KARMA : Sang Pemburu Wanita Di MEDSOS

KARMA : Sang Pemburu Wanita Di MEDSOS
Bab 97 SALAH SASARAN


__ADS_3

Tomi memeluk tubuh Niken dari belakang. Dihirupnya aroma sabun mandi yang sangat segar.


Jantung Niken berpacu dengan cepat. Dia tak tahu kenapa Tomi tiba-tiba memeluknya.


Tomi menciumi leher Niken dengan lembut.


"Aakh....Kak. Jangan...." Niken berusaha menolak. Tapi juga menikmati sensasi yang belum pernah dirasakan sebelumnya.


Tangan Tomi meraba bagian dada Niken dan membuat handuk yang dikenakan Niken melorot. Dengan lembut Tomi meremasnya.


"Aakh...Kak...." Niken bukannya menolak. Malah menyandarkan kepalanya ke bahu Tomi, membuat Tomi makin menggila.


Tomi terus meremasnya dan memainkan bagian ujungnya, membuat Niken menggelinjang. Tomi juga terus menciumi leher Niken. Bahkan menyesapnya.


Kaki Tomi meraih ujung pintu dan menutupnya. Lalu membimbing tubuh Niken hingga ke atas tempat tidur. Lalu merebahkannya.


Setengah sadar, Tomi menatap tubuh mulus Niken yang terlentang di depannya. Dengan lembut Tomi menyesap bagian dada yang dari tadi hanya diremasnya.


Niken mengejang. Kakinya bergerak ke sembarang arah. Dengan keahliannya, Tomi membuat kaki itu terbuka lebar.


Sambil terpejam Tomi terus menyesap dan tangannya turun dan menyentuh gua Niken yang sudah becek.


Perlahan dia memainkan jemarinya di pintu masuknya.


Niken semakin menggelinjang. Sensasi yang luar biasa, membuat Niken berkali-kali mendesah.


"Kaak...." Niken menekan kepala Tomi hingga salah satu gunung kecilnya masuk ke rongga mulut Tomi dengan sempurna.


Tomi menurunkan kepalanya dan menyusuri hingga sampai ke pintu gua yang sudah sangat banjir.


Dengan lihay, Tomi menyesap cairan yang terasa asin dan wangi. Tadi Niken telah membasuhnya dengan sabun mandi.


Tomi menggigit-gigitnya perlahan bibir bawah itu dan mencari puncak gunung kecil di dalamnya.


"Kaak...." Niken semakin melambung. Dia terus menggelinjang dan menaikan pinggangnya hingga Tomi bisa mengeksplornya dengan leluasa.


Setelah puas, Tomi mulai membuka matanya. Tangannya hendak membuka boxernya, karena senjatanya sudah sangat mengeras.


Tomi menegakan badannya setelah berhasil menggapai senjatanya dan siap meluncur ke dalam gua Niken.


Saat itulah Tomi baru sadar kalau yang sedang ada di depannya adalah Niken. Bukan Laras.


"Niken...." ucap Tomi dengan bola mata hampir meloncat keluar.


Niken pun membuka matanya yang dari tadi terpejam menikmati cumbuan Tomi.


"Kak...." Suara Niken sudah sangat parau. Pandangannya nanar menatap senjata Tomi yang sedang digenggam pemiliknya.


"Oh....ma....maaf...." Tomi segera memasukan kembali senjatanya. Lalu bergegas turun dari tempat tidur.


"Kak...." desah Niken.


"Kenapa kamu?" tanya Tomi tak percaya dengan apa yang ada di hadapannya.

__ADS_1


"Kakak...."


Tomi menggelengkan kepalanya. Lalu merapikan boxernya.


"Maafkan aku, Niken," ucap Tomi.


"Bangunlah." Tomi meraih tangan Niken. Membantunya bangkit.


"Tapi, kak...." Suara Niken menuntut. Dia masih menginginkannya.


Tomi melirik handuk Niken yang berserak di lantai. Lalu meraihnya.


"Pakailah." Tomi memberikan handuk itu pada Niken.


Niken menatap wajah Tomi dan meraih handuk itu dengan perasaan yang sangat kecewa.


Niken pun beranjak dari tempat tidur dan mengenakan kembali handuknya.


Tomi duduk di sisi tempat tidur. Dia menutup wajahnya dengan sangat menyesal. Menyesali kebodohan yang baru saja dilakukannya.


Semalam dia baru saja emosi dengan apa yang dilakukan Tanto pada Niken, sekarang malah dirinya yang menggagahi tubuh polos itu.


Dengan rasa kecewa dan tubuh masih gemetar, Niken mengambil baju seragamnya.


Tomi menatapnya. Dia sangat paham apa yang diinginkan Niken selanjutnya.


Tomi berjalan ke arah pintu dan membukanya sedikit. Ingin memastikan kalau tak ada yang melihat ulah setengah sadarnya tadi pada Niken.


