KARMA : Sang Pemburu Wanita Di MEDSOS

KARMA : Sang Pemburu Wanita Di MEDSOS
Bab 175 RASYID YANG CEMEN


__ADS_3

Setelah mendengar semua cerita dari Cyntia, Bowo pergi. Dia tidak pulang ke rumah Alya. Tapi pergi ke sebuah cafe.


Otaknya terasa sangat pusing. Meski Cyntia merelakannya pada Alya, tapi cerita Cyntia sangat membuatnya tersentuh. Dan membuatnya seolah tak ingin menjauhi Cyntia.


Padahal resikonya akan sangat fatal kalau sampai Alya mengetahuinya.


Belum lagi Rasyid yang pastinya tak akan tinggal diam. Dia pasti akan berusaha memberitahukannya pada Alya.


Seandainyapun dikasih uang sesuai permintaannya, tak akan membuat Rasyid diam. Bahkan dia bisa semakin memerasnya.


Dan juga soal janjinya pada Tomi. Janji akan meminjamkan apartemennya.


Akh! Bowo mengusak rambutnya sendiri.


Kenapa masalahnya jadi serumit ini? Batin Bowo.


Lalu dia memesan minuman beralkohol. Dia akan melampiaskan semuanya pada minuman setan itu.


Sementara Rasyid kembali mendatangi rumah Cyntia. Dia akan kembali meminta Cyntia untuk menghubungi Bowo.


"Ada apa lagi?" tanya Cyntia.


Rasyid cengengesan dengan sangat menyebalkan.


"Aku kan sudah bilang, akan kesini lagi untuk urusan Bowo," jawab Rasyid.


"Dan aku juga sudah bilang, kamu silakan datangi saja rumahnya. Itu bukan urusanku!" sahut Cyntia tak mau kalah.


"Mendatangi rumahnya? Dan aku akan katakan pada Alya tentang hubungan kamu dengan Bowo?" tantang Rasyid.


"Silakan kalau itu mau kamu. Bukan urusanku juga!" sahut Cyntia.


"Akan jadi urusan kamu, kalau Alya tau semuanya!" ucap Rasyid.


"Oh ya? Aku benar-benar tak mau lagi berurusan dengannya!" Cyntia tetap kekeh.


"Kalau begitu, kamu bicarakan ini dengan Bowo!" seru Rasyid.


"Dengar ya! Aku tak mau berurusan dengan kamu, Bowo ataupun Alya. Jadi jangan libatkan aku dalam masalah ini!" Emosi Cyntia sudah mulai naik.


"Enggak bisa! Kamu tetap terlibat. Dan aku akan terus melibatkanmu!" ancam Rasyid.


Dasar orang gila! Egois! Rutuk Cyntia dalam hati.


"Terserah kamu. Pokoknya aku enggak mau ikut campur!" Cyntia yang masih duduk, menyalakan rokoknya.


"Wauw! Cantik sekali kamu," puji Rasyid.


Cyntia menatap Rasyid dengan jengah. Tak ada lagi rasa yang bisa melambungkan Cyntia dari mulut gombal Rasyid.


"Kalau kamu enggak mau lagi terlibat masalah itu, oke. Enggak masalah. Bagaimana kalau kita sambung lagi hubungan kita?" ucap Rasyid sambil mendekati Cyntia.


"Cih! Aku enggak sudi lagi sama kamu!" sahut Cyntia.


Dia pikir, aku bakal terpedaya lagi dengan bujuk rayunya? Enggak akan! Batin Cyntia.


"Aku masih mencintai kamu, Cyntia," ucap Rasyid. Tangannya berusaha meraih tangan Cyntia. Tapi Cyntia buru-buru menepisnya. Tak akan dia biarkan Rasyid menyentuhnya lagi, meski hanya seujung kuku.


"Udah berapa puluh wanita yang kamu berikan ucapan seperti itu?" tanya Cyntia dengan sinis.


"Kamu pikir aku penjaja cinta?" sahut Rasyid.

__ADS_1


"Lalu apa kalau bukan penjaja cinta?" tanya Cyntia.


"Ayolah, Sayang. Aku lagi menginginkan kamu!" Rasyid semakin mendekat.


"Jangan macam-macam, kamu!" Cyntia berusaha menjauh.


Tapi Rasyid langsung meraih tangan Cyntia dan menariknya.


"Lepaskan! Atau aku akan berteriak!" ancam Cyntia.


"Teriak aja! Kamu pikir aku takut? Siapa yang akan menolongmu, hah?" tanya Rasyid.


Rasyid sudah mulai meraih tengkuk Cyntia.


Sekuat mungkin Cyntia menjauhkan mulut Rasyid yang mencoba untuk ******* bibirnya.


"Jangan macam-macam, Rasyid!" Cyntia menahan wajah Rasyid agar menjauh.


"Aku enggak mau macam-macam. Aku hanya mau kamu!" Rasyid langsung mengungkung tubuh Cyntia.


"Gila kamu, Rasyid!" Cyntia mendorong tubuh Rasyid.


