KARMA : Sang Pemburu Wanita Di MEDSOS

KARMA : Sang Pemburu Wanita Di MEDSOS
Bab 120 JANJI NIKEN


__ADS_3

Tomi tidur sampai menjelang sore. Kepalanya sampai terasa pegal.


Tomi menggeliatkan badannya. Dan karena terlalu lama tidur, membuatnya kelaparan. Di rumah Cyntia bisa dipastikan tak ada makanan apapun.


Biasanya Cyntia yang punya hobi memasak, selalu ada makanan di meja makan. Tapi hari ini Cyntia pergi.


Mau tidak mau Tomi harus mencari makan sendiri keluar.Tomi membasuh wajahnya di wastafel sebelum pergi.


Baru saja Tomi mau pergi, Laras menelponnya. Dia meminta tolong Tomi menjemput Niken di sekolah.


Kata Laras, mereka tak bisa menjemput. Karena sore ini Rasyid mengajaknya ke rumah temannya setelah menjemput Ayu.


Tomi pun tak bisa menolak. Kasihan juga kalau Niken mesti jalan kaki dari sekolahnya.


"Oke. Aku jemput. Kebetulan pekerjaanku udah selesai," jawab Tomi. Lalu menutup telponnya dan melaju ke sekolah Niken.


"Kak Tomi!" seru Niken dengan mata berbinar. Niken sudah sangat merindukan calon kakak iparnya ini.


"Ayahmu enggak bisa jemput. Katanya pergi ke rumah temannya sama Laras juga Ayu," ucap Tomi.


"Iya, Kak. Enggak apa-apa. Lagian aku lebih suka dijemput Kak Tomi," sahut Niken.


Niken langsung naik ke motor dan memeluk Tomi dari belakang dengan erat.


Tomi menghela nafasnya. Ini lagi, anak kecil malah terus saja menggoda. Bagaimana kalau aku khilaf? Batin Tomi.


"Kita makan dulu, ya. Aku laper banget," ajak Tomi.


"Iya, Kak. Niken juga laper. Dari pagi belum makan," sahut Niken.


Tomi membawa Niken ke warung makan. Dan mereka makan dengan lahap. Sama-sama kelaparan.


"Mau nambah enggak?" tanya Tomi.


"Enggak, Kak. Udah kenyang," jawab Niken. Niken sudah makan dengan porsi dua kali porsi makan Laras.


"Kirain masih laper," sahut Tomi.


"Enggaklah. Nanti badanku makin mekar."


"Baguslah. Biar kayak pemain gulat," goda Tomi sambil tertawa.


"Iih, apaan sih. Kalau kedengeran orang kan malu," sahut Niken.


"Kenapa harus malu? Banyak kok cewek seumuran kamu yang gendut. Dan mereka enggak malu," ucap Tomi masih saja menggoda Niken.


"Kakak....iih." Niken tersipu malu.


"Udah yuk pulang," ajak Tomi. Dia juga sudah sangat kenyang.

__ADS_1


Setelah membayar makanannya, mereka pun pulang. Dan seperti yang dikatakan Laras tadi, di rumah tak ada siapapun. Mereka pergi ikut Rasyid ke rumah temannya.


Niken mengambil kunci rumah di atas pintu samping. Lalu langsung masuk ke kamarnya menaruh tas.


Tomi berjalan ke ruang tamu. Lalu menyalakan rokoknya.


Niken yang belum berganti pakaian, menghampiri Tomi.


"Kakak mau kopi?" tanya Niken.


"Boleh," jawab Tomi. Satu tangannya memegang rokok, tangan satunya membuka ponselnya.


Niken ke dapur membuatkan kopi. Masih ada sisa satu sachet.


"Ini, Kak." Niken meletakan gelas kopi di meja.


"Iya. Makasih." Tomi lagi sibuk membalas pesan dari Voni. Mereka janjian nanti malam ketemuan.


Tomi jelas tak mau menyia-nyiakan kesempatan itu. Lumayan buat pemasukan, sementara Cyntia belum kasih job lagi.


Niken menyandarkan kepalanya di bahu Tomi. Sekilas dia membaca pesan yang sedang diketik Tomi.


"Soal kerjaan ya, Kak?" tanya Niken.


"Iya. Nanti malam aku mesti menemui orang," jawab Tomi.


"Kok cewek?" tanya Niken.


"Kak."


"Iya."


"Kenapa Kakak mesti menikah dengan kak Laras?" tanya Niken. Dia masih menyandarkan kepalanya di lengan Tomi.


"Masa pacaran terus. Memangnya kamu enggak suka?"


