KARMA : Sang Pemburu Wanita Di MEDSOS

KARMA : Sang Pemburu Wanita Di MEDSOS
Bab 182 LARAS DI SARANG BUAYA


__ADS_3

Laras masuk ke dalam kamar itu, tanpa menutup pintunya. Dia melihat-lihat dulu isi di dalamnya.


Kamar dengan desain yang sangat mewah bagi Laras. Meski kamar itu tak terlalu luas.


Ada kamar mandinya juga di dalam. Laras membuka pintu kamar mandinya.


Sebuah pintu dari kaca tebal. Dari luar pintu, orang bisa melihat yang lagi mandi.


Lalu Laras masuk ke dalam kamar mandinya. Banyak kran-kran yang Laras belum begitu paham fungsinya.


Tapi Laras pernah menjumpai, saat Tomi mengajaknya ke hotel juga apartemennya.


"Kamu beneran mau bekerja di sini?"


Suara Yati mengagetkan Laras, yang masih memandangi kamar mandi mewahnya. Meski tak terlalu besar.


"Oh, Bik Yati. Mengagetkan aja," ucap Laras.


"Maaf. Kirain kamu lihat aku tadi masuk," ucap Yati.


Laras keluar dari kamar mandi.


"Bik Yati udah berapa lama kerja di sini?" tanya Laras.


"Baru seminggu ini. Tadinya aku merasa bete juga sendirian terus di rumah ini. Cuma sama Sulis aja. Sekarang jadi makin rame. Ada kamu, Ras," jawab Yati.


"Iya, Bik. Sulis itu seumuran Bik Yati juga?" tanya Laras.


"Enggak. Dia seumuran kamu kayaknya. Ya, paling selisih setahun dua tahunlah. Anaknya baik. Kerjanya juga rajin. Dia udah lama katanya ikut di sini," jawab Yati.


Lalu mereka terlibat pembicaraan seputar tanya jawab asal masing-masing.


"Coba aja kamu bikin lamaran ke kantornya pak Dino. Siapa tahu keterima di sana, Ras. Kan lumayan, bisa kerja kantoran. Enggak kerja rumahan kayak di sini," ucap Yati.


"Iya, Bik. Nanti aku tanya dulu ke pak Dinonya. Kalau memang ada lowongan, ya aku coba," sahut Laras.


"Sayang kan ijasah kamu, Ras. Meskipun cuma SMA," ucap Yati.


Menjelang sore, Laras masuk lagi ke kamarnya. Lalu dia menelpon Tomi.


"Apa? Jadi kamu kerja di rumah Dino?" tanya Tomi di telpon dengan nada marah.


"Ayahku yang maksa, Tom. Kamu tau sendiri kan, sifat ayahku kayak apa," jawab Laras dengan sedih.


"Terus kamu tidur di sana juga? Ini gila namanya, Ras. Kamu sama aja masuk ke sarang buaya!" ucap Tomi.

__ADS_1


Tomi yang saat itu sedang ada di rumah Cyntia, merasa sangat marah.


Bisa saja Dino bakalan ngembat Laras, calon istrinya.


Cyntia terkikik melihat Tomi yang marah-marah.


"Nanti malam, aku jemput kamu! Kamu enggak boleh tidur di sana! Kalau perlu, kamu batalin aja kerjanya!" ucap Tomi masih dengan nada marah.


"Tapi ayahku udah minta sebagian gajiku, Tom. Aku enggak enak kalau tau-tau aku mengundurkan diri," sahut Laras.


"Masa bodo! Ngapain kamu mikirin ayah kamu? Ayah kamu aja enggak mikirin kamu, kok!" ucap Tomi.


Laras menghela nafasnya. Dia bingung mesti bagaimana. Menuruti kemauan gila ayahnya, atau menuruti Tomi, calon suaminya.


"Pokoknya, sebentar lagi aku jemput kamu. Titik!" Tomi langsung menutup telponnya.


Cyntia tertawa terbahak-bahak.


"Kenapa kamu ketawa?" tanya Tomi pada Cyntia.


"Kamu sendiri kenapa marah-marah sama Laras? Dia itu enggak salah. Yang salah itu Rasyid. Bukan cuma salah, tapi gila!" jawab Cyntia.


"Emang itu orang tua kagak ada otaknya! Masa anaknya dimasukin ke sarang buaya!" sahut Tomi.


"Kamu takut kalau Laras dicaplok buaya?" tanya Cyntia.


Bukan kesal pada Cyntia. Tapi pada sikap Rasyid tentunya.


