KARMA : Sang Pemburu Wanita Di MEDSOS

KARMA : Sang Pemburu Wanita Di MEDSOS
Bab 150 CHECK IN DADAKAN


__ADS_3

Ratih berdiri mematung. Tak berani menyapa Rasyid. Sesaat kemudian, Rasyid kembali tertidur.


Rupanya tadi dia seperti orang yang mengalami gangguan tidur semacam sleepwalking atau berjalan sambil tidur.


Tapi Rasyid tak sampai berjalan. Dia hanya duduk sesaat, lalu seperti menatap sekitarnya. Padahal dia tak sadar apa yang dia tatap.


Ratih mendekat. Dilambaikan tangannya di depan wajah Rasyid. Tak ada reaksi apapun.


Dia tertidur lagi. Batin Ratih.


Dan setelah yakin kalau Rasyid sudah tertidur lagi, Ratih pergi ke tempatnya janjian makan malam bersama Ricko.


Ratih sampai di restauran setengah jam kemudian. Jalanan yang cukup ramai, membuat Ratih berkali-kali terjebak macet.


Meskipun naik motor, Ratih tetap kesulitan menembusnya karena macetnya lumayan parah.


"Hallo, Sayang," sapa Ricko, lalu meraih tangan Ratih dan mengecupnya dengan lembut.


Ratih malah agak kikuk. Karena tak biasanya Ricko semesra itu padanya.


Ratih duduk di sebelah Ricko. Kebetulan Ricko memilih sebuah sofa untuk duduk mereka.


"Selamat ulang tahun, Sayang," ucap Ricko.


Ratih menepuk dahinya sendiri.


"Ya ampun! Aku sampai lupa dengan hari ulang tahunku sendiri. Terima kasih, Mas." Ratih sangat terharu. Lalu memeluk Ricko dengan erat.


"Iya. Sama-sama, Sayang." Ricko pun membelai punggung Ratih dengan mesra.


"Darimana kamu tau hari ulang tahunku?" tanya Ratih setelah melepaskan pelukannya.


"Dari medsos," jawab Ricko.


Mereka sebenarnya tak berkenalan lewat medsos. Karena Ricko jarang sekali membuka akun medsosnya.


Mereka tak sengaja kenal, lalu setelah bertukar nomor hape, hubungan mereka semakin dekat. Meskipun Ratih tahu kalau Ricko masih punya istri.


Suatu saat Ricko membuka akun medsosnya. Dia melihat postingan Maya, istrinya.


Maya sering memposting barang dagangannya di medsos. Dan Ratih yang berteman di medsos, sering memberikan like ataupun komen.


Ratih senang melihat produk yang ditawarkan oleh Maya. Meskipun tak pernah membelinya ataupun memposting ulang untuk jualan online-nya. Karena harga produk milik Maya sangat mahal.


Rupanya di situlah, Ricko melihat akun milik Ratih. Dan akhirnya mereka mulai berteman di medsos.


Walaupun di dunia nyata mereka tak sekedar berteman biasa, tapi lebih dari biasa.


Ricko belum mengaku kalau Maya, adalah istrinya. Ricko hanya lebih sering memantau medsos saja. Untuk tahu sampai sejauh mana interaksi antara Maya dan Ratih.


"Tapi aku kan tak mencantumkan tanggal lahirku di sana, Mas?"


Ya, seingat Ratih, dia tak mencantumkan tanggal lahirnya. Lalu darimana Ricko bisa tau?

__ADS_1


"Udah, enggak usah dibahas. Nanti semalaman kita cuma bahas soal itu. Yang penting, bener kan kalau hari ini ulang tahunmu?"


Ratih mengangguk. Dia bahagia karena masih ada orang yang peduli tanggal lahirnya, meskipun Ratih sendiri tak mempedulikannya.


Ratih selalu disibukan urusan kerja part time dan jualan online. Masalah lelaki, hanya sebagai hiburan saja di saat dia lelah dan jenuh.


Tak lama, datang seorang waitres membawakan sebuah kue ulang tahun kecil, yang dihias dengan cantik. Di atasnya menyala lilin angka usia Ratih.


"Mas, itu....!" Ratih tak bisa berkata-kata lagi.


Waitres itu meletakan kue ulang tahun Ratih di atas meja. Lalu dia berlalu pergi.


"Mas....!" Ratih kembali memeluk Ricko. Air matanya keluar. Dia merasa sangat terharu dan bahagia.


"Ayo ditiup lilinnya. Nanti keburu abis," ucap Ricko.


Ratih pun melepaskan pelukannya.


