meski belum bisa terlalu ramah. Pelan-pelan saja, batin Laras.


__ADS_2