KARMA : Sang Pemburu Wanita Di MEDSOS

KARMA : Sang Pemburu Wanita Di MEDSOS
Bab 24 BUKAN TANPA PAMRIH


__ADS_3

Mereka sampai di rumah Tuti. Sebuah rumah yang sederhana tapi cukup besar.


"Ini rumah saya, Pak Rasyid." Tuti mencoba turun dari motor. Tapi kesulitan, karena kakinya semakin terasa sakit.


"Ris! Riski!" Tuti berteriak memanggil anak lelakinya.


Seorang anak lelaki keluar dari dalam rumah.


"Tolongin Ibu, Ris!" Tuti masih saja berteriak meski Riski sudah di depan teras rumah.


Rasyid masih nangkring di atas motornya. Karena kalau dia turun, Tuti bakalan jatuh.


"Ibu kenapa?" Riski lari ke arah Tuti.


"Ibu tadi jatuh dari motor. Tolongin Ibu dulu."


Riski meraih tangan Tuti dan membantunya turun dari motor. Lalu perlahan-lahan memapah Tuti masuk ke dalam rumah.


Rasyid menyetandarkan motornya lalu ikut masuk juga. Meski belum di suruh. Dia merasa masih punya satu urusan lagi, mengambil motor Tuti yang ditinggal di pinggir jalan.


"Om ini siapa?" tanya Riski pada Tuti setelah mendudukannya di kursi. Dia curiga, jangan-jangan Rasyid yang menabrak ibunya.


"Ini namanya Pak Rasyid. Dia yang menolong Ibu," jawab Tuti. Baru setelah itu Riski tersenyum pada Rasyid dan menyalaminya.


"Terima kasih, Om. Sudah menolong ibu saya." Ucapan Riski bernada ingin Rasyid segera pergi.


"Iya, sama-sama. Saya tadi kebetulan lewat pas Ibu Tuti jatuh dari motornya," sahut Rasyid.


"Oh, begitu." Riski masih menatap Rasyid kurang suka.


"Ris, kamu bonceng Pak Rasyid, ambil motor. Kaki Ibu sakit banget, jadi Ibu tidak bisa membawanya sendiri."


"Memang Ibu tinggal di mana motornya?" tanya Riski.


"Di pinggir jalan. Makanya sekarang kamu ke sana sama Pak Rasyid ini. Dia yang tau tempatnya," sahut Tuti.


Dengan malas, Riski pamit berganti pakaian. Riski juga membawa sedikit uang. Rencananya nanti kalau sudah mengambil motor, dia akan beri Rasyid uang sekedar ucapan terima kasih.


Riski punya felling kurang enak saat pertama kali melihat wajah Rasyid. Dan dia akan membuat Rasyid tak kembali lagi ke rumahnya nanti.

__ADS_1


"Ayo, Pak Rasyid. Saya sudah siap. Riski pergi dulu, Bu." Riski menyalami tangan Tuti.


"Iya. Hati-hati, Ris. Pak Rasyid, tolong antarkan anak saya, ya." Tuti memberikan kunci motornya pada Riski.


Rasyid mengangguk, lalu keluar dari rumah Tuti. Dan mengantarkan Riski ke tempat motor Tuti diparkirkan.


"Itu motor ibu kamu." Rasyid menunjuk ke arah motor Tuti.


Riski turun dari boncengan Rasyid. Dia teliti dulu kondisi motor ibunya. Setelah yakin motornya baik-baik saja, hanya sekedar lecet dan pecah di beberapa bagian, dia menghampiri Rasyid.


"Oke, Pak Rasyid. Saya terima kasih banyak sudah di tolong. Ini ada uang sedikit. Anggap sebagai ucapan terima kasih dari saya dan ibu saya." Riski memberikan amplop berisi uang yang sudah disiapkannya.


Rasyid menatap amplop itu. Ada perasaan ingin segera mengambilnya. Tapi ada juga rasa gengsinya.


Tiba-tiba Rasyid teringat lagi pada ketiga anaknya yang belum makan. Bahkan Ayu masih sakit dan Niken ke sekolah tanpa membawa uang sepeserpun.


Rasyid menghela nafasnya. Dia hilangkan rasa gengsinya dan menerima amplop itu.


"Oke. Saya terima amplopnya. Meski sebenarnya saya ikhlas membantu ibu Tuti. Tapi karena ketiga anak saya di rumah butuh makan jadi saya ambil. Salam buat ibu kamu," ucap Rasyid.


Lalu Rasyid pergi meninggalkan Riski. Ada perasaan lega karena hari ini dia bisa kasih makan anak-anaknya. Meskipun dia belum tahu berapa isi amplopnya.


