KARMA : Sang Pemburu Wanita Di MEDSOS

KARMA : Sang Pemburu Wanita Di MEDSOS
Bab 54 PARA PENDOSA


__ADS_3

Semalaman Rasyid bergulat dengan Reisya. Mereka seakan tak ada lelahnya meski harus silent. Karena khawatir anak-anak Rasyid terbangun.


Sebenarnya saat tengah malam, Laras terbangun karena kebelet pipis. Saat melewati kamar sebelah, dia melihat pintu kamar tertutup.


Awalnya Laras berfikir hanya Reisya yang tidur di dalamnya. Tapi tanpa sengaja, Laras mendengar suara erangan Reisya dan suara Rasyid yang meminta Reisya diam.


Laras penasaran apa yang sedang mereka lakukan di dalam. Lewat sebuah celah di pintu, Laras mengintip. Dan Laras membelalakan matanya saat melihat dua orang yang sudah tak muda lagi itu sedang bergulat di atas tempat tidur tanpa sehelai bajupun.


Laras melihat meski tak begitu jelas, bagaimana mereka saling menyerang. Mereka sama-sama buas. Hingga seprei berantakan kemana-mana.


Laras yang sedang kangen pada Tomi, jadi ikut terpancing hasratnya. Lalu Laras perlahan-lahan berjalan ke kamar mandi.


Dilepasnya semua pakaiannya. Hingga sama dengan kedua orang yang tadi dilihatnya.


Laras mencoba melakukannya sendiri di kamar mandi. Dia masukan jari tangannya seperti yang pernah dilakukan Tomi padanya.


Satu tangannya yang lain, meremas dua gunungnya bergantian. Laras benar-benar menikmati permainan jemarinya sendiri. Hingga mencapai klimaksnya.


"Aakkhh....!" Laras mengejang di sudut kamar mandi. Lalu mengambil nafas panjang dan menyudahi kegiatannya.


Perlahan-lahan, Laras membersihkan diri dan kembali ke kamarnya. Dia melihat pintu kamar Rasyid masih tertutup rapat.


Tak ada lagi suara erangan, berganti suara mereka berbicara perlahan. Entah apa yang mereka bicarakan. Laras sudah tak mau mendengarkannya lagi. Khawatir Rasyid mengetahui kalau dia mengintip.


Laras kembali membaringkan tubuhnya di sebelah Ayu. Dia yang juga sudah merasa puas meski hanya dengan jarinya sendiri, langsung tertidur dengan pulas.


Sementara di kamarnya, Rasyid masih berbincang mesra dengan Reisya. Rasyid seperti tak puas memainkan melon milik Reisya.


Begitu juga Reisya. Dia tak bosan memainkan adik Rasyid dengan meremasnya perlahan. Kadang kalau Rasyid menginginkan, dia kulum adik Rasyid sampai mentok ke tenggorokannya.


Meski Rasyid sudah tak lagi muda dan Reisya yang kadang hanya bisa pasrah dikungkung Rasyid, tapi mereka merasa sama-sama puas.


"Rei, pakai bajumu. Aku akan pindah tidur di ruang tamu," perintah Rasyid.


"Kenapa, Bang? Kan enak kalau kita tidur sambil pelukan," pinta Reisya.


"Gerah, Rei. Lagi pula nanti anak-anakku protes kalau tau aku tidur dengan kamu. Kita kan bukan pasangan suami istri," sahut Rasyid sambil memakai bajunya.

__ADS_1


Tanpa mau mendengar protes dari Reisya lagi, Rasyid keluar dari kamar. Reisya pun mau tidak mau memakai dasternya.


Lalu langsung tertidur karena badannya sudah sangat capek. Tiga ronde dia lalui malam ini bersama Rasyid.


Rasyid pun merebahkan tubuhnya di sofa ruang tamu. Baru saja merebahkan diri, hapenya berbunyi.


Panggilan masuk dari Lili. Dengan malas, Rasyid mengangkatnya.


"Mas, kenapa dari sore tadi pesanku enggak dibaca? Telponku juga enggak diangkat?" tanya Lili merajuk.


"Aku lagi ada tamu, Li. Saudaraku dari luar kota," jawab Rasyid berbohong.


"Ooh. Dia menginap di rumah?" tanya Lili tanpa curiga.


"Iya. Dia menginap di rumahku. Sudah ya, Li. Aku ngantuk." Rasyid langsung menutup telponnya.


Lili bergumam sendiri dengan kesal. Dia sedang sangat merindukan Rasyid. Malah diabaikan.


