
"Ah, kamu Lis. Ngagetin aja!" Yati mengelus dadanya sendiri.
Tadi jantungnya hampir saja copot. Yati pikir itu adalah Laras.
"Lagian ngapain juga sih, buka-buka tas orang?" tanya Sulis tak suka.
Sulis merasa Laras masih miliknya. Meski tadi Laras menolaknya dengan alasan sudah punya pacar. Tapi Sulis tak peduli.
Bagi Sulis, asal dia bisa dekat dengan Laras, tak jadi masalah. Makanya Sulis mendukung Yati yang menahan Laras.
Tapi Sulis tak mau juga kalau Yati menggeledah tas Laras.
"Kan aku udah bilang tadi. Aku mencurigai Laras," sahut Yati.
"Tapi tak terbukti, kan?" tanya Sulis.
Yati menggeleng.
"Dia anak yang baik, Bik. Tak mungkin dia melakukan hal itu," ucap Sulis.
"Kamu menyukai dia, Lis?" tanya Yati.
Sulis mengangguk.
"Sejak SMP dulu, Bik. Dia pacarku," jawab Sulis.
"Mantan pacar!" Yati menegaskan. Karena Yati yakin kalau lelaki yang bernama Tomi, yang ditemuinya tadi adalah pacar Laras.
Sulis hanya nyengir.
"Kenapa bisa putus, Lis?" tanya Yati mulai kepo.
"Kami lulus, lalu...ya, begitulah. Aku harus ikut pamanku kerja di kota. Waktu itu baik aku maupun Laras tak punya hape," jawab Sulis sedih.
"Terus kalian putus begitu saja?" tanya Yati lagi.
"Belum ada kata putus dari kami, Bik. Kami sama-sama saling berusaha melupakan," jawab Sulis.
"Ya, namanya juga cinta monyet, Lis. Pasti ujung-ujungnya begitu. Berpisah enggak jelas," ucap Yati.
"Dan sekarang monyetnya udah gede-gede. Hehehe." Sulis terkekeh.
"Cantik lagi ya, Lis?" goda Yati.
"Banget, Bik. Aku enggak ngira lho, Laras bisa secantik itu," sahut Sulis.
"Memang waktu SMP belum cantik?" tanya Yati.
"Ya, cantiknya anak umur segitu, seberapa sih, Bik," sahut Sulis.
"Iya, ya. Masih unyu-unyu," ledek Yati.
"Udah, pepet aja lagi. Enggak usah mikirin si Tomi itu," lanjut Yati.
"Tomi? Siapa dia?" tanya Sulis tak mengerti.
Lalu Yati mengatakan kalau tadi dia keluar, menemui lelaki yang bernama Tomi.
"Dia punya mobil?" tanya Sulis resah.
Sulis berpikir, berat juga harus bersaing dengan lelaki bermobil. Sementara dia, cuma seorang tukang kebun.
"Enggak tau juga. Bisa jadi itu mobil pinjaman. Sekarang kan banyak mobil rentalan, Lis," jawab Yati.
__ADS_1
Sulis mengangguk-angguk.
"Atau dia kerja jadi sopir?" lanjut Yati.
"Hmm. Iya, juga." Sulis kembali mengangguk-angguk.
"Nah, makanya jangan patah semangat. Coba dong berpikiran maju. Jangan bisanya ngumpet di kebun belakang aja. Giliran ketemu Laras, main sikat aja! Ya, mana mau Larasnya," ucap Yati.
"Main sikat gimana?" tanya Sulis.
"Lha itu tadi, kalian ngapain aja di kamar?" Jiwa kepo Yati kembali datang.
"Cuma pegang-pegang dikit, Bik," jawab Sulis berbohong.
"Serius? Laras mau kamu pegang-pegang?" Mata Yati langsung terbelalak.
"Maulah. Diakan masih mencintai aku juga. Hahaha." Lalu Sulis kembali ke belakang. Melanjutkan pekerjaannya menyapu.
"Cah gendeng!" maki Yati. Tapi dia senang mendengarnya. Itu artinya dia punya teman, untuk bisa menahan Laras tetap kerja di rumah Dino.
Diam-diam Yati juga merasa senang dengan Laras. Karena dia enggak akan kesepian lagi kerja di rumah Dino.
Sementara Laras yang tadi mengantarkan minuman untuk Dino, disuruh Dino duduk di sofa ruang tamu.
Laras menurut. Dia tak merasa risi, seperti Yati kalau disuruh duduk bersama majikannya itu. Karena Laras sudah beberapa kali datang bertamu.
