KARMA : Sang Pemburu Wanita Di MEDSOS

KARMA : Sang Pemburu Wanita Di MEDSOS
Bab 23 BUKAN MODUS


__ADS_3

Bel sekolah sudah berbunyi. Anak-anak yang baru datang langsung berlarian karena tak mau kalau sampai pintu gerbang di tutup dan mereka tak bisa lagi masuk ke dalam.


"Maaf, Pak. Bel sudah berbunyi. Pintu gerbangnya akan saya tutup," ucap pak Slamet.


"Lho, maksudnya?" tanya Rasyid tak mengerti.


"Bapak silakan menunggu di luar. Dan kalau sudah bel berbunyi, dilarang merokok di area sekolah, Pak," sahut pak Slamet.


Rasyid hanya bisa menelan ludahnya. Dia sedang asik menikmati kopi dan satu batang rokok, sudah harus keluar.


"Ya sudah. Saya tunggu di luar. Boleh saya bawa gelas kopinya, Pak. Sayang masih setengah," sahut Rasyid.


"Oh, silakan Pak Rasyid. Nanti kembalikan saja ke warung kopi di situ." Pak Slamet menunjuk warung di sebelah pos.


"Siap Pak Komandan." Rasyid mengambil sikap sempurna seperti seorang tentara.


Rasyid pun keluar dan berjalan menuju warung kopi sebelah pos.


"Pak, saya numpang duduk di sini ya. Ngabisin kopi yang dipesan pak Slamet tadi," ucap Rasyid pada penjual kopi.


"Silakan, Pak," jawab penjual kopi. Orangnya tak terlalu ramah. Rasyid menangkap dia tak akan dapat apapun di sini. Malah bisa-bisa dia akan diusir kalau kelamaan duduk.


Rasyid menghabiskan kopinya lalu berjalan menuju motor yang diparkirkannya di depan pos.


Di atas motor, Rasyid menghubungi Lili. Dia akan menagih janji Lili yang katanya mau ngasih uang padanya dua ratus ribu.


Kok centang satu. Tumben. Batin Rasyid. Dia barusan mengirimkan pesan teks ke nomor Lili.


Kemana dia? Atau aku mesti ke rumahnya saja? Kebetulan kan rumah Lili tak terlalu jauh dari sekolah Niken.


Tanpa pikir panjang lagi, Rasyid melajukan motornya ke rumah Lili.


Sampai di depan gerbang rumah Lili, masih seperti kemarin, dijaga oleh satpam. Rasyid memarkirkan motornya di depan gerbang.


Kali ini aku harus lebih berani ngomong kalau satpam itu mengusirku. Masa tamu majikan diusir lagi. Batin Rasyid.


Rasyid mengetuk pintu gerbang dengan cincin besar yang dipakainya.


Satpam yang kemarin datang lagi. Dia tetap berdiri di balik pintu gerbang tanpa berniat membukanya sama sekali.


"Kamu lagi!" Satpam itu masih mengenali Rasyid. Karena pakaian yang dikenakan Rasyid masih sama. Karena dia memang belum mandi apalagi ganti pakaian.

__ADS_1


"Selamat pagi, Komandan. Saya mau ketemu majikan kamu. Bisa kan dipanggilkan?"


"Anda terlambat, Pak. Majikan saya baru saja pergi dengan suaminya. Kalau boleh saya tau, siapa nama anda dan ada perlu apa dengan majikan saya? Biar nanti sore kalau mereka pulang, saya sampaikan," sahut Junaedi.


"Kalau begitu, biar nanti sore saja saya kembali!" sahut Rasyid dengan kesal.


Andai saja majikannya masih ada di rumah itu, Rasyid akan berusaha merangsek masuk. Tapi karena katanya sudah pergi, mau dikata apa.


Sementara Lili melihat Rasyid dari balkon di lantai dua. Dia sedang menyapu di sana.


Lili bersembunyi agar tak terlihat oleh Rasyid. Dia tak mau terjadi masalah kalau Rasyid sampai tau keberadaannya. Karena sekarang tak sebebas kemarin-kemarin.


Apalagi kemarin sore majikannya malah mendatangkan satu ART lagi buat membantu Lili. Karena ART yang katanya cuti malah tidak mau kembali bekerja.


Lili bersembunyi sampai motor Rasyid menghilang dari pandangannya.


"Ngapain di situ, Mbok Sol?" tanya Nur, ART baru yang usianya jauh lebih muda dari Lili.


"Ah, enggak. Sudah sana kamu bersihin lantai bawah saja," usir Lili. Dia yang merasa lebih senior, bisa memerintah Nur.