Lili juga lagi sangat menginginkan Rasyid. Dia tadi sempat melihat Tomi masuk ke kamar Maya dan baru keluar beberapa jam berikutnya.


Lili yang sangat menginginkan Rasyid, terpaksa melakukannya sendiri di kamarnya. Dengan modal menonton tayangan video dewasa di hapenya, Lili mulai memuaskan dirinya sendiri.


Kamar Lili yang cukup besar membuatnya leluasa untuk melakukan tanpa takut terdengar suara erangannya dari luar. Pastinya Lili tak lupa mengunci pintu kamarnya.


Setelah merasa puas, Lili pun tidur tanpa mengenakan sehelai kainpun. Dia membebaskan tubuhnya yang sudah mengendor di sana-sini.


Maya juga tidur di kamarnya sendirian. Dia yang sudah terpuaskan oleh permainan Tomi, membebaskan tubuhnya seperti halnya Lili.


Beda halnya dengan Tomi. Dia tertidur pulas di kamarnya ditemani salah satu adiknya. Dia bukan cuma puas karena telah bermain panas dengan Maya, tapi juga puas karena bisa mendapatkan uang lagi.


Pagi harinya, Tomi dibangunkan Lastri.


"Tom! Bangun! Sudah hampir jam tujuh. Kamu harus kerja, kan?" Lastri mengguncang bahu Tomi.


Tomi menggeliatkan badan. Hampir saja dia menjawab kalau dia sudah dipecat dari pekerjaannya.


"Mmm. Iya, Bu. Sebentar lagi," ucap Tomi. Lalu membalikan tubuhnya.

__ADS_1


"Eeh. Udah jam berapa ini? Nanti kamu terlambat. Ayo bangun." Lastri masih saja berdiri di samping tempat tidur Tomi.


"Iya, Bu." Tomi terpaksa bangun. Dia tak mau ibunya semakin ngomel kalau dia tidak juga bangun.


Lastri keluar dari kamar Tomi. Tomi pun mengikutinya. Dia mau langsung ke kamar mandi.


"Jam segini baru bangun! Kamu pikir kamu itu manager yang bisa datang jam berapapun?" ucap Hardi yang masih duduk di ruang makan.


"Sudah ah, Pak. Jangan begitu," sahut Lastri. Tomi berlalu begitu saja.


Ibunya memang selalu membelanya. Bukan cuma Tomi yang selalu dibela, tapi semua anaknya kalau dimarahi Hardi, Lastri pasti membela.


"Kamu itu selalu saja membela anakmu itu! Lihat tuh, semakin seenaknya sendiri. Pulang malam, bangunnya siang!" Hardi beranjak dari duduknya dan pergi ke depan untuk membuka bengkel kecilnya.


Lastri hanya mengangkat bahunya. Dia sudah biasa dikomplain Hardi kalau sedang membela anak-anaknya.


Selesai mandi dan berpakaian rapi, Tomi keluar dari kamarnya.


"Sarapan dulu, Tom. Masih sempat, kan?" Lastri langsung mengambilkan piring untuk Tomi.


Tomi tak bisa menolak. Kasihan juga ibunya yang sudah susah payah memasak pagi-pagi.


"Iya, Bu." Tomi menarik satu kursi dan mengambil piring yang sudah diisi nasi goreng.


"Besok jangan kesiangan lagi bangunnya. Biar bapakmu enggak ngomel terus," ucap Lastri. Dia ikut duduk menemani Tomi sarapan.


"Bagaimana kabarnya Laras? Kapan kamu akan memperkenalkannya?" tanya Lastri.


Tomi terhenyak. Lalu terdiam. Dia tak mungkin membawa Laras ke rumah orang tuanya. Karena selama ini Laras mengira Tomi anak orang kaya yang tinggal di komplek perumahan elit di depan rumah kontrakan orang tuanya.


"Nanti saja, Bu. Kalau Tomi sudah punya uang, kita ke rumah orang tua Laras," elak Tomi.


"Kalau kamu belum punya uang, kan enggak apa-apa kalau Laras dibawa ke sini dulu. Biar kenal dengan keluarga kita," sahut Lastri.


Tomi tak bisa menjawab ucapan ibunya. Bapaknya pasti akan marah dan tersinggung kalau tahu alasan Tomi tak mau mengajak Laras ke rumah mereka.


Akhirnya Tomi hanya bisa mengangguk. Biar ibunya tak membicarakan lagi soal Laras. Lalu segera menghabiskan makanannya dan pamit pergi.

__ADS_1


__ADS_2