
Sepanjang pemutaran film, Laras hanya diam menahan kesedihan dan kemarahannya. Hingga dia tak menolak saat Beni terus saja menggenggam tangannya. Bahkan sesekali mengecup telapak tangan Laras dengan lembut.
Laras justru merasakan ada kedamaian di sana. Hatinya yang sedang panas seperti tersiram air dingin yang menyejukan.
Walaupun sebelum-sebelumnya dia sering mengacuhkan Beni. Bahkan kadang dibuat kesal karena Beni sering menjelek-jelekan Tomi.
"Ras...." bisik Beni tepat di telingan Laras.
"Hmm," jawab Laras tak bersemangat.
"Kamu kenapa diam saja?" tanya Beni masih di telinga Laras. Tak mungkin juga dia bicara keras, karena akan mengganggu penonton lainnya.
"Enggak apa-apa, Tom," sahut Laras sambil menoleh ke arah Beni. Dan terang saja Beni mencium aroma nafas Laras yang baginya sangat memabukan.
Beni bagaikan melayang ke langit. Film yang sedang ditontonnya jadi tak menarik lagi.
Beni memberanikan diri memeluk bahu Laras. Dan tanpa diduga, Laras langsung merebahkan kepalanya.
Saat ini Laras memang sedang butuh sebuah pelukan. Agar hatinya menjadi benar-benar adem.
Beni pun memberanikan diri mengecup kepala Laras. Bukannya menolak, Laras malah semakin menekan kepalanya ke bahu Beni.
Beni pun mengulurkan satu tangannya lagi untuk menggenggam tangan Laras. Dan meremas-remasnya dengan lembut.
Ingin sekali saat ini, Beni mengungkapkan isi hatinya. Tapi dia takut Laras menolaknya. Dan langsung menjauh lagi.
Beni tak mau kehilangan momen indahnya saat ini. Jadi lebih baik dia simpan kalimat cintanya untuk Laras. Biarlah hanya dia sendiri yang tahu.
Mungkin juga ibunya yang selalu mengomel saat melihat Beni sedang memandangi wajah Laras di galeri hapenya.
Beni pun mendekap bahu Laras semakin erat. Dan meletakan tangan Laras di atas pangkuannya hingga film selesai.
"Udah selesai, Ras. Kita keluar yuk," ajak Beni. Penonton yang lain pun sedang antri berjalan keluar.
Laras yang sedang tak fokus pada filmnya pun terkejut. Dia pikir filmnya masih panjang.
"Oh, iya." Laras segera menegakan kepalanya dan beranjak berdiri.
Beni memberi jalan duluan untuk Laras. Lalu dia berjalan dibelakang Laras sambil terus menggenggam tangan Laras.
Dan saat sampai di bawah, Beni memeluk Laras sambil terus berjalan. Laras masih terus diam, pasrah.
__ADS_1
"Pingin kemana lagi, Ras?" Beni berharap Laras tak meminta untuk langsung pulang.
Laras diam saja. Dia tak punya keinginan apapun selain mencari kedamaian buat hatinya.
"Kamu enggak pingin pulang dulu, kan?" tanya Beni berharap.
"Enggak. Kita jalan dulu ya, Ben? Kamu mau kan mengajakku jalan lagi?"
"Dengan senang hati, Ras. Kamu mau kemana lagi?" tanya Beni sumringah.
"Terserah kamu, Ben. Aku nurut saja," jawab Laras pasrah.
Dia memang sedang tak ingin pulang dulu. Karena bisa dipastikan Niken akan banyak bertanya dan Laras harus menceritakan alur filmnya.
Beni berfikir setengah mati, mau mengajak Laras kemana. Karena dia tak pernah berpacaran sebelumnya. Paling banter hanya menyukai teman wanitanya tanpa kencan.
Lalu Beni berinisiatif mengajak Laras ke pantai. Ya, daerah tempat tinggal mereka memang banyak memiliki pantai-pantai yang indah.
Suara deburan ombak pasti akan membuat Laras jatuh ke pelukannya. Beni sudah berfikiran yang indah-indah saja.
Sesampainya di parkiran motor, Beni memakaikan helm pada Laras. Dan Laras menurut saja. Lalu segera naik ke boncengan.
"Pegangan, Ras. Biar enggak jatuh," pinta Beni. Padahal enggak mungkin jatuh, karena Beni tak bakalan ngebut membawa motornya.
