KARMA : Sang Pemburu Wanita Di MEDSOS

KARMA : Sang Pemburu Wanita Di MEDSOS
Bab 192 NIKEN BERAKSI LAGI


__ADS_3

Rasyid menikmati makanan yang dibawa Laras, dengan Niken dan Ayu.


"Makanannya enak ya, Yah," ucap Ayu.


Kali ini Ayu dapat jatah makan cukup banyak. Karena Niken membaginya di depan Rasyid. Jadi Niken tak bisa bersikap curang.


"Iya. Ini kan makanan orang kaya. Kamu udah pernah ke rumah om Dino, kan?" sahut Rasyid. Dia pun makan dengan lahap.


"Iya, Yah. Rumahnya bagus banget. Enak kak Laras bisa tinggal di sana. Ayu juga mau tinggal di sana, Yah," ucap Ayu.


"Nanti kalau Ayah punya uang banyak. Ayah bikin rumah kayak gitu." Rasyid mulai berhalu lagi.


"Bikin kolam renang juga ya, Yah." Ayu pun ikutan berhalu.


Kalau Ayu sih wajar, karena dia masih kecil. Dunianya masih sebatas dunia halu.


Lah kalau Rasyid? Maunya hidup kaya raya tapi tak mau bekerja.


Dikira Rasyid, mereka yang banyak uang hanya ongkang-ongkang kaki saja di rumah.


Rasyid tak pernah tahu bagaimana mereka bekerja memeras otak, siang malam. Bahkan kadang sampai lupa istirahat. Lupa caranya tidur dengan nyaman.


Tak seperti Rasyid yang kerjaannya cuma molor. Main hape. Merokok dan ngopi.


Tapi hayalannya tingkat tinggi. Bahkan sering memberikan harapan palsu pada anak-anaknya.


"Iya. Kolam renang. Kolam ikan. Kolam apa lagi?" tanya Rasyid, lalu tertawa ngakak.


"Kolam buaya!" sahut Niken. Lalu pergi ke dapur. Dia sering kesal dengan hayalan Rasyid yang tak ada juntrungannya.


Rasyid pun hanya menatap kesal pada Niken. Tak seperti Ayu yang mau menanggapinya.


"Yu. Ayah abis ini mau keluar sebentar, ya. Ayah ada urusan sama temen," ucap Rasyid.


Sudah lama Rasyid tak mencari kesenangan di luar. Sekarang mumpung punya uang, Rasyid ingin melampiaskan hasratnya yang sudah memuncak.


Sebagai lelaki, Rasyid punya hasrat yang tinggi pada wanita. Sayangnya dia tak pernah mau menghargai wanita. Hingga wanita sebaik Alya, lepas dari pelukannya.


"Ayu pingin ikut, Yah," rengek Ayu.


"Jangan. Ayah cuma sebentar, kok. Kamu di rumah aja sama kak Niken," sahut Rasyid.


Jelas saja Rasyid tak mau Ayu ikut. Bisa gagal acaranya in the hoy.


"Tapi Ayu takut tidur sendirian, Yah." Ayu masih saja merengek.


"Kan ada kak Niken. Udah. Ayah keluar dulu. Biar bisa cepat pulang." Rasyid segera berdiri dan meraih kunci motornya.


"Mau kemana, Yah?" tanya Niken yang sedang duduk di teras samping.


"Ayah keluar dulu, sebentar. Kamu jagain Ayu," jawab Rasyid.


"Males banget jagain Ayu," gumam Niken.


"Pokoknya Ayah enggak mau tau! Kamu harus jagain Ayu!" Rasyid langsung menuju motornya, dan pergi.


Niken hanya menatap Rasyid dengan kesal.


Enak banget jadi ayah. Bisa pergi sesukanya. Bisa marah-marah sesukanya juga. Batin Laras.

__ADS_1


Laras merogoh kantong celananya. Tak ada uang sepeserpun.


Lalu dia ingat kalau tadi Laras memberikan uang pada Ayu. Niken langsung berlari mencari Ayu.


"Yu. Kita jajan, yuk," ajak Niken. Seolah dia yang akan membayarnya.


"Enggak ah. Ayu masih kenyang," tolak Ayu.


"Cuma makan segitu aja, kenyang," ucap Niken.


"Tadi kan Ayu makannya banyak banget, Kak," sahut Ayu.


"Banyakan juga aku. Tapi aku belum kenyang," ucap Niken.


Jelas saja enggak kenyang. Perut kak Niken kan kayak karung. Batin Ayu.


Ayu masuk ke kamarnya. Niken terus mengikuti.


"Kak Niken mau nemenin Ayu tidur?" tanya Ayu dengan polosnya.


