
Rasyid asik ngobrol dengan Yanti. Kekecewaan Yanti mampu dihilangkan oleh Rasyid dengan omong kosongnya.
Yanti kembali terbuai oleh gombalan Rasyid. Meski awalnya Rasyid berniat membayar semua pesanan mereka, tapi ujung-ujungnya selalu Yanti yang tak tega.
Di tengah obrolan, mereka melihat Beni dan Laras datang ke tempat yang sama.
Dan mata Yanti terbelalak melihat Laras yang digandeng oleh Beni.
Ingin rasanya Yanti melabrak Beni saat itu juga. Tapi banyaknya pengunjung, membuat Yanti mengurungkan niatnya.
Nanti saja kalau di rumah. Aku pasti akan memarahinya. Ngapain Beni menggandeng-gandeng wanita yang ngaku sudah punya calon suami.
Untungnya Beni dan Laras tak melihat kedua orang tua mereka yang sedang kencan. Mereka memilih tempat duduk di bagian samping cafe.
"Pulang yuk. Enggak enak kalau ketahuan Beni sama Laras," ajak Yanti.
Rasyid yang sedang tak baik hubungannya dengan Laras pun setuju. Dia tak mau kalau Laras semakin menilainya negatif. Walaupun memang kelakuan Rasyid sangat memalukan.
"Ayo." Rasyid langsung berdiri. Yanti membayar semua minuman dan makanan mereka.
"Kita pulang bareng aja," ucap Rasyid. Yanti tak menolaknya. Malas juga naik becak sendirian.
Sampai di depan rumah Yanti, suasana sepi. Karena gerimis dan sudah cukup malam.
"Mau mampir dulu enggak?" Yanti iseng menawari.
Dan tanpa disangka, Rasyid setuju.
"Boleh. Tapi sebentar aja, ya," jawab Rasyid.
Yanti membuka pintu samping rumahnya. Kalau pintu depan, mesti melewati warungnya.
Rasyid mengikuti Yanti, duduk di kursi kayu dengan model kuno. Tapi barangnya masih baru. Yanti membelinya belum lama.
"Mau kopi lagi?" tanya Yanti.
Jelas saja Rasyid yang hobi minum kopi, tak menolaknya. Tubuh Rasyid sudah kebal dengan kopi. Sehari dia bisa menghabiskan sepuluh gelas.
Yanti membuatkan Rasyid kopi dan membawakan satu toples makanan kering.
"Minumlah." Yanti meletakan cangkir kopi di meja.
"Iya. Biar agak dingin dulu." Lalu Rasyid kembali menyalakan rokoknya yang tinggal sebatang.
Dan dengan bualannya, Rasyid berhasil mendapatkan dua bungkus rokok gratis.
__ADS_1
Obrolan mereka berlanjut semakin intim. Suasana sangat mendukung. Hujan turun semakin deras. Meski rumah Rasyid dekat, tapi kalau nekat pulang, bakalan basah kuyup.
Rasyid beringsut mendekat ke arah Yanti. Yanti yang memang sangat merindukan belaian laki-laki, diam saja. Dan mereka duduk berhimpitan.
"Yanti, kamu cantik." Rasyid mulai merayu Yanti.
"Masa sih?" Yanti tersipu malu.
Rasyid mengangkat dagu Yanti. Lalu menatapnya tajam. Dan dengan sigap, Rasyid menyambar bibir Yanti.
Yanti yang tak siap dengan serangan Rasyid, megap-megap. Tapi dia tak menolaknya.
Dia menikmati cumbuan Rasyid yang membabi buta. Rasyid melahap bibir Yanti dengan rakus.
Udara yang semakin dingin, dan suara geledek yang memekakan telinga, membuat keduanya lupa diri.
Yanti pasrah saat Rasyid menyeretnya masuk ke kamar. Bahkan Yanti menunjukan letak kamarnya yang bersebelahan dengan kamar Beni.
Sampai di kamar, Rasyid mengunci pintunya. Dia tak mau ada orang yang akan mengganggunya lagi.
Dan dengan brutal, Rasyid melepas semua pakaian Yanti hingga tak ada selembar kainpun. Awalnya Yanti malu-malu. Tapi karena Rasyid juga melepas semua pakaiannya, Yanti jadi merasa percaya diri.
Mereka bagaikan bayi yang baru lahir. Sama-sama polos.
Yanti yang haus belaian laki-laki, dan Rasyid yang tadi gagal menghujamkan senjatanya pada Ratih, menjadi sama-sama buas.
Suara hujan yang sangat lebat, membuat Yanti bebas berteriak. Rasyid semakin bersemangat mendengar teriakan-teriakan Yanti.