Riski pun kembali ke rumahnya. Motor yang habis jatuh, sudah tidak enak dipakai. Tapi Riski mengabaikannya dulu, dia mau menangani ibunya dulu yang sepertinya kesakitan.


"Tangan sama kaki ibu sakit semua," jawab Tuti.


Riski meraih tangan Tuti dan menelitinya.


"Auwh! Jangan kenceng-kenceng nariknya!" teriak Tuti.


"Enggak kenceng, Bu. Cuma lihat aja, kok." Riski meletakan kembali tangan Tuti.


"Riski ambil kompresan dulu. Sekalian bersihin lukanya." Riski ke dapur, mencari air buat mengompres luka ibunya.


"Pak Rasyid kemana, Ris?" tanya Tuti.


"Udah pulang kali, Bu." Riski mulai membersihkan luka Tuti. Tuti meringis-ringis karena merasa perih.


"Kok pulang? Kan Ibu belum sempat mengucapkan terima kasih." Tuti terlihat kecewa.

__ADS_1


"Udah tadi, Riski wakilkan." Riski trauma dengan kejadian dahulu, saat ibunya dekat dengan lelaki yang dikenalnya di medsos.


Tuti yang memang sedang mencari calon pengganti almarhum suaminya, malah diporotin uangnya oleh lelaki itu. Ujung-ujungnya hubungan mereka berakhir setelah Tuti keluar uang banyak.


"Ya enggak bisa kayak gitu dong, Ris. Kan Ibu yang ditolong. Enggak enak kan kalau hanya ucapan terima kasih saja. Apalagi diwakilkan," ucap Tuti kecewa. Dia malah curiga pada anaknya ini, jangan-jangan Riski yang menyuruh Rasyid pergi.


Tuti ingat, sejak kejadian itu memang Riski tak pernah mengijinkannya dekat dengan lelaki manapun. Bahkan medsosnya pun selalu dipantau.


"Tenang saja, Bu. Tadi Riski udah kasih dia uang juga, kok. Dan dia menerimanya." Riski yakin, laki-laki macam Rasyid memang mauan. Dan kebetulan ketemu ibunya dengan cara menolongnya.


"Kamu itu! Tidak semua kebaikan orang dinilai dengan uang. Bagaimana kalau dia tersinggung?" tanya Tuti sangat khawatir.


"Kalau dia tersinggung, pastinya amplop itu tidak akan diambilnya. Tadi setelah mengambil amplop itu, dia langsung pergi." Riski sengaja tak mengatakan alasan Rasyid menerima amplop itu. Takutnya nanti Tuti yang mudah kasihan sama orang lain, dimanfaatkan oleh Rasyid.


"Ah, kamu itu!" Tuti melengos. Antara kesal dengan sikap Riski dan rasa perih di lukanya yang sedang diobati.


Ditengah jalan, Rasyid membuka amplop pemberian Riski. Tidak tebal, tapi lumayanlah. Dua ratus ribu rupiah.


Lumayan. Nanti sore aku tinggal nagih ke Lili. Ini bisa buat beli bensin, rokok dan token. Sekalian beli nasi padang. Hhh. Memang rejeki tak akan kemana. Rasyid bermonolog.


Meski sebenarnya Rasyid berharap lebih, seandainya diberi kesempatan bertemu lagi dengan Tuti. Karena Rasyid yakin Tuti orang yang baik dan gampang kasihan pada orang lain.


"Assalamualaikum!" Rasyid masuk ke rumahnya dengan tentengan nasi padang.


"Ayah bawa, apa?" tanya Laras yang sedang menyapu lantai.


"Nasi padang. Panggil Ayu. Kita makan bareng!" Rasyid duduk di lantai tempatnya biasa leha-leha.


"Niken gimana, Yah?" tanya Laras.


"Dia kan sekolah. Nanti sore Ayah belikan lagi. Nih, isi tokennya!" Rasyid menyerahkan tulisan angka di kertas kecil.


Laras mengisi tokennya dulu sebelum menyiapkan makan untuk Ayahnya.


"Ayah makan sendiri, ya? Laras sama Ayu tadi sudah makan.Bu RT kemari memberi makanan untuk Ayu. Dia juga menyuruh Ayah membawa Ayu ke puskesmas."


"Ah, mana ada obat di puskesmas yang manjur?" sahut Rasyid sambil menyuap makanannya.


"Ya paling tidak, Ayu diperiksa oleh dokter kan, Yah?"

__ADS_1


"Kata siapa? Di puskesmas itu cuma ada mantri. Bisa apa mantri?" Rasyid sangat menyepelekan petugas kesehatan di puskesmas.


Laras tak berani lagi membantah. Percuma saja berdebat dengan Rasyid. Menang juga bakalan di bentak. Bahkan bisa jadi bonus pukulan kalau Rasyid sudah merasa terpojok.


__ADS_2