
Tomi dan Sylfie sama-sama terkapar. Mereka sama-sama puas. Terlebih Tomi. Semalam dia main dengan Laras yang masih lugu. Tomi yang selalu menjadi leader. Meski Tomi merasa puas karena berhasil membobol gawang Laras.
Sedang dengan Sylfie, jelas jauh lebih memuaskan. Sylfie memiliki pengalaman yang sangat banyak dengan banyak lelaki juga.
Sylfie lah yang menjadi leadernya. Tapi Tomi mampu mengimbangi permainan Sylfie.
Dari mulai dengan gaya klasik sampai ***** ***** mereka lakukan dengan sempurna. Gerakan Sylfie sangat aduhay, membuat Tomi hampir saja KO duluan.
Apalagi tubuh Sylfie yang sintal dan dua gunung kembar yang masih tegar menantang. Membuat mata Tomi seakan mau lepas saat dua gundukan besar itu terpampang di depan matanya.
Dan tanpa malu-malu Tomi melahapnya. Bahkan menghisapnya hingga Sylfie mengejang.
Berbeda dengan milik Laras yang jauh lebih kecil. Hilang dalam genggaman tangan Tomi.
Puncaknya pun masih belum menantang seperti milik Sylfie yang membuat Tomi ingin memilinnya.
Sylfie pun membiarkan saat Tomi memainkan lidah di gua lembabnya. Bahkan menggigit-gigit bukit kecil di dalamnya. Hal yang belum sempat Tomi lakukan pada Laras.
Dan Sylfie berganti memasukan senjata Tomi yang cukup panjang ke dalam rongga mulutnya hingga hampir mencapai tenggorokannya.
Tomi sampai menggelepar-gelepar karena tak bisa menahan rasa nikmatnya.
"Kamu luar biasa, Tomi," ucap Sylfie sambil memainkan jemarinya di dada Tomi.
"Tante juga sangat dahsyat," puji Tomi.
"Itu karena kamu mampu mengimbangiku, Tom," sahut Sylfie.
"Tante puas?" tanya Tomi.
"Sangat. Sangat puas. Tapi maaf, Tom. Malam ini Tante ada janji dengan teman. Besok kita ulangi lagi, ya," pinta Sylfie.
Tomi mengangguk senang. Di hari pertamanya dia bisa memuaskan kliennya. Dan langsung akan mendapatkan orderan berikutnya.
Sylfie berjalan ke kamar mandi masih dengan tubuh polosnya. Sebenarnya Tomi ingin kembali menyergapnya. Tapi dia harus bisa menahan diri. Dia harus bersikap profesional.
Beda dengan saat dengan Laras. Dia bisa menyergapnya selama dia mau.
Tak lama Sylfie keluar hanya dengan membalutkan handuk di tubuh sintalnya. Tomi menahan nafasnya. Dia tak boleh mengumbar nafsunya begitu saja. Mesti jual mahal.
Tomi pun ke kamar mandi untuk membersihkan diri sambil membawa pakaiannya. Lalu mengenakannya. Dia mau keluar kamar mandi dengan rapi.
Tomi benar-benar menjaga image-nya di depan Sylfie. Dia tak mau dianggap murahan.
Sylfie pun sudah rapi. Dia sedang memoles wajah cantiknya dengan bedak tipis.
__ADS_1
"Tom, kamu punya rekening? Aku tak punya uang cash yang cukup," tanya Sylfie.
"Ada Tante," jawab Tomi bersemangat. Dia berharap Sylfie memberikannya lebih. Agar dia bisa menyenangkan keluarganya, juga Laras.
"Kirimkan ke nomor Tante," ucap Sylfie sambil memoles bibir seksinya dengan lipstik warna merah menyala.
Wouwh! Tomi rasanya ingin ********** lagi.
"Tapi aku kan enggak punya nomornya Tante," sahut Tomi.
"Oh, iya." Lalu Sylfie menyebutkan dua belas digit nomornya.
"Simpan itu. Biar aku bisa menghubungimu kapanpun. Kirimkan sekarang nomor rekeningmu. Biar bisa aku transfer sekarang."
"Iya, Tante." Tomi segera menyimpan nomor Sylfie di hapenya, dan mengirimkan nomor rekeningnya.
Dengan cepat Sylfie mentransfer sejumlah uang lewat mobile bankingnya.
"Sudah ya, Tom. Coba kamu cek." Sylfie meletakan kembali hapenya.
"Aku enggak punya mobile banking, Tante. Nanti saja aku ambil di ATM," sahut Tomi malu. Di jaman semodern ini dia belum memiliki mobile banking.
