KARMA : Sang Pemburu Wanita Di MEDSOS

KARMA : Sang Pemburu Wanita Di MEDSOS
Bab 152 KABUR


__ADS_3

Untungnya Ayu tak sampai terluka parah. Meski di beberapa bagian tubuhnya lecet.


"Ayah, sakit...." ucap Ayu sambil menangis.


"Iya, Nak. Kamu lagian ngapain sih, kok bisa jatuh?" tanya Rasyid sambil menggendong Ayu naik ke motornya.


"Bapaknya aja yang enggak liatin anaknya!" ucap seorang saksi mata.


"Iya. Main ngegas aja," sahut yang lain.


Rasyid sebenarnya mendengar. Tapi dia tak mungkin juga marah-marah pada mereka. Yang ada malah dia digebukin rame-rame.


"Udah, sekarang pegangan!" ucap Rasyid.


Ayu segera memeluk erat perut Rasyid yang buncit, sambil menahan rasa perih di beberapa luka lecetnya.


Ah. Kemana tadi mobil yang dinaiki Ratih? Gara-gara Ayu jatuh, aku jadi kehilangan jejak.


Rasyid hanya bisa merutuk dalam hati.


Akhirnya Rasyid membawa Ayu ke rumah sakit. Biar Ayu diobati disana. Soal bayarannya, biar sekalian digabung dengan tagihan Laras.


Ayu, meskipun kesakitan, tapi dalam hatinya senang juga. Karena tak harus tidur di rumah dengan Niken.


Rasyid membawa Ayu ke kamar Laras. Laras masih asik dengan ponselnya.


Seperti biasanya, disaat tak ada kegiatan, Laras menghabiskan waktunya dengan mengetik cerita untuk novel online-nya.


"Lho, Ayu kenapa?" tanya Laras, melihat kondisi Ayu yang babak belur.


"Ayu tadi jatuh, Kak. Sakit...!" keluh Ayu.


"Ya ampun. Kok bisa, sih?" Laras merasa kasihan pada Ayu.


"Ayu tadi belum pegangan, tapi Ayah udah jalan. Jadi Ayu jatuh," jawab Ayu apa adanya.


"Ayah kan enggak tau, Ayu!" sahut Rasyid tak mau disalahkan.


"Ya udah, sekarang Ayah cari perawat, biar lukanya Ayu diobati," ucap Laras.


"Enggak mau! Nanti sakit!" tolak Ayu. Dia takut lukanya dipegang-pegang oleh perawatnya dan malah jadi sakit.


"Lebih sakit lagi kalau enggak diobati, Ayu! Nanti malah infeksi," ucap Laras lagi.


"Infeksi itu apa?" tanya Ayu. Dia pernah tahu istilah itu, tapi lupa artinya.


"Infeksi itu nanti luka kamu bisa jadi bengkak atau makin parah lagi. Enggak sembuh-sembuh," jawab Laras dengan penjelasan sekedarnya. Karena kalau terlalu rumit, Ayu malah tidak paham.


"Hii...! Ayu enggak mau!" Ayu ketakutan. Tapi juga tidak berani lukanya dipegang-pegang perawat.


"Ya udah, Ayah cari perawat dulu." Rasyid berjalan keluar mencari perawat yang jaga.


"Selamat malam, Suster," sapa Rasyid dengan gayanya yang sok akrab.

__ADS_1


"Selamat malam juga, Pak. Ada yang bisa saya bantu?" tanya seorang perawat jaga yang bernama Suni.


"Saya mau minta tolong, anak saya tadi jatuh dari motor, saat mau ke sini. Bisa minta tolong diobati?" tanya Rasyid.


"Oh, ya ampun. Sekarang anaknya dimana, Pak?" tanya Suni.


"Ada di ruang rawat inapnya Laras. Anak saya juga," jawab Rasyid.


"Biar saya lihat dulu ya, Pak?" Suni berjalan mengikuti Rasyid.


Rasyid kembali ke ruang rawat Laras.


"Ini anaknya." Rasyid menunjuk ke arah Ayu yang sedang duduk di kursi penunggu, sambil meringis menahan perih.


Suni melihat semua luka Ayu.


"Begini saja, Pak. Langsung dibawa ke ruang IGD aja. Biar ditangani di sana. Saya di sini tidak punya peralatannya," ucap Suni.


"Peralatan apa?" tanya Ayu ketakutan.


Dalam bayangannya dia akan di suruh tiduran, lalu ada lampu besar yang menyorotnya. Dan para dokter membawa semua peralatan.


Lalu luka Ayu dibedah, dikorek-korek, dan dijahit.


"Peralatan medis," jawab Suni. Dia tak mengira kalau Ayu lagi parno membayangkannya.


"Yah. Ayu takut." Ayu memegangi baju Rasyid..


"Enggak apa-apa, Ayu. Daripada lukanya makin parah?" sahut Laras.


"Suster. Mm...sebentar. Kalau masalah bayarnya bagaimana? Saya enggak bawa uang. Apa bisa disatukan dengan tagihan Laras nanti?" tanya Rasyid malu-malu.


"Kalau soal itu, saya kurang tahu, Pak. Nanti tanyakan aja di sana," jawab Suni.


Rasyid mendekati Laras.


"Ras. Kamu ada uang enggak?" tanya Rasyid.


"Enggak ada, Yah," jawab Laras.


"Aduh, gimana ini? Tomi pergi jam berapa tadi?" tanya Rasyid lagi. Dia berpikir kalau bisa Tomi suruh segera kembali ke rumah sakit, lalu memberinya uang.


"Enggak lama setelah Ayah pulang," jawab Laras.


"Udah, nanti bilang aja, tagihannya dijadikan satu sama punya Laras," lanjut Laras.


Laras tak berpikir, kalau malam ini Tomi sedang berusaha setengah mati, mencarikan uang untuk membayar tagihannya.


Bahkan sampai Tomi harus menjual diri. Karena hanya itu yang bisa dilakukan oleh Tomi. Mencari uang dengan cara instan.


Rasyid mengangguk. Mau bagaimana lagi. Diobatin sendiri juga enggak bisa. Karena lukanya banyak. Dan ada beberapa yang cukup lebar.


Rasyid menggandeng Ayu ke ruang IGD. Suni tak mengantar. Dia harus kembali ke tempatnya berjaga.

__ADS_1


"Ada yang bisa saya bantu?" tanya seorang perawat saat Rasyid dan Ayu sudah sampai di depan IGD.


"Bisa tolong obati anak saya? Tadi jatuh."


Perawat itu melihat luka lecet di beberapa bagian tubuh Ayu.


"Aduh banyak juga lecetnya. Ayo masuk. Saya obati." Perawat itu mempersilakan Ayu masuk.


"Saya boleh masuk?" tanya Rasyid. Sebab saat Laras dibawa masuk ke ruangan ini, siapapun tidak boleh ikut masuk.


"Boleh, Pak. Silakan masuk. Temani putrinya, ya," sahut perawat itu. Lalu dia mulai membersihkan luka Ayu.


"Ayah, sakit...!" teriak Ayu. Padahal lukanya baru dibersihkan saja.


"Tahan, Sayang. Tahan," ucap Rasyid berusaha menenangkan Ayu.


"Enggak apa-apa, ya? Kan cuma dibersihkan aja. Biar enggak infeksi," ucap perawat itu dengan sabar.


Rasyid bukannya memperhatikan Ayu, dia malah asik memperhatikan perawat cantik yang umurnya sudah cukup dewasa itu.


Beberapa luka Ayu hanya di kasih obat saja. Tapi yang di bagian lutut harus diperban.


"Nah, udah. Enggak sakit, kan?"


Ayu menggeleng. Dia sebenarnya tidak merasa sakit, tapi cuma ketakutan saja.


"Sudah, Pak. Silakan Bapak ke bagian pembayaran. Di sebelah sana." Perawat menunjukan tempatnya.


"Tapi saya tidak bawa uang cash, Suster," jawab Rasyid membuat alasan.


"Di sana bisa pakai kartu debit atau kredit card juga bisa, Pak," ucap perawat itu lagi.


Hhmm! Rasyid menghela nafasnya. Jangankan kartu debit, rekening di bank aja enggak punya. Apalagi kartu kredit.


Rasyid mengangguk. Dia pura-pura berjalan ke arah ruang pembayaran.


Padahal dia mengajak Ayu berbelok. Lalu menuju pintu keluar rumah sakit.


"Lho, Yah. Kita enggak balik ke kamarnya kak Laras?" tanya Ayu.


"Enggak. Nanti saja. Kita pulang dulu," jawab Rasyid sambil terus berjalan. Tangannya menarik tangan Ayu biar jalannya lebih cepat.


"Ayah. Jangan cepet-cepet jalannya. Kaki Ayu kan sakit," ucap Ayu.


"Udah, ditahan dulu sakitnya!" Rasyid terus menarik tangan Ayu, hingga sampai di parkiran.


Rasyid bernafas lega saat mereka sudah sampai di parkiran.


"Kita beneran pulang, Yah?" tanya Ayu.


"Iya! Bawel banget sih, kamu!" sahut Rasyid.


"Terus, tas Ayu bagaimana?" tanya Ayu lagi.

__ADS_1


"Aduh! Kamu gimana sih? Kenapa tadi tidak dibawa sekalian!"


Ayu hanya memandang wajah ayahnya dengan heran.


__ADS_2