KARMA : Sang Pemburu Wanita Di MEDSOS

KARMA : Sang Pemburu Wanita Di MEDSOS
Bab 43 DEMI KELUARGA


__ADS_3

Tomi segera melepaskan diri dari Laras.


"Bersihin dulu sana di kamar mandi. Aku tunggu di ruang tamu," ucap Tomi sambil menaikan celana panjangnya.


Tomi segera keluar dari kamar Laras. Lalu membuka pintu depan lagi.


Laras membersihkan diri di kamar mandi. Dia membuka celana pendeknya dan menatap miliknya yang sudah berkali-kali dijamah Tomi sambil tersenyum bahagia. Akhirnya dia bisa juga merasakan nikmatnya bercinta dengan orang yang sangat dicintainya.


"Udah bersih?" tanya Tomi.


"Udah wangi malah," jawab Laras.


"Masa sih?"


Laras mengangguk.


"Coba aku cium." Tomi bermaksud menggoda Laras.


"Iih, apaan sih. Masa ginian dicium," sahut Laras malu-malu.


"Kan biar aku yakin kalau udah wangi."


Tomi malah berjongkok di depan Laras.


"Buka dikit, Ras," pinta Tomi.


Laras membuka pahanya lebar-lebar. Lewat satu sisi celana pendek Laras, Tomi menyingkap ****** ***** Laras.


Lalu Tomi mendekatkan hidungnya. Dia benar-benar mencium milik Laras.


"Iya, harum." Tomi yang sudah keranjingan milik perempuan, malah menjulurkan lidahnya. Dan memainkan milik Laras dengan ujung lidahnya.


"Tom. Jangan begini dong." Suara Laras bergetar.


Tomi kembali menggila. Dia bahkan memasukan seluruh lidahnya dan menyusuri goa milik Laras.


"Tomi...." Laras mendesis pelan. Dia kembali seperti melayang. Tak sadar tangannya menekan kepala Tomi.


Tomi menyesap, menggigit, hingga Laras kembali menggelepar. Kedua kakinya bergerak-gerak tak tentu arah sambil terus mendesah.


Tiba-tiba terdengar suara motor Rasyid masuk ke halaman. Reflek Tomi melepaskan sesapannya. Lalu kembali duduk.


Laras pun segera membetulkan celana pendeknya. Tatapan matanya masih nanar. Jantungnya masih berdetak dengan cepat.


"Kamu nakal, Tom," ucap Laras pelan.


"Tapi kamu suka, kan?" goda Tomi.


Laras mencubit lengan Tomi. Lalu pura-pura sibuk membuka bungkus makanan yang dibawa Tomi tadi.


"Enak ini, Tom," ucap Laras sambil memakan martabak manis yang dibeli Tomi.


"Iyalah. Buat calon istri harus yang enak-enak," sahut Tomi.


"Apaan itu, Kak? Mau dong." Niken mencium aroma harum martabak manis.

__ADS_1


"Hhm. Enak aja." Laras langsung menutup dusnya.


"Mm. Pelit!" Niken kembali masuk.


"Bagi-bagi sama adiknya dong, Ras. Itu kan banyak. Memangnya mau kamu habiskan sendiri?" tanya Tomi.


"Iya, nanti juga aku bagi. Kalau sekarang, bakalan dihabiskan semua sama Niken. Dia kan rakus," jawab Laras.


"Enak aja bilang aku rakus!" sahut Niken dari dalam.


"Emang rakus!" jawab Laras.


"Sstt. Enggak boleh begitu sama adiknya," ucap Tomi.


Di rumahnya, Tomi sangat menyayangi keempat adiknya. Kalau dia punya uang, pasti membelikan jajanan buat mereka. Dan mereka akan saling berbagi dengan adil. Tanpa berantem seperti kedua adik Laras.


Kedua orang tua Tomi selalu mendidik anak-anaknya untuk berbagi. Terutama dengan Sinta yang sakit sejak masih bayi.


"Aku pulang dulu, ya. Capek banget. Dari kemarin kan aku belum pulang." Tomi jadi kangen dengan adik-adiknya.


"Kamu belum pulang dari kemarin?" tanya Laras.


"Iya. Kamu kan tau sendiri, aku sibuk dari kemarin." Tomi berdiri. Laras juga ikut berdiri.


"Bilang ke ayah kamu, aku mau pulang."


Laras masuk ke dalam. Dan melihat Rasyid sudah tidur di kamar Ayu.


"Ayah tidur," ucap Laras pada Tomi.


"Satunya dong, biar enggak iri." Tomi mendekatkan lagi satu pipinya.


