
Wulan yang ditinggalkan begitu saja oleh Rasyid, jelas merasa sangat menyesal karena telah memberikan setengah tubuhnya.
Kenapa aku begitu bodoh ya? Gampang sekali aku menyerahkan diri. Bagaimana tadi kalau aku tidak sedang menstruasi? Pasti dia akan melakukannya. Wulan merutuki dirinya sendiri.
Sementara Rasyid pulang kembali ke rumahnya dengan perasaan sangat kesal.
Sampai di rumahnya, dia masuk tanpa mengucapkan salam terlebih dahulu.
Dan alangkah terkejutnya Rasyid melihat Ayu sedang diplonco oleh kedua kakaknya, untuk sebuah konten tik tok di kamar Laras.
"Heh! Sedang apa kalian?" bentak Rasyid.
Laras dan Niken yang tidak menyadari kedatangan Rasyid, terkejut. Dan langsung menyembunyikan hape yang dipakai untuk merekam adegan tanpa busana Ayu.
Ayu yang tak berbusana sama sekali, langsung lari memeluk Rasyid.
"Apa-apaan kalian, hah!" Rasyid merampas hape yang disembunyikan Laras.
"Ayah! Jangan!" seru Laras. Dia takut Rasyid akan membuka-buka hapenya.
Rasyid yang naik darah, menyeret kedua anak gadisnya yang bengal ke kamar mandi dan menguncinya dari luar.
"Ayah! Maaf, Ayah!" teriak Laras.
"Keluarkan kami, Ayah!" seru Niken. Lalu terdengar tangisan keduanya.
Rasyid meninggalkan kamar mandi dan mencari Ayu. Dia sedang duduk bersimpuh sambil menangis sesenggukan di lantai kamar Laras.
Rasyid meraih tubuh Ayu dan memeluknya erat. Lalu menggendong Ayu yang hanya menangis ke kamarnya sendiri.
"Ayu pakai baju lagi, ya?" Rasyid mengambilkan baju Ayu dari lemari.
"Pakai, Nak." Rasyid membantu Ayu memakai bajunya.
Setelah rapi, Rasyid membaringkan Ayu di tempat tidur.
"Kenapa tadi Ayu mau digituin sama mereka?" tanya Rasyid perlahan.
Ayu tak menjawab. Dia hanya terus saja menangis.
"Sudah, jangan menangis. Ada Ayah di sini, ya?" Rasyid membelai kepala Ayu dengan lembut.
__ADS_1
"Besok-besok lagi, Ayu ikut aja kalau Ayah pergi. Biar Ayu enggak digituin lagi sama mereka. Ayu sering digituin?" Rasyid mencoba mengorek keterangan dari Ayu.
Tapi Ayu yang sudah diancam oleh kedua kakaknya, memilih diam. Dia jelas tak berani kalau ancaman kedua kakaknya benar-benar terjadi.
Laras dan Niken mengancam akan mengusir Ayu dari rumah tanpa berpakaian, kalau berani mengadu pada Rasyid.
"Bilang saja sama Ayah. Biar Ayah kasih pelajaran pada mereka," ucap Rasyid.
Ayu hanya menggeleng.
"Kenapa? Ayu diancam oleh mereka?" tanya Rasyid lagi.
Ayu mengangguk pelan, lalu mendekap pinggang Rasyid.
Rasyid hanya bisa mengelus dadanya. Tak disangka sama sekali kalau kelakuan Laras dan Niken sangat keterlaluan.
Mereka dengan tega memanfaatkan adiknya hanya untuk sebuah konten. Dan yang membuat Rasyid sangat marah, ini pasti untuk konten dewasa.
Sejak kapan mereka melakukannya? Dan kenapa harus konten dewasa? Tanya Rasyid dalam hati.
Lalu Rasyid mengambil hape Laras yang dikantonginya. Dan sekali lagi Rasyid dibuat tercengang. Karena isi hape Laras tak jauh berbeda dengan isi hapenya sendiri. Penuh dengan gambar dan video dewasa.
Rasyid tak pernah menyadari kalau kedua anaknya sering diam-diam membuka hapenya saat dia tidur. Dari situlah kedua anak Rasyid yang menjelang dewasa meniru.
Hape Rasyid, banyak sekali gambar dan video dewasa. Bukan hanya dari hasil download, tapi juga kiriman dari wanita-wanita kesepian buruan Rasyid yang rela mengirimkan foto tanpa busana. Bahkan video saat mereka melakukan sendiri dengan jemari.
