KARMA : Sang Pemburu Wanita Di MEDSOS

KARMA : Sang Pemburu Wanita Di MEDSOS
Bab 188 DINO MENGANTAR LARAS


__ADS_3

Laras segera menarik tangannya. Dino pun melajukan lagi mobilnya. Masih dengan kecepatan rendah.


"Om udah tau rumah kontrakan ayah yang sekarang?" tanya Laras. Karena setahunya Dino belum pernah sekalipun datang ke rumahnya.


"Pasnya sih belum tau. Kalau daerahnya aku paham. Kamu dong yang kasih tau," jawab Dino.


"Iya, Om. Nanti aku kasih tau jalan masuknya," sahut Laras.


"Oke...jangan kebablasan ya." Dino terus melajukan mobilnya menuju ke arah rumah Laras.


Laras mengangguk.


Hingga sampai di jalan dekat rumah Laras.


"Itu, Om. Yang sebelah kiri, ujung jalan." Laras menunjuk ke sebuah rumah kecil yang sangat sederhana.


"Oh, ini." Dino menghentikan mobilnya di depan rumah Rasyid.


"Kamu turun sana. Aku nunggu di mobil aja. Jangan lama-lama, ya," ucap Dino.


"Om Dino enggak masuk?" tanya Laras.


"Enggak usah. Aku nunggu di sini aja," jawab Dino.


Dino malas ketemu dengan Rasyid. Karena pasti akan banyak drama.


Dan meskipun tadi pagi Rasyid sudah minta uang, bukan tak mungkin Rasyid akan minta lagi.


Belum lagi, rumah Rasyid terlihat kumuh. Dino yang terbiasa tinggal di rumah mewah, bakal merasa risi.


"Ya udah, Om. Aku turun dulu, sebentar."


Laras turun dan bergegas masuk ke dalam rumahnya.


"Lho, kamu pulang, Ras? Sama siapa?" tanya Rasyid.


Seperti biasanya, Rasyid sedang asik berselancar di dunia maya. Apalagi dia sedang pegang uang, kuota, rokok dan kopi sudah tersedia.


"Diantar om Dino, Yah," jawab Laras.


"Nih, makanan buat kalian."Laras memberikan kantong plastik yang dibawakan Yati pada Ayu.


"Wah, apa ini, Kak? Pasti enak." Ayu mengintip sedikit isi kantong plastiknya.


"Apaan itu, Yu?" Niken langsung mendekati Ayu dan ikut mengintip juga.


Ayu menjauhkan kantong plastiknya. Dia tak mau kalau Niken merebutnya. Karena bisa dipastikan dia akan dapat sedikit.


"Dimakan bareng-bareng. Jangan curang!" ucap Laras. Lalu dia masuk ke kamarnya, mengemasi beberapa pakaiannya.


"Kak Laras mau pergi lagi?" tanya Ayu.

__ADS_1


"Iya. Kakak kan sekarang kerja, Yu. Nginep di sana," jawab Laras sambil mengambili pakaian yang akan dibawanya.


"Yaa...Ayu enggak bisa ketemu kak Laras lagi dong," ucap Ayu dengan sedih. Lalu dia duduk di tepi tempat tidur, memperhatikan Laras berkemas.


"Nanti Kakak akan sering-sering pulang," ucap Laras.


Ayu masih memperhatikan dengan sedih. Laras, kakak yang selalu melindunginya, bakal pergi lagi.


"Kamu baik-baik di sini. Sekolah yang rajin. Jangan lupa belajar," ucap Laras lagi.


Ayu hanya mengangguk. Perasaannya masih sedih.


"Kenapa Dino enggak kamu suruh masuk, Ras?" tanya Rasyid di depan pintu kamar Laras.


"Enggak mau, Yah. Katanya nunggu di mobil aja," jawab Laras.


"Oh, ya udah. Kamu jangan kelamaan. Kasihan kan nunggunya kelamaan," sahut Rasyid.


Jelas saja Rasyid merasa peduli pada Dino, karena dia berpikir kalau Dino bakal memjadi pohon uangnya. Yang sesekali bisa digoyang, biar rontok itu uangnya.


"Iya, Yah. Ini juga udah mau selesai." Laras buru-buru menyudahi ambil bajunya.


"Mulai malam ini kamu tidur di sana, kan?" tanya Rasyid basa basi. Karena mestinya dia sudah paham. Bahkan dia yang menyuruhnya.


Laras memgangguk dengan malas.


"Kakak di sana tidur sama siapa?" tanya Ayu. Setahu Ayu, Laras jarang tidur sendirian. Kalau tak ada teman tidurnya, Laras biasanya meminta Ayu nemenin.


