
Beni menggandeng tangan Laras. Laras malah mendekap pinggang Beni dengan erat. Persis seperti wanita yang tadi dilihatnya jalan dengan Tomi.
Kalau dia bisa melakukannya, kenapa aku tidak. Batin Laras. Meski dengan rasa yang sangat sakit di dadanya.
Namun sayangnya Beni menolak ajakan Laras. Bahkan saat Laras sudah pasrah pun, Beni seperti tak bernafsu.
Beni menghentikan langkahnya di bawah pohon kelapa. Lalu meraih tubuh Laras.
"Ras...." Beni mengangkat dagu Laras.
Laras mendongakan wajahnya. Dia tatap wajah Beni di keremangan.
Beni mencium bibir Laras dengan lembut. Laras pun pasrah. Dia membayangkan Beni adalah Tomi. Meski cara mencumbunya sangat berbeda.
Kalau Tomi, pasti akan dengan berapi-api mencumbui bahkan tangannya bergerilya ke sekujur tubuh Laras.
Sedangkan Beni, hanya mencium saja. Tangannya hanya *******-***** tangan Laras saja.
Dan saat Laras hendak menyerang balik, Beni malah melepaskan ciumannya.
"Kenapa?" suara Laras sudah serak.
"Kita pulang. Sudah malam," jawab Beni.
Laras mengangguk kecewa. Dia menginginkan Beni melakukan lebih. Hasratnya sudah mencapai ubun-ubun.
Beni menarik tangan Laras untuk kembali berjalan. Angin pantai sudah semakin kencang. Beni khawatir Laras masuk angin karena tak memakai jaket ataupun baju tebal.
Di sisi lain, Beni pun tidak enak pada Rasyid kalau mengembalikan Laras terlalu malam. Karena ini adalah kencan pertamanya dengan Laras.
Sepanjang perjalanan Laras mendekap pinggang Beni seakan tak ingin melepaskan. Beni hanya menggenggam tangan Laras dengan satu tangan. Tangan yang lainnya menyetir motor. Beni berusaha tetap fokus meski otaknya sedang tak beres.
Sejujurnya Beni ingin sekali melakukan lebih, walaupun dia belum pernah sekalipun bercumbu dengan wanita. Tapi ada ketakutan kalau terjadi sesuatu dengan Laras.
Beni sadar, ibunya tak menyukai Laras, entah apa sebabnya. Jadi seandainya dia mau menjalani hubungan dengan Laras, mesti membicarakannya dulu dengan ibunya.
Dia tak mau wanita yang telah melahirkan dan membesarkannya kecewa. Satu-satunya wanita yang masih ingin dia bahagiakan adalah ibunya, Yanti.
"Kamu mau beli makanan dulu buat oleh-oleh?" tanya Beni. Beni pun ingin mendapat nilai lebih di mata Rasyid.
"Enggak usah, Ben. Aku capek," jawab Laras masih memeluk pinggang Beni dan menyandarkan kepalanya di punggung Beni.
"Buat kamu nanti malam." Beni masih berusaha memaksa Laras.
Tapi Laras tetap menolaknya. Bukan karena dia tak mau makan malam-malam, tapi karena hatinya juga sedang tak enak.
"Ya sudah. Kita langsung pulang, ya?"
__ADS_1
Laras mengangguk meski tak terlihat oleh Beni. Lalu Beni meletakan tangan Laras di pangkuannya dan melajukan motornya lebih kencang lagi.
Laras pun mendekap Beni lebih erat.
Sementara Tomi dan Maya sudah masuk ke sebuah hotel. Malam ini Maya ingin mendapatkan service spesial dari Tomi. Suaminya sudah berhari-hari keluar kota dan belum juga pulang.
"Tom, service aku yang memuaskan ya? Nanti aku transfer kamu lebih," pinta Maya.
"Iya, May. Kamu mau langsung mentransfer ke rekeningku?" tanya Tomi. Karena biasanya para pemakai jasa Tomi akan melalui Cyntia dulu.
"Aku sudah berkali-kali menghubungi Cyntia, tapi nomornya tidak aktif. Apa kamu punya nomor Cyntia yang lain?" tanya Maya.
"Enggak. Aku cuma punya nomor madam Cyntia satu," jawab Tomi.
Seandainya punya pun, tak akan aku berikan padamu, Maya. Aku tak mau lagi berbagi dengan Cyntia. Batin Tomi.
"Ya sudah. Tidak apa-apa kan, aku langsung menghubungi kamu kalau aku butuh?" tanya Maya lagi.