"Aakkh....terus, Yanti....terus..." pinta Rasyid pada Yanti yang sedang berpacu di atas perutnya.
Tangan Rasyid memainkan dua gunung kembar Yanti yang sudah agak kendur. Tak lagi kencang karena usia Yanti yang mendekati setengah abad.
Bahkan Rasyid mengangkat kepalanya agar bisa menyesap dan menenggelamkan wajahnya di antara keduanya.
Yanti semakin menggila. Dia terus berpacu semakin cepat. Dan berkali-kali merasakan puncak kenikmatan.
Rasyid masih terus bertahan. Senjata Rasyid memang masih bisa diandalkan. Apalagi tadi saat di perjalanan pulang, Rasyid sempat mampir ke sebuah warung jamu.
Dia mencari minuman penghangat tubuh. Dan seperti biasanya, efek dari minuman itu, senjata Rasyid bisa bertahan lebih lama.
Setelah Yanti kelelahan, giliran Rasyid yang menghajar Yanti. Dia hajar lawannya ini habis-habisan.
Sampai kemudian mereka berdua terkapar tak berdaya setelah berkali-kali melakukan pelepasan.
Hujan tak juga reda, Yanti yang sudah sangat lelah, tak mampu lagi untuk bangun. Dia terlelap sambil memeluk tubuh gembul Rasyid.
__ADS_1
Tubuh yang telah membuatnya melayang dan mengerang.
Tak ada lagi ketidaksukaan pada Rasyid. Yanti seperti tersihir dan begitu sangat mengagumi kejantanan Rasyid.
Yanti benar-benar bertekuk lutut di hadapan Rasyid. Lelaki yang sangat dihindarinya.
Demikian juga Rasyid. Dia yang niatnya cuma iseng, malah terpuaskan oleh permainan Yanti.
Tak disangkanya, kalau Yanti sangat tangguh. Apalagi saat berpacu di atas perutnya, Yanti bak pemain profesional.
"Bang, bangun. Udah malem. Bentar lagi Beni pulang." Yanti mengguncang bahu Rasyid yang masih terlelap.
Rasyid membuka matanya. Dilihatnya Yanti masih belum berpakaian. Dan di mata Rasyid, tubuh Yanti sangat menggoda.
"Sekali lagi, yuk," ajak Rasyid. Senjatanya kembali menggeliat.
"Jangan sekarang, Bang. Besok lagi aja. Nanti ketahuan Beni," tolak Yanti.
Sebagai seorang ibu, Yanti pun tak mau gegabah. Tak mau hubungannya dengan Rasyid diketahui anaknya. Apalagi sampai Beni tahu kalau mereka melakukannya.
"Sekarang aja. Sebentar." Rasyid tetap memaksa. Tapi Yanti tetap menolak, meski sebenarnya masih menginginkan.
Yanti beranjak turun. Tapi tangan Rasyid segera menahannya. Dan alhasil, tubuh Yanti jatuh ke atas tubuh subur Rasyid.
"Ayolah, Yanti. Sekali lagi. Sebentar aja."
Dan tanpa menunggu persetujuan Yanti, Rasyid menjatuhkan tubuh Yanti di sebelahnya. Lalu mengungkungnya.
Dengan kasar, Rasyid melesakan lagi senjatanya yang sudah siap tempur. Yanti tak bisa berbuat apa-apa. Dia kembali menikmati permainan Rasyid.
Mereka kembali bergulat. Dengan sisa-sisa tenaga yang ada, Yanti merangkak ke atas tubuh Rasyid.
Rasyid sangat menikmati pacuan Yanti. Berkali-kali diapun berteriak memanggil nama Yanti.
Tak ada lagi nama Ratih saat ini. Bayangan tentang Ratih menghilang begitu saja.
Meskipun Ratih jauh lebih muda dari Yanti, tapi permainan Yanti sangat menakjubkan. Dan meskipun tubuh Yanti lebih subur dari Ratih, tapi pacuan Yanti sangat dahsyat.
Mereka kembali terkapar. Dan kali ini Yanti benar-benar tak berdaya. Seluruh persendiannya terasa mau lepas. Bahkan untuk meraih pakaiannya saja, Yanti tak sanggup.
Rasyid tersenyum puas. Lalu beranjak dari tempat tidur Yanti dan segera berpakaian. Dia tak mau ketiduran sampai pagi. Bisa digrebeg warga kalau sampai ketahuan.
"Aku pulang dulu. Terima kasih untuk permainan kamu malam ini. Kamu hebat," ucap Rasyid. Dan segera keluar dari kamar Yanti.
Yanti hanya bisa mengangguk. Dia sudah tak punya tenaga untuk bangun.
__ADS_1
Yanti meraih selimut dan menyembunyikan tubuh polosnya.