KARMA : Sang Pemburu Wanita Di MEDSOS

KARMA : Sang Pemburu Wanita Di MEDSOS
Bab 70 RENCANA NONTON


__ADS_3

Rasyid membawa Ayu pulang. Hatinya sedang berbunga-bunga layaknya abege yang sedang kepentok cinta monyet.


"Ayah kenapa senyum-senyum?" tanya Laras setelah Rasyid sampai di rumah.


"Ayah katanya mau nyariin mama baru buat kita, Kak," jawab Ayu.


Laras yang terkejut mendengarnya, menatap wajah Rasyid.


"Benar, Yah?" tanya Laras tak percaya. Jangan-jangan orangnya kayak Reisya. Hiih, Laras tak bisa membayangkan kalau punya ibu tiri yang makannya banyak.


"Doakan saja, Ras. Semoga kali ini Ayah berhasil," jawab Rasyid.


"Sekarang buatkan kopi." Rasyid langsung duduk di lantai singgasananya dan segera mengeluarkan hapenya.


Apalagi yang akan dilakukannya kalau bukan mengirimkan pesan untuk Ratih, sang pujaan hatinya.


"Ayah, Ayu lapar," ucap Ayu sambil memegangi perutnya.


"Sama, Ayah juga lapar," sahut Rasyid.


"Laras udah masak, Yah. Sayur asem lagi sama ikan asin," sahut Laras. Dia masih punya stock sayuran yang dibeli Rasyid kemarin.


"Ya udah, Ayah sekalian ambilin makan," ucap Rasyid.


"Kopinya jadi enggak?" tanya Laras.


"Ya jadilah. Buat nanti habis makan," sahut Rasyid.


"Ayu juga mau makan, ah. Biar sama kayak Sinta." Ayu langsung mengambil piring tanpa mengganti baju seragamnya dulu.


"Siapa Sinta?" tanya Laras.


"Teman Ayu. Dia tadi bilang sama mamanya kalau sudah laper. Pasti dia sekarang lagi makan," jawab Ayu.


"Iya, makan sih makan. Tapi ganti dulu seragamnya. Besok mau dipakai lagi, kan?"


"Nanti aja, Kak. Ayu udah laper banget. Entar Ayu keburu pingsan," sahut Ayu memelas.


"Hmm, kamu itu, banyak alasan. Pokoknya kalau bajunya kotor, Kakak enggak mau nyuciin lho ya," ancam Laras. Karena biasanya Ayu akan merengek padanya minta dicucikan baju seragam yang terlanjur kotor.


"Iya. Nanti Ayu ati-ati makannya," sahut Ayu tak mau menurut.


Dan saat dia menyendok sayur asem dari panci, kuahnya nyiprat ke bajunya.


"Tuh, kan. Bandel sih. Dibilangin enggak nurut. Ayo sana ganti!" seru Laras dengan kesal.


"Yaa...gimana ini, Kak?" tanya Ayu kembali memelas.

__ADS_1


"Auk ah. Kakak lagi malas nyuci. Dicantelin aja dulu. Besok kan kering," jawab Laras.


"Bau sayur asem, dong," sahut Ayu.


"Enggak apa-apa. Biar gurumu tau kalau kamu habis makan sayur asem!" Laras langsung meninggalkan Ayu di dapur.


Ayu menghentakan kedua kakinya dengan wajah cemberut, lalu pergi ke kamarnya.


Gara-gara kak Laras ngomong terus nih, jadi nyiprat ke baju deh, kuahnya. Gumam Ayu di kamar.


"Apa kamu bilang? Gara-gara Kakak? Enak aja! Kamu tuh yang dibilangin enggak nurut!" bentak Laras tak terima kalau disalahkan.


"Eh, apaan sih? Pada ribut aja!" Rasyid merasa terganggu dengan ocehan Laras.


"Ayu itu, Yah. Dibilangin ngeyel, kalau udah kotor, nyalahin Laras," sahut Laras, lalu masuk ke kamarnya.


Laras mencoba menghubungi Tomi lagi, berharap Tomi sudah tidak sibuk dan membalas pesannya lagi.


Tapi sayangnya, pesan dari Laras tak kunjung dibuka oleh Tomi. Last seen di aplikasi whatsapp-nya juga dua jam yang lalu. Saat Tomi membalas pesan Laras dan mengatakan dia sedang sibuk.


Laras hanya tersenyum. Dia berfikir kalau Tomi memang benar-benar sedang sibuk. Padahal Tomi lagi molor di kamarnya.


Chat yang tak terduga malah menyapa Laras. Pesan dari Beni yang sudah tahu nomor Laras.


