KARMA : Sang Pemburu Wanita Di MEDSOS

KARMA : Sang Pemburu Wanita Di MEDSOS
Bab 139 NIKEN HILANG


__ADS_3

Tomi melihat jam tangannya. Sudah jam empat sore.


"Ke, aku ke dalam dulu. Mau pamit pada sepupuku. Aku harus kembali ke kantor," ucap Tomi.


"Iya, aku juga mau masuk lagi. Kasihan mamaku sendirian."


Lalu mereka masuk bersama. Mereka menuju bangsal yang berbeda.


"Dari mana saja, Tom?" tanya Rasyid.


"Ngopi di luar, Om," jawab Tomi tanpa rasa bersalah.


"Tadi aku mau telpon kamu, tapi hape kamu tak bisa dihubungi," ucap Rasyid.


"Iya, Om. Hape saya mati. Lupa enggak bawa charger. Nanti malam saya pamit pulang dulu, mau ambil charger, ya," sahut Tomi.


"Ya sudah. Aku pulang dulu. Anak-anak belum aku jemput," pamit Rasyid.


"Oh, ya ampun. Maaf, Om. Saya lupa," ucap Tomi merasa bersalah.


Rasyid pulang, dia mau melihat di rumah dulu. Karena sudah jam empat lebih, kemungkinan Niken dan Ayu sudah sampai rumah.


Dan benar saja, Ayu sudah ada di rumah.


"Kamu pulang sama siapa, Yu?" tanya Rasyid.


"Diantar tante Ratih, Yah. Soalnya Ayah lama jemputnya," jawab Ayu.


"Tante Ratih?"


Ayu mengangguk. Meskipun Sinta pernah marah padanya, tapi namanya anak-anak, keesokan harinya mereka sudah berbaikan lagi.


"Dia menanyakan Ayah?" tanya Rasyid. Dan tentu saja Rasyid sangat mengharapkan itu.


"Iya," jawab Ayu singkat. Lalu dia kembali bermain dengan boneka-bonekanya.


"Terus kamu jawab apa, Ayu?" tanya Rasyid gemas. Ayu malah asik sendiri.


"Ayu jawab Ayah lagi nungguin kak Laras di rumah sakit!" Ayu menjawab dengan kesal.


Rasyid keluar dari kamarnya, lalu mencari Niken.


"Ayu! Mana kak Niken?" tanya Rasyid. Dia tak melihat Niken di kamarnya.


"Enggak tau, Yah. Belum pulang," jawab Ayu.


"Kemana ya?" gumam Rasyid. Mestinya Niken sudah ada di rumah.


Rasyid melihat jam dinding. Sudah setengah lima.


Rasyid masih berpikir positif. Dia yang juga capek seharian nungguin Laras, akhirnya tertidur di kamar Laras.


Menjelang maghrib, baru Rasyid bangun. Keadaan rumahnya sudah gelap. Tak ada yang menyalakan lampunya.


"Niken...! Lampunya nyalain!" teriak Rasyid yang belum ngumpul nyawanya.


Tak ada jawaban sama sekali. Akhirnya Rasyid beranjak dan menyalakan sendiri lampunya.


Lalu satu persatu dinyalakan semua lampu rumahnya, dengan perasaan kesal.

__ADS_1


Sampai di kamarnya, dia melihat Ayu tertidur.


"Ayu! Bangun, Nak. Udah maghrib." Rasyid mengguncang bahu Ayu.


Ayu hanya menggeliat.


"Ayo bangun. Melek dulu. Nanti abis maghrib, diterusin tidurnya enggak apa-apa," ucap Rasyid.


Dengan malas, Ayu pun bangun dan duduk di atas tempat tidurnya.


Rasyid keluar lagi mencari Niken. Tapi Niken tidak ada.


"Kemana Niken?" Rasyid mulai kebingungan.


"Ayu! Mana kak Niken?" teriak Rasyid.


"Iih, Ayu enggak tau, Yah. Ayu kan dari tadi tidur!" seru Ayu dengan kesal.


"Kemana itu anak? Nyusahin aja!"


Rasyid mengambil kunci motornya dan memakai jaket.


"Ayah mau kemana?" tanya Ayu.


"Nyari kak Niken!"


"Ayu ikut, Yah. Ayu takut sendirian," pinta Ayu.


"Kamu nunggu di rumah aja. Nanti kalau kak Nikennya pulang, gimana?"


Rasyid buru-buru pergi. Dia tak peduli meski di jalan ketemu dengan bapak-bapak yang mau ke masjid.


Di depan rumah Yanti, Rasyid ketemu dengan Beni yang juga mau ke masjid.


Rasyid menghentikan motornya.


"Ben, kamu lihat Niken?" tanya Rasyid.