"Tentu saja, Maya." Tomi langsung mencumbui Maya dengan beringas.
Malam ini Tomi akan mulai melakukan pekerjaannya dengan profesional dan tanpa campur tangan Cyntia lagi. Dia ingin bisa mencari klien sendiri. Agar penghasilannya tak perlu dibagi dua lagi.
"Sabar, Tom. Aku mau ke kamar mandi dulu." Maya melepaskan diri dari Tomi.
Tomi menggigit bibir Maya sekilas.
"Kamu nakal, Tomi." Maya mendorong tubuh Tomi hingga jatuh ke atas sofa.
Tomi malah tergelak. Dia sudah bisa menikmati pekerjaannya yang mengasyikan ini.
Maya melenggang ke kamar mandi. Dia mau membuang hajat yang ditahannya sejak dari mobil tadi.
Maya juga sekalian melepas pakaiannya. Dan dia hanya mengenakan lingerie yang di pakainya sejak dari rumah.
Mata Tomi langsung terbelalak melihat pemandangan indah yang keluar dari kamar mandi.
Meski usia Maya sudah melewati empat puluh tahun, tapi body-nya masih terawat dan kencang. Tak kalah dengan body Laras yang masih berusia dua puluhan.
Tomi langsung mendekati Maya dan menariknya ke atas tempat tidur. Pergulatan pun langsung dimulai.
Tomi dengan beberapa gaya yang diajarkan oleh Cyntia secara langsung, berusaha memuaskan Maya.
Maya pun yang sudah menggelora, sangat mampu menandingi kehebatan Tomi.
Peluh sudah membasahi sekujur tubuh mereka. Tapi pergulatan mereka malah semakin seru. Tak ada yang mau mengalah. Hingga akhirnya mereka sama-sama tumbang dan terkapar.
"Tom....kamu hebat sekali. Lebih hebat dari saat pertama melakukannya denganku," ucap Maya sambil terengah.
__ADS_1
"Kamu puas?" tanya Tomi.
"Sangat puas, Tomi." Maya mengangkat satu tangannya dan meletakan di atas perut Tomi.
Tomi mengecup tangan Maya, lalu mengangkat kepalanya menghadap ke arah Maya.
"Masih mau lagi?" tantang Tomi. Padahal dia sudah sangat kepayahan.
"Nanti, Tom. Tenagaku habis. Kamu mau mengambilkan aku minum?"
Tomi segera beranjak, lalu mengambilkan segelas air putih untuk Maya.
"Minumlah. Atau mau makan lagi?" tanya Tomi.
"Enggak, Tom. Ini sudah cukup." Maya menenggak air putih itu hingga tandas.
"Ini, Tom." Maya menyerahkan gelas yang sudah kosong dan kembali merebahkan diri.
Perlahan dia menutup matanya. Rupanya pertempuran barusan membuat tenaganya benar-benar habis.
Tomi menatap tubuh polos itu dengan perasaan puas. Dia sudah bisa membayangkan berapa jumlah yang akan ditransfer Maya nanti.
Lalu Tomi membersihkan dirinya di kamar mandi. Dan mengenakan kaosnya. Celana panjangnya dia biarkan tergeletak di lantai.
Tomi membuka hapenya. Banyak pesan dari Laras. Juga panggilan tak terjawab.
Tomi membalas pesan Laras. Tapi tak berniat menelponnya. Jangan sampai Maya mendengarnya menelpon wanita lain saat bersamanya.
Tak ada jawaban begitu pesan dari Tomi terkirim. Bahkan Laras tak membukanya.
Jelas saja, Laras sedang dalam perjalanan pulang dengan Beni. Dan dia sedang mendekap pinggang Beni dengan erat.
Kemana Laras, tumben sekali jam segini tak membuka hape. Apa dia sudah tidur? Tomi melirik ke arah jam hapenya.
Baru juga jam sebelas malam. Biasanya dia masih online.
Tomi malah jadi gelisah memikirkannya. Lalu dengan hati-hati, agar tak terdengar oleh Maya, dia menelpon Laras.
Telepon Laras berdering, tapi tak diangkat. Sampai tiga kali, Tomi menelponnya, masih juga tak diangkat.
"Kamu telpon siapa, Tom?" tanya Maya.
Tomi terkejut mendengarnya. Dia pikir Maya sudah terbang ke alam mimpi.
"Ngg...Orang rumah. Aku mau kasih kabar kalau malam ini enggak pulang," jawab Tomi berbohong.
Sementara Maya sudah tak mendengar jawaban Tomi. Dia sudah kembali terlelap.
__ADS_1