
Rasyid menghela nafasnya dengan kasar. Niken bisa dia kelabuhi, tapi tidak dengan Laras.
Laras sudah dewasa. Dan dari dulu, Laras punya sifat yang kritis. Sangat berbeda dengan sifat Niken yang cenderung cuek.
Lagi pula, Laras beberapa kali mengetahui kalau dia berganti-ganti wanita. Pasti Laras mencurigainya punya hubungan dengan Yanti.
"Udah, tidur sana," ucap Rasyid pada Niken.
Niken mengangguk. Dan sebelum pergi, Niken mencomot kue yang sedang dipegang Ayu di kantong plastik.
Ayu sempat menjauhkannya dari tangan Niken.
"Bagi!" bentak Niken.
Ayu pun kalah. Karena tangan Niken berhasil meraihnya.
Niken membawa kuenya ke kamar. Laras memperhatikan kue itu.
"Makannya jangan di sini. Nanti banyak semut!" usir Laras.
Laras memang orangnya selalu menjaga kebersihan. Tidak ceroboh seperti Niken.
"Enggak! Mau?" Niken menawarkan ke Laras.
"Ogah! Bekas kamu!" tolak Laras.
"Enggak mau ya udah." Niken memasukan semua kue ke mulutnya.
"Awas minggir! Aku mau tidur!" seru Niken.
"Apaan sih, kamu sebelah sana!" Laras tak mau pindah dari sisi pinggir tempat tidur.
"Ya udah. Jangan salahin aku kalau tau-tau jatuh," sahut Niken. Lalu naik ke tempat tidur dan melangkahi Laras yang sedang tiduran.
Sudah berkali-kali Laras jatuh dari tempat tidur, gara-gara ketendang kaki Niken waktu tidur.
Makanya Laras enggak mau tidur di pinggir. Tapi sekarang, dia yang belum pingin tidur, enggak mau tempat yang mepet tembok.
Sampai malam, Laras tidak bisa tidur. Otaknya masih memikirkan ada hubungan apa ayahnya dengan ibunya Beni. Laras tetap mencurigai itu.
Bahkan sampai Laras tak bisa fokus mengetik novel di aplikasi online kesayangannya.
Rasyid pun sama. Dia tak bisa tidur. Hanya bolak balik saja dari kamarnya ke ruang tamu.
Dia takut kalau Laras mencurigainya. Dengan wanita-wanita lain, Rasyid bisa cuek pada Laras. Tapi dengan Yanti, pasti Laras menolaknya.
__ADS_1
Tring.
Sebuah notifikasi pesan, masuk ke ponselnya. Rasyid membukanya. Dari Yanti.
Mulai sekarang, kita putus hubungan. Dan nomor kamu aku blokir. Termasuk medsosmu. Itu isi pesan dari Yanti.
Rasyid tercekat. Bukan soal dia harus putus hubungan dengan Yanti, karena Rasyid sedikitpun tak menaruh hati padanya. Tapi perubahan sikap Yanti yang tiba-tiba.
Rasyid mencoba mengingat-ingat apa yang sekiranya membuat Yanti berubah pikiran. Rasyid berpikir keras.
Sampai akhirnya dia ingat waktu di kamar Yanti, dia mengatakan kalau Beni sedang pergi menonton dengan Laras.
Apa itu yang membuat Yanti marah? Apa Yanti tak menyukai Laras? Kenapa?
Laras cantik. Menarik. Sikapnya selama ini sopan pada orang lain.
Atau karena Yanti tahu kalau Laras sudah punya pacar? Lalu dia yang berharap Laras pacaran dengan Beni, jadi kecewa?
Berbagai pertanyaan muncul di kepala Rasyid. Dan Rasyid hanya bisa mengira-ngira saja.
Rasyid menutup ponselnya, tanpa berniat membalas pesan dari Yanti. Dia pun tak peduli saat foto profile Yanti hilang. Yang artinya Yanti benar-benar memblokir nomor kontaknya.
Bagi Rasyid, itu sama sekali tak penting. Karena dia bisa mendapatkan wanita lain lagi. Di akun medsos milik Rasyid, masih banyak bertebaran wanita-wanita yang siap dimangsanya.
"Sukurin!" gumam Yanti sendirian di kamarnya. Dia membuka akun medsosnya. Dan memblokir juga akun milik Rasyid.