"Ini yang dinamakan hukum karma, Tom. Kamu makan istrinya Dino. Dino makan calon istri kamu. Kayak rantai makanan. Saling memakan. Atau...simbiosis mutualisme? Salaing menguntungkan!" sahut Cyntia.


Lalu Cyntia kembali tertawa ngakak.


"Aku belum sempat make Tasya, Madam!" sahut Tomi.


"Ya sudah. Sekarang, main dulu-duluan aja. Kalau kamu enggak mau keduluan, ya buruan jemput Laras. Mungkin jam segini Dino masih di kantornya," ucap Cyntia.


"Ya udah. Aku mau jemput Laras sekarang. Bisa pinjami aku uang?" ucap Tomi.


"Untuk apa?" tanya Cyntia.


"Bawa Laras kan butuh biaya, Madam. Paling tidak buat bayar kos. Sementara biar kita ngekos dulu aja. Nanti kalau aku udah punya uang, aku kontrak rumah sendiri," jawab Tomi.


"Uang kamu habis?" tanya Cyntia. Seingatnya, dia sering kasih job buat Tomi.


"Sejak adikku Sinta meninggal, bapakku jadi sering sakit-sakitan. Mau enggak mau aku harus kasih uang ke ibuku buat kebutuhan rumah. Aku kan masih punya dua adik yang masih kecil. Mereka masih butuh banyak biaya," jawab Tomi.

__ADS_1


Cyntia tersenyum bangga pada Tomi.


"Anak yang berbakti. Hebat kamu, Tom. Meski jalan kamu salah, tapi masih memikirkan orang tua dan adik-adik kamu," puji Cyntia.


"Demi mereka aku rela memilih jalan yang salah, Madam. Karena tak ada pilihan lain. Mau kerja apa yang bisa dapat uang banyak dan cepat?" sahut Tomi.


"Ya, itu pilihan kamu, Tomi. Inilah yang selalu dibilang orang, kalau hidup adalah pilihan," ucap Cyntia.


"Tapi aku tak pernah memilih terlahir jadi anak orang kere!" sahut Tomi.


"Kalau soal itu, di ajaran agamaku termasuk dalam takdir yang tidak bisa dirubah. Entah apa namanya, aku lupa. Tapi kalau soal pekerjaan dan jalan hidup, itu takdir yang bisa dirubah. Nah, sekarang tinggal kamu mau merubah takdirmu apa enggak," ucap Cyntia.


Meskipun sedikit, Cyntia pernah juga belajar agama. Jaman dia masih sekolah tentunya. Bahkan Cyntia pernah mengenyam pendidikan di pesantren. Walaupun cuma sebentar.


"Kalau aku merubah takdirku soal pekerjaan, bagaimana aku bisa mencukupi keluarga orang tuaku? Belum lagi Laras. Aku enggak mau mereka hidup kekurangan, Madam," sahut Tomi.


"Ya sudah. Kalau begitu, jangan salahkan takdirmu lahir dari orang tua yang kurang mampu. Toh, kamu menikmati kehidupan kamu sekarang," ucap Cyntia.


"Terpaksa!" sahut Tomi.


"Terpaksa tapi ketagihan!" ucap Cyntia dan kembali terbahak.


"Ya mau gimana lagi? Kalau enggak ketagihan aku enggak bisa all out, dong. Hehehe." Tomi pun terkekeh sendiri.


Tomi berusaha profesional dalam bekerja. Dia mau memberikan servis terbaiknya. Tentunya biar kliennya yang ketagihan dan selalu menggunakan jasanya. Jasa pemuas di tempat tidur.


"Udah sana, jemput Laras. Nanti keburu diembat Dino. Dia orangnya selalu gerak cepat lho," ucap Cyntia.


Tomi menengadahkan tangannya ke arah Cyntia.


"Iya, nanti aku transfer. Berapa butuhmu?" tanya Cyntia.


"Yang penting cukuplah buat bayar kos. Sama makan sehari-hari," jawab Tomi sambil terkekeh.


"Kamu pikir aku emakmu? Ngasih makan sehari-hari!" Cyntia menepuk jidatnya.


"Lah terus aku mau minta siapa, Mak?" Tomi malah memanggil emak pada Cyntia.


"Minta aja sama Bowo. Duitnya banyak dia!" sahut Cyntia.


"Lho, apa hubungannya dengan Bowo?" tanya Tomi.


"Bowo kan bapak tirinya Laras," jawab Cyntia.


"Hadeh...! Sama aja keluar dari sarang buaya, masuk ke kandang macan dong!"

__ADS_1


Tomi pun menepuk jidatnya.


__ADS_2