KARMA : Sang Pemburu Wanita Di MEDSOS

KARMA : Sang Pemburu Wanita Di MEDSOS
Bab 163 KELUGUAN LARAS


__ADS_3

Alya menidurkan Aldo dengan perasaan masih kesal. Apapun yang dikatakan Bowo dan Tomi, masih mengganjal di hati Alya.


Terutama pada Bowo. Alya punya trauma yang mendalam dengan Cyntia.


Dulu pun Rasyid mendapat banyak kemudahan rejeki, yang dikatakan dari temannya. Ternyata teman yang mungkin sering ditiduri Rasyid.


Alya hanya memergoki sekali. Tapi bukan berarti mereka baru sekali itu melakukannya.


Sebab Rasyid sering pergi dengan alasan yang tak jelas. Setiap kali ditanya, pasti marah. Dan ujung-ujungnya, anak-anak jadi pelampiasan.


Bowo ikut tiduran di belakang Alya. Tangannya dia lingkarkan di perut Alya.


Alya tak menggubrisnya. Dia pura-pura tak merasakan. Padahal Bowo juga mengelus perut Alya berkali-kali.


Bowo tahu Alya masih marah dan mencurigainya. Bowo hanya bisa menyesali kecerobohannya tadi. Membicarakan soal Cyntia di rumahnya.


Sebenarnya, Bowo cuma ingin mengingatkan Tomi saja.


"Ma...nanti kalau Aldo udah bangun, kita jalan ke mal yuk," ajak Bowo.


Bowo ingin menebus kesalahannya dengan memanjakan Alya. Dia akan membebaskan Alya belanja apapun yang dimauinya.


Selama ini, Bowo hampir tak pernah melakukannya pada Alya. Kalau Alya menginginkan sesuatu, Bowo hanya memberikan uang saja.


Dan Alya lebih suka belanja di toko online. Karena akan sangat merepotkan belanja di mal mengajak Aldo yang masih kecil.


Alya hanya diam saja. Dia tahu, Bowo sedang berusaha merayunya agar tak marah lagi.


"Mau ya, Ma?" tanya Bowo, karena tak ada jawaban dari Alya.


Alya berpikir lagi. Mungkin sekaranglah saatnya Alya memperlihatkan pada dunia, siapa suaminya kini.


Bukan lagi Rasyid yang hidup kere. Tapi Bowo, seorang pengusaha kaya.


"Lalu Papa menunggu di mobil saja?" tanya Alya.


Karena biasanya begitu. Saat mengantarkan Alya pergi, Bowo dengan berbagai alasan, menunggu di mobil.


Seperti saat membeli nasi goreng. Dan kebetulan Aldo tertidur, jadi ada alasan bagi Bowo tetap di mobil, menunggui Aldo.


"Enggak dong. Papa pingin ngajak Aldo bermain di arena bermain anak-anak. Aldo pasti suka," jawab Bowo.


"Laras boleh ikut?" tanya Alya. Bagaimanapun dia kasihan pada Laras. Dia pasti tak pernah ke mal. Entah kalau Tomi yang mengajaknya.


Bowo menghela nafasnya. Ingin rasanya menolak, tapi itu bukan ide yang baik.


"Ajak aja," jawab Bowo pasrah.


"Papa enggak buru-buru pergi, kan?" tanya Alya lagi. Dia tak mau lagi enak-enak jalan, tau-tau diajak pulang.

__ADS_1


"Enggak, Ma. Kalau perlu, malam ini Papa tidur di sini lagi. Papa masih kangen sama permainan Mama," jawab Bowo.


Alya mencubit tangan Bowo yang masih melingkar di perutnya.


Bowo tersenyum. Karena itu artinya Alya tak lagi marah. Dia malah menciumi tengkuk Alya dengan gemas.


"Iih, geli, Pa." Alya berusaha menghindar. Tapi posisinya terjepit. Mau tak mau, Alya hanya menggeliat-geliatkan kepalanya saja.


Bowo makin gemas saja. Bahkan tangannya mulai meraba-raba.


Alya kembali mencubit tangan Bowo.


"Jangan nakal, Pa. Ini masih siang," ucap Alya.


"Berarti nanti malam, boleh ya? Gayanya seperti yang semalam lagi. Papa suka banget," pinta Bowo.


Padahal kalau gaya seperti itu, sudah sering dilakukan oleh Cyntia. Tapi Bowo ingin mengapresiasi Alya. Biar makin senang.


Wajah Alya merona. Dia sangat malu, meski Alya juga sangat menyukainya.


Dan tak terasa, mereka pun ikut tertidur bersama Aldo.