Dengan malas, Laras membalasnya. Karena tak enak tadi sudah dibayari belanjaannya dan diajak makan.


Tiba-tiba Beni malah menelpon Laras.


Mata Laras langsung terbelalak. Film terbaru yang sedang trending. Sayang banget kalau menolaknya. Tapi bagaimana kalau Tomi melihatnya nonton bareng Beni? Dia pasti akan menuduh yang enggak-enggak.


Laras galau. Tapi bayangan tentang film terbaru itu menari-nari di pelupuk matanya. Beberapa hari ini, Laras hanya melihat cuplikannya di medsos.


Bahkan melihat antrian panjang juga di sana.


"Gimana, Ras? Mau ya? Sayang banget lho kalau enggak nonton," tanya Beni setengah memaksa.


"Mmm...Iya deh. Jam berapa?" tanya Laras pasrah.


"Nanti aku kabari lagi kalau udah dapet tiketnya. Kan belum tau dapetnya yang jam berapa," jawab Beni.


"Iya. Kabari dulu ya, jangan dadakan. Biar aku siap-siap," sahut Laras.


"Iya, Sayang. Eh, maksudku, iya Ras." Beni yang keceplosan langsung menutup telponnya.


Laras hanya mengangkat bahunya. Lalu keluar kamar untuk meminta ijin pada Rasyid.


"Boleh. Kamu enggak usah kasih tau Tomi. Entar dia malah curiga," jawab Rasyid saat Laras meminta ijin.

__ADS_1


"Iya, Yah. Laras juga enggak mau Tomi berfikiran macam-macam," sahut Laras.


Rasyid sengaja membiarkan Laras dekat dengan Beni, bahkan mendorongnya, agar dia bisa tahu seberapa loyalnya Beni pada Laras.


Ya, Rasyid ingin membandingkannya dengan Tomi. Meski sepengetahuan Rasyid, secara ekonomi, Beni tak ada apa-apanya dibandingkan Tomi.


Tomi seorang manager dan memiliki apartemen. Mobilpun punya, meski seringnya datang menggunakan motor butut mirip dengan miliknya.


Sedangkan Beni hanya pekerja biasa. Dept collector atau apa, Rasyid tak paham. Kalau motor, memang lebih bagusan motor milik Beni. Tapi Beni tak memiliki mobil.


Tempat tinggal orang tuanya juga hanya diperkampungan, tidak seperti Tomi yang ngakunya tinggal di komplek perumahan elit.


Kalau soal orang tua, Rasyid bisa membayangkan, pasti orang tua Tomi seorang pengusaha sukses. Enggak seperti Beni yang ibunya hanya penjual warung sembako kecil.


"Nonton apaan, Kak?" tanya Ayu kepo.


"Ya nonton film, lah. Masa nonton orang berantem!" jawab Laras asal. Lalu masuk lagi ke kamarnya.


Ayu yang tidak paham dengan jawaban Laras, malah bengong. Ngapain juga nontonin orang berantem, pikirnya. Lalu dia kembali menghabiskan makannya.


Rasyid yang sudah duluan makan, kembali mengecek hapenya. Dia langsung tersenyum karena pesannya sudah dibalas oleh Ratih.


Ayu memandang ayahnya yang kembali senyum-senyum.


"Ayah sehat?" tanya Ayu.


"Sehatlah. Memangnya kenapa?" tanya Rasyid heran.


"Abisnya Ayah senyum-senyum sendiri," sahut Ayu.


Jangan-jangan ayah sudah tidak waras, lanjut Ayu. Tapi hanya dalam hati saja.


Baru saja Laras memilih baju untuk nanti malam, Rasyid sudah meneriakinya.


"Ras! Jemputin Niken! Ayah lagi ada urusan penting!"


Laras berdecak kesal. Kalau Rasyid lagi asik dengan hapenya, pasti ujung-ujungnya dia juga yang mesti menjemput Niken.


"Iya, Yah!" Dengan terpaksa Laras mengiyakan. Daripada ijin nontonnya dicabut.


Laras melajukan motornya ke sekolah Niken yang lumayan jauh. Itulah kenapa Laras malas. Belum lagi jalanannya sering macet.


Niken sudah menunggu di depan sekolahan. Karena Laras membawa motornya pelan-pelan. Dia sedang mencari inspirasi untuk penampilannya saat nonton nanti.


Padahal punyanya baju itu-itu aja. Tapi Laras bisa memadu padankan biar enggak bosan melihatnya.


"Lama amat sih?" protes Niken.

__ADS_1


"Lagi cari inspirasi. Nanti malam aku mau nonton sama Beni," jawab Laras.


"Hah...! Beni?"


__ADS_2