
Rasyid sampai di halaman samping rumah Yanti. Yanti sudah siap dengan pakaian minimalis. Daster pendek tanpa lengan.
"Hallo, Cantik," sapa Rasyid.
"Masuk, Mas. Motornya sembunyikan di sana." Yanti menunjuk pojok teras rumahnya yang terhalang tanaman.
Rasyid menurut. Daripada urusannya jadi runyam kalau kepergok warga.
Lalu Yanti segera menarik tangan Rasyid dan mengunci pintu rumahnya.
Di meja ruang tamu sajen buat Rasyid sudah komplit. Mulai dari kopi hitam, rokok dan setoples makanan kering.
Rasyid hanya sempat meliriknya, karena sesaat kemudian Yanti kembali menariknya masuk ke kamar.
Kamar Yanti pun sudah bersih juga wangi. Yanti benar-benar menyambut Rasyid dengan istimewa. Tentunya membuat Rasyid besar kepala.
"Ayo, Mas. Jangan buang-buang waktu. Keburu Beni pulang." Yanti langsung naik ke tempat tidur.
"Tenang aja. Beni pergi nonton sama Laras. Mereka baru pulang setelah jam sepuluh nanti," sahut Rasyid.
Yanti terperangah. Menonton dengan Laras? Bukankah tadi Beni pamitnya mau ke rumah temannya? Apa Beni membohonginya?
"Kok kamu tau, Mas?" tanya Yanti. Dia turun lagi dari tempat tidur.
"Ya taulah. Kan Beni tadi menjemput Laras," jawab Rasyid. Dia tak mengerti kalau Yanti tak suka Beni pergi dengan Laras.
Yanti menghela nafasnya dengan kasar. Dan tiba-tiba hasrat bercintanya dengan Rasyid menghilang.
Dia kesal karena Beni membohonginya. Apalagi perginya dengan Laras, yang pernah berkata pada Yanti dengan sombong. Bahwa dia akan segera dilamar kekasihnya yang orang kaya.
"Kenapa?" tanya Rasyid melihat Yanti turun dari tempat tidur dan membuka lagi pintu kamarnya.
"Enggak jadi!" jawab Yanti dengan ketus.
"Enggak jadi apa?" tanya Rasyid lagi.
"Enggak jadi gituan!"
"Gituan apa, heh?" Rasyid menarik tangan Yanti yang akan melangkah keluar.
"Jangan paksa aku, Mas!" Yanti berusaha melepaskan tangannya. Tapi pegangan Rasyid sangat kencang.
"Mas! Lepasin!" Yanti meronta. Rasyid malah menariknya semakin dekat dan memeluk Yanti yang sudah wangi menggoda.
"Enggak mau. Aku sudah terlanjur sampai sini," sahut Rasyid.
"Aahhkk!" Yanti terus meronta saat Rasyid mencumbuinya dengan paksa.
"Aku sudah menginginkannya, Sayang." Rasyid terus menciumi leher Yanti.
"Enggak, Mas. Lepasin atau aku teriak!" ancam Yanti.
__ADS_1
"Teriak aja. Paling-paling kita diarak ke balai kampung dan dinikahkan. Kamu udah pingin menikah denganku, kan? Heeh....!" jawab Rasyid.
Yanti tak berdaya dengan jawaban Rasyid. Dia tak mau menanggung malu. Lalu dipaksa menikah dengan Rasyid.
Hhh. Mending aku menjanda seumur hidup daripada hidup harus menanggung laki-laki pemalas seperti Rasyid.
Kebencian Yanti pada Rasyid muncul lagi. Gara-gara tahu kalau Beni pergi menonton dengan Laras.
Mendapati Yanti yang pasrah, dengan mudah Rasyid menggiring ke atas tempat tidur.
Yanti tak lagi bergairah. Dia hanya terlentang pasrah. Dalam hatinya bersumpah, ini yang terakhir kalinya dia melakukan dengan Rasyid.
Dan entah mengapa juga, Yanti malah merasa jijik pada Rasyid. Akhirnya Yanti hanya memejamkan matanya. Dia biarkan Rasyid bermain sendirian.
Rasyid yang otaknya sudah dipenuhi nafsu, tak mempedulikan sikap diam Yanti. Dia makin merasa bebas, meski tak ada serangan balasan dari Yanti.
"Ayolah, Sayang. Jangan diam aja. Mana keagresifan kamu yang kemarin?" Rasyid berusaha membuat Yanti kembali bergairah.
Tapi Yanti tetap tak memberi reaksi sedikitpun. Hatinya terlanjur kesal.
"Ya udah kalau enggak mau main. Kamu nikmati aja permainanku. Pasti kamu bakal ketagihan lagi," ucap Rasyid. Meski dia tak tahu kenapa Yanti tiba-tiba berubah pasif.