"Ayah kamu belum ke sini lagi?" tanya Dino.
Laras menggeleng.
"Kamu belum ganti baju, dong,"
Laras menggeleng lagi.
"Ya udah. Nanti kalau aku udah mandi, aku antar kamu ambil pakaianmu. Malas aku kalau meladeni ayah kamu di sini," ucap Dino.
Jangankan orang lain om, aku anaknya aja malas ketemu sama ayah! Makin tua, makin nyebelin! Batin Laras.
Dino menyeruput tehnya.
"Enak. Siapa ini yang bikin?" tanya Dino.
"Saya, Om," jawab Laras.
"Hhmm. Pantesan enak banget. Beda sama bikinan Yati. Terlalu manis," puji Dino.
Laras mengerutkan keningnya.
Perasaan dia membuatnya biasa aja. Malah Yati yang mengajari.
"Kalau begitu, kamu tunggu sebentar. Aku mandi dulu. Nanti kita ambil pakaianmu."
Tanpa menunggu jawaban Laras, Dino langsung naik ke lantai dua. Kamarnya ada di sana.
Rumah bagian bawah, untuk tamu dan pegawai-pegawainya. Dapur dan segala macam ruangan juga ada di bawah.
Lantai atas untuk beberapa kamar termasuk kamar pribadi.
Tapi Laras sejak pertama bertamu, tak pernah melihat anak Dino. Laras juga belum pernah menanyakannya.
Laras pun kembali ke dapur. Sekalian nanti mengambil tas dan ponselnya.
Yati lagi memasak. Menyiapkan untuk makan malam.
__ADS_1
"Masak apa, Bik?" tanya Laras.
"Semur daging sama capcay. Kesukaan pak Dino," jawab Yati.
Wow, semur daging. Laras langsung menelan ludahnya.
Sebenarnya itu makanan kesukaan Laras. Tapi karena keadaan, Laras hanya memasaknya kalau Idul Adha. Saat ada pembagian daging dari masjid.
Dan biasanya Rasyid akan rajin menyambangi masjid-masjid untuk mengantri daging.
Kapan lagi bisa makan daging gratisan. Begitu ucap Rasyid.
Rasyid rela berdesakan demi sebungkus daging. Tapi akan dapat berbungkus-bungkus, karena banyak masjid yang disambanginya.
"Bik, nanti aku mau ambil pakaianku diantar om Dino," ucap Laras.
Sulis yang kebetulan masuk ke dapur, langsung menoleh.
"Kenapa kamu? Cemburu?" goda Yati.
Hhh! Sulis mendengus kesal.
"Ras. Ada yang cemburu, tuh." Yati menunjuk Sulis dengan kepalanya.
Laras cuma tersenyum. Dia sudah mendengar pengakuan Sulis tadi, kalau masih mencintai Laras.
"Bakal kalah saing kamu sama pak Dino. Majikan dilawan!" ucap Yati.
Sulis langsung kembali ke belakang. Malas dia meladeni Yati. Malah semakin membuat hatinya panas.
Laras membuka ponselnya. Dan dia terkejut, melihat bagitu banyak panggilan tak terjawab dari Tomi.
Lalu Laras membaca pesan chat dari Tomi.
Aku pulang dulu, Ras. Nanti kabari aku lagi, kalau ada kesempatan kamu buat kabur. Jangan bilang-bilang sama pembantu sialan itu. Begitu isi chat dari Tomi.
Laras menatap Yati.
Kenapa Tomi bisa bilang begitu? Apa bik Yati menemui Tomi di luar? Tanya Laras dalam hati.
Laras menjawab oke pada Tomi. Lalu menutup ponselnya. Dia tak mau berdebat dengan Tomi di chat.
"Bik, tadi Bibik nemuin Tomi ya?" tanya Laras.
Degh!
Jantung Yati serasa berhenti berdetak.
"Bik...!" panggil Laras. Karena Yati pura-pura tak mendengar.
"I...Iya, Ras. Ada apa?" tanya Yati.
Hhmm. Laras menghela nafasnya.
Apa kurang kenceng suaraku tadi? Tanya Laras dalam hati.
"Bibik tadi menemui Tomi di luar?" Laras mengulang pertanyaannya.
Yati langsung berkeringat dingin.
"Mm...tadi...Tomi yang masuk ke sini. Waktu kamu di kamar Sulis," jawab Yati.
Hah...! Kini giliran jantung Laras yang seakan mau copot.
__ADS_1