
Laras menyimpan makanannya di kamar Ayu. Nanti siang bisa buat makan dia dan Ayu kalau sudah lapar lagi.
"Ras, bikinin Ayah kopi!" perintah Rasyid meski nasinya belum habis.
"Kopinya kan habis, Yah!" sahut Laras dari kamar Ayu.
"Ini Ayah udah beli!" Rasyid melemparkan plastik berisi kopi dan gula ke pintu kamar Ayu.
Laras keluar dan mengambil plastik itu. Lalu membuatkan kopi secepatnya. Bisa ngamuk Rasyid kalau sampai kelamaan.
"Ini, Yah." Laras meletakannya di lantai dekat Rasyid makan.
"Kamu sudah bilang ke Tomi?" tanya Rasyid.
"Bilang apa, Yah?" Laras balik bertanya.
"Bilang kalau orang tuanya suruh ke sini! Kamu gimana, sih?" bentak Rasyid hingga dia hampir tersedak.
"Ambilkan Ayah air putih!" Masih dengan membentak Rasyid matanya sudah memerah.
Laras berlari lagi ke dapur. Tapi sayangnya air di galon juga habis. Laras terpaksa memberikannya air panas sisa membikin kopi.
"Airnya panas, Yah. Air di galon habis," ucap Laras.
"Udah tau habis, kenapa enggak beli! Bego amat sih, kamu!"
"Kan enggak ada uangnya, Yah," jawab Laras menahan kesabarannya.
"Jawab terus kalau orang tua ngomong! Nih, sana beli!" Rasyid melemparkan uang lima ribuan.
"Harganya enam ribu, Yah," sahut Laras.
"Memangnya kamu enggak ada uang receh?" Rasyid terus saja berbicara dengan nada kencang.
"Kan kemarin dipinjam Ayah semua," jawab Laras.
"Oh! Jadi kamu mau itung-itungan sama Ayah?"
Laras hanya menghela nafasnya. Ingin rasanya menangis dan menjerit mendengar ocehan Rasyid yang memekakan telinga.
"Enggak, Yah. Laras kan cuma bilang apa adanya." Laras menundukan wajahnya.
"Nih!" Rasyid melemparkan uang coin seribuan hingga menggelinding jauh.
Dengan kesal Laras mengambilnya. Lalu ke dapur mengambil galon kosong. Padahal Rasyid mestinya tahu kalau Laras tidak kuat seperti Niken.
"Kalau enggak mau disuruh, bilang! Jangan kasar begitu!" Rasyid hendak bangkit dari duduknya. Tapi karena kepayahan, dia mengurungkan niatnya.
Laras yang kesal tetap berjalan keluar dan menstater motor butut Rasyid.
__ADS_1
"Mau kemana, Ras?" sapa Beni, anaknya Yanti.
"Beli air!" jawab Laras ketus. Dia tak suka dengan sikap Beni yang suka sok akrab dengannya.
Laras pun melajukan motornya tanpa mempedulikan Beni yang terus menatapnya.
Sampai di tempat kios air isi ulang, Laras hanya duduk saja di motornya. Tapi setelah sampai di rumah, Laras kesulitan membawa masuk galonnya yang sudah terisi.
Mau minta tolong Rasyid, Laras tak berani. Pasti bakal kena marah lagi.
Dengan sekuat tenaga dan tertatih, Laras membawa masuk galonnya. Tapi naas, Laras tersandung dan jatuh. Alhasil galonpun jatuh.
Air mengalir keluar dari galon dengan cepat. Laras segera bardiri dan menghampiri galon yang sudah pecah.
Laras ingin menangis. Tapi malu karena sudah besar. Laras hanya bisa duduk termenung di dekat galon yang airnya masih mengalir dari sisi yang pecah.
"Kenapa?" tanya Rasyid.
Laras hanya diam saja. Dia tak berani menjawab ataupun menatap wajah Rasyid.
"Dasar anak bodoh!" Rasyid langsung naik pitam melihat galinnya pecah.
Diseretnya tangan Laras, hingga masuk ke dalam rumah.
"Ampun, Yah! Laras enggak sengaja!" seru Laras menahan sakit karena tangannya ditarik dengan keras.
Laras menangis karena kepalanya terasa sakit. Ayu yang sudah agak mendingan, turun dari tempat tidurnya dan menolong Laras.
"Kak! Ayo Ayu bantu." Ayu mengulurkan tangan kecilnya.
Laras yang masih sesenggukan, meraih tangan Ayu dan bangkit. Lalu Ayu membawa Laras ke tempat tidurnya.