Pasti mereka memanfaatkan Beni agar bisa dapat gratisan. Nonton gratis. Makan gratis. Apa lagi ya?
Yanti terus saja berpikir, apa saja sekiranya yang sudah diberikan Beni pada Laras, bahkan mungkin Niken yang menurut Yanti, anak Rasyid yang paling tidak sopan.
Ah, sudahlah. Yang udah ya udah. Yang penting mulai sekarang, tak akan ada hubungan apa-apa lagi dengan mereka. Gumam Yanti.
Yanti tak pernah tahu, kalau Beni pun seperti dirinya yang pernah dijamah oleh Rasyid. Beni sudah berkali-kali menjamah Laras. Meski tak sampai melakukan hal yang terlarang.
Itu salah satu alasan Beni tak bisa move on dari Laras. Beni kadang merasa bersalah pada Laras. Karena dia sudah menjamah tubuh Laras.
Meskipun Beni tahu kalau bukan hanya dirinya saja yang sudah menjamah. Tomi. Pasti dia sudah melakukan lebih dari sekedar meraba dan mencium.
Beni pun tak bisa tidur. Dia hanya membolak balikan badannya saja.
Dia bertanya-tanya, kenapa ibunya sampai tahu kalau dia pergi nonton dengan Laras? Siapa yang kasih tahu? Niken? Kayaknya enggak mungkin.
Ibunya lebih tidak suka lagi pada Niken. Mereka tak pernah berkomunikasi kecuali saat Niken membeli sesuatu di warung ibunya.
Beni membuka aplikasi chatnya. Dia mengirimkan pesan pada Laras. Karena dilihatnya, Laras baru saja online.
__ADS_1
Belum tidur, Ras? Tanya Beni.
Belum. Jawab Laras.
Maaf soal tadi ya, Ras. Maafkan ibuku yang marah-marah. Ketik Beni.
Iya. Ben, aku mau tanya. Tapi kamu jangan marah, ya. Ketik Laras.
Tanya apa? Tanya Beni.
Tapi kamu janji dulu, enggak akan marah. Ketik Laras.
Iya, aku janji. Ketik Beni, meski dia belum tahu apa yang akan ditanyakan Laras.
Apa menurutmu ayahku dan ibumu ada hubungan? Tanya Laras.
Beni mengerutkan dahinya. Dia tak pernah berpikir kesana. Memang sih, akhir-akhir ini, Beni curiga pada ibunya yang lebih sering pegang hape.
Dan Yanti rajin berdandan. Seperti sedang berusaha menarik perhatian orang lain.
Tapi Beni tak pernah berpikir kalau orang lain itu adalah Rasyid. Sedangkan Beni tau kalau ibunya itu tak suka dengan keluarga Laras.
Aku tidak tau kalau soal itu. Kenapa kamu berpikir seperti itu? Tanya Beni.
Laras yang sudah mulai mengantuk, tak bisa menjelaskannya lewat chat.
Besok kita ketemuan lagi. Kita bahas soal ini. Aku udah ngantuk. Ketik Laras. Lalu dia mematikan ponselnya.
Bahkan Laras tak membuka lagi balasan dari Beni. Dia langsung tertidur.
Ketemu Laras? Tadi dia sudah janji pada ibunya, kalau tak akan menemui Laras lagi.
Berarti aku janjian di luar saja. Jangan sampai ibu tau. Bisa semakin marah nanti. Batin Beni. Dia pun akhirnya tertidur dengan sejuta pertanyaan di otaknya.
Yanti pun sudah tertidur dengan perasaan lebih lega. Beni sudah berjanji tak akan menemui Laras lagi. Dia pun sudah tutup buku dengan Rasyid.
Sementara Rasyid masih sibuk dengan pikirannya sendiri. Memikirkan kedua anak gadisnya.
Laras yang masih mencurigainya, juga kejadian Niken yang digangguin preman.
Kenapa kejadiannya selalu setelah aku memaksa wanita melayaniku?
Dulu Niken hampir diperkosa Tanto, setelah aku memaksa Ratih melayaniku. Dan sekarang Niken mengalaminya lagi setelah aku memaksa Yanti yang tadi menolakku.
Ah, kenapa mesti terjadi pada Niken? Apa ini balasan dari perbuatanku?
__ADS_1
Tidak! Ini tak hanya kebetulan saja. Tak ada hubungannya sama sekali.
Rasyid berusaha menenangkan dirinya sendiri. Meski hatinya masih belum tenang.