Sangat mengerikan. Rasyid tak pernah berfikir panjang kalau sampai semua itu dilihat oleh anak-anaknya.
Rasyid berfikir, saat anak-anaknya meminjam hapenya hanya sekedar untuk nge-game.
Rasyid menghapus semua gambar dan video tak senonoh dari galery hapenya Laras.
Lalu setelah itu, Rasyid menelpon Tomi. Sebelum menelpon, Rasyid menyempatkan diri membuka dan membaca chat mereka.
Bukan karena kepo atau iseng. Rasyid ingin tahu, sudah seberapa jauh hubungan mereka berdua.
Rasyid tercengang dengan isi chat mereka. Tak jauh berbeda dengan cara dia nge-chat wanita-wanita targetnya.
Kalimat-kalimat tabu mengalir begitu saja dari ketikan mereka. Bukan hanya Tomi, Laras pun melakukan hal yang sama.
Rasyid menghela nafasnya panjang. Ini tak bisa dibiarkan. Laras dan Tomi sudah terlalu jauh. Mereka harus segera dinikahkan. Kalau tidak? Bisa-bisa mereka akan benar-benar melakukannya.
__ADS_1
Kemarin saja, mereka sudah....Ah. Rasyid jadi ingat dengan yang dilakukannya tadi pada Wulan.
Rasyid segera mendial nomor Tomi yang kebetulan sedang online. Rasyid memaksa Tomi untuk segera datang dengan kedua orang tuanya, atau Rasyid akan membuat perhitungan dengannya kalau menolak.
Rasyid benar-benar tak mau kecolongan. Dia tak mau pada akhirnya nanti Laras akan hamil sebelum menikah.
Bukan hanya soal dosa yang Rasyid takutkan. Tapi siapa yang akan memberi makan anaknya Laras? Sedang untuk kehidupannya selama ini saja, masih senin kamis.
Tomi yang takut akan ancaman Rasyid, mengiyakan. Dan mengatakan kalau nanti malam sepulang kerja, dia akan membawa orang tuanya ke rumah Rasyid.
Rasyid bernafas dengan lega. Gampang sekali Tomi menurutinya. Padahal belum tentu Rasyid akan benar-benar melakukan ancamannya.
Rasyid tak mau ambil resiko masuk penjara kalau sampai ketahuan menganiaya orang. Bagaimana dengan nasib anak-anaknya, kalau dia dipenjara.
Meski di penjara nanti, Rasyid tak perlu lagi sibuk mencari uang karena di sana semua serba gratis.
Ayu sudah tertidur. Mungkin dia capek menangis. Rasyid membelai lagi kepala Ayu. Kasihan sekali anakku. Dia dilecehkan oleh kakak-kakaknya sendiri.
Rasyid teringat janji Tomi yang akan datang malam nanti. Lalu dia pun membuka pintu kamar mandi dan membiarkan kedua anak gadisnya keluar.
"Maafkan kami, Yah. Kami janji tidak akan mengulanginya," ucap Laras menundukan kepalanya.
"Niken juga minta maaf, Yah," ucap Niken. Lalu meraih tangan Rasyid dan menciumnya. Untuk saat ini, Niken menyesali perbuatannya. Entah nanti atau esok hari.
"Sekali lagi kalian melakukannya, Ayah gantung kalian di tiang listrik!" ancam Rasyid.
"Iya, Yah. Kami janji tak akan melakukannya lagi," ucap Laras.
"Ya sudah. Kali ini Ayah maafkan. Dan kamu, Laras! Bersiap-siaplah. Nanti malam, Tomi dan keluarganya mau datang ke sini. Nih, Ayah ada uang lima puluh ribu. Siapkan minuman dan makanan untuk mereka." Rasyid memberikan sisa uang yang didapatnya tadi pagi.
"Iya, Yah." Laras tak berani protes. Bahkan untuk meminta hapenya saja, Laras takut.
"Nih, hape kamu!" Rasyid memberikan hape Laras.
Laras tersenyum gembira bisa mendapatkan hapenya lagi. Lalu mereka berdua masuk ke kamar.
Rasyid masuk ke kamar mandi. Hasratnya tadi pada Wulan belum tuntas. Belum lagi barusan membuka hape Laras dan melihat gambar serta video dewasa, hasratnya semakin memuncak.
Akhirnya Rasyid menyelesaikannya sendiri dengan bantuan sabun mandi.
Aahhkk....! Rasyid mencapai klimaksnya sendirian.
__ADS_1