"Kenapa kamu tak menolaknya?" tanya Tomi perlahan dipintu.


Tomi mendekati Niken. Lalu kembali memeluk tubuh Niken dari belakang.


"Sstt...! Jangan menangis. Maafkan aku. Aku tadi berpikir kamu adalah Laras," ucap Tomi perlahan di telinga Niken.


Niken masih terisak. Lalu menyusut ingusnya yang hampir keluar.


"Pakailah seragam kamu. Nanti terlambat." Tangan Tomi membantu tangan Niken menggenggam seragam putih abu-abunya.


Tomi membalik tubuh Niken. Ditatapnya wajah Niken yang bersimbah air mata.


"Jangan menangis." Tomi menghapus air mata Niken dengan telapak tangannya. Lalu mengecup kening Niken dengan lembut.


"Sekali lagi, maafkan aku." Tomi mengangkat wajah Niken. Lalu mengecup bibir Niken sekilas.


"Kamu masih terlalu muda untuk melakukannya."


Niken menundukan wajahnya sebentar sebelum melangkah keluar kamar.


Tomi menatap Niken yang berjalan perlahan ke arah pintu.


"Niken...."


Niken menoleh. Tatapan matanya masih menuntut.

__ADS_1


"Nanti pulang sekolah, aku jemput," ucap Tomi sebelum Niken keluar.


Niken mengangguk. Ada seulas senyum dibibirnya. Dan entah perasaan apa yang ada di hati Niken, dia tiba-tiba merasa mengagumi calon kakak iparnya.


Niken masuk ke kamar Ayu. Ayu baru saja membuka matanya.


"Jam berapa sekarang, Kak?" tanya Ayu sambil mengerjap-ngerjapkan matanya.


"Jam enam," jawab Niken.


Ayu segera bangun. Dan keluar dari kamar.


Niken menutup pintu kamar dan melepaskan balutan handuknya. Ditatapnya tubuh polos yang tadi sudah merasakan sensasi luar biasa di depan lemari plastik.


Niken meremas dua gundukannya dengan tangannya sendiri sambil memejamkan matanya.


Nikmat sekali, kak. Gumam Niken perlahan. Ada senyuman tipis dari bibirnya. Lalu perlahan Niken mengenakan pakaiannya.


Sementara Tomi duduk di tepi tempat tidur. Otaknya masih belum percaya pada apa yang dilakukannya tadi.


Kenapa aku tadi begitu bodoh? Apa yang sudah mendorongku melakukannya? Dan kenapa Niken tak menolaknya? Berbagai pertanyaan muncul di kepala Tomi.


Bagaimanapun, Tomi merasa berdosa telah menjamah Niken. Dia sudah menganggap Niken seperti adiknya sendiri.


Tak lama, Laras kembali ke kamar. Dia juga sudah mandi dan sama seperti Niken tadi, hanya melilitkan handuknya.


"Kamu udah bangun, Tom?" tanya Laras tanpa curiga sedikitpun.


"Darimana saja kamu?" Bukannya menjawab pertanyaan Laras, Tomi malah balik bertanya.


Laras menyipitkan matanya.


"Dari kamar mandi. Kamu enggak lihat aku masih pakai handuk?" jawab Laras.


Tomi mengangguk dan merasa bodoh dengan pertanyaannya. Jelas saja Laras dari kamar mandi. Aroma sabun mandi masih menguar dari tubuh Laras yang kini lebih berisi dan terlihat sangat seksi.


Degan tanpa malu lagi, Laras melepaskan handuknya hingga jatuh ke lantai. Lalu mengenakan ****** *****.


Tomi menatap tubuh polos yang sudah sangat dikenalnya itu. Tak ada perasaan apapun. Mungkin karena Tomi masih memikirkan kejadian tadi.


Laras menoleh. Tatapan matanya bertemu dengan tatapan mata Tomi.


Laras merasa heran, kenapa Tomi hanya diam saja. Biasanya dia langsung tergoda saat melihatnya tanpa pakaian.


Ah, mungkin Tomi sudah puas semalam. Lagipula ada Niken di kamar sebelah. Dan sebentar lagi ayahnya akan bangun, pikir Laras.


Dia segera menyelesaikan berpakaian. Lalu menyerahkan handuk bekasnya pada Tomi.


"Mandi sana. Biar lebih segar," ucap Laras.


Tomi meraih handuk itu dan tanpa bicara melangkah keluar kamar.


Tepat di depan pintu kamar sebelah, Niken baru saja keluar. Tomi menatap Niken yang sudah rapi.

__ADS_1


Niken pun menatap Tomi. Lalu tersenyum. Senyum yang sulit diartikan oleh Tomi yang melanjutkan langkahnya ke kamar mandi.


__ADS_2