Setelah Tomi pergi, Laras masuk ke dalam sambil membawa dua kotak martabaknya. Satu martabak manis, satu martabak telor.


"Kak! Aku mau!" Niken menyusul Laras ke dalam kamar.


"Kamu itu, malu-maluin aku aja. Kalau lagi ada Tomi jangan minta dulu kenapa sih!" omel Laras pada Niken.


"Abisnya aku kan udah kepingin," sahut Niken. Dia memang selalu seperti itu kalau tahu ada makanan.


"Dasar rakus! Nih!" Laras memberikan satu potong buat Niken.


"Pelit banget sih! Masa cuma satu!" seru Niken.


"Terus maunya berapa? Ini juga nanti buat Ayu sama ayah kalau sudah bangun!" bentak Laras.


"Ya tapi jangan satu dong!" Niken tetap protes.


"Enggak! Nanti kalau ayah makan, kamu minta lagi. Ayu! Kamu mau enggak?"


Ayu yang sibuk menyampuli bukunya, menyahut.


"Iya nanti, Kak. Ayu lagi nyampulin buku!" sahut Ayu. Dia tak serakus Niken. Kalau sudah sibuk dengan urusannya, tak begitu peduli dengan makanan meskipun lapar.


"Tuh, Ayu enggak kayak kamu!" bentak Laras pada Niken.

__ADS_1


Niken keluar dari kamar dengan muka cemberut. Dia jadi ingat dengan Tanto. Karyawan di counter milik teman ayahnya.


Apa kabarnya Tanto, ya? Kalau aku pacaran sama Tanto, pasti dia juga akan selalu membelikan aku makanan. Batin Niken.


Tomi mampir ke kios martabak lagi. Dia tadi sebelum ke rumah Laras, pesan juga buat adik-adiknya.


"Sudah siap kan, Pak?" tanya Tomi.


Penjual martabak itu mengangguk dan memberikan pesanan Tomi yang sudah dibayarnya.


"Makasih ya, Pak." Tomi segera melajukan motornya. Biar segera sampai rumah dan adik-adiknya bisa segera menikmati.


Harapan Tomi tak sia-sia. Adik-adiknya sedang menonton televisi.


"Kakak....!" sambut Ryan. Adik Tomi yang paling kecil.


Tomi segera memeluk dan menggendongnya dengan satu tangan.


"Kakak bawa apa?" tanya Ryan.


"Martabak. Ryan mau?"


Dia mengangguk. Lalu Tomi menurunkannya.


"Ayo kita makan bareng-bareng," ajak Tomi.


"Dari mana kamu, Tom? Dari kemarin baru pulang," tanya Lastri.


"Kerja, Bu," jawab Tomi.


"Kerja apaan? Kamu kan masi training. Memangnya kalau training mesti lembur sampai enggak pulang?" tanya Lastri lagi.


Tomi menghela nafasnya. Tak mungkin kalau Tomi mengatakan yang sebenarnya.


"Tomi cari kerja sambilan, Bu," sahut Tomi. Tomi tidak bohong, meski tidak jujur juga.


"Baguslah. Dia kan sudah kepingin nikah. Masa cuma mengandalkan jadi tukang tagih aja!" Hardi ikut komentar.


Lastri hanya menatap suaminya itu. Khawatir kalau omongannya makin pedas pada Tomi. Bisa-bisa Tomi pergi lagi.


Lastri sangat menyayangi semua anak-anaknya. Dia tak pernah membeda-bedakan. Meski dia paling mengistimewakan Sinta yang tak berdaya.


Lastri ke dapur mengambil piring kecil. Dia akan mengambilkan martabak untuk Hardi. Karena Hardi tak akan mau kalau berebut dengan anak-anaknya. Dia pasti lebih memilih tak makan. Yang penting anak-anaknya kenyang.


"Bu. Ini ada uang sedikit. Bisa buat nambahin belanja besok." Tomi memberikan lima lembar seratus ribuan pada Lastri.


"Banyak sekali, Tom. Uang dari mana?" tanya Lastri.


"Kan Tomi ada kerja sambilan, Bu. Gajinya dikasih duluan sebagian. Ibu pegang aja," sahut Tomi.


"Lah, terus kamu?" tanya Lastri khawatir.


"Masih ada, Bu. Ibu tenang aja. Yang penting buat uang saku dan makan mereka ada," sahut Tomi lagi.


Lalu dia pamit ke kamarnya. Tomi sudah benar-benar capek. Dia ingin mengembalikan staminanya dan berharap besok Sylfie memanggilnya lagi.

__ADS_1


__ADS_2