Beni senang bukan kepalang. Dia bisa merasakan pipi Laras menempel di punggungnya. Bahkan dua benda kenyal milik Laras pun, ikut menempel.
Agak gemetar juga Beni. Karena seumur hidupnya belum pernah bersentuhan langsung dengan dua benda itu. Paling juga milik ibunya saat membonceng dan Beni mengerem mendadak.
Tapi jelas saja rasanya sangat berbeda. Kalau milik ibunya menempel sesaat di punggungnya, langsung saja dia kena omel. Bahkan pukulan di bahunya.
Sekarang Laras malah dengan sengaja menempelkannya. Keringat dingin mengalir di sekujur tubuh Beni.
Beni berusaha tetap tenang dan bersikap biasa saja. Dia melajukan motornya perlahan menuju ke arah pantai.
Satu tangannya menggenggam tangan Laras dan meletakan kembali di atas pahanya seperti saat di dalam bioskop tadi.
Dia hanya menyetir dengan satu tangan saja. Pikirannya bercabang. Antara jalanan yang dilewatinya dengan Laras yang sedang memeluknya.
Hingga sampai di area pantai, Laras masih belum melepaskan pelukannya.
Sempat juga Beni berfikir, Laras sedang bermasalah dengan Tomi hingga dia hanya diam saja. Tapi bagi Beni tak masalah. Yang penting dia bisa berduaan dengan Laras.
__ADS_1
"Kita jalan-jalan ke pinggir pantai yuk, Ras," ajak Beni.
Beni menoleh ke belakang hingga pipinya nyaris beradu dengan kening Laras.
"Iya," jawab Laras. Lalu dia turun dari motor.
Beni segera menyetandarkan motornya. Dan menyusul Laras yang sudah berjalan duluan.
Beni mensejajari langkah Laras. Lalu kembali meraih tangan Laras.
Mereka berjalan bergandengan tangan seperti dua sejoli yang sedang kasmaran. Padahal yang kasmaran hanya Beni saja. Sedangkan Laras sedang patah hatinya.
Mereka terus saja berjalan tanpa berbicara. Hanya suara deburan ombak yang mengiringi.
Sampai di sebuah tempat yang sangat sepi dan hanya diterangi cahaya rembulan, Beni mengajak Laras berhenti.
"Kita duduk," ajak Beni.
Laras pun duduk di atas pasir yang kering. Beni ikut duduk di sebelahnya.
Laras masih hanya diam, matanya menatap lurus ke arah laut lepas. Memandang ombak yang saling berkejaran dan pecah di bibir pantai.
Damai sekali Laras rasakan. Lalu tanpa sadar, dia menyandarkan kepalanya di bahu Beni.
Jantung Beni berdegup kencang. Pikirannya melayang. Suasana yang sangat sepi dan remang-remang, membuat Beni punya keberanian untuk mencium puncak kepala Laras.
Laras yang tak menolak, membuat Beni ingin melakukan lebih. Dia mengangkat kepala Laras, lalu menatap wajah Laras dengan lekat.
Dan perlahan mendekatkan wajahnya. Laras memejamkan matanya dan membuka sedikit bibirnya. Seperti sengaja memberi kesempatan buat Beni.
Dengan jantung yang berdetak kencang, Beni memberanikan diri mengecup bibir Laras sekilas. Lalu menjauhkan lagi bibirnya.
Beni belum punya pengalaman berciuman. Hingga dia hanya mengecupnya saja.
Laras membuka matanya, lalu menatap wajah Beni dengan penuh hasrat.
Lalu Laras meraih tengkuk Beni dan mengecup bibir Beni dengan berani. Maklum saja, Laras sudah berpengalaman bercumbu dengan Tomi.
Kini malah Beni yang terdiam menikmati sesapan Laras. Laras terus menyesap bibir Beni dengan rakus. Sepertinya dia sedang melampiaskan kekesalannya pada Tomi.
Bahkan Laras membawa tangan Beni ke dadanya. Hasratnya sudah sangat menggelora. Tapi sayangnya, Beni yang belum punya pengalaman bercinta, hanya diam saja.
__ADS_1
Tangannya hanya menyentuh dua benda kenyal itu tanpa berani melakukan lebih. Ini benar-benar pengalaman pertama bagi Beni.