KARMA : Sang Pemburu Wanita Di MEDSOS

KARMA : Sang Pemburu Wanita Di MEDSOS
Bab 83 TUA TUA KELADI


__ADS_3

Tomi buru-buru mengajak Laras pulang. Padahal makanan yang dipesannya masih banyak.


"Terus ini bagaimana?" tanya Laras. Dia merasa sayang pada makanan yang pasti hanya akan dibuang oleh para pegawai restauran.


"Udah biarin aja. Nanti kita beli lagi di luar." Tomi segera menarik tangan Laras. Dia merasa tidak nyaman melihat Tanto yang terus menatap Laras.


Sebenarnya bisa saja Tomi mendatangi Tanto dan mencolok matanya. Cuma dia tak mau gegabah. Bagaimana kalau Tanto membuka kedoknya selama ini di depan Laras. Bisa selesai semuanya.


Ganti Tanto yang tersenyum sinis. Dia merasa menang bisa membuat Tomi gusar dan kesal.


"Siapa dia?" tanya Mahda. Wanita tua yang bersama Tanto.


"Teman. Mami lihat kan laki-lakinya? Jelek aja belagu. Kasihan Laras jalan sama lelaki model begituan," jawab Tanto.


"Memang bagaimana modelnya? Dia masih muda. Ganteng juga." Mahda tadi sempat memperhatikan wajah Tomi yang menurutnya lumayan ganteng.


Tanto langsung cemberut, rivalnya dipuji oleh klien barunya.


Mahda terkekeh melihat perubahan wajah Tanto.


"Kok cemberut sih, Beb? Kamu makin gemesin kalau cemberut begitu." Mahda mencubit hidung Tanto yang mancung.


"Mami bisa aja." Tanto merasa senang dipuji lagi.


"Mi, aku kepingin sepatu baru. Mami mau kan beliin?" rengek Tanto seperti anak kecil.


"Iya, nanti Mami beliin. Kamu mau sepatu merk apa?" Bagi Mahda yang kaya raya, toko sepatunya pun sanggup dia bayari kalau mau.


"Nanti kita lihat di toko sepatu yang itu." Tanto menunjuk sebuah toko sepatu yang terkenal tak jauh dari restauran tempat mereka makan.


Mahda hanya melirik sekilas, lalu mulai memakan makanannya. Baginya itu bukan hal yang berat.


"Kamu sudah punya pacar, Beb?" tanya Mahda pada Tanto yang masih asik dengan makanannya.


Tanto hanya menggeleng. Kehidupan yang pas-pasan, membuatnya enggan punya pacar dulu. Dia merasa belum mampu membahagiakan seorang wanita. Karena keluarga orang tuanya di kampung masih banyak membutuhkan bantuannya.


"Belum punya atau belum pernah sama sekali?" tanya Mahda lagi.

__ADS_1


"Mi. Aku takut mencintai wanita. Gajiku sebagai teknisi di counter hape sangat kecil. Buat membantu orang tuaku saja masih kurang, apalagi buat pacaran," jawab Tanto jujur.


Mahda kembali terkekeh. Jujur sekali anak muda ini. Biasanya anak seumuran Tanto, sudah bolak balik ganti pacar kayak ganti sandal. Kalau perlu ngembat sandal orang, eh pacar orang.


"Ya sudah, jadi pacar Mami saja ya? Kamu enggak perlu modal. Mami yang akan memodali kamu. Apa saja yang kamu mau, akan Mami usahakan. Tapi kamu harus nurut sama Mami," ucap Mahda.


Tanto menatap wanita tua di depannya dengan tajam. Bagaimana mungkin dia menjadikannya pacar? Umurnya saja dua kali lipat lebih dari umur Tanto.


"Nurut gimana, Mi?" Tanto tertarik juga dengan kata-kata Mahda.


"Kalau kamu mau, banyak aturan yang akan Mami terapkan ke kamu," sahut Mahda.


"Apa aja, Mi?" Tanto makin penasaran.


"Satu, kamu harus setia. Enggak boleh selingkuh. Kalau ketahuan Mami, maka selesai hubungan kita. Dan kamu, mesti mengganti semua uang yang Mami keluarkan untuk kamu. Kedua. Kamu harus siap melayani Mami kapan saja. Karena kamu enggak perlu kerja. Mami yang akan memenuhi semua kebutuhan kamu. Udah, dua aja dulu. Pikirkan itu," jawab Mahda.