"GR aja kamu! Sini, aku bagi duitnya." Niken menengadahkan tangannya.


"Duit apaan?" tanya Ayu.


"Duit apaan? Yang tadi dikasih kak Laras!" jawab Niken.


Ayu diam sejenak. Ayu benar-benar lupa kalau tadi Laras memberinya uang.


"Itu buat bekal sekolah, Kak. Tapi besok mau buat beli LKS aja. Biar Ayu enggak pinjam sama Sinta terus," sahut Ayu.


Selama ini Ayu selalu pinjam LKS milik Sinta. Kadang kalau ada uang jajan, dia gunakan untuk memfotocopy-nya. Biar enggak capek menyalin.


"Enggak. Besok Ayu mau ada ulangan!" Ayu tetap menolak memberikannya pada Niken.


"Pelit amat sih, lu!" Niken menoyor kepala Ayu.


"Iih! Sakit, Kak!" seru Ayu.


"Makanya siniin uangnya, biar enggak aku sakiti lagi!" Niken malah mendorong tubuh kecil Ayu, hingga menabrak tembok.


Kepala Ayu bagian belakang terbentur tembok dengan keras. Seketika Ayu merasakan kepalanya pusing. Matanya berkunang-kunang.


Lalu seketika itu juga, Ayu ambruk.


"Hah....!" Niken memekik dengan keras.


"Ayu! Ayu! Bangun, Ayu...!" Niken mengguncang bahu Ayu. Tapi Ayu tak bergerak.


Niken mulai panik. Dia tak tahu apa yang harus dilakukannya.


Niken yang kebingungan, akhirnya mengangkat tubuh Ayu ke atas tempat tidur.


"Aduh, gimana ini? Gimana kalau sampai ayah tau?" gumam Niken dengan kebingungan.


Niken ke kamar mandi, mengambil air di gayung. Lalu memercikannya ke wajah Ayu.


Ayu masih tak bereaksi.


Apa aku guyur aja, ya? Batin Niken.

__ADS_1


Tapi nanti kalau tempat tidurnya basah, malah ketahuan ayah. Dan aku bakal kena marah.


Aduh...! Terus gimana dong?


Niken benar-benar kebingungan.


Niken tak pernah merasa kalau tenaganya terlalu kuat, dan bisa menjatuhkan orang lain dengan mudah.


Dulu Laras yang didorongnya sampai jatuh, pingsan dan keguguran.


Sekarang Ayu tak sadarkan diri, akibat membentur tembok.


Karena tak tahu lagi apa yang harus dilakukannya, Niken berlari ke rumah Yanti.


Di depan rumah Yanti, dia ketemu dengan Beni yang akan memasukan motornya.


"Kak! Kak Beni!" panggil Niken dengan terengah-engah.


Beni menoleh. Lalu menyetandarkan lagi motornya.


"Ada apa?" tanya Beni.


"Tolongin Ayu, Kak," jawab Niken, masih dengan nafas ngos-ngosan.


"Ayu kenapa?" tanya Beni.


"Ayu jatuh di kamarnya. Terus pingsan," jawab Niken.


"Jatuh apa kamu jatuhin?" tanya Beni menyelidik. Beni masih ingat dengan kasus Laras dahulu.


"Jatuh, Kak. Ayo tolongin!" pinta Niken.


"Ya. Sebentar, aku masukin motor dulu," ucap Beni. Dia pun memasukan motornya.


"Ada apa, Ben?" tanya Yanti.


Yanti juga akan menutup warungnya. Karena meskipun belum terlalu malam, tapi jalanan sudah sepi.


"Niken, Bu. Katanya Ayu jatuh di kamar, terus pingsan," jawab Beni.


"Halah, paling juga diapa-apain sama si Niken itu!" sahut Yanti.


Yanti jadi tahu sikap kasar Niken yang kadang mencelakai orang lain.


"Enggak tau juga, Bu. Tapi kasihan Ayunya. Beni ke sana dulu, ya," pamit Beni.


"Ya udah, sana. Bawa minyak kayu putih. Paling di sana enggak punya!" Yanti mencarikan minyak kayu putih miliknya.


"Nih. Kalau udah selesai, bawa pulang lagi. Itu masih banyak!" Yanti memberikannya pada Beni.


Beni hanya menghela nafasnya. Yanti memang kadang suka kelewatan pelitnya.


Beni segera keluar lagi. Niken masih berdiri di halaman rumah Yanti.


"Ayo!" ajak Beni.


"Heh, Niken! Kamu apakan lagi adikmu? Sekali-kali dorong ayah kamu! Berani enggak?" tantang Yanti.


Niken hanya bisa menunduk malu.

__ADS_1


__ADS_2