Sementara Rasyid dengan tak berperasaan, meninggalkan Laras begitu saja. Dia malah membawa kopi dan rokoknya ke ruang tamu.
Tak dihiraukannya isak tangis Laras. Bahkan Ayu pun ikut menangis sedih melihat kepala Laras benjol. Dan ada sedikit darah membasahi rambut Laras.
"Kepala Kakak keluar darah," ucap Ayu.
Laras menyentuh bagian kepalanya yang sakit.
"Auwh!" jerit Laras pelan. Lalu kembali menangis. Karena ada darah di ujung jarinya.
"Kakak jangan nangis lagi." Ayu menepuk-nepuk paha Laras yang duduk di tepi tempat tidur. Meski dia pun ikutan menangis.
Laras membaringkan tubuhnya yang ngilu. Ayu pun ikut berbaring di sisi Laras.
"Kak. Ayu kangen sama mama. Kalau mama masih ada, pasti kita enggak begini. Kita enggak pernah laper. Karena mama selalu memasak buat kita. Ayah juga enggak pernah marah," ucap Ayu.
"Sstt! Jangan keras-keras. Nanti kedengeran Ayah. Nanti kamu dikurung di kamar mandi lagi." Laras meletakan jari telunjuknya didepan bibirnya.
__ADS_1
Ayu mengangguk. Dia pun memeluk Laras yang masih sesenggukan.
Rasyid sendiri malah asik berselancar di dunia maya. Dia sedang browsing. Mencari mangsa baru. Baginya Lili sudah mati. Janjinya tidak bisa dipegang. Meski Rasyid masih berencana akan menagih Lili sore nanti.
"Hai, Cantik," sapa Rasyid di messenger pada sebuah akun dengan foto profile wanita cantik.
"Hai juga, Ganteng," jawab akun yang bernama Wulan.
"Lagi apa, Cantik? Statusnya galau sekali?" Rasyid biasa mengomentari status mangsanya lewat messenger. Biar terkesan lebih peduli.
"Lagi galau. Aku butuh teman curhat," jawab Wulan.
"Mau dong Abang jadi teman curhat kamu," ketik Rasyid disertai emoji love-love.
"Beneran, Bang?" tanya Wulan dengan emoji love-love juga.
"Yaah, masa Abang bohong. Mau curhat apa?" tanya Rasyid siap dengan jurus andalannya. Dia akan berubah menjadi seorang psikiater kelas kakap.
"Tapi aku enggak mau curhat di sini, Bang," jawab Wulan.
"Terus di mana dong?" Rasyid semakin bersemangat.
"Abang ke kosan Wulan aja, mau?"
Rasyid jelas tak menolak. Dia sudah berfikir jauh. Berada berduaan di kosan perempuan. Rasyid langsung mengelus adiknya yang masih tertidur.
Tenang, Dek. Sebentar lagi kamu bakal nemu sarang baru. Ucap Rasyid dalam hati.
Wulan pun mengirimkan alamat kosnya. Kebetulan Rasyid paham daerah situ. Tanpa pikir panjang, Rasyid menyambar kunci motornya dan menuju ke alamat yang diberikan Wulan.
"Ayah mau kemana?" tanya Ayu. Dia sudah turun dari tempat tidurnya.
"Ayah mau cari uang lagi. Ayu di rumah saja sama kakak, ya," jawab Rasyid.
"Tapi kak Laras kepalanya berdarah, Yah," ucap Ayu.
"Kok berdarah, memangnya kenapa?" tanya Rasyid. Dia lupa kalau tadi dia telah menghempaskan tubuh Laras dengan keras hingga kepala Laras membentur sisi pintu kamarnya.
"Tadi kan jatuh, kena pintu. Ayah yang mendorongnya, kan?" sahut Ayu dengan lantang. Dia sangat marah pada Rasyid. Ayu tak peduli meski setelah ini, Rasyid akan marah lagi.
"Cuma pelan kok. Kakak kamu saja yang lebay!" Rasyid meraih topi baretnya.
"Ayah! Tolongin kakak dulu!" seru Ayu.
Rasyid menghela nafasnya. Lalu masuk ke kamar. Dia balik badan Laras. Dan benar saja, bukan sekedar benjol, tapi ada darah keluar dari kepala Laras.
"Astaghfirullah!" Rasyid langsung meraih kepala Laras dan memeluknya dengan erat.
"Sakit, Yah." Tangis Laras pecah kembali di pelukan Rasyid.
__ADS_1