Niken diam sejenak. Dia berharap, Tomi tak menikahi kakaknya. Tapi menunggunya sampai lulus sekolah, dan menikahinya.


"Suka sih. Tapi nanti kita enggak bisa kayak begini, dong," sahut Niken.


"Kayak begini, gimana?" Tomi pura-pura bego.


"Ngobrol berdua sama Kakak," jawab Niken.


Sejak dekat dengan Tomi, Niken merasa nyaman dan punya teman. Sebab sehari-hari di rumah tak ada yang bisa lagi diajak ngobrol.


Laras sibuk dengan pekerjaan rumah. Kalau sudah selesai, Laras malah fokus pada novel online-nya.


Apalagi Rasyid, dia hanya sibuk dengan medsosnya saja. Hampir tak ada lagi waktu untuk ngobrol dengan anak-anaknya.

__ADS_1


Ayu, masih terlalu kecil. Dan dia sibuk dengan boneka-bonekanya saja.


Niken merindukan sosok yang punya waktu untuknya ngobrol dan juga memberi kenyamanan. Seperti yang dia dapatkan dari Tomi sekarang.


"Bisalah. Masa ngobrol aja enggak bisa." Tomi menowel hidung Niken.


Niken tersipu malu. Jujur didalam hatinya, mulai tumbuh getaran-getaran saat berduaan dengan Tomi.


Apalagi setelah kejadian pagi itu. Dimana Tomi pernah menyentuhnya, meski itu terjadi karena salah orang.


"Memangnya kakak mau tinggal disini juga?" tanya Niken ngarep.


"Ya enggaklah. Kalau aku tinggal disini, mau tidur dimana? Masa iya kita tidur bertiga," jawab Tomi.


"Enggak apa-apa, Kak. Kan tempat tidurnya bisa dilepas. Kita tidur di lantai," sahut Niken. Dia tak paham kalau suami istri butuh tempat dan waktu untuk berdua saja.


"Ngaco aja, kamu. Kalau aku sudah nikah sama Laras, ya kami harus punya kamar sendiri. Kamu mau tidur diluar?" tanya Tomi.


"Kenapa harus berdua?" Mata Niken menatap mata Tomi dengan tajam. Membuat Tomi gemas ingin menerkamnya. Tapi Tomi sadar kalau Niken adalah calon adik iparnya. Lagi pula usia Niken masih sangat muda.


"Kamu itu masih kecil. Belum paham apa arti pernikahan. Udah, ah. Sana belajar. Atau ganti pakaian kamu. Ini besok dipakai lagi, kan?" Tomi mengusir Niken dengan halus. Sebab dia tak mau terlalu dekat dengan Niken saat sepi begini. Tomi takut khilaf.


"Ish, males banget."


Tomi memberi tanda agar Niken menuruti omongannya.


Sambil mendengus kesal, Niken berjalan ke kamarnya. Hanya ganti pakaian saja. Kalau belajar, pasti tidak akan konsentrasi. Karena pikirannya masih pada Tomi.


Niken kembali ke ruang tamu. Tomi pun sedang asik lagi dengan ponselnya.


"Udah, Kak," ucap Niken.


"Hhmm!"


"Kok cuma hhmm, sih. Lihat sini dong." Niken mulai merajuk. Dia merasa diabaikan. Padahal pinginnya, disaat sepi begini, dia bisa bermesraan dengan calon kakak iparnya ini.


Tomi melihat ke arah Niken sekilas. Tak ada yang istimewa, semua masih terlihat natural. Bahkan terlalu kekanak-kanakan.


Niken kembali duduk dan menyandarkan tubuhnya ke lengan Tomi.


Aduh, ini anak benar-benar menguji imanku. Mungkin kalau lelaki lain, bakal diembat.


Hhh! Tomi mengusap wajahnya. Berusaha menahan diri untuk tidak lagi menyentuh Niken.


"Ken...ingat, ya. Kedekatan ini rahasia kita. Jangan sampai orang lain tau. Dan apa yang pernah aku lakukan padamu, jangan pernah kamu lakukan pada lelaki lain," ucap Tomi.


Bukan Tomi bermaksud ingin menguasai hidup Niken, tapi dia tak mau Niken terjerumus pergaulan bebas dengan lelaki lain.


Apalagi lelaki yang tidak jelas juntrungannya. Bisa-bisa malah Niken nanti dijadikan kayak piala bergilir.

__ADS_1


"Iya, Kak. Niken ingat itu," sahut Niken menurut. Dia berjanji tak akan pernah mau didekati lelaki lain, apalagi sampai disentuh.


__ADS_2