Sementara di teras, Laras dengan segala keluguannya, menyuruh Tomi menghubungi Cyntia.


"Tom, katanya mau menghubungi bos kamu?"


Tomi menatap wajah Laras. Wajah yang penuh keluguan.


Cyntia hanya bilang, kalau nanti malam ada job buat Tomi. Di hotel XX.


"Jam berapa?" tanya Tomi.


"Jam tujuh malam," jawab Cyntia.


"Bagaimana kalau sore ini aja. Aku ada urusan nanti malam?" Tomi berusaha menawar. Karena selama sebulan ini Tomi telah di booking Voni, untuk selalu menemaninya tidur kapanpun Voni membutuhkannya.


Tomi terpaksa menyetujui perjanjiannya dengan Voni, demi mendapatkan uang untuk biaya Laras di rumah sakit.


"Ya udah. Nanti aku coba tanyakan. Lokasinya kamu sudah tau, kan?" tanya Cyntia.


"Udah. Tinggal jamnya saja. Oh, iya. Nanti aku ketemu siapa?" tanya Tomi.


"Tasya. Dia nanti menunggumu di kamar. Kamu langsung aja ke kamar nomor 9," jawab Cyntia.


"Oke. Segera konfimasikan waktunya," ucap Tomi dengan bahasa yang dibuatnya formal. Agar Laras tak curiga.


Setelah Cyntia mengiyakan, Tomi menutup panggilannya.


Laras yang hanya mendengarnya sepihak, tak curiga sedikitpun.

__ADS_1


"Bagaimana, Tom? Ada kerjaan lagi?" tanya Laras.


Laras hanya tahu, semakin banyak Tomi mendapatkan job, berarti uangnya akan semakin banyak.


Dan Laras berharap, Tomi akan segera melamarnya.


"Ada. Nanti sore," jawab Tomi.


"Ooh. Nanti malam kamu bisa main ke sini lagi?" tanya Laras penuh harap.


"Enggak bisa, Ras. Malamnya aku harus ketemu orang lagi. Pulangnya bisa tengah malam," jawab Tomi. Padahal dia akan menginap di apartemen Voni.


"Ooh, ya udah enggak apa-apa. Enggak enak juga sama mama kalau kamu datang tengah malam," sahut Laras.


Tomi sangat tersentuh dengan keluguan dan kepercayaan Laras padanya. Sama halnya dengan Alya, yang terlalu percaya pada omongan Bowo.


Tomi berpikir sejenak. Kalau saja Alya tahu hubungan Bowo dan Cyntia, bisa selesai rumah tangga mereka.


Tomi tak punya niatan sedikitpun untuk membongkar kelakuan Bowo. Baik pada Alya ataupun pada Laras.


Biarlah kalau suatu saat mereka tahu. Yang penting bukan dari mulut Tomi.


Tomi tak akan mengusik kelakuan Bowo. Asal Bowo pun tak mengusiknya. Satu guru satu ilmu. Tak akan saling mengganggu. Begitu prinsip Tomi.


Tomi masih menemani Laras ngobrol sambil menunggu Cyntia menghubunginya lagi. Dan Tomi nanti akan langsung ke lokasi saja. Karena hotel XX tak jauh dari rumah Alya.


Alya terbangun karena merasa tak bisa bergerak. Dia dihimpit oleh Bowo di belakang tubuhnya. Sementara Aldo tidur di depannya dengan tangan dan kaki merentang.


"Pa. Mama mau bangun. Kepala Mama pegal," ucap Alya perlahan.


Posisi tidur Alya yang miring terus, membuat kepalanya terasa pegal.


"Hmm. Sebentar lagi, Ma," sahut Bowo.


Alya mengerutkan dahi. Apanya yang sebentar lagi? Pasti Bowo mengigau.


Bowo memang sering mengigau kalau tidur. Dia suka bicara sendiri. Bahkan suka menjawab pertanyaan apapun. Tapi begitu bangun, dia akan lupa dengan apa yang tadi diucapkannya.


Alya hanya menghela nafas. Lalu beringsut perlahan, agar tak mengganggu tidur suami dan anaknya.


Alya keluar dari kamarnya. Dia mencari Laras, dan akan menyuruhnya bersiap.


Alya mendengar suara Laras yang bicara di teras rumah. Alya pun menuju ke sana.


"Tuh. Bu Cyntia menelponmu lagi," ucap Laras.


Degh!


Alya mendengarnya.

__ADS_1


Cyntia lagi?


Dan kenapa Laras begitu bodoh? Apa dia tak pernah berpikir atau curiga, kalau Cyntia adalah orang yang telah menghancurkan rumah tangga orang tuanya?


__ADS_2