Tapi karena tubuh Rasyid terlalu gemuk, membuat Cyntia jadi kesulitan.


Rasyid tertawa penuh kemenangan. Cyntia tak bisa lagi lepas dari kungkungannya.


"Jangan, Rasyid! Minggir!" seru Cyntia.


"Enggak akan. Kalau kamu tak mau mengatakannya pada Bowo, akupun tak akan melepaskanmu. Aku akan menikmati tubuh kamu sebagai gantinya!" sahut Rasyid.


Gila!


Cyntia terus saja mencoba mempertahankan diri. Meskipun dia tahu kalau Rasyid tak akan mampu bermain dengan baik.


Tapi Rasyid tetaplah laki-laki yang tak tahu diri dan tak tahu malu. Dia tetap saja menganggap dirinya perkasa.


Rasyid sudah berhasil mencengkeram wajah Cyntia. Dia sudah akan ******* habis bibir seksi wanita di depannya itu.


"Minggir...!" Cyntia berusaha melepaskan cengkeraman tangan Rasyid di wajahnya.


Rasyid terus saja nyusruk.


Tomi kebetulan datang ke rumah Cyntia. Dia yang melihat motor Rasyid di halaman, memarkirkan motornya sendiri agak jauh.


Tomi ingin tahu apa yang dilakukan Rasyid lagi di rumah Cyntia.


Perlahan-lahan Tomi berjalan ke arah pintu. Dan dia sangat terkejut melihat pergumulan dua manusia itu.


Seandainya tak ada teriakan penolakan dari Cyntia, mungkin Tomi akan meninggalkannya. Dia juga tak mau mengganggu aktifitas orang.


Tapi yang dilihatnya, Cyntia terus meronta sambil berteriak.


Dengan sigap, Tomi menghampiri. Dan dengan semua kekuatannya, Tomi menarik baju bagian belakang Rasyid.


"Apa yang Om lakukan!" seru Tomi.


Rasyid terkejut mendengar suara Tomi. Dia langsung kembali ke posisinya duduk.


Cyntia langsung berdiri dan merapikan pakaiannya. Dia kebas-kebaskan pakaiannya seolah Rasyid telah mengotorinya.


"Kamu! Ngapain kamu kesini?" tanya Rasyid.

__ADS_1


Setahunya, tadi Tomi datang ke rumahnya. Dan sedang mengobrol dengan Laras di kamar.


"Saya yang mestinya nanya sama Om. Ngapain Om kesini lagi dan melakukan itu?" Tomi balik bertanya.


Cyntia langsung mendekati Tomi. Nafasnya terengah.


"Bangsat dia! Usir dia Tom!" ucap Cyntia dengan geram.


"Kamu enggak bisa semudah itu mengusirku, Cyntia! Sebelum kamu mengatakannya pada si Bowo sialan itu!" sahut Rasyid.


"Dasar keras kepala tak tahu malu!" ucap Cyntia.


Lalu Cyntia meraih ponselnya.


"Oke. Kalau itu yang kamu mau. Aku akan hubungi Bowo dan memintanya datang ke sini. Silakan kamu bilang sendiri!" Cyntia langsung menelpon Bowo.


Di bangkunya, Bowo sedang menenggak minumannya.


Dia meraih ponselnya.


Cyntia!


Ah!


Kenapa lagi ini wanita?


Tadi bilang sudah mengikhlaskanku. Kenapa sekarang menghubungiku lagi?


"Iya, hallo. Ada apa, Cyn?" tanya Bowo, dengan banyak pertanyaan di otaknya.


"Kamu di mana?" tanya Cyntia.


"Aku di cafe. Ada apa?" Bowo menenggak lagi meinumannya.


"Ke rumahku sekarang! Rasyid ada di rumahku, dan dia ingin ketemu kamu," sahut Cyntia.


"Rasyid? Mau apa lagi dia?" tanya Bowo.


"Seperti yang aku bilang tadi. Ke sinilah. Selesaikan masalah kamu dengannya sendiri. Pusing aku!" jawab Cyntia.


Bowo mendengus kesal. Baru saja dia ingin menenangkan diri, malah Rasyid mengganggunya.


"Ya udah. Aku ke sana sekarang!" Bowo meletakan gelasnya di meja dengan kasar.


Pengaruh alkohol sudah merasuki otaknya.


Dengan emosi yang meluap dan kepala sedikit pusing, Bowo melajukan mobilnya ke rumah Cyntia kembali.


"Udah! Aku udah menghubungi Bowo. Dia akan segera kesini!" ucap Cyntia.


Rasyid menghela nafasnya.


Gawat, kalau aku harus berhadapan langsung dengan Bowo!


Nyali Rasyid langsung ciut.


Rasyid pura-pura mengambil ponselnya di kantong. Lalu menyalakannya.


Tak lama, dia mematikannya lagi.


"Aku keluar dulu. Ada urusan mendadak!" ucap Rasyid.

__ADS_1


Dia langsung berdiri dan ngeloyor pergi.


Cyntia berpandangan dengan Tomi. Lalu mereka tertawa melihat Rasyid yang langsung kabur.


__ADS_2