"Enggak, Om. Memangnya Niken kemana?" Beni malah balik bertanya.


"Dia belum pulang dari sekolah. Ini baru mau aku cari," jawab Rasyid.


"Ya udah, Om. Nanti pulang dari masjid, saya bantu cari," ucap Beni. Lalu dia bergegas ke masjid.


Yanti dari dalam rumahnya pun mendengar. Mau ikut nanya, tapi Rasyid sudah pergi.


Yanti hanya menyimpan pertanyaannya dalam hati.


Rasyid mencari ke sekolah Niken. Jelas saja sekolahan sudah sepi dan tutup. Tapi ada satpam yang berjaga di sana.


"Pak. Anak-anak ada kegiatan di sekolah?" tanya Rasyid.


"Udah pada bubar semua, Pak. Tadi terakhir jam setengah enam," jawab satpam itu.


"Bapak lihat anak saya, Niken?" tanya Rasyid lagi.


"Waduh, yang mana ya? Saya kurang paham, Pak."


Rasyid hanya garuk-garuk kepala.

__ADS_1


Mana mungkin kenal, Niken bukan anak yang populer di sekolah. Juga tak punya prestasi yang membuatnya terkenal.


Rasyid berusaha mengingat siapa saja teman akrabnya Niken. Siapa tahu Niken main ke rumah mereka.


Niken pernah cerita kalau dia punya satu teman yang bernama Nila. Meski Rasyid tak tahu alamat pastinya, tapi Niken pernah mengatakan kalau Nila tinggal di dekat pasar.


Rasyid pun mencari ke daerah dekat pasar. Meskipun sepertinya sia-sia, tapi Rasyid tak patah semangat.


Setelah satu jam muter-muter, akhirnya ketemu juga rumah orang tua Nila.


"Oh, ayahnya Niken? Sebentar saya panggilkan Nilanya," ucap seorang wanita seumuran Rasyid. Mungkin dia ibunya Nila.


"Ada apa, ya?" tanya Nila setelah keluar.


"Kamu temannya Niken, kan?" tebak Rasyid.


"Iya, Om. Ada apa?" tanya Nila lagi.


"Kamu lihat Niken enggak? Dia belum pulang sampai sekarang."


Nila menggeleng.


"Tadi Niken kayaknya udah pulang, Om. Sama siapa, saya enggak tahu. Soalnya saya ikut kegiatan sampai sore," sahut Nila.


"Jadi Niken sudah pulang duluan?" tanya Rasyid lagi.


"Iya, Om."


Rasyidpun hanya bisa menghela nafasnya. Lalu permisi pulang.


Kemana Niken pergi? Apa dia ngambeg karena Rasyid dari kemarin mengacuhkannya? Memarahinya juga?


Rasyid melajukan motornya perlahan. Dia menyusuri jalanan, berharap bertemu dengan Niken.


Tapi hingga malam makin larut, Niken tak juga ketemu.


Beni pun yang tadi sudah pulang dari masjid, ikut membantu mencari. Meskipun Yanti melarangnya.


"Mau kemana kamu, Ben?" tanya Yanti, tadi saat Beni sudah siap-siap.


"Bantu nyariin Niken, Bu," jawab Beni.


"Ngapain bantu nyariin anak kayak dia? Biarin aja ilang! Mati juga enggak apa-apa! Anak jahat kok dicariin!" Yanti semakin berpikiran negatif tentang Niken.


"Ibu enggak boleh begitu, ah. Kasihan kan kalau dia sampai kenapa-napa. Ini udah malam juga, Bu," sahut Beni.


"Bukan urusan kamu, Beni! Adik bukan, saudara juga bukan!" Yanti tetap saja tak suka.


"Bu. Menolong orang kan enggak boleh pilih-pilih. Siapapun yang membutuhkan, kalau kita bisa menolong ya, kenapa enggak?" Beni pun tetap kekeh.


Meskipun dalam hatinya, dia tak suka dengan sikap Niken yang arogan.


Beni jadi teringat saat Niken diganggu preman di jalan. Dia tak tega kalau Niken mengalaminya lagi.


"Ya udah, terserah kamu. Tapi jangan malam-malam pulangnya. Buang-buang waktu aja!" Yanti akhirnya pasrah, meski dalam hatinya tetap nggerundel.


"Beni pamit dulu, Bu." Beni mencium tangan Yanti.


"Iya, ati-ati. Ingat, pulangnya jangan malam-malam. Kalau enggak ketemu ya jangan maksa. Kamu bukan polisi!"

__ADS_1


Beni hanya menghela nafasnya saja. Yanti kalau sudah tak suka dengan orang, mulutnya suka asal kalau bicara.


__ADS_2