
Tomi bergegas ke kamar mandi. Dia akan bersiap mewujudkan keinginannya.
Membahagiakan keluarga dan segera melamar Laras. Dia tak mau terus-terusan hidup dalam keterbatasan.
"Mau kemana lagi?" tanya Lastri.
"Ada kerjaan, Bu. Tomi berangkat dulu, ya." Tomi menyalami tangan Lastri dan membelai kepala adiknya yang hanya bisa menatap Tomi dengan mata sayunya.
Hardi tak menyapa Tomi. Dia membiarkan saja anaknya itu pergi sesuka hatinya.
Tomi pergi ke alamat yang sudah diberikan oleh Adam. Kata Adam dia harus menemui perempuan yang biasa dipanggil madam.
Sampai di alamat itu, Tomi melihat motor Adam terparkir di halaman yang tak terlalu luas.
Tomi bernafas lega. Artinya dia tak harus menghadapi si madam sendirian.
Adam yang mengetahui kedatangan Tomi, mengajaknya masuk menemui si madam.
"Madam, kenalkan ini Tomi. Teman baikku."
Di sebuah sofa, duduk seorang perempuan setengah baya berpakaian seksi. Badannya cukup proporsional. Wajahnya tak terlalu cantik, tapi di lapisi make up yang cukup tebal.
"Hallo, Tomi. Kenalkan, namaku Cyntia. Panggil saja Madam Cyntia," ucapnya sambil mengulurkan tangan.
Tomi mendekat dan menjabat tangan madam Cyntia. Tak diduga oleh Tomi, ternyata madam Cyntia mencium tangan Tomi.
Madam Cyntia juga tak segera melepaskan tangan Tomi. Dia malah tersenyum nakal pada Tomi. Sebenarnya Tomi merasa risi. Tapi karena menurut Adam, si madam ini yang akan memberikan job, Tomi menurut saja.
"Duduk sini, Say." Cyntia menarik tangan Tomi.
Tomi menurut saja. Karena tangannya masih digenggam Cyntia.
Adam pergi ke lantai dua rumah itu tanpa berpamitan. Sepertinya dia sudah sangat terbiasa.
Cyntia mencium aroma tubuh Tomi. Lalu dia melepaskan tangan Tomi dan mengambil botol parfum dari tasnya.
Sreett!
Sreett!
Sreett!
Cyntia menyemprotkan parfum ke tubuh Tomi.
"Biasakan memakai parfum saat akan bertemu klien. Aroma wanginya akan menambah gairah klien kamu. Biasakan juga bibir tersenyum. Begini." Cyntia mencontohkan.
"Mata. Buka yang lebar. Biasakan tatap mata lawan bicara. Begini. Dengan tatapan yang seakan kamu tertarik padanya." Cyntia kembali memberi contoh.
"Kemeja kamu, sini aku rubah sedikit penampilan kamu." Cyntia melepas satu kancing lagi. Lalu melipat sedikit lengan kemeja Tomi.
__ADS_1
Rambut Tomi pun dia kasih sedikit foam dan disisirnya dengan tangan.
Cyntia kembali membuka tasnya. Dia mengambil sebuah kalung rante kecil. Dan memasangkannya di leher Tomi.
"Nah, sudah lebih oke daripada tadi. Ini kamu pakai dulu jam tanganku. Nanti kalau kamu sudah banyak uang, belilah sendiri." Cyntia memasangkan jam tangan di pergelangan tangan Tomi.
"Kamu sudah tau kan apa yang harus kamu lakukan?" tanya Cyntia.
Tomi diam saja. Karena belum terlalu paham. Dia takut salah kalau menjawab iya.
"Kamu datangi rumah Sylfie. Bilang saja kamu temanku. Nanti selanjutnya Sylfie yang akan memandu kamu. Turuti saja apa maunya dia. Karena dia yang akan membayarmu, oke?"
Tomi mengangguk. Meski jantungnya berdegup kencang. Bagaimana pun dia belum tahu bagaimana penampakan Sylfie.
Hape Cyntia berdering. Tomi sempat membaca nama penelponnya. Sylfie.
"Iya, sabar. Ini orangnya sedang aku brefing dulu. Maklum barang baru. Ati-ati pakainya. Kayaknya masih segelan," ucap Cyntia.
"Ya udah buruan. Jadi penasaran," sahut Sylfie.
"Oke. Kembali mulus, ya. Awas kalau lecet!" ancam Cyntia lalu menutup telponnya.
"Udah sana jalan, Tom. Syilfie udah nungguin kamu," ucap Cyntia. Dia memberikan alamat Sylfie.
"Goodluck!" ucap Cyntia mengecup tangan Tomi lagi.
"Sstt."
"Senyum. Mm." Cyntia memberikan senyumnya agar Tomi meniru.
