
Malamnya, karena Tomi tak datang ke rumahnya, Laras yang kecewa, membalas pesan chat dari Beni yang dari siang tadi diabaikannya.
Beni mengajak Laras keluar. Laras pun tak menolak. Dia sudah terlanjur kecewa pada Tomi.
"Yah, Laras mau keluar sama Beni," pamit Laras pada Rasyid.
"Memangnya Tomi enggak dateng?" tanya Rasyid. Bagaimana pun dia khawatir kalau Tomi sampai tahu kalau Laras pergi bersama Beni.
"Enggak. Dia lagi ada kerjaan katanya," jawab Laras.
"Ya sudah. Jam berapa?" Rasyid melihat jam di dinding yang menujukan waktu sudah malam.
"Sebentar lagi katanya, Yah," jawab Laras, lalu dia kembali ke kamarnya mau siap-siap.
"Mau kemana, Kak?" tanya Niken.
"Keluar!" jawab Laras ketus.
"Sama kak Tomi?" tanya Niken lagi.
Laras menatap adiknya yang kepo.
"Sama Beni! Udah, ah. Kepo amat sih kamu?" Laras makin kesal aja.
"Yee...ditanya gitu aja marah!" Niken keluar dengan muka kesal.
Niken duduk sendirian di teras samping. Coba aku punya pacar, pasti aku bisa sering keluar kayak kak Laras. Enggak bete di rumah terus. Batin Niken.
Tak lama, Beni pun datang dari pintu samping.
"Laras mana?" tanya Beni pada Niken.
Ditanya bukannya menjawab, Niken malah memperhatikan penampilan Beni yang lumayan keren.
"Ngapain sih nyariin kak Laras terus? Dia kan udah punya calon suami?" tanya Niken.
Beni membalas tatapan Niken. Cantik juga, meski tak secantik Laras.
Entah mengapa, Niken merasa bergetar perasaannya.
"Hay, Ben. Yuk, aku udah siap," ajak Laras.
Beni mengangguk, lalu kembali ke motornya. Mereka pergi tanpa menghiraukan Niken yang merasa kesal.
Baru saja dia bergetar ditatap Beni, malah orangnya pergi bersama Laras. Niken menghentakan kakinya ke lantai. Lalu masuk ke kamar.
Rasyid yang melihat Niken cemberut, menghampiri Niken.
"Ada apa?" tanya Rasyid.
Niken terkejut. Dia tak mengira ayahnya akan bertanya seperti itu.
"E....enggak apa-apa, Yah," sahut Niken. Lalu pura-pura mau tidur.
Rasyid keluar lagi. Dan ke kamarnya berganti pakaian.
__ADS_1
"Ken, ayah mau keluar sebentar. Jaga rumah sama Ayu," ucap Rasyid.
Niken bangun dari tempat tidur.
"Ayah mau kemana?" tanya Niken.
"Ke rumah teman." Tanpa menoleh lagi, Rasyid pun segera pergi.
Niken benar-benar sangat kesal. Mereka yang punya hape, bisa pergi setelah chat. Sedangkan dia? Hanya jadi penunggu rumah saja. Karena tak bisa chat dan janjian dengan siapa pun.
Niken membanting badannya ke tempat tidur. Dan kembali menyesali nasibnya.
Baru saja Niken mau memejamkan mata, pintu depan ada yang mengetuk.
Siapa sih? Malam-malam bertamu ke rumah orang, batin Niken dengan kesal. Tapi tetap beranjak juga.
"Mas Tanto?" Niken terkejut setelah membuka pintu dan mendapati siapa yang datang.
Niken berfikir, Tanto akan mengembalikan hapenya.
"Selamat malam, Niken. Boleh aku masuk?" tanya Tanto karena tak juga dipersilakan masuk.
"Oh, iya. Masuk. Maaf," ucap Niken dengan sedikit malu karena dia masih bengong saja.
Tanto pun masuk dan segera duduk tanpa dipersilakan.
"Kok sepi? Pada kemana?" tanya Tanto.
"Pergi. Kak Laras pergi sama Beni. Ayah ke rumah temannya, baru saja keluar," jawab Niken.
"Oh. Sendirian dong?" tanya Tanto.
"Hapeku gimana, udah beres belum?" tanya Niken tanpa basa basi.
"Oh, iya. Aku sampai lupa ngomong ke kamu. Hape kamu mati total dan enggak bisa dibetulin lagi. Kayaknya terendam air cukup lama, ya?"
"Iya. Kan udah pernah aku kasih tahu kalau hapeku nyemplung di kolam renang. Dan perlu perjuangan yang cukup lama buat mengambilnya," sahut Niken.
"Nah itu dia masalahnya. Semua bagiannya jadi rusak. Tapi maaf, aku lupa membawanya. Soalnya tadi juga enggak niat ke sini," ucap Tanto.
Tanto hanya menunggu waktu buat melayani klien barunya jam sembilan nanti. Daripada bete nunggu, dia memilih ke rumah Niken setelah ke rumah temannya tidak ketemu.
Niken langsung cemberut mendengarnya. Dia kecewa karena bakal tak punya hape lagi. Meski kekecewaannya tidak semestinya dilampiaskan pada Tanto.
"Kamu mau punya hape lagi?" tanya Tanto.
Dari cerita yang didengar dari mantan bosnya, Rasyid tak punya penghasilan tetap. Jadi sepertinya tak mungkin membelikan hape baru buat Niken.
Niken hanya mengangguk. Jelas saja dia menginginkannya. Tapi rasanya tidak mungkin meminta lagi pada ayahnya.
Hape itu saja, didapatnya setelah Rasyid menggombali seorang wanita kaya. Yang pada akhirnya hubungan Rasyid dan wanita itu kandas.
"Tapi ada syaratnya," ucap Tanto.
"Apa syaratnya?" tanya Niken bersemangat.
__ADS_1
"Mm...." Tanto menggantung jawabannya. Dia menatap wajah Niken di sampingnya.
Wajah belia yang cukup membuat Tanto penasaran ingin menciumnya.
Sebenarnya Tanto sudah menyukai Niken sejak awal ketemu. Cuma sikap jutek Niken yang membuatnya kesulitan mendekatinya.
Apalagi setelah itu, Tanto sibuk dengan pekerjaan barunya. Sampai-sampai dia tadi siang dipecat dari bos counter tempatnya pertama kali bekerja.
Tanpa berfikir macam-macam, Niken pun menatap wajah Tanto. Tak ada perasaan apapun.
Tanto menyentuh wajah Niken dengan tangannya. Dengan sigap, Niken membuang wajahnya ke samping.
"Ken. Aku... Aku mencintai kamu. Mau kan kamu jadi pacarku?" tanya Tanto to the point. Dia tak mau menyia-nyiakan kesempatan. Apalagi saat ini tak ada siapapun di rumah Niken kecuali Ayu yang mungkin sekarang sudah tidur.
Niken terperanjat. Dia kembali menoleh dan menatap wajah Tanto.
Baru kali ini ada laki-laki yang mengucapkan cinta padanya. Selama ini Niken selalu menunggunya, meskipun dia tak berharap kalau laki-laki itu adalah Tanto.
"Serius, kamu?" tanya Niken.
Tanto mengangguk sambil tersenyum. Dia berharap Niken mau menerimanya.
"Tapi aku...." Niken ragu untuk mengatakannya.
"Kenapa?" tanya Tanto penasaran.
"Aku tidak mencintaimua," jawab Niken blak-blakan. Dia memang type anak yang suka ceplas ceplos kalau bicara dan apa adanya.
Tanto tidak kecewa mendengarnya.
"Bukan tidak mencintaiku, Ken. Tapi belum," sahut Tanto.
"Maksud kamu?" tanya Niken tak mengerti.
"Cinta akan datang seiring berjalannya waktu. Dan aku yakin, saatnya nanti, kamu bisa mencintaiku," jawab Tanto percaya diri.
"Oh, ya?" tanya Niken dengan keluguannya.
Tanto mengangguk.
"Kamu mau hape, kan?" tanya Tanto.
Niken juga mengangguk.
"Jadilah pacarku. Aku akan membelikanmu hape. Anggap saja sebagai hadiah pertamaku," ucap Tanto.
Niken mengerutkan dahinya. Lalu mengangguk dengan semangat. Baginya bukan masalah demi sebuah hape. Toh dia bisa hanya pura-pura saja.
"Oke. Deal ya? Mulai sekarang, kamu jadi pacarku," ucap Tanto lagi.
Niken kembali mengangguk. Demi sebuah hape, apa susahnya.
"Aku boleh kan mencium kamu?"
Niken langsung melotot.
__ADS_1
"Kan kita sekarang udah jadian. Jadi harusnya aku boleh mencium kamu," ucap Tanto.
Waduh! Kenapa mesti pakai acara ciuman. Niken merasa belum siap melakukannya. Dan dia masih takut.