KARMA : Sang Pemburu Wanita Di MEDSOS

KARMA : Sang Pemburu Wanita Di MEDSOS
Bab 79 SALING MENUTUPI


__ADS_3

Maya sampai di rumahnya setengah jam kemudian. Dia langsung masuk kamarnya dan berganti pakaian rumahan. Seolah dia tak habis pergi dari manapun.


"Masak apa, Mbok?" tanya Maya pada Solihah alias Lili.


"Ini, Nyah. Saya masak capcay sama telur dadar kesukaan Nyonya," jawab Lili memperlihatkan hasil masakannya.


"Ooh. Ya sudah. Sajikan yang rapi. Sebentar lagi tuan datang. Jangan bilang sama tuan kalau semalam aku enggak pulang." Maya berjalan melenggang ke ruang tamu.


Suaminya, Ricko sedang dalam perjalanan katanya. Jadi dia mau menunggu di ruang tamu saja. Sebelum Ricko bertemu dengan ART-nya yang suka keceplosan kalau ngomong.


Dan benar saja, tak sampai setengah jam, Ricko sudah datang.


"Kok tumben pagi-pagi udah sampai, Pa? Memangnya pakai pesawat jam berapa?" tanya Maya saat Ricko sudah duduk di ruang tamu. Dia sedang melepas sepatunya.


"Jam lima, Ma. Abisnya udah kangen banget sama kamu. Tiga hari gak ketemu serasa tiga tahun," jawab Ricko menggombali istrinya.


Kenyataannya, dia semalam bermalam di apartemen barunya yang belum diketahui oleh Maya bersama Ratih, kekasih barunya.


"Gombal, ih. Udah tua masih gombal-gombalan," sahut Maya.


"Beneran, Ma. Papa enggak menggombal." Ricko langsung menarik tangan Maya untuk ke kamar.


Maya menurut saja. Padahal kalau boleh protes, dia sudah sangat capek. Semalaman dia bertempur dengan Tomi berkali-kali.


Tapi demi menutupi kelakuannya, dia menurut apapun yang dimaui Ricko.


Dan Ricko sendiri tak kalah capeknya. Semalaman juga dia bertempur dengan Ratih yang jauh lebih panas dari Maya.


Secara, Ratih masih lebih muda. Dan lagi, Ratih jarang bertempur karena tak punya pasangan. Jadi sekalinya bertempur, bisa kuat berkali-kali.


Tapi demi menutupi kelakuannya juga, dia akan pura-pura menginginkan Maya.


Sampai di kamar, Ricko mencumbui Maya yang sekarang dirasanya sudah hambar.


"Papa enggak mandi dulu?" Maya berusaha mengelak dengan halus. Dia khawatir, staminanya yang belum benar-benar pulih, tak bisa memuaskan Ricko.


"Memangnya Papa bau, ya?" Ricko mencium keteknya sendiri.


Enggak bau, kok. Aku kan sudah mandi tadi pagi-pagi sebelum pulang. Malah mandi berdua dengan Ratih. Batin Ricko.


Dengan telaten, tadi Ratih menyabuni dan menggosok sekujur tubuhnya. Ricko mengingat kembali perlakuan Ratih yang sangat sabar padanya.


"Ya sudah, Papa mandi dulu," sahut Ricko. Kesempatan baginya untuk menghindari kecurigaan Maya.


Di kamar mandi, Ricko yang masih mengantongi hapenya, malah menelpon Ratih. Meski baru saja bertemu, dia sudah merasa kangen lagi.


Maklum saja, hubungan mereka sedang hangat-hangatnya. Dan saat bertemu semalam, mereka langsung panas.


Saat Ratih mengangkatnya, Ricko malah mengubah panggilan suaranya ke video call.

__ADS_1


Kamar mandi yang luas dan kedap suara, membuat Ricko bebas tanpa khawatir Maya akan mendengarnya.


"Ada apa, Mas?" tanya Ratih yang sedang berada di rumah kakaknya. Dia sedang menyiapkan anaknya ke sekolah.


"Enggak apa-apa. Kangen aja," jawab Ricko dengan lebay. Gayanya sudah seperti anak yang baru gede.


"Baru juga ketemu." Ratih mengecilkan suaranya, takut didengar kakaknya.


"Memangnya enggak boleh kangen lagi?" Ricko merasa tak bisa menahan kerinduannya.


"Boleh. Eh, kamu lagi dimana, Mas?" tanya Ratih.


"Di kamar mandi, Sayang."


Mendengar panggilan sayang dari Ricko, wajah Ratih langsung merona.


"Mama video call sama siapa?" tanya Sinta yang tiba-tiba sudah di dekatnya.


Spontan Ratih mematikan hapenya.