Tanto langsung mendelik. Dia harus setia pada Mahda? Artinya Tanto tak boleh punya hubungan dengan siapapun? Lalu bagaimana kalau Niken atau Laras nanti membalas perasaannya?


Terus apa gunanya dia dibiayai kalau ujung-ujungnya mesti mengganti kalau dia ketahuan selingkuh? Hhh. Tanto berdecak sebal.


"Kenapa? Keberatan?" tanya Mahda sambil menatap wajah Tanto yang terlihat kesal.


"Aku...aku lagi enggak mau berkomitmen dulu, Mi. Aku masih pingin bebas," jawab Tanto.


Mau ditaruh di mana mukanya kalau teman-temannya tahu dia punya pacar yang STB alias setengah baya? Bahkan umur Mahda dengan ibunya saja masih lebih tua Mahda.


Hiih. Tanto bergidik ngeri. Kalau cuma one night stand aja sih masih oke. Sekali main juga Mahda bakalan KO seperti wanita-wanita tua lain yang pernah dikencaninya.


Mahda hanya mengangkat bahunya saja. Dia tak bisa memaksakan kemauannya. Toh, di luaran sana masih banyak brondong-brondong lain yang mau dijadikan pacarnya.


Uangnya sangat banyak. Tak akan habis di pakai tujuh turunan.


"Mami enggak marah, kan?" Tanto khawatir juga kalau setelah makan dia akan ditendang jauh.


"Enggaklah. Itu hak kamu untuk menerima ataupun menolakku. Lagi pula, aķu kan belum tahu kemampuanmu memuaskanku. Enggak enak juga kan, kalau punya pacar yang enggak tangguh?" Mahda seakan merendahkan Tanto.


Tanto menelan ludahnya. Gila ini nenek-nenek. Dia meragukan kemampuanku. Tanto berjanji akan membuat Mahda ketagihan dengannya.

__ADS_1


Jangankan wanita seumurannya, Cyntia saja yang sudah sangat berpengalaman, memuji kemampuannya.


Tanto memang belum punya pengalaman langsung. Tapi koleksi film-film dewasanya seabreg. Dan dia selalu mencermati setiap adegannya.


"Kita buktikan nanti, Mi." Tanto tak mau begitu saja direndahkan.


"Boleh," sahut Mahda.


Mahda seorang wanita yang gila gym. Tenaganya sangat luar biasa. Dan dia biasa main dengan teman-temannya di gym yang badannya berotot.


Kali ini saja, dia melirik laki-laki biasa seperti Tanto. Dia bosan dengan badan yang berotot. Sekali-kali kepingin juga merasakan badan yang boleh dibilang cungkring.


"Makanlah yang banyak. Biar tenagamu penuh. Jangan kaget nanti, ya," ledek Mahda.


"Makanku enggak banyak, Mi," sahut Tanto. Bagaimana mau makan banyak, biaya hidup sendirian sudah cukup banyak. Dia harus membayar uang kos yang enggak murah.


Meski Tanto bukan dari kalangan orang berada, bahkan rumah orang tuanya pun boleh dibilang seadanya, tapi soal tempat tinggalnya sendiri, Tanto memilih yang harga sewanya mahal.


Itulah salah satu alasan kenapa Tanto memilih jalan pintas mencari uang, seperti yang direkomendasikan oleh temannya, Adam.


Mahda hanya tersenyum. Baginya, kalau mau kuat ya mesti makan yang banyak. Karena bertempur dengannya akan memakan banyak energi.


Setelah selesai makan, seperti janjinya tadi, Mahda membawa Tanto ke toko sepatu terkenal di seberang reatauran.


"Silakan pilih yang kamu sukai. Dan pastikan itu akan sepadan dengan permainan kamu nanti," ucap Mahda.


Tanto berhenti melangkah dan menatap wajah Mahda. Apa sepatu yang akan dibelinya sebagai bayaran?


Oh, no. Tanto memilih uang cash daripada sepatu. Dia pikir, Mahda akan membelikannya sebagai bonus.


"Jangan khawatir. Bayaran kamu akan aku transfer." Mahda tertawa melihat wajah Tanto yang langsung berubah.


"Nah gitu, dong. Masa bayaranku hanya seharga sepatu?" Tanto mulai memilih sepatu yang diinginkannya.


"Kalau kamu KO duluan, aku tak akan mentransfermu," bisik Mahda.


Benar-benar wanita hyper, ini. Batin Tanto.

__ADS_1


__ADS_2