
Setelah kenyang, Tomi mengajak Laras pulang. Tapi sebelumnya Tomi menyuruh Laras membereskan bekas makan mereka dan tak meninggalkan jejak.
"Kita pulang naik apa, Tom?" tanya Laras yang mengikuti Tomi keluar vila.
"Kita cari angkot. Agak jauh jalannya. Kamu kuat kan?" sahut Tomi.
"Mobil kamu?" Laras tahunya Tomi memiliki mobil pribadi.
"Mm. Aku tinggal di kantor," jawab Tomi setelah berfikir sejenak.
Laras mengangguk saja tanpa komentar lagi. Kemarin berangkatnya, Laras dijemput mobil kantor. Begitu sih kata Tomi. Padahal itu cuma taksi online.
Kalau sekarang, Tomi mengajak Laras naik angkot. Karena ongkos angkot jauh lebih murah dari taksi online.
"Di sana ada taman yang bagus, Ras. Kamu mau foto dulu di sana?"
Laras jelas mengangguk, karena nanti bisa dia pamerkan di medsos.
Karena hape Laras lowbath, mereka berfoto menggunakan hape Tomi.
"Ras, kita foto berduaan ya. Sekalian buat foto prewedding. Nanti kita minta tolong orang buat mengambilnya," pinta Tomi.
Laras sangat bahagia mendengarnya. Tomi yang sudah mengambil mahkotanya, akan segera menikahinya.
Dengan berbagai gaya mereka berpose, bak model terkenal. Meski dengan pakaian seadanya.
"Makasih ya, Mas," ucap Tomi pada seorang laki-laki seumurannya yang kebetulan sedang melintas di dekat taman.
"Coba lihat hasilnya." Laras berdiri di sebelah Tomi yang sedang membuka galerynya.
"Bagus-bagus banget, Tom. Nanti kirim ke nomorku, ya?" pinta Laras.
"Iya, pasti. Yuk pulang," ajak Tomi. Hari ini dia bolos kerja. Tadi sudah menghubungi manajernya. Dia beralasan sakit.
Mereka berjalan lagi hingga ke tempat pangkalan angkot. Laras mengambil nafas yang ngos-ngosan.
"Capek, Tom. Boleh enggak beli minum dulu," pinta Laras.
Tomi mengangguk karena dia juga sangat haus. Tomi membeli sebotol air mineral. Lalu membukakannya pada Laras lebih dulu.
"Lady's firsth," ucap Tomi. Membuat Laras tersipu dan merasa sangat dihargai.
Mereka harus naik angkot dua kali untuk sampai di rumah Laras. Tomi akan mengantarkan Laras lebih dulu.
Sampai di dekat gang rumah Laras, mereka turun dari angkot.
__ADS_1
"Kamu berani ketemu ayahku? Ayah bakalan marah karena kita baru pulang sekarang," ucap Laras.
"Enggak apa-apa, Ras. Nanti aku mau bilang ke ayah kamu, kalau aku sudah siap menikahimu," sahut Tomi.
Laras menggenggam tangan Tomi. Ingin rasanya dia memeluk Tomi, tapi sadar mereka masih di jalanan.
Di tengah jalan, mereka bertemu dengan Beni, anaknya Yanti pemilik warung. Beni hanya menatap Laras saja. Hatinya sangat dongkol. Dia yang selalu mengharapkan Laras, malah orang lain yang mendapatkannya.
Namun saat Beni bersitatap dengan Tomi, dia sangat terkejut.
Tomi, dia bilang tadi sakit. Kenapa malah ke rumah Laras? Dan kenapa dia bersama Laras? Apa dia pacarnya Laras? Berbagai pertanyaan muncul di benak Beni.
Tomi pun tak kalah terkejutnya. Dia bukannya Beni? Teman kerjanya, sama-sama sebagai dept collector.
"Hey, Tomi!" Beni sengaja menyapa Tomi meski hatinya diliputi kecemburuan.
"Beni! Rumah kamu di sini?" tanya Tomi.
"Iya. Kamu tadi katanya sakit?" tanya Beni.
Tomi hanya nyengir saja. Lalu tanpa banyak bicara lagi, meninggalkan Beni yang masih dongkol melihat kemesraan mereka.
"Siapa, Ben?" tanya Yanti yang kebetulan keluar.
"Itu teman Beni. Dia bolos kerja, alasannya sakit. Malah datang bersama Laras. Entah darimana mereka," jawab Beni, lalu pamit pada Yanti untuk kembali menagih ke beberapa customer perusahaan leasingnya.
"Kamu kenal sama Beni?" tanya Laras.
"Iya. Dia anak buahku," jawab Tomi. Dia kan ngakunya jadi manager.
"Oh. Tapi kok tadi Beni bilang kamu sakit? Kamu kan managernya, mestinya dia menghargai kamu dong?" tanya Laras.
"Udah, enggak usah dipikirin. Dia memang seperti itu. Paling sebentar lagi aku pecat," sahut Tomi.
Laras mengangguk. Dia juga tidak menyukai Beni. Meski sikap Beni selalu baik padanya. Tapi Laras merasa kurang suka.
"Sebentar ya, Tom. Aku buka pintu dulu dari dalam." Laras masuk lewat pintu samping.
"Ayah mana, Ken?" tanya Laras yang melihat Niken dan Ayu duduk di lantai sambil memegangi perutnya.
"Enggak tau! Aku bangun, ayah udah enggak ada," jawab Niken.
"Oh, ya udah." Laras berjalan begitu saja melewati kedua adiknya. Dia tidak berniat bertanya. Karena sudah tahu jawabannya.
"Masuk, Tom." Laras membukakan pintu depan.
__ADS_1
"Ayah kamu mana?" Tomi berniat ketemu Rasyid sebentar untuk memulangkan Laras.
"Kata Niken, ayah pergi dari tadi," jawab Laras.
"Oh. Ya udah, kalau begitu aku langsung pulang aja deh. Nanti malam kalau bapak dan ibuku ada waktu, aku ajak ke sini. Tapi enggak usah ditunggu. Nanti aku kabari kalau mereka jadi ke sini," ucap Tomi. Dia tak mau menjanjikan lagi pada Laras. Takutnya kedua orang tuanya menolak.
"Enggak nunggu ayah?" tanya Laras. Dia takut menghadapi ayahnya sendirian.
"Enggak, deh. Aku buru-buru harus ketemu bos. Kamu dengar sendiri kan bagaimana omongan si Beni tadi. Pasti akan bikin masalah," jawab Tomi.
Laras mengangguk mengerti. Dia makin tak suka saja pada Beni.
"Aku pulang dulu, ya." Tomi mengecup kening Laras dengan lembut. Laras tersenyum bahagia.
Tomi pun kembali ke jalan utama untuk mencari angkot. Dia akan ke rumah Yoga. Mengembalikan kunci vila yang dipinjamnya. Dia juga akan mengambil motor yang ditinggalnya di sana.
"Kak, kami lapar!" ucap Niken. Sejak bangun tadi, dia dan Ayu belum makan apapun.
"Sama. Aku juga lapar," jawab Laras, lalu masuk ke kamarnya. Dia akan mengechas hapenya. Lalu tidur. Dia sangat capek karena ulah mereka semalaman. Bahkan dilanjut lagi pagi harinya. Belum lagi tadi berjalan kaki cukup jauh.
Niken merasa kesal pada Laras. Hari ini dia harus kembali menahan lapar, entah sampai kapan.
"Kak. Ayu lapar," ucap Ayu pada Niken.
Niken melotot ke arah Ayu. Dia sendiri saja sangat lapar dan tak punya solusi.
Niken masuk ke kamar mandi. Dia akan pergi ke rumah temannya sekolahnya. Siapa tahu di sana ditawari makan.
"Mau kemana, Kak?" tanya Ayu.
"Ke rumah teman sekolahku!" jawab Niken ketus.
"Memang teman Kakak sudah pulang?" Ayu melihat jam di dinding masih menunjukan angka dua.
"Oh iya. Jam empat paling enggak ya?" Niken mengurungkan niatnya.
Sebenarnya Ayu masih menyimpan uang dua puluh ribuan yang dikasih Rasyid untuk membeli plester Laras waktu itu.
Tapi kalau dia bilang, pasti akan diambil semua oleh Niken. Dia tahu sekali sifat Niken yang serakah dan jahat padanya.
Akhirnya Ayu masuk ke kamarnya dan kembali tidur. Ayu berharap bisa bermimpi makan dan saat bangun nanti dia sudah kenyang.
Niken mendengus kesal melihat Laras yang sudah tertidur dan Ayu juga sudah meringkuk di atas tempat tidur.
Niken menjerit dengan kencang.
__ADS_1
"Ayah! Aku lapar!"
Tapi sayangnya tak ada satu pun yang mempedulikannya.