"Ya bikin dong, Tom. Itu kan penting juga," ucap Sylfie.
"Iya, nanti aku bikin."
"Aku pulang dulu aja, Tante. Nanti kalau Tante membutuhkanku lagi, bisa langsung menghubungi," ucap Tomi.
Sebelum membuka pintu, Sylfie mencium bibir Tomi dulu sebentar. Lalu mereka keluar bersama.
Tomi melajukan motornya. Dia berniat ke rumah Laras dulu sebelum pulang.
Tapi dia akan mengambil dulu uang hasil kerjanya barusan. Dia juga berniat membelikan makanan untuk Laras.
Mata Tomi terbelalak melihat angka yang tertera di layar mesin ATM. Uang sebanyak gajinya sebulan, dia dapatkan hanya dalam beberapa jam saja.
Tomi mengambilnya sebagian. Sebagiannya lagi buat cadangan untuk keadaan darurat.
Dari ATM, Tomi menuju ke rumah Laras. Sebelumnya dia membeli makanan buat oleh-oleh. Anggap saja sebagai sogokan biar ayahnya Laras enggak ngamuk-ngamuk lagi.
Sementara Rasyid terbangun dari tidurnya menjelang maghrib. Kondisinya masih polos. Tapi Wulan menyelimutinya, karena Wulan sudah terbangun lebih dulu.
"Udah bangun, Bang?" tanya Wulan.
"Kenapa kamu enggak bangunin aku?"
__ADS_1
"Abang lelap banget tidurnya. Enggak tega banguninnya," jawab Wulan. Padahal dia berharap Rasyid tetap tinggal bersamanya meski hanya di kamar kos.
Rasyid beranjak dari tempat tidur. Dia mau membersihkan diri dulu sebelum pulang. Untungnya di kamar kecil Wulan, ada kamar mandi yang juga berukuran kecil. Tapi lumayanlah buat sekedar membersihkan badan.
"Aku pulang dulu, ya," pamit Rasyid.
"Enggak nginap aja, Bang?" pinta Wulan.
"Enggaklah. Kasihan anak-anak di rumah. Mm...Kamu ada uang enggak? Bensinku abis. Rokok juga, kamu lihat sendiri kan?" pinta Rasyid tanpa basa basi.
Wulan mengambil tasnya. Lalu memberikan dua lembar lima puluh ribuan.
"Aku cuma ada ini, Bang. Enggak apa-apa, ya?"
Rasyid langsung menyautnya. Dia tak ingin Wulan berubah pikiran.
"Oke. Makasih ya, Sayang." Rasyid menarik tubuh Wulan. Lalu memeluknya dengan erat.
"Kapan ke sini lagi?" tanya Wulan.
"Nanti aku kabari lagi." Rasyid mengecup kening Wulan dan buru-buru keluar.
Sebelum sampai rumahnya, Rasyid membeli nasi padang dulu untuk makan anak-anaknya. Tak lupa juga rokoknya.
Sampai di rumah, anak-anaknya sudah menunggu kedatangan Rasyid. Mereka selalu berharap Rasyid pulang membawa makanan.
Dan harapan mereka tidak sia-sia. Rasyid pulang membawa empat bungkus nasi padang.
"Hore, Ayah pulang!" seru Ayu. Dia yang paling tersiksa kalau Rasyid pergi terlalu lama. Karena kedua kakaknya pasti akan membully-nya habis-habisan.
"Bawa apa, Yah?" tanya Niken bersemangat.
Rasyid memberikan kantong plastiknya pada Niken. Dengan penuh semangat Niken menyautnya dan langsung membawanya masuk.
"Ayo kita makan!" seru Niken.
Laras yang sedang gelisah karena Tomi tak juga menghubunginya, keluar mendengar suara keras Niken.
Sedang Rasyid sendiri langsung mengeksekusi makanannya. Dia sudah sangat lapar.
Rasyid melihat anak-anaknya makan dengan lahap. Dia terharu juga. Demi anak-anaknya dia jual harga dirinya, meski dengan nilai yang tak seberapa.
Bagi Rasyid asal anak-anaknya kenyang, rokoknya lancar, itu sudah cukup. Syukur-syukur bisa untuk membeli gas, token listrik dan kuotanya.
Harga yang sebenarnya tidak setimpal. Tapi mau dikata apa, Rasyid sudah tua dengan penampilan yang sama sekali tidak menarik.
__ADS_1
Dia hanya bisa merayu calon korbannya di medsos dengan gambar-gambar editannya. Setelah mereka luluh, baru dieksekusi bagaimanapun kondisinya.