"Wah, enak banget. Kapan-kapan Ayu diajak tidur di sana ya, Kak," pinta Ayu.


Bahkan kalau diperbolehkan, Ayu ingin ikut Laras saja.


"Iya. Nanti kapan-kapan Kakak ajak kamu ke sana," sahut Laras.


Ayu langsung tersenyum sumringah.


"Sekarang Kakak pergi dulu, ya," ucap Laras.


Ayu mengangguk. Bibirnya yang tadi tersungging senyuman, karena Laras bakal mengajaknya tidur di sana, langsung mengerucut kembali.


Laras mengacak rambut kriwil Ayu.


"Yah. Laras pergi dulu." Laras meraih tangan Rasyid dan menyalaminya.


"Hati-hati kamu di sana. Kalau ada apa-apa, hubungi Ayah," sahut Rasyid.


Laras hanya mengangguk. Malas sekali memghubungi Rasyid lagi. Yang ada malah bikin masalah.


Niken menatap Laras yang sama sekali tak menyapanya. Laras memang masih kesal pada Niken. Meskipun Niken sudah meminta maaf.


Laras menoleh ke arah Ayu. Lalu mengambil uang di tasnya.

__ADS_1


"Nih, Yu. Buat jajan kamu di sekolah." Laras memberikan uang recehan pada Ayu.


Laras sengaja melakukannya untuk memanas-manasi Niken.


"Simpan baik-baik. Ingat ya, itu uang buat jajan kamu! Ati-ati sama perampok di rumah ini!" ucap Laras dengan ketus.


Laras mempertegas kata perampok, untuk menyindir Niken. Karena biasanya Niken akan merampas uang Ayu.


Niken mendengus kesal. Lalu pergi begitu saja. Dalam hatinya juga sudah merencanakan bakal merampas uang itu. Tapi nanti, kalau tak ada orang.


Laras melirik sekilas ke arah Rasyid. Mata Rasyid sudah berbinar, melihat Laras memberikan uang pada Ayu. Dia berharap, Laras memberikan uang padanya juga.


Tapi sayangnya, Laras yang tahu tadi pagi Rasyid sudah malakin Dino, tak mau merespon Rasyid.


Laras melangkah begitu saja keluar rumah, sambil membawa tasnya.


Sementara di warungnya Yanti, tetangga-tetangga mempergunjingkan Laras.


"Lihat tuh, si Laras. Pulang dianterin om-om," ucap Yanti pada Yuni.


"Jangan menuduh dulu, Mbak. Siapa tau itu sopir taksi online," sahut Yuni.


"Mana ada orang naik taksi online, duduknya di depan. Lagian masa iya pake nungguin segala!" Yanti kembali menatap ke arah mobil Dino.


"Bisa aja, Mbak. Mungkin Larasnya cuma mau ambil barang. Tuh, lihat. Laras bawa tas. Tapi kayak mau pergi jauh. Bawanya tas gede!" Yuni menunjuk ke arah rumah Rasyid.


Yanti ikutan menoleh.


"Iya. Dibooking beberapa hari kali!" Omongan Yanti makin pedas saja.


"Ngaco aja, Mbak. Kasihan tau, anak gadis baik-baik dikatain begitu," ucap Yuni.


"Iya. Enggak baik nuduh kayak gitu!" ucap yang lainnya.


Padahal mereka berkata seperti itu cuma sekedar pencitraan saja. Biar terkesan bukan tukang ghibah. Meski ujung-ujungnya sama saja. Bakalan menjual cerita ke orang lain.


"Kalian enggak tau sih, gimana kelakuan Laras yang sebenarnya. Taunya cuma casingnya doang yang kalem!" sahut Yanti dengan ketus.


"Emang gimana kelakuannya?" tanya Yuni mulai kepo, tapi pura-pura bersikap biasa saja.


"Entar kalian sebarin lagi!" Yanti pun pura-pura peduli dengan Laras. Padahal juga sama saja.


"Enggaklah. Emangnya kita mulut ember apa!" sahut Yuni.


"Iya, Mbak. Mulut kita bukan ember bocor yang bakal ngalir kemana-mana!" sahut yang lainnya.


"Mm...enggak jadi deh. Kapan-kapan aja!" Yanti kembali masuk ke dalam warungnya.


"Kenapa?" tanya kedua tetangga Yanti.


Yanti cuma memberi tanda ke belakang mereka dengan matanya.

__ADS_1


Mereka pun menoleh. Dan dengan serta merta, dua ember bocor itu terdiam seribu bahasa.


__ADS_2