"Mmm....sama teman kerja Mama, Sayang. Kamu sudah siap?" tanya Ratih. Dia langsung mengalihkan perhatian Sinta, anak semata wayangnya.


"Sudah, Ma. Kita berangkat sekarang, yuk," ajak Sinta.


Ratih yang juga sudah rapi, beranjak dari duduknya.


"Mbak Tari! Kami berangkat dulu!" seru Ratih dari ruang tamu rumah Tari, kakaknya.


"Sudah, Ma. Bude lagi cuci piring," jawab Sinta.


"Iya! Berangkat aja, aku lagi nanggung!" seru Tari juga dari dapur. Tangannya masih penuh dengan busa sabun.


Dengan motornya, Ratih mengantar Sinta dulu ke sekolah. Baru dia berangkat ke tempat kerjanya.


Ratih bekerja di sebuah bank perkreditan. Semenjak berpisah dengan suaminya, mau tidak mau dia harus kembali bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup.


Mantan suaminya sudah tak menafkahinya lagi. Dia sudah melupakannya juga Sinta, anak mereka satu-satunya.


Untung ada Tari dan Surya, kakak-kakaknya yang selalu membantu. Dua kakaknya ini belum ada yang berumah tangga.


Surya sekarang dipindah tugaskan oleh perusahaan tempatnya bekerja ke cabang lain, di luar kota. Jadi untuk urusan sekolah Sinta, Ratih mesti siap antar jemput.


Kecuali Tari sedang tak ada kerjaan, baru dia akan membantu menjemput.


Tari sebagai pedagang online, kadang harus sibuk kesana kesini mengantar barang-barang pesanan pelanggannya.


Sampai di depan sekolah, Sinta turun dari motor dan menyalami tangan Ratih.


"Belajar yang bener ya, Sayang." Ratih meraih tubuh Sinta dan mencium pipi anaknya.

__ADS_1


"Iya, Ma. Daaah." Sinta segera melepaskan diri dan berlari masuk.


"Pagi, Cantik...." sapa Rasyid yang baru datang.


Ayu juga sudah berlari masuk. Sebentar lagi bel akan berbunyi, tanda gerbang sekolahan akan ditutup.


Ratih menoleh dan langsung terkejut.


Rasyid, gumamnya dalam hati. Kenapa harus ketemu dia lagi sih?


Ratih merasa belum siap ketemu Rasyid, setelah kejadian tadi malam. Tapi apa mau dikata, sudah terlanjur ketemu.


"Eh, Mas Rasyid. Pagi juga," sahut Ratih.


"Cantik sekali kamu pagi ini," puji Rasyid.


Ratih merasa biasa-biasa saja. Penampilannya tak ada yang istimewa. Ratih hanya tersenyum, lalu menstater motornya.


"Kok buru-buru? Mau kemana? Kita sarapan dulu, yuk," ajak Rasyid.


Lagaknya sudah seperti orang berduit. Padahal dompetnya kosong melompong.


"Mau kerja, Mas. Maaf, aku tadi udah sarapan di rumah kakakku," sahut Ratih menolak ajakan Rasyid.


"Wah, telat dong aku ngajaknya," ucap Rasyid. Dia pura-pura sedih.


Padahal bakalan sedih lagi kalau Ratih menerima ajakannya. Mau bayar pakai apa?


"Aku duluan ya, Mas." Ratih yang sedang tak mau bicara panjang lebar dengan Rasyid, langsung melajukan motornya.


Wanita yang luar biasa. Cantik. Mandiri. Aku harus mendapatkan kamu, Ratih. Gumam Rasyid dalam hati.


Rasyid memperhatikan Ratih, sampai tak terlihat lagi. Barulah dia melajukan motornya.


Di tengah jalan, dia bertemu dengan Lili yang akan ke pasar. Lili sedang menunggu angkot setelah turun dari angkot pertama.


Rasyid menghentikan motornya.


"Mau kemana, Li?" tanya Rasyid.


"Eh, Bang Kahlil. Mau ke pasar," jawab Lili. Dia berharap Rasyid menawari mengantarkannya.


Dan harapan Lili terwujud. Rasyid menawarinya. Tanpa banyak bertanya, Lili langsung naik ke motor Rasyid.


Rasyid yang berharap mendapatkan makan pagi gratis, rela menunggui Lili selesai belanja. Syukur-syukur dapat bensin juga rokok.


"Aku lama lho, Bang," ucap Lili sebelum masuk ke pasar.


Tadi Maya menyuruhnya belanja keperluan bulanan di pasar saja. Maya lagi malas belanja ke supermarket.

__ADS_1


"Enggak apa-apa. Aku setia menunggumu, Cantik," sahut Rasyid menggombal.


Wajah Lili langsung merona. Hatinya berbunga-bunga.


__ADS_2