Yanti ingin sekali berteriak agar Rasyid menghentikan permainannya. Apalagi karena kurangnya pemanasan, membuat **** ************* perih. Tapi Yanti takut dengan resikonya kalau sampai ketahuan orang lain.
Yanti memutar otaknya, agar Rasyid segera berhenti. Sampai akhirnya, Yanti menemukan alasan yang tepat.
"Mas, jangan lama-lama, ya. Dan jangan kenceng-kenceng juga. Sebentar lagi aku menstruasi. Takutnya meleber kalau terlalu kenceng." Yanti sengaja menekan suaranya agar tak terdengar kalau dia sedang kesal.
Yanti mengangguk. Dia merasa alasannya sangat tepat. Dan benar saja. Rasyid langsung mencabut senjatanya.
Yanti sempat melihat lagi senjata Rasyid yang sedang on fire.
"Kenapa kamu enggak bilang dari tadi?" tanya Rasyid dengan kesal. Rasyid sangat jijik dengan darah wanita yang sedang haid.
"Kamunya tadi kayak kesetanan gitu. Padahal aku kan tadi merasa perutku enggak enak. Setelah aku ingat-ingat ternyata sudah tanggalnya," jawab Yanti berbohong.
"Heeh! Kamu itu, bikin aku ilfil aja." Rasyid menyarungkan lagi senjatanya. Dan turun dari tempat tidur Yanti.
Yanti sekuat mungkin menahan tawanya. Tawa kemenangan. Akhirnya dia bisa mengerjai Rasyid.
Yanti pun ikut turun. Lalu keluar dari kamarnya.
Rasyid yang sudah menyarungkan lagi senjatanya, mengikuti Yanti ke ruang tamu.
Dia langsung duduk dan menyeruput kopi. Tak lupa menyalakan rokok. Dia merasa yakin kalau Yanti memang menyediakan itu semua untuknya.
Yanti diam saja. Tak mempersilakan ataupun melarang Rasyid menikmati itu semua.
Anggap aja sodaqoh. Begitu pikir Yanti.
Tak lama, pintu rumah Yanti digedor.
__ADS_1
"Bu! Bu Yanti!"
"Itu suara Niken! Kenapa dia bisa tau aku ada di sini?" tanya Rasyid pelan.
Yanti mengangkat bahunya.
"Mana aku tau. Masa iya aku yang kasih tau," jawab Yanti.
"Aduh, gimana ini?" Rasyid kebingungan sendiri.
"Kamu ngumpet aja di kamarku," jawab Yanti.
Tanpa berfikir panjang, Rasyid berlari ke kamar Yanti. Lalu menguncinya dari dalam.
Yanti membuka pintu. Dilihatnya Niken sudah rapi, tak seperti biasanya yang memakai pakaian lusuh.
"Ada apa?" tanya Yanti dengan ketus.
"Mana ayahku?" Niken tak kalah ketusnya.
"Ayahmu? Mana aku tau?" jawab Yanti sambil mengangkat bahunya.
"Itu kok motor ayah ada di sini?" Niken menunjuk motor Rasyid yang ada di teras rumah Yanti. Meski Rasyid menaruhnya di pojokan, tapi rupanya masih terlihat dari jalanan.
Yanti menelan ludahnya. Otaknya mencari alasan tepat yang masuk akal.
"Oh, itu. Tadi ayah kamu kehabisa bensin. Terus nitip motornya di sini," jawab Yanti.
"Terus sekarang ayah di mana?" Niken melihat ke dalam rumah Yanti. Dia mau mencari jejak ayahnya.
"Mana aku tau. Mungkin lagi beli bensin," jawab Yanti. Dan dia yang sudah malas meladeni Niken, berniat menutup lagi pintu rumahnya.
"Ya udah. Aku mau cari ayah!" sahut Niken.
"Terserah...!" Yanti langsung menutup pintunya. Lalu bersandar di pintu sambil bernafas lega.
Untung saja Niken tak menggeledah rumahnya. Kalau sampai itu terjadi, bakalan jadi berita viral di kampungnya.
Seorang janda menyembunyikan seorang duda yang bukan mahromnya, di kamar.
Dan Yanti benar-benar akan dinikahkan paksa oleh warga, dengan Rasyid.
Hiiihh...! Yanti bergidig ngeri.
Yanti buru-buru mengetuk pintu kamarnya dan menyuruh Rasyid keluar dari persembunyiannya.
"Niken udah pergi. Cepetan pulang!" usir Yanti.
Rasyid keluar dari kamar Yanti. Matanya menoleh ke ruang tamu, memastikan kalau Niken memang sudah tidak ada.
Rasyid pun bernafas dengan lega.
__ADS_1