"Iya. Saya cuma mau ambil ini saja." Nur mengambil alat pel yang akan dipakai Lili.


"Kan di bawah sudah ada sendiri?" tanya Lili.


"Hhh! Kamu nyarinya enggak pakai mata sih. Biasanya juga ada, kok."


"Cari aja kalau ada." Nur langsung mengambil alat pel itu dan berjalan cepat meninggalkan Lili.


"Hhh! Dasar pemalas! Nyari begituan aja enggak bisa." Lili berjalan turun.


Rasyid merasakan suara bersahutan dari perutnya. Dia memeganginya sebentar. Seolah ingin mengatakan, sabar sebentar lagi akan aku isi dengan makanan enak.


Brugh!


Sebuah motor terjatuh persis di depan motor Rasyid. Seorang perempuan setengah baya terjerembab di jalanan. Dia menghindari lubang yang ada di depannya.


Rasyid segera turun dari motornya dan menolong perempuan itu. Dia membantu perempuan itu bangun dan memapahnya ke trotoar.


Seorang pengendara lain membantu menyingkirkan motor perempuan itu.


"Ibu enggak apa-apa?" tanya Rasyid sambil meneliti beberapa bagian tubuh perempuan itu.

__ADS_1


"Sakit sekali tangan dan kakiku," sahutnya.


"Pak! Ini kunci motor ibunya." Orang yang memindahkan motor tadi menyerahkan kunci motor pada Rasyid.


"Oh iya, Mas. Terima kasih." Lelaki muda itu pergi meninggalkan Rasyid dan perempuan yang terjatuh tadi.


"Itu ada bangku. Ibu pindah duduk di sana saja, ya. Biar lebih enakan," ajak Rasyid.


Si ibu itu mengangguk dan menurut saat Rasyid kembali memapahnya.


"Ibu, maaf siapa namanya?" tanya Rasyid.


"Saya Tuti," jawabnya tanpa mengulurkan tangan sebagai tanda perkenalan. Karena tangannya sedang memegangi tangan kirinya yang sepertinya terkilir.


"Saya Rasyid, Bu Tuti. Tadi Ibu Tuti kenapa kok bisa jatuh begitu?" tanya Rasyid.


"Saya menghindari lubang, malah jatuh," jawab Tuti malu-malu. Karena dia memang tak begitu pandai naik motor.


"Oh. Lain kali hati-hati, Bu. Kalau memang belum begitu bisa naik motor, minta dibonceng saja. Rumah Ibu dimana?" tanya Rasyid.


"Dekat, kok. Tuh di ujung jalan sana terus belok kiri." Tuti menunjuk jalan yang hampir sama dengan arah jalan ke rumah Lili.


"Oh, di sana. Lha ini Ibu mau kemana?" tanya Rasyid lagi.


"Niatnya mau belanja. Malah terjun bebas begini." Tuti memegangi terus tangannya yang lecet kena aspal.


"Sekarang Ibu maunya bagaimana, pulang atau melanjutkan perjalanan?" Rasyid yang pada dasarnya baik siap mengantar kalau memang Tuti menginginkan.


"Pulang aja deh. Tangan dan kaki saya juga sakit." Tuti mencoba berdiri. Tapi kembali terduduk karena kakinya sangat sakit untuk menopang tubuh suburnya.


"Begini saja, Bu. Saya antar Ibu pulang, motor Ibu tinggal dulu saja. Ada orang tidak di rumah Ibu? Biar ambil motornya."


"Iya, ada anak saya. Nanti biar dia yang ambil motornya."


"Ya sudah, sini saya bantu jalan. Maaf ya, Bu." Rasyid memapah Tuti sampai di boncengan motornya.


"Bisa naik sendiri kan, Bu. Saya naik dulu. Ibu nanti bisa pegangan saya." Rasyid naik duluan ke motornya.


Tuti berusaha naik juga dengan berpegangan pundak Rasyid.


Brugh. Tuti hampir terjatuh. Untung ada Rasyid, meski dada besarnya menabrak punggung Rasyid.

__ADS_1


"Aduh, maaf, Pak. Kaki saya sakit banget soalnya." Tuti merasa tidak enak. Tuti menjauhkan dadanya dan berpegangan lagi pada bahu Rasyid.


"Iya, Bu. Enggak apa-apa. Pelan-pelan saja." Rasyid tersenyum sendiri. Setelah tadi pagi dapat kopi sekarang malah dapat susu. Tapi kali ini bukan modus, memang lagi rejekinya Rasyid.


__ADS_2