"Boleh aku abadikan momen ini, Mas?" tanya Ratih.


"Boleh. Tapi jangan kamu posting di medsos," jawab Ricko.


"Kenapa?" tanya Ratih.


Ricko tetap menggeleng.


"Oke. Nanti aku potong foto kamu deh. Aku paham kok, Mas," sahut Ratih.


Ratih juga malu kalau sampai orang lain tahu, dia merayakan ulang tahun dengan lelaki beristri.


Ricko memanggil seorang waitres untuk mengambil foto mereka. Dan momen itu benar-benar diabadikan.


"Ucapkan permintaanmu sebelum meniup lilinnya," ucap Ricko.


Ratih menoleh.


"Kenapa?" tanya Ricko.


Ratih menggeleng. Karena permintaannya tak akan mungkin dipenuhi oleh Ricko.


Ratih ingin Ricko mau menikahinya. Dan Ratih hanya mengucapkan dalam hati saja.


Video rekaman sudah jadi. Waitres itu memberikan hape Ratih kembali.


"Mba. Tadi jangan video. Foto aja," ucap Ratih.


"Yaah...Ibu enggak bilang. Saya pikir karena momen tiup lilin jadi ya video," sahut waitres itu.


"Ya udah deh, enggak apa-apa." Ratih terlihat kecewa.


Ricko menyalakan lagi lilinnya.


"Lho kok dinyalain lagi?" tanya Ratih.

__ADS_1


"Mba! Sini!" panggil Ricko pada waitres tadi yang baru saja melangkah.


"Iya, Pak."


"Diulangi. Tapi foto aja, ya?" Ricko memberikan kembali hape Ratih.


"Jadi dua kali deh, ulang tahunnya," ucap Ratih.


"Yang penting kamu bahagia, Sayang. Masa ulang tahun kok kecewa," sahut Ratih.


"Siap, Bu?" tanya waitres itu.


Klik!


Klik!


Klik!


Waitres mengambil banyak gambar Ratih dan Ricko. Termasuk juga saat Ratih memotong kue dan menyuapkan potongannya ke mulut Ricko.


Lalu Ricko mengecup kening Ratih, hingga mentega dari kue itu menempel di sana.


Gelak tawa dan kebahagiaan menyelimuti acara ulang tahun Ratih yang sangat sederhana itu. Meski tanpa dihadiri oleh Sinta. Anak satu-satunya.


Ratih berjanji dalam hatinya, besok pagi akan mengajak Sinta makan di luar.


Dia juga ingin membuat anaknya bahagia di hari bahagianya.


"Malam ini aku ingin bersamamu, Sayang," ucap Ricko.


Ratih terkesiap. Dia tak menyangka Ricko akan meminta mereka check in malam ini.


Karena biasanya mereka janjian dulu sebelumnya. Dan Ratih akan mengungsikan Sinta ke rumah kakaknya, dengan berbagai alasan.


Bahkan kadang mereka check in tanpa harus menginap. Dan Ratih bisa meninggalkan Sinta sebentar di rumah.


"Tapi, Mas....Sinta di rumah sendirian," sahut Ratih kebingungan.


"Itu bisa diatur. Minta saja kakak kamu menginap di rumahmu. Buat nemenin Sinta," ucap Ricko.


"Tapi kakakku kan juga punya keluarga, Mas. Masa iya satu keluarga harus menginap di rumahku? Mereka tak akan mau kalau dadakan begini."


Bukannya Ratih menolak, tapi ini sangat mendadak. Belum lagi di rumahnya ada Rasyid dan Ayu juga.


"Ya udah, kamu telpon kakakmu sekarang. Suruh jemput Sinta. Aku tak mau gagal. Karena besok aku mau ke luar negeri," sahut Ricko.


"Ke luar negeri? Berapa lama?" tanya Ratih. Meski tak setiap hari ketemu Ricko, tapi Ratih tak ingin terlalu lama ditinggal.


"Sekitar satu minggu, Sayang. Kenapa? Takut kangen, ya? Makanya malam ini kita habiskan berdua." Ricko membelai rambut Ratih dengan lembut.


Ricko tak memberi kesempatan pada Ratih untuk berpikir lagi. Dan tak mau menerima penolakan.


Ratih hanya bisa mengangguk dan menelpon kakaknya. Dia beralasan pada kakaknya, ada acara dadakan keluar kota malam ini, dari tempatnya bekerja.

__ADS_1


Beruntung kakaknya lagi tidak ada kerjaan. Dan mau menjemput Sinta.


Lalu bagaimana dengan Rasyid yang masih tertidur di rumahnya?


__ADS_2