
Malam setelah melayani Cyntia, Tomi membuka hapenya. Tadi dia sempat mendengar suara panggilan dari hapenya dan beberapa pesan masuk.
Tapi karena sedang nanggung, Tomi mengabaikannya. Meskipun membuat konsentrasinya bercinta dengan Cyntia sedikit buyar.
"Telpon dari siapa?" tanya Cyntia yang masih tak berpakaian sambil memeluk Tomi dari belakang.
"Laras," jawab Tomi yang duduk di pinggiran tempat tidur. Juga masih tanpa sehelai benangpun.
"Laras pacar kamu?" tanya Cyntia sambil menciumi punggung Tomi.
"Iya." Lalu Tomi membuka pesan chat yang dikirimkan oleh Laras.
"Aku mau telpon Laras dulu. Madam jangan bersuara dulu, ya," pinta Tomi.
Cyntia mengangguk. Dia sangat paham maksud Tomi. Dan diapun tak mau merusak hubungan Tomi dengan Laras.
Berkali-kali Tomi menelpon Laras, tapi tak diangkat. Jarum jam sudah menunjukan angka dua belas. Pastinya Laras sudah tidur.
"Coba aja sekali lagi, Tom. Mungkin dia akan dengar," ucap Cyntia.
Tomi pun menurut. Dia men-dial nomor Laras sekali lagi. Rasa penasaran membuat Tomi ingin segera tahu permasalahannya.
Di chatnya Laras hanya bilang kalau dia ingin bicara. Ada masalah yang sangat penting. Dan Cyntia tahu itu. Makanya menyuruh Tomi supaya tidak patah semangat.
Dan benar saja. Laras yang berkali-kali mendengar suara dering hapenya, akhirnya terbangun.
"Tom....kamu di mana? Aku butuh bantuan kamu," ucap Laras begitu mengangkat telpon Tomi.
"Aku di rumah temanku, Ras. Ada apa?" tanya Tomi dengan perasaan cemas.
"Tom. Tanto...Tom." Tiba-tiba Laras menangis. Dia sangat sedih dengan kondisi psikis Niken yang sangat terguncang akibat peristiwa tadi.
"Tanto? Ada apa dengan dia?" Tomi mengencangkan suaranya.
Cyntia yang dari tadi memeluk punggung Tomi, segera melepaskannya. Dia juga penasaran dengan apa yang dikatakan Laras.
"Tadi Tanto ke rumah. Di rumah hanya ada Niken dan Ayu yang lagi tidur. Lalu...." Laras kembali menangis.
"Lalu apa, Ras?" tanya Tomi.
Laras berusaha menghentikan isakannya dan mengelap ingusnya dengan punggung telapak tangan.
"Tanto mau memperkosa Niken. Dia....mencumbui Niken dengan paksa dan juga meraba-raba dada Niken." Laras kembali menangis.
"Gila! Ini benar-benar gila!" maki Tomi dengan emosi.
__ADS_1
"Ya udah, aku sekarang juga ke rumah kamu!" Lalu Tomi menutup telponnya. Dia tak peduli kalau sekarang sudah tengah malam.
Dia sangat marah mendengar kelakuan Tanto pada calon adik iparnya.
"Aku ke rumah Laras dulu, ya," ucap Tomi pada Cyntia.
"Sebentar, Tom. Apa Tanto yang dimaksud Laras itu, Tanto anak buahku?" tanya Cyntia.
"Iya. Siapa lagi? Bangsat itu anak! Masih belum puas sama tante-tante, anak ingusan diembat juga." Tomi segera memakai pakaiannya.
Cyntia pun meraih pakaiannya sendiri dan mengenakannya. Dia juga ikut marah dengan kelakuan Tanto yang sangat tak bermoral.
"Tom. Kamu tenangkan Laras dan adiknya. Aku bereskan Tanto. Enggak usah khawatir, besok dia tak akan sempat menyesali perbuatannya," ucap Cyntia.
Tomi menatap wajah Cyntia. Dia tak paham apa maksud perkataan Cyntia.
"Apa maksudmu, Madam?" tanya Tomi perlahan.
Cyntia tersenyum penuh arti. Tomi memang orang baru di dunia hitam yang lama digeluti Cyntia. Dan Tomi belum tahu konsekuensi apa yang akan didapat kalau ada kecurangan apalagi perbuatan yang biadab.
"Kamu lihat aja besok. Itu juga akan jadi pelajaran buat kamu, Tom," jawab Cyntia.
Jantung Tomi seperti mau copot mendengarnya. Perkataan Cyntia barusan penuh dengan ancaman. Tapi apa Cyntia serius dengan omongannya barusan?