Tomi malah tersenyum malu. Ya dia harus terlihat bersemangat demi mewujudkan keinginannya.
Tanpa berpamitan pada Adam yang entah sekarang lagi ngapain, Tomi pergi ke alamat yang diberikan Cyntia.
Tomi berhenti di sebuah apartemen yang cukup megah. Dia bertanya dulu pada security yang berjaga. Dimana dia bisa memarkirkan motornya juga letak unit yang ditempati Sylfie.
Setelah mendapatkan informasi yang jelas, Tomi segera meninggalkan pos security.
Dengan menaiki lift, Tomi menuju unit yang dituju. Lorong menuju unit itu terlihat sepi. Mungkin para penghuninya sedang santai di dalam ruangan yang pastinya sangat nyaman. Batin Tomi.
Tomi mengetuk pintu unit bernomor 75. Tak lama keluarlah seorang wanita berumur empat puluhan.
Wajahnya cukup cantik untuk ukuran Tomi. Benar kata Adam, dia lebih menarik daripada Laras yang terlalu natural.
Bodynya pun sangat seksi dengan hanya mengenakan hot pants dan tanktop tanpa bra. Terlihat dari puncak gunungnya yang seperti menantang Tomi.
Tomi menelan ludahnya. Sebagai laki-laki normal, tanpa dibayarpun Tomi akan siap menerkamnya.
"Tomi?" tanyanya.
__ADS_1
Tomi mengangguk. Lalu dia mengulurkan tangannya.
"Sylfie." Sebuah jabat tangan erat membuat jantung Tomi langsung berpacu cepat.
"Masuklah." Sylfie mempersilakan Tomi masuk dan mengunci pintunya kembali.
"Duduklah. Santai dulu." Sylfie mendahului duduk di sofa.
Tomi ikut duduk di sebelah Sylfie dengan sopan. Sylfie tersenyum melihatnya. Dia merasa omongan Cyntia benar. Ini benar-benar barang baru.
"Berapa umurmu, Tom?" tanya Sylfie.
"Dua puluh tiga, Tante," jawab Tomi.
"Masih sangat muda. Kamu pernah melakukannya?" tanya Sylfie lagi.
Tomi bingung menjawabnya. Masa iya dia menjawab kalau dia baru saja semalam melakukannya dengan Laras.
"Hey, kamu tidak mau menjawab pertanyaanku?" Tangan Sylfie menyentuh dagu Tomi.
"Baru sekali, Tan," jawab Tomi malu-malu. Sekali mengajak Laras tapi berkali-kali melakukannya, batin Tomi.
"Wouwh! Dengan kekasihmu?" tanya Sylfie lagi.
Sebenarnya Tomi jengah dengan pertanyaan seputar dirinya dari orang yang baru saja dikenalnya.
Tapi dia harus bersikap profesional. Seperti pesan dari Cyntia. Dia harus menuruti apapun keinginan kliennya.
"Iya," jawab Tomi singkat.
"Pasti kekasihmu sangat cantik. Kamu ganteng, Tomi." Sylfie membelai pipi Tomi.
Tomi menatap wajah Sylfie. Meski telah berumur, tapi masih mempesona.
"Tante juga cantik... Seksi." Tomi merasa harus segera menjalankan tugasnya. Dia pun membelai pipi Sylfie dengan lembut.
"Oh ya? Kamu suka dengan wanita tua sepertiku?" bisik Sylfie di telinga Tomi. Membuat sekujur tubuh Tomi meremang.
"Tante tidak terlihat tua. Tapi matang. Aku sangat menyukainya, Tante." Tomi mulai terbawa suasana.
Ya, Tomi pernah menyukai temannya di medsos. Usianya jauh di atas Tomi. Tapi wajah keibuannya membuat Tomi terpesona. Sayangnya wanita itu susah sekali untuk didekati.
Tangan Sylfie menyusuri leher Tomi dan turun hingga dada Tomi yang masih terbungkus kemeja.
Tomi pun tak mau kalah. Dia mainkan tangannya di dada Sylfie yang masih terhalang tanktop. Dia pilin-pilin ujung gunung Sylfie yang menjulang dibalik tanktop.
Sylfie menatap Tomi dengan buas. Seakan ingin menerkam. Tomi pun menatap Sylfie seakan penuh hasrat, seperti yang dikatakan Cyntia tadi di acara brefing singkatnya.
Dan tanpa ada yang mengkomando lagi, mereka mulai saling menerkam. Mereka sama-sama buas.
__ADS_1
Tomi yang masih menginginkan bercinta dengan Laras bertemu dengan Sylfie yang haus belaian lelaki.
Mereka berduel dengan dahsyat. Tanpa ada seorangpun yang mengganggu.