"Apa yang akan kamu lakukan pada Tanto, Madam?" tanya Tomi penasaran.
Tomi menggeleng. Jelas dia sangat tidak terima. Terlebih, Tomi sangat tidak suka pada Tanto.
Tomi pasti akan membuat perhitungan dengan Tanto. Dan ini urusan lelaki. Dia akan selesaikan dengan cara laki-laki.
Tapi Cyntia? Apa yang akan dilakukannya pada Tanto? Apa Cyntia akan mencabut semua akses Tanto untuk mendapatkan job darinya? Tanya Tomi dalam hati.
"Udahlah jangan kamu pikirkan soal Tanto. Dia akan jadi urusanku. Yang harus kamu lakukan sekarang adalah menenangkan Laras dan keluarganya. Pergilah, Tom. Mereka sangat membutuhkanmu," ucap Cyntia.
Kalau menyangkut urusan keluarga, Cyntia sangat respek. Dia sangat menghargai arti keluarga. Hal yang telah lama hilang dari kehidupannya.
Tomi mengangguk. Lalu mencium pipi Cyntia sekilas.
"Baiklah, Madam. Aku pergi dulu. Kabari aku kalau ada apa-apa," ucap Tomi.
Cyntia mengangguk. Dia mengelus pipi Tomi perlahan. Tomi yang sudah dianggapnya seperti adik sendiri. Meskipun Cyntia selalu merindukan belaian hangat dan permaianan ranjang dari Tomi.
Tomi melajukan motornya ke rumah Laras. Sepanjang perjalanan, pikirannya tertuju pada ucapan Cyntia.
Dia penasaran apa yang akan dilakukan Cyntia pada Tanto. Untuk melawannya langsung jelas tak mungkin.
__ADS_1
Meski badan Cyntia besar, tapi tak akan bisa melawan Tanto yang masih muda dan kuat.
Lalu apa Cyntia akan menyuruh orang lain untuk memberi palajaran pada Tanto?
Tomi ingat ucapan Cyntia tadi, kalau besok Tanto tak akan sempat menyesali perbuatannya. Apa itu maksudnya, Cyntia akan menghabisi Tanto?
Tomi bergidig sendiri membayangkannya. Bagaimana mungkin seorang Cyntia yang terlihat lembut, punya jiwa psikopat?
Tak terasa Tomi sampai di rumah Laras. Rumah itu masih terlihat terang.
Lalu Tomi memarkirkan motornya di halaman samping. Pintu sampingpun masih terbuka.
"Assalamualaikum." Tomi mengetuk pintu yang tidak tertutup.
"Waalaikumsalam." Laras keluar dari kamar. Dia memang sengaja menyalakan lampu dan membuka pintu samping, karena tahu kalau Tomi bakal datang malam ini.
"Tom...." Laras langsung menghambur ke pelukan Tomi.
Tomi pun membalas pelukan Laras dengan erat. Ada rasa kangen juga pada kekasihnya ini.
"Kamu belum tidur?" tanya Tomi sambil membelai punggung Laras.
"Udah tadi. Kamu telpon, aku jadi bangun. Sekarang enggak bisa tidur lagi," ucap Laras.
Laras melepaskan pelukannya.
"Masuk, Tom. Ketemu ayah dulu. Ayah di ruang tamu," ajak Laras.
Tomi pun menurut. Bagaimana pun, dia mesti ketemu Rasyid untuk tahu permasalahannya.
"Malam, Om," sapa Tomi.
Rasyid yang sudah tahu kedatangan Tomi hanya melirik sekilas. Hatinya sedang tak baik-baik saja. Rasyid merasa hancur dengan kejadian tadi.
Meskipun Tanto belum melakukan yang lain, tapi bagi Rasyid, ini adalah sebuah pukulan yang sangat menyakitkan.
"Boleh duduk, Om?" tanya Tomi dengan sopan.
Rasyid hanya menggeser duduknya. Mulutnya terasa terkunci rapat.
"Saya akan membantu memberi pelajaran pada Tanto, Om. Besok saya pastikan Tanto akan menyesali perbuatannya," ucap Tomi.
Rasyid menatap wajah Tomi dengan tajam. Melihat badan Tomi yang lebih kecil dari badan Tanto, membuat Rasyid ragu.
"Om, tak perlu ragu. Saya banyak teman yang akan menghancurkan Tanto. Percayalah, Om." Tomi berusaha meyakinkan calon bapak mertuanya.
__ADS_1
"Apa yang akan kamu lakukan?" tanya Rasyid.
"Kita tunggu kabar dari teman saya, Om," jawab Tomi dengan yakin. Padahal yang